Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
03. Rumah Tepi Pantai


__ADS_3

Ciiip...ciiiip...ciiip.


Craaassss... Byuuurr....


Suara burung yang bersahut-sahutan, deburan ombak yang menyapu pantai dan menerjang karang dari kejauhan layaknya alarm pagi yang membangunkan Lucas. Sudah lama rasanya ia tidak tidur sepulas ini.


Ia berusaha membuka kedua matanya yang tersapu silaunya sinar matahari. Dahinya berkerut mencoba memahami keadaan di sekitarnya. Semuanya terasa asing bagi Lucas.


Sambil mengangkat sebelah tangan, ia menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya lalu perlahan turun dari tempat tidur.


Ia berjalan menuju sumber suara yang tak henti-hentinya sahut menyahut itu. Ia melihat sebuah pintu kaca besar dengan tirai yang telah tersingkap di samping tempat tidurnya. Ia tidak begitu ingat apakah memang tirai itu telah terbuka saat malam ia tiba disini atau bagaimana. Tapi yang pasti suara-suara itu datang dari luar sana pikirnya.


Malam saat ia tiba ditempat ini hanya ada kegelapan, kedinginan, rasa sakit dan rasa lelah bercampur baur menjadi satu. Ia bahkan tak begitu mengingat dengan jelas bagimana ia bisa tertidur dikamar ini.


Lucas pun membuka pintu itu dan melangkah menuju balkon. Ia tertegun memandang apa yang terbentang dihadapannya sekarang.


Suara-suara yang tadi terdengar sayup sayup kini memenuhi indra pendengarannya, aroma pasir menyeruak di indra penciumannya, angin sepoi sepoi menyapu kulit tubuhnya yang hanya berbalut selembar pakaian tidur tipis.



Rasanya semua rasa sakit, rasa lelah itu menguap begitu saja meninggalkan tubuhnya.


Lucas sedang menenggelamkan dirinya kedalam perasaan asing ini, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia sedikit kaget. Ia pun menoleh pada pintu yang ada di sisi lain ruangan. Pintu itu terbuka.


Seorang wanita paruh baya menyembul dari belakang pintu. Ia mengedarkan pandangannya pada tempat tidur yang kosong. Lalu matanya menangkap bahwa sosok yang dicarinya itu sudah berdiri dibalkon luar. Ia pun mendekat pada Lucas.


Lucas yang merasa asing pada wanita itu hanya berdiri menatapnya dengan penuh tanda tanya. Lucas bahkan tak membalas senyum wanita tua itu yang kini telah berdiri didekatnya.


"Apa itu membangunkanmu?" ujar wanita tua itu dengan lembut. "Mungkin ini cukup berisik tapi nanti kau akan terbiasa," ujarnya kemudian memandang lurus ke arah pantai.


Lucas mengerti maksud perkataan wanita itu. "Oh... Ehm... Itu sedikit berisik tapi... menenangkan," ucapnya hampir tak terdengar. "Tapi Anda siapa?" Alisnya berkerut penuh tanda tanya.


"Oh apa yang sudah kulakukan, aku Rosie, aku pemilik rumah ini," jawab wanita tua yang bernama lengkap Rosie Lilian. "Ah bagaimana keadaanmu, semalam kau kelihatan tidak sehat, tubuhmu panas," ujar Rosie sambil mengangkat tangannya berusaha memegang dahi Lucas.


Karena kaget, Lucas menepis tangan Rosie. Rosie pun menggenggam tangannya yang sedikit panas. Ia hanya tersenyum menanggapi perbuatan Lucas, sekilas ia melihat Lucas mulai merasa tak enak.


"Ah, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tak suka ada yang menyentuh tubuhku," jawabnya dingin. Yah itu bukan karena ia tak suka saat diperhatikan seseorang, itu hanyalah bentuk pertahanan dirinya saat ia merasa harga dirinya terinjak karena rasa iba seseorang yang berlebihan.


"Aku tahu," jawab Rosie dengan bijak. "Kalau begitu bersihkan dirimu, lalu turunlah, kau harus makan sesuatu." Ia pun pamit. Sikap Lucas yang kasar dan dingin tak menyakiti hatinya sama sekali. Meskipun ia tak tahu banyak soal Lucas, tapi ia bisa paham saat Thomas memohon agar Lucas di kirimkan ke kediamannya.

__ADS_1


...----------------...


Rosie adalah orang yang pernah bekerja di rumah keluarga Thomas Edison, cukup lama hingga rasanya sudah seperti keluarga sendiri bagi Thomas dan keluarga.


Setelah tubuhnya mulai menua, ia memilih untuk mengundurkan diri. Rumah yang ditempatinya ini adalah pemberian dari Thomas sebagai bentuk terima kasih Thomas padanya.


Rumah yang cukup besar untuk ditinggali oleh Rosie dan dua anaknya. Rumah yang terletak di pinggiran pantai dengan dua lantai dan halaman yang cukup luas.


Semenjak anaknya memiliki keluarga, ia tinggal sendiri. Anak perempuannya tinggal dengan suaminya. Sedangkan anak laki-lakinya mengajak keluarganya untuk tinggal di pusat kota.


Anak perempuannya, Jasmine, yang rumahnya tak terlalu jauh terkadang sering berkunjung di akhir pekan. Meskipun sendiri, Rosie tak terlalu kesepian karena para tetangga yang sebaya dengan Rosie sering berkumpul bersama di rumah Rosie.


...----------------...


Lucas hanya mengiyakan ajakan Rosie tadi. Sejak bangun tadi ia merasa perutnya benar-benar kosong. Ia pun kembali ke dalam sambil memikirkan perkataan Rosie yang cukup mengganjal hatinya.


Jadi apakah aku pingsan?


Dia bilang badanku panas. Apa aku demam.


Pantas saja aku tak ingat apapun soal semalam.


.


.


.


Terlihat Rosie duduk di maja makan sambil membaca sebuah buku. Di atas meja terhidang berbagai makanan. Melihat kedatangan Lucas ia pun menutup bukunya dan meminta Lucas duduk di seberangnya.


"Kemarilah, ayo kita sarapan pagi."


Lucas sangat ingin mengisi perutnya, dari tadi ia mencium aroma wangi masakan dari berbagai makanan itu. Tapi ketika teringat kejadian saat ia menepis tangan Rosie tadi, ia jadi menolaknya. Ia merasa malu karena telah bersikap kasar pada wanita tua itu.


"Aku tidak lapar," katanya mencoba menolak dengan dingin dan berlalu menuju ruangan depan.


"Kkrrucuuk." Tiba-tiba tanpa terduga perutnya berbunyi mengkhianati kata-katanya sendiri. Ia jadi kaget sendiri lalu terdiam membeku. Ia makin merasa malu.


Rosie hanya tersenyum sendiri. Ia mulai mengambil beberapa makanan dan memasukkannya ke piringnya tanpa berkata apa-apa. Ia tahu ia tidak boleh membuat Lucas menjadi lebih malu lagi.

__ADS_1


"Aku akan makan sedikit saja," ujar Lucas dingin sambil berbalik mendekati meja makan. Ia harus berdamai dengan perutnya, lagipula tak ada salahnya baginya mencicipi sedikit makanan itu.


Suara dingin Lucas itu terdengar kekanakan bagi Rosie yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Rosie pun berpura-pura sedang tidak mendengar apapun dan membiarkannya menyantap hidangan di atas meja.


.


.


.


Beberapa menit kemudian.


Lucas meletakkan sendok dan garpunya sejajar di atas piring, tanda ia selesai makan. Ia membersihkan mulutnya dengan serbet dan baru menyadari kalau ia sudah menghabiskan semua hidangan yang ada di atas meja. Menyisakan piring kotor yang telah kosong. Serbet itu pun terjatuh ke pangkuannya.


"Ehm." Lucas sedikit terbatuk sambil berusaha mengembalikan lagi serbet itu ke tempatnya. Ia merasa malu, ia bahkan tak menyadari sejak kapan Rosie sudah duduk diam membaca bukunya dalam ketenangan. Seingatnya wanita tua itu makan bersamanya.


Mendengar suara Lucas, Rosie pun meletakkan bukunya. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya lembut sambil memandang Lucas dari balik kacamatanya.


"Terasa lebih baik," ujar Lucas sambil duduk dengan kaku karena malu. Dan lagi perutnya sekarang terasa penuh.


"Aku senang kau menyukai masakanku." Rosie berhati-hati memilih kata agar Lucas tidak merasa malu. "Seharusnya aku menyiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu. Katakan saja apa yang kau inginkan atau ada yang tidak kau sukai, jangan merasa sungkan."


"Ba-baik nyonya Rosie," ujar Lucas mencoba bersikap sopan karena merasa bersalah sudah menghabiskan semua makanan.


"Jangan memanggilku seperti itu. Anak-anak seumuranmu disini biasa memanggilku nenek."


"Oh... baik nek." Lucas pun mengendurkan sedikit tulang punggungnya. Ia mencoba berbicara dengan santai.


"Aku tak akan bertanya alasan kau disini. Tapi selama kau disini aku akan memperlakukanmu layaknya anakku, jadi jangan terlalu keras pada dirimu, anggaplah aku ini orang tuamu sendiri. Anak-anakku sudah tidak tinggal bersamaku lagi, jadi rumah ini terasa sepi," ujar Rosie sedikit sedih.


"Saat kudengar kabar dari Tuan Thomas kalau ada seorang anak yang akan tinggal bersamaku, aku merasa sangat bahagia," lanjut Rosie. "Tuan Thomas adalah orang yang sudah kuanggap seperti anak sendiri, aku yakin ia mengirimmu padaku bukan tanpa alasan."


Lucas hanya menatap dalam diam pada Rosie, ia mencerna setiap kata-kata Rosie dengan baik.


"Jadi...."Rosie menyimpulkan perkataannya, "anggaplah aku ini seperti keluargamu sendiri."


Bagi Lucas kata-kata itu terdengar seperti ketidakmungkinan. Bagaimana mungkin ia bisa memperlakukan seseorang yang ia belum pernah temui seperti keluarga sendiri. Ia menolak untuk mempercayai kata-kata itu tapi ia juga tak bisa membohongi bahwa ada semacam perasaan hangat saat mendengar kata-kata dari mulut wanita tua itu.


Keluarga?

__ADS_1


Aku punya keluarga tapi terasa asing.


Sekarang ada orang asing tapi membuatku merasa punya keluarga.


__ADS_2