Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
07. Alat Komunikasi Rahasia


__ADS_3

Thomas berjalan masuk menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Gazelle hanya mengekor saja kemana kakeknya menuju.


Seperti yang dikatakan Thomas, alasan kedatangan Gazelle bukan karena ia merindukan kakeknya, ada alasan lain. Alasan yang membuatnya selalu bersemangat setiap kali mendatangai rumah ini, yaitu karena sebuah alat komunikasi rahasia.


Alat komunikasi rahasia itu berupa sebuah penyeranta atau pager. Ayah dan ibu Gazelle biasa menggunakan pager sebagai alat telekomunikasi untuk mengirim dan menerima pesan singkat pada Gazelle. Pesan yang dikirim hanya menggunakan digit numerik saja, biasanya menunjukkan garis lintang dan garis bujur tempat titik pertemuan Gazelle dan orang tuanya.


Hanya saja pager ini berbeda dengan pager yang biasanya, pager ini dibuat khusus dan hanya ada satu-satunya di dunia. Jadi pesan yang dikirim tidak akan bisa diterima oleh jaringan pager lain sehingga tidak akan terdeteksi oleh agen kriminal atau agen hukum lainnya. Yang pasti keamanan datanya terjamin. Selain itu jangkauan areanya lintas negara.


Mengapa harus pager? Tentu saja sebagai agen rahasia, keberadaan Elizabeth dan Gregorius tidak boleh terekspos, bahkan jika ingin bertemu dengan keluarganya. Oleh karenanya komunikasi dilakukan secara rahasia. Bukan berarti tidak bisa berkomunikasi melalui ponsel biasa. Tentu saja bisa dilakukan dengan ponsel sekali pakai. Elizabeth dan Gregorius berkomunikasi melalui ponsel biasa dengan Thomas.


Tapi beda dengan Gazelle, pager ini adalah hadiah ulang tahun yang diminta Gazelle pada ayah dan ibunya saat ulang tahunnya yang ketiga belas. Jika pada normalnya anak-anak gadis pada usia itu meminta dress cantik, jalan jalan ke luar negeri atau hal mewah lainnya berbeda dengan Gazelle yang hanya meminta sebuah alat komunikasi rahasia. Ia ingin berkomunikasi dengan orang tuanya layaknya seorang agen sungguhan.


Lalu sejak saat itu, setiap tahun di hari ulang tahunnya ia selalu meminta hadiah yang berhubungan dengan alat agen rahasia.


Dan tahun ini, tepat satu minggu lagi adalah hari ulang tahun Gazelle. Dua bulan yang lalu, terakhir Gazelle bertemu orang tuanya ia meminta pada ayah dan ibunya untuk membuatkannya sebuah jam tangan rahasia.


Jadi tepat satu minggu lