Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
04. Gadis Kaca Mata


__ADS_3

Lucas berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju pantai. Selesai sarapan ia memutuskan untuk berjalan-jalan di luar.


Terlihat ada beberapa pasangan yang berlari pagi di sepanjang garis pantai. Ada juga sekelompok anak-anak kecil yang sedang asyik bermain pasir, para orang tua mengawasi dari sebuah kedai kopi kecil tak jauh dari pantai. Mungkin karena ini akhir pekan jadi cukup ramai di pantai.


Lucas tidak terlalu suka berada di tempat ramai, ia selalu menghindari tempat-tempat yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia lebih suka duduk didepan komputernya bermain game atau berkutat dengan motor sport-nya.


Tapi perasaan hangat yang ia rasakan setelah mendengar kata-kata Rosie membuatnya seperti menemukan secercah harapan dan semangat baru. Tanpa sadar kakinya sudah menuntunnya berada di antara para pengunjung pantai lainnya.


Setelah menyadarinya, Lucas jadi bingung harus berbuat apa. Ia ingin berlari seperti yang lain tapi kakinya hanya beralaskan sandal, tidak nyaman jika digunakan berlari.


Tak lama setelah melihat-lihat ke kanan dan kiri sambil berpikir mungkin ada saja yang ia bisa lakukan disini, dari kejauhan ia melihat, ada beberapa hammock yang terpasang di antara pohon-pohon yang berbaris di pinggir pantai.


Tanpa berpikir dua kali Lucas pun berjalan mendekati tempat itu sambil bersiul pelan. Berbaring di atas hammock menikmati suasana pantai yang hangat bukanlah ide yang buruk pikirnya.


Lucas pun tiba di salah satu hammock. Ia tengah bersiap untuk menaikinya. Ia telah berdiri dibawah hammock dengan permukaan kain hammock telah menutup bagian belakang tubuhnya dan kedua tangannya bersiap memegang kedua tepi kain dengan erat.


Lucas pun mengangkat kaki kanannya kebelakang mengenai salah satu ujung kain hammock dan bersiap memutar tubuhnya agar semua bagian tubuhnya masuk ke dalam hammock.


Tapi saat kedua kakinya sudah terangkat masuk ke dalam hammock itu, putaran kainnya tidak berhenti seperti yang diinginkannya. Seolah ada yang dengan sengaja memutar terus hammock yang dinaikinya, kain itu terus memutar hingga tubuhnya terjepit didalam kain.


"Apa ini? Kenapa ini terus berputar?'' pikir Lucas dengan mata terbelalak, ia keheranan.


Setelah kain tak bisa berputar lagi karena kedua ujung kain telah menyempit melilit tubuh Lucas, putaran pun berhenti. Sejenak Lucas merasa lega.


Tapi tiba-tiba, hammock itu berputar lagi ke arah sebaliknya sehingga lama-lama kain membuka lebar dan berhenti dengan tubuh Lucas berada dibagian bawah kain. Sehingga tubuh Lucas pun terlempar jatuh ke pasir.


Bruuuk!


Lucas terjatuh dengan posisi tengkurap ke pasir. Jika ia tak menahan dengan tangannya pasti wajahnya akan mencium pasir dengan sempurna. Kepalanya masih terasa berputar, kini badannya terasa sakit karena terjatuh, ia pun mengerang.


"Arrghhh...."


Lucas segera membalikkan tubuhnya hingga posisinya terlentang. Sinar matahari menghujam tepat kedalam bola matanya hingga ia pun memejamkan matanya. Ia masih memikirkan alasan mengapa ia tak berhasil naik ke atas hammock.


"Sungguh sial... Memalukan," umpatnya dalam hati.


"Aaahhhh...." Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang sangat melengking, membuat Lucas membuka mata tiba-tiba. Ia kaget bercampur malu memikirkan bahwa ada mata yang melihatnya jatuh dari atas hammock.


Seseorang berdiri disampingnya. Lucas menghalau sinar matahari dimatanya dengan tangannya. Ia ingin melihat dengan jelas siapa yang mengeluarkan suara jeritan barusan.


Otaknya dengan cepat menganalisis seorang gadis yang sedang menatap kaget padanya. "Dari raut wajah gadis ini pasti seusia denganku. Tapi penampilannya aneh, rambut kuning, berkuncir dua? kaca mata, kawat gigi, training tebal, Apa itu rambut palsu? Atau dia ini gila? Kenapa dandanannya norak sekali?" Lucas bahkan lupa bahwa ia masih terlentang di atas pasir


"Kakak apa kau tak apa-apa? Apa kau bisa berdiri?" gadis itu terdengar mencemaskannya.


