Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
01. Lucas Theodore


__ADS_3

--Kediaman Richard William Theodore--


Cuaca sore ini sangat dingin, hujan deras yang turun sejak siang sepertinya masih enggan berhenti. Hari yang hampir gelap semakin kelam karena awan mendung yang tebal menyelimuti langit. Sesekali guruh dan petir muncul bergantian di balik awan menambah suasana makin mencekam.


Richard William Theodore, pemilik grup Brotherland perusahaan konstruksi terbesar di negara ini dan pemilik hampir lima puluh persen usaha properti di pusat kota, baru saja tiba di kediamannya setelah habis melakukan perjalanan bisnis selama dua pekan ke beberapa negera.


Mobil mewah miliknya berhenti tepat didepan air mancur yang menghadap ke pintu masuk utama kediamannya. Richard yang tak sabar, membuka paksa pintu mobilnya sebelum Baron, asisten pribadinya, sempat membukakan pintu untuknya.


Dengan langkah besar Richard berjalan cepat menuju pintu rumah. Baron mengikuti dengan sigap tuannya sambil memegang payung untuk memastikan tubuh tuannya tak terkena air hujan meskipun hampir separuh bajunya sendiri terkena banyak jejak hujan.


Seorang pengawal pribadi berbadan besar dan tegap yang tadi turun dari mobil yang berbeda dengan Richard bergerak cepat berlari menerobos hujan untuk membukakan pintu rumah lalu menutupnya kembali setelah Richard dan asistennya berhasil masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Richard langsung berjalan cepat menuju ruang tengah, dimana istrinya Ariadne dan putranya Lucas Theodore telah menunggu kedatangannya disana. Ia menghempaskan jas yang tadi dipakainya ke tangan Baron yang telah bersiap.



Mata Richard tertuju pada Lucas, matanya memancarkan kemarahan saat ia melihat wajah putranya itu. Tanpa memperlambat jalannya ia terus berjalan lurus mendekati Lucas hingga hanya menyisakan satu langkah jarak saja diantara mereka.


Baron yang sedari tadi mengekor tuannya mengambil jarak cukup jauh untuk berdiri. Ia asisten yang cepat tanggap, dengan suasana sekarang ia tahu ia tidak boleh berdiri terlalu dekat tapi juga tidak boleh mengalihkan pandangannya dari mereka.


"Aku harus membatalkan seluruh jadwalku selama dua minggu kedepan." Suara berat Richard penuh penekanan di setiap katanya saat memulai percakapan. "Aku juga harus kehilangan beberapa persen sahamku dan kehilangan kepercayaan para pemegang saham. Disaat aku berusaha mati-matian memperluas skala perusahaanku, menjalin kerja sama dengan para investor selama dua minggu ini. Kau ...," Richard menodongkan telunjuknya ke dahi Lucas beberapa kali membuat kepala Lucas ikut bergoyang.


"Kau... menghancurkannya dalam sekejap. Kau tahu?Aku tidak mendapatkan kesuksesan ini hanya dalam semalam. Aku berusaha mulai dari titik nol hingga bisa berada di titik puncak kesuksesan ini. Kesuksesan yang suatu saat nanti akan aku percayakan kedalam genggaman tanganmu! Tapi lihat apa yang sudah kau lakukan untuk membuatku terjatuh?"


Richard menggertakan giginya sambil menatap tajam mata Lucas yang juga tak berpaling dari pandangannya. Ia tahu tatapan putranya itu tak menunjukkan rasa bersalah atau takut sedikitpun.


Richard pun menahan luapan kata-kata kasar yang hampir keluar dari tenggorokannya. Ia memberi kesempatan pada putranya untuk memberi respon atas kata-katanya barusan.


Tentu saja Richard bukan sedang menanti respon yang akan membenarkan setiap perkataan yang barusan ia katakan, tapi respon yang ia nantikan adalah jawaban yang bisa menarik pemicu bom waktu yang sudah ia genggam kuat-kuat saat ini. Karena saat jawaban itu keluar dari mulut putranya, ia sudah bersiap meledakkannya ke wajah putranya itu.


"Haaah, kesuksesan? Ayah ingin aku berterima kasih pada hal yang tak pernah kuminta?" Jawaban yang ditunggu akhirnya keluar tanpa rasa takut dari mulut Lucas, putra semata wayangnya itu.


Ctaak! Dan pemicu bom waktu itu pun tertarik, energi panas yang dari tadi tertahan mulai menjalar dan melakukan proses pembakaran hingga akhirnya bom pun meledak.


Plaakk!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lucas. Semua orang disana yang mendengar suara tamparan itu menatap tegang pada Lucas dan Richard bergantian.


Errgh ...." Lucas mengerang sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar, ia tidak kaget lagi karena ayahnya pasti akan bereaksi mendengar kata-katanya, hanya saja ia tak pernah tahu kalau tamparan ayahnya akan sesakit ini.


"Sayang hentikan !!! dia ini anak kita, sadarlah sayaaanggg...," jerit Ariadne sambil bersimpuh dan melingkarkan tangannya dengan cepat di kaki suaminya yang terlihat masih ingin mendaratkan lagi tamparan di pipi Lucas. Air matanya mencecar keluar hingga riasan matanya menjadi luntur berantakan.


Ariadne yang sedari tadi berdiri diam membisu diantara ayah dan anak itu, Ariadne yang bisa membaca dengan jelas situasi saat ini, Ariadne yang tidak pernah membantah setiap kata yang keluar dari mulut suaminya itu, Ariadne yang bahkan tak menyambut kedatangan suaminya dengan benar karena hawa dingin yang dibawa suaminya sejak masuk kedalam rumah itu pun mulai menjerit. Kekacauan tak bisa dihindarkan.


"Menjauh dari kakiku, Ariadne !!!" bentak Richard pada Ariadne. Melihat kelakuan istrinya yang berusaha menghalanginya justru membuat Richard semakin geram.


"Tidak sayang... Aku mohon jangan sakiti Lucas. Dia ...."


"Kau tidak mendengar perintahku?" amarah Richard makin menjadi-jadi karena pembangkangan istrinya.


"Sayang dengarkan dulu penjelasanku, aku akan ...."

__ADS_1


Richard menepiskan kakinya kedepan sekuat tenaga hingga terlepas dari cengkraman tangan Ariadne dan membuat wanita itu tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Richard pun berjongkok mendekatkan dirinya ke arah Ariadne yang terduduk tak berdaya dihadapannya. Richard menarik kasar kerah baju wanita itu hingga kalung berlian yang melingkar di lehernya ikut tertarik dan putus.


Crassss. Puluhan berlian keluar dari untaiannya dan terjatuh memantul di lantai. Suaranya bergemericik menggema berbarengan dengan suara-suara guntur yang menggelegar sambung menyambung di atas langit.


Namun, suara-suara itu tidak lebih mengejutkan dan tidak lebih menakutkan dari apa yang terlihat di depan mata Ariadne sekarang. Bola matanya dengan jelas menangkap siluet tangan besar Richard yang sedang melayang menuju wajahnya.


Plakkkk !!!


Sebuah tamparan akhirnya mendarat di pipi Ariadne. Lucas yang masih merasakan sisa tamparan di pipinya tadi secara spontan melangkahkan satu kakinya kebelakang. Ia dibuat lebih kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.


"Penjelasan katamu? Omong kosong apa yang akan kau bicarakan kali ini? Kau lihat anak ini berani kurang ajar padaku menurutmu karena siapa? Sebenarnya apa yang kau ajarkan padanya sampai dia berani menghinaku seperti ini?" teriak Richard di wajah Ariadne.


Ariadne tertunduk menahan rasa sakit di pipinya yang terasa berdenyut hingga ke kepala. Tubuhnya mulai bergetar, rasa takut dan sakit tumpang tindih menyelimuti sekujur tubuhnya. Tamparan Richard kali ini memang dua kali lebih keras dari saat ia menampar Lucas tadi hingga membuat ujung bibir Ariadne mengeluarkan darah segar.