Suara gadis itu pun membuatnya sadar dan segera bangkit berdiri. Lucas dengan cepat membersihkan pasir yang menempel di pakaiannya sambil memikirkan alasan yang layak untuk menjelaskan keadaannya tadi.


Tapi karena merasa malu, ia pun menjawab dengan dingin pada gadis itu seraya berlalu meninggalkannya "Kau bisa lihat dengan kedua matamu kan."


"Maaf ya kak, tapi tadi tanganku benar-benar tergelincir," jerit gadis itu pada Lucas yang berjalan membelakanginya.


"Tergelincir?" Lucas pun menghentikan langkahnya berusaha mencerna maksud dari perkataan barusan. Matanya membesar setelah menyadari bahwa kejadian tadi bukan lah murni kesalahannya.


Lucas pun membalikkan badannya. Ia berjalan mendekati gadis itu lagi.


Melihat Lucas yang berbalik badan, gadis itu tertunduk ketakutan. Ia tak berani menatap pada Lucas.


"Tergelincir katamu? Jadi maksudmu... tadi itu... ? Lucas menunjuk pada hammock tempatnya jatuh tadi.


Seolah mengerti, gadis itu menggerakkan kepalanya naik turun tanda ia membenarkan bahwa dia lah penyebab Lucas terjatuh tadi.


"Haaa... kau bercanda? Omong kosong apa ini? Kau sedang mempermainkanku?" bentak Lucas. Matanya menegang, giginya bergemeretak, tangannya terkepal. Andai saja yang dihadapannya itu laki-laki pasti tinjunya sudah melayang sejak tadi.


Gadis itu tahu Lucas marah besar, ia pun membungkuk berkali kali karena merasa bersalah. "A-a-aku benar-benar meminta maaf kak," suaranya gemetar. "Ta-ta-tadi itu... oh... itu... anak itu mendorongku." Gadis itu seperti melihat ada seseorang di belakang Lucas dan menunjuk ke arahnya.


Lucas pun membalikkan badannya mengikuti arah tangan gadis itu untuk memastikan. "Siapa yang...." Ia menghentikan kata-katanya karena ternyata tak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya hembusan angin sepoi sepoi meniup dedaunan.


Lucas semakin kesal, ia benar-benar merasa dipermainkan gadis itu.


"Kau mempermain...." Katanya lagi-lagi terhenti, gadis yang tadi berdiri di hadapannya sudah menghilang dari pandangannya. Dari kejauhan terlihat gadis itu sedang berlari secepat kilat menjauhi Lucas.


"Sialannnn...," jeritnya. "Cewek gila, kemari kau." Lucas pun berusaha mengejar gadis itu.


Gadis itu berlari menuju sekumpulan anak yang sedang bermain membuat istana pasir. Ia pun berhenti dan membisikkan sesuatu pada salah seorang anak sambil menunjuk pada Lucas.

__ADS_1


Setelah berbisik pada anak itu, ia yang menyadari bahwa Lucas hampir mendekatinya lalu berlari lagi menjauh.


Lucas bisa saja menangkap gadis itu dengan mudah, tapi sendal yang di pakainya membuat kakinya sulit berlari di atas pasir.


Saat Lucas tiba di hadapan sekelompok anak itu langkahnya terhenti. Lima orang anak yang tadi bermain pasir, membuat pagar betis berusaha menghalangi Lucas mengejar sang gadis.


"Berhenti," ujar seorang anak perempuan bermata sipit, meskipun tubuhnya kecil tapi ia berdiri paling depan menghadapi Lucas. Lucas yang merasa kata-kata itu ditujukan padanya lalu menghentikan langkahnya.


"Ckk apa-apaan kalian? Minggir... dasar bocah," ujar Lucas meninggikan suaranya lalu mencoba berlari melewati pagar betis itu dengan angkuh.


Tiba-tiba, "huwaaaa... Ibuuuuuuuuuuu". Seorang anak perempuan lain berkulit sawo matang menjerit meneriakkan ibunya sambil menangis. Lucas yang hendak berlari lalu berbalik menghentikan langkahnya.


"Hei bocah, kenapa kau menangis haa? Memangnya aku memukulmu?" ujar Lucas mendekati bocah yang sedang menangis itu dengan tatapan dingin. Anak-anak lain jadi saling merapatkan diri karena takut.


"Siapa? Siapa yang akan kau pukul?" teriak seseorang wanita yang sedang berlari ke arah Lucas, Lucas pun berbalik cepat karena kaget dengan kemunculan suara itu.


Wanita itu melewati Lucas dan mendekati anak-anak lalu merangkulkan tangannya pada anak-anak itu. "Sayang apa kalian tak apa-apa, apa orang ini menyakitimu?" ujarnya melirik ke arah Lucas yang hanya melongok tak mengerti maksud ucapan wanita barusan.


"Sani apa kau baik baik saja? Jangan menangis Sani," ujar anak-anak yang lain bertanya pada anak yang menangis tadi. Tak lama mereka semua ikut menangis karena anak yang bernama Sani tak juga berhenti menangis.


Lucas yang bingung dengan sikap mereka jadi ingin marah "Hei bocah, katakan!! apa aku memukulmu?" matanya menatap mereka satu satu.


Plak!!! Seseorang memukul kepala Lucas dari belakang dengan mainan berbentuk sekop milik anak-anak.


"Ahh...." Lucas kaget, ia pun kembali menoleh mencari tahu siapa yang berani memukul kepalanya. Beberapa orang wanita muda dan paruh baya mulai berdatangan mendekatinya. Melihat para wanita itu Lucas pun memundurkan kakinya beberapa langkah. Ia merasa seperti akan diserang.


"Apa-apaan ini?" tanya Lucas sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Anak muda bagaimana kau bisa begitu kasar pada anak kecil?" teriak wanita yang tadi memukul kepalanya.


"Apa anak-anak tak apa?" tanyanya kemudian pada wanita yang dari tadi masih sibuk menenangkan anak-anak yang menangis. Wanita yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan.


"Waah kalau orang lain dengar bisa dikira aku benar benar memukul mereka," ujar Lucas yang mulai merasa tersudut. "Hei bocah... katakan apa aku ini memukulmu?" tanyanya lagi pada sekelompok anak itu sambil meninggikan suaranya.


"Wah dasar tidak sopan, bicara begitu didepan orang tua."


"Ergh anak zaman sekarang benar-benar mengerikan."


"Sikapnya kasar."


"Aku apa? Tidak sopan? Kasar? Kalian bercanda? Bukannya kalian yang main pukul orang sembarangan," tanya Lucas menekankan kata-katanya.


Wanita yang tadi memukulnya merasa sangat berang dengan sikap kasar Lucas barusan, ia pun berusaha memukulnya lagi jika saja Sani tidak mulai berbicara dan menghentikan niatannya.


"Sa-Sani tidak apa-apa Bibi. Kakak itu...." Ia melihat takut pada Lucas. "Tidak memukul Sani. Sani hanya takut. Kakak cewek tadi bilang paman ini terus mengikutinya."


"Kalian dengar?Aku bahkan tak menyentuhnya sedikitpun," ujar Lucas cepat pada sekumpulan wanita itu.


Ia pun melihat ke Sani lagi. "Kau bilang apa? Paman?? Dan lagi apa maksudmu meng.i.ku.ti.nya?" ujar Lucas menggeram ke arah anak-anak itu setelah menyadari apa yang baru dikatakan Sani. Ia merasa telah dituduh melakukan perbuatan kriminal.


"Hiiiss... diam kau. Kau benar-benar tak bisa dibiarkan ya," ujar wanita pemukul itu menatap kesal pada Lucas. "Sani, siapa yang kau maksud, bicara yang benar sayang, kakak yang mana?"


"Itu bibi kakak yang...." Sani celingak celinguk mencari sosok gadis yang tadi sedang berlari. Namun sosok itu telah menghilang tanpa jejak sama sekali.


"Sialan, dia menghilang," ujar Lucas yang baru tersadar bahwa mangsanya telah hilang dari pandangannya. Ia pun mengumpat beberapa kali.


Dengan cepat ia berbalik ingin menelusuri jejak gadis itu ke arah terakhir kali ia terlihat, namun wanita-wanita itu sepertinya tak akan membiarkan Lucas kabur.


Mereka menarik bajunya hingga ia pun jatuh terduduk. Lucas mendelikkan matanya. Ingin rasanya ia berbuat kasar pada mereka tapi ia menahannya. Ia mengepalkan tangannya karena kesal.


"Mau kemana kau anak muda."


"Ah anak muda jaman sekarang, bahkan tak bisa melihat gadis jalan sendirian."


"Padahal wajahnya tampan, tapi sifatnya mengerikan."


"Jangan jangan ia penguntit?"


"Apa kita laporkan saja ke polisi ya?"


Bisik-bisik para wanita itu. Mereka berdiri tegak berpegangan tangan seolah menghakimi Lucas yang kini tak bisa bergerak karena terpergok menguntit seseorang.


"Hei apa yang kalian lakukan, aku akan melaporkan perbuatan kalian. Aku tidak pernah mengikuti gadis itu," jelas Lucas dengan kesal. Tapi para wanita itu tak perduli apa pun yang keluar dari mulut Lucas.

__ADS_1


"Sani menepilah," ujar wanita yang tadi memeluknya. "Dan kau." Ia pun berbalik menuding ke arah Lucas. "Kau ini penguntit kan, benar kan, yang akhir-akhir ini sering dibicarakan orang-orang?"