Ariadne masih tertunduk, ia masih tak percaya atas apa yang menimpa dirinya, ia masih terdiam membeku tak berani menjawab suaminya.


Dua puluh tahun ia mengenal suaminya, hidup bersamanya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya Richard melakukan kekerasan fisik padanya.


Ariadne benar-benar tidak ingin mempercayai itu, namun lantai rumah yang mulai terasa dingin menusuk ke tulang kakinya dan rasa perih di pipinya itu membuat Ariadne yakin bahwa wajah ketakutan dan mengerikan yang dipantulkan lantai itu adalah benar dirinya, dirinya yang sedang terluka ini.


Ariadne pun menyadari satu hal bahwa semuanya sudah terlambat, kesalahan yang dibuat putranya kali ini tak akan bisa dimaafkan lagi. Ia tercekat dalam rasa takut yang membuncah membayangkan kemalangan yang akan dialami putranya, betapa takutnya wajah putranya sekarang menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Air matanya berjatuhan makin tak terbendung menetes ke lantai.


"Haaah... Kalian sedang main drama? Membosankan ...." Suara Lucas tiba-tiba seolah mengejek pemandangan didepannya. Ia merasa sakit dan ingin marah, tapi entah kenapa hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.


Bagai disambar petir, Ariadne terkejut bukan main mendengar kata-kata yang keluar dari mulut putranya barusan. Seperti cermin yang retak seribu, bayangan tentang kemalangan putranya tadi terpatahkan oleh ucapan itu.


Dia menghina ayahnya?


Apa yang kau pikirkan Lucas?"


Pertanyaan itu beruntun menghujani pikiran Ariadne.


"Tutup mulutmuuu... !!!" Jeritan Ariadne tiba-tiba seolah menjawab pikirannya sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada tangannya berusaha sekuat tenaga menggapai Richard yang dilihatnya tengah berdiri cepat berjalan mendekati Lucas setelah mendengar cemoohan putranya itu. Tapi terlambat, Richard saat ini tak bisa dihentikan lagi.


Ariadne menjerit sejadi-jadinya bagai kesurupan ditengah suara guntur yang menggelegar dan petir yang menyambar dilangit. Richard yang sudah gelap mata tak lagi bisa menahan dirinya. Tanpa aba-aba tanpa basa-basi ia mengayunkan tinjunya berkali kali ke wajah Lucas.


Baron yang sedari tadi hanya memperhatikan, tanpa berpikir panjang berteriak memanggil pengawal yang pasti sedang menunggu di luar pintu. Mereka tanpa diperintah berlari secepat yang mereka bisa ke arah Richard dan Lucas.


Baron berusaha menarik tubuh Lucas menjauh dan pengawal pribadi Richard berusaha menghalangi tuannya dari menyakiti putranya sendiri. Meskipun berbadan besar namun hampir saja ia tidak bisa melepaskan cengkraman Richard di kerah baju Lucas hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengumpankan wajahnya pada tinjuan Richard.


Richard yang tersadar telah memukul pengawalnya sendiri pun berhenti. Matanya menahan amarah pada pria besar itu. "Jangan menghalangiku!" perintah Richard padanya. Namun pria besar itu tak berkutik dari tempatnya meskipun ia tahu ia telah melanggar perintah tuannya dan itu kesalahan besar baginya. Tapi ia juga tahu Lucas Theodore adalah satu-satunya pewaris tunggal ayahnya, Richard pasti akan menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi pada putranya itu. Maka ia harus menghentikannya.


"Aku akan berhenti, jadi jangan menghalangiku." Richard berusaha mengatur napasnya yang lelah. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan pengawal pribadinya, meskipun harus mati di tangan Richard, pria besar itu tidak akan bergeser sedikit pun dari posisinya.


Mendengar jawaban Tuannya kali ini, akhirnya pria besar itu bergeser. Ia memberikan sapu tangan bersih yang selalu disiapkannya disakunya kepada Richard dengan penuh hormat karena sekilas ia melihat tetesan darah dari jari-jari Richard.


"Kemasi barang-barangnya," ujar Richard sambil menatap dingin Lucas sebelum berbalik menuju ruang kerjanya. Tak ada lagi yang berani memberi jawaban dan tak ada yang berani menghalangi niatan Richard saat ini.


...----------------...

__ADS_1


Ruang tengah pun menjadi tenang setelah bunyi keras pintu ruang kerja Richard tertutup rapat. Baik Baron atau pengawal pribadi itu tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Baron memapah Lucas berjalan perlahan menuju sofa besar di tengah ruangan. Pengawal pribadi itu bergerak cepat menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar Lucas. Maria, bibi asisten rumah tangga yang tinggal di kediaman Richard, yang tadi bergegas berlari setelah mendengar jeritan Ariadne sedang berusaha membantu Ariadne berdiri dan menenangkannya.


Lucas menyadarkan kepalanya di sofa. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Hantaman demi hantaman dari ayahnya ia terima tanpa perlawanan. Darah segar mengalir dari hidungnya dan bibirnya yang pecah, bahkan terdapat luka lebam di atas matanya.


Maria menuntun Ariadne yang bergegas untuk duduk disamping Lucas meski tubuhnya tak ada lagi tenaga, energi dan emosinya benar-benar terkuras habis. Ia masih terus sesenggukan menangisi keadaan putra semata wayangnya itu.


Baron datang membawa kompres air dingin dan beberapa peralatan P3K dan menyerahkannya pada Maria untuk di berikan pada wajah Lucas. Lalu ia meninggalkan mereka dan menyusul tuannya ke ruang kerjanya.


Lucas menepis tangan Maria yang sedang berusaha menyeka darah di wajahnya. "Hentikan! Aku tak butuh itu," bentaknya pada Maria, membuat Maria sedikit tersentak.


"Lucas, sayang... Wajahmu... Kau harus mengobatinya." Ariadne mulai panik karena penolakan anaknya itu. "Maria, apa yang kau lakukan? Cepat obati wajahnya. Ah itu... dokter Martin apa kau sudah menghubunginya?" ia membelalak menatap Maria.


"Dokter sedang dalam perjalanan kemari Nyonya," Maria menjawab lembut.


"Bisa kau berhenti berpura-pura Ibu?" Lucas berdiri tiba-tiba, ia menatap dingin wajah ibunya yang mulai membengkak karena tak berhenti menangis. Rasa marah yang sejak tadi diredamnya dan membuat hatinya sakit itu seakan-akan ingin meledak saat ini juga. Pukulan yang diterimanya tadi tak berarti apa-apa baginya dibanding rasa sakit hatinya saat ini.


"Sayang, apa maksudmu? Kau itu sedang terluka, berhenti berbicara, Ibu tahu kau kesakitan, ayo duduklah." Ariadne berusaha menahan emosinya, ia tahu apa yang sedang dipikirkan putranya. Oleh karenanya saat ini ia harus berusaha untuk membujuk Lucas agar Lucas tidak mengiyakan perintah ayahnya tadi. Ia sangat tidak ingin Lucas meninggalkannya.


"Benarkah ibu tahu rasa sakit yang aku rasakan? Seperti apa? Katakan !!!" teriak Lucas lantang karena ingin menutupi suaranya yang bergetar.


"Lucas, tenanglah. Jangan meninggikan suaramu, ayahmu bisa mendengarnya. Percaya pada Ibu. Ibu tahu betapa sakitnya luka-luka diwajahmu itu sayang."


"Seperti itu. Hanya sebatas itu? Haaah.. Jadi hanya itu yang Ibu tahu tentang aku?" Lucas berbicara sambil menarik napas panjang, kata-katanya pun diucapkan dengan sangat dingin dan kejam. Meskipun rasanya ingin berteriak sekarang tapi ia memilih menekan emosinya sekuat tenaga.


"Sepertinya barangku sudah selesai dikemas." Ia melirik pada pengawal pribadi ayah yang sudah menuruni anak tangga terakhir sambil membawa satu buah koper besar disampingnya, "Aku akan pergi sekarang, Ibu. Sesuai keinginan ayah," ujar Lucas dingin.


Lucas pun berpaling menjauhi ibunya. Ia berjalan terus meninggalkannya tanpa memperdulikan teriakan putus asa ibunya yang histeris, teriakan seorang ibu yang takut akan kehilangan putranya. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun dan terus berjalan hingga punggungnya menghilang di belakang pintu yang mulai tertutup.


Lucas melangkahkan kakinya tanpa ragu. Meninggalkan rumah ini merupakan hal yang selalu ia bayangkan selama ini. Kini semua menjadi kenyataan dan dia harus menerimanya. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang akan ia tapaki mulai sekarang pasti akan terasa berat, tapi ia telah memantapkan hati bahwa ia pasti bisa tanpa mereka.


Bagi Lucas ini adalah kebebasan yang selama ini selalu ia impikan. Tapi ia tak pernah tahu bahwa mulai saat ini ia akan benar-benar akan terpenjara dalam belenggu kekuasaan ayahnya.


Baru beberapa saat Lucas melangkah keluar dari pintu rumahnya, suara riuh mobil yang dikemudikan dengan kencang terdengar semakin dekat memasuk halaman rumahnya. Sebuah mobil bercat hitam dan berkaca hitam pekat mendekati pelataran rumah lalu berhenti. Lucas pun menghentikan langkahnya, menanti dengan penuh rasa ingin tahu siapa sosok yang akan keluar dari mobil.


Seorang pria berbadan besar dengan postur tubuh yang sama dengan pengawal pribadi ayahnya, keluar dari mobil hitam itu. Pria itu mendekati Lucas tanpa ragu seolah sudah tahu siapa sasaran targetnya. Lalu dengan cepat tangan pria itu memegang pegangan koper yang sedang dipegang Lucas.


"Siapa kau?" Lucas kebingungan. Ia tak pernah melihat pria itu dirumah ini sebelumnya, tapi dari cara berpakaiannya ia tahu bahwa ia adalah orang-orangnya ayah. Perasaan Lucas mulai tak enak.


"Mulai dari sini, saya akan mengawal Tuan Lucas dan memastikan Tuan tiba ditempat yang telah ditentukan dengan selamat. Tuan hanya perlu mengikuti saya," ujar pria itu dengan tegas tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Lucas.


Lucas makin tidak mengerti dengan yang terjadi sekarang. Belum sempat Lucas menolak perintah pria itu dan mengambil tindakan, tiba-tiba dari mobil yang sama keluar lagi seorang pria dengan postur tubuh yang sama.


Pria yang baru saja keluar ini bisa membaca situasi. Meskipun Lucas tak mengatakannya tapi ada penolakan yang tergambar dengan jelas dari wajah Lucas sehingga ia merasa harus segera turun tangan.


Pria ini pun bergerak cepat memegang tangan Lucas lalu menggiring paksa Lucas masuk ke mobil. Meskipun Lucas meronta-ronta kedua pria tersebut berhasil memaksa Lucas masuk kedalam mobil.


Mobil pun melaju kencang meninggalkan kediaman keluarga Richard dengan Lucas didalamnya, membawa Lucas ke penjara yang sesungguhnya. Lucas tahu benar bahwa ini semua perbuatan ayahnya.


Lucas duduk tenang didalam mobil setelah usahanya melawan kedua pria ini gagal. Ia menatap kosong keluar jendela.

__ADS_1


"Apapun yang akan kuhadapi kedepannya, aku tak akan menyerah pada keputusan ayah. Karena aku memiliki jalanku sendiri untuk kuperjuangkan."


__ADS_2