"Tidak... tidak... lepaskan aku... Aku bukan penguntit...." Lucas terus berteriak namun suaranya tenggelam dalam amukan para wanita itu.


.


.


.


Dari kejauhan, dari sebuah atap sebuah rumah yang tak begitu jauh dari tepi pantai. Seorang gadis berkaca mata, dengan rambut berkuncir dua seadanya, berpakaian mencolok sedang berdiri dengan teropong di tangannya.


Ia dengan santainya menyaksikan keributan di pantai itu melalui teropongnya. Setelah merasa cukup puas, ia pun beranjak menuju kursi santai yang ada disampingnya. Merebahkan tubuhnya disana dengan senyum penuh kemenangan.


Gadis itu pun membuka ponselnya, menekan sebuah nomor panggilan darurat. Tertera di ponselnya nomor panggilan darurat yang dihubunginya : POLISI.


...----------------...


Sepuluh menit kemudian.


"Aku minta maaf atas semua keributan yang terjadi." Rosie membungkuk meminta maaf pada kedua petugas polisi yang hendak pamit pulang menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah Rosie.


"Ah tidak nyonya, justru kami yang meminta maaf karena kesalahpahaman ini," ujar salah seorang dari petugas itu. "Kalau begitu kami permisi."


Mobil polisi pun meninggalkan rumah Rosie. Rosie masuk ke dalam rumahnya. Rosie mendekat pada Lucas yang saat ini sedang duduk dengan kaku di sebuah sofa yang ada di tengah ruangan. Penampilan Lucas sudah berantakan. Rambutnya kusut masai, bajunya telah melar di bagian leher.


Di sekelilingnya sudah berkerumun para tetangga yang tak lain para wanita yang tadi bertengkar dengannya. Mereka menatap Lucas seperti menatap karya seni langka di museum.


Rosie pun mendekat pada Lucas. "Ah, aku benar-benar meminta maaf karena kejadian ini," ujar Rosie memulai percakapan.


"Nenek kenapa nenek yang...." Lucas memotong ucapan Rosie. Tapi Rosie yang tahu apa yang akan di ucapkan Lucas segera memotong kata-katanya, ia menyentuh bahu Lucas dengan lembut.


"Aku memang ingin memperkenalkannya pada kalian, aku tidak menyangka kalau akan melakukannya seperti ini. Cucuku ini bernama Lucas, dia anak kenalan dekat Tuan Thomas, mulai hari ini ia akan tinggal di rumahku. Cucuku belum mengenal dengan baik tempat in, aku memohon pengertian kalian atas kejadian har ini," jelas Rosie.


"Oowwhh."


"Tuan Thomas yang itu."


"Jadi namanya Lucas."


"Ah apa kita tadi terlalu keras padanya?"


"Aku merasa bersalah."


"Dia benar-benar tampan."


"Apa ia terluka?"


Bisik para tetangga Rosie.


"Tidak nyonya," ujar salah seorang wanita yang tadi bertengkar dengan Lucas mewakili yang lain. "Ehmmm... Harusnya kami yang meminta maaf, kami bahka tidak bertanya dengan benar pada Lu...Lucas," jelasnya dengan malu-malu.


"Haah bukankah tadi kalian seperti ingin memakanku, bagaimana mungkin sekarang kalian bersikap seperti kelinci yang lembut", batin Lucas.


Dan akhirnya setelah berbincang selama satu jam, kesalahpahaman itu pun selesai berkat Rosie. Lucas semakin merasa bersalah dan malu pada Rosie. Hari pertama disini ia telah melakukan banyak masalah bagi wanita tua itu.


.


.


.


Lucas dan Rosie duduk dimeja makan menyantap hidangan makan siang mereka. Kejadian pagi ini membuat keduanya lelah.


Lucas menyantap hidangannya dengan perlahan, ia masih merasa bersalah pada Rosie. Dilihatnya Rosie makan dengan tenang tanpa suara. Lucas jadi bingung bagaimana cara meminta maaf atas sikapnya hari ini meskipun ia masih sedikit tidak terima.


"Tapi nenek," ujarnya tiba-tiba. "Apa memang tak ada gadis seperti itu disekitar sini?" mungkin meminta maaf sulit baginya tapi rasa penasarannya ini lebih sulit lagi untuk dikendalikan.


Meskipun Rosie dan para tetangga tadi telah meyakinkan Lucas bahwa tak ada gadis seperti yang di ceritakan Lucas, tapi ia tetap menanyakan perihal gadis itu bahkan saat makan siang sudah selesai.


.


.

__ADS_1


.


Seandainya saja Lucas tahu bahwa gadis yang dicarinya itu saat ini sedang menyantap makan siangnya dengan lahap di kamar atap yang ada di atas kediaman rumah Rosie.


__ADS_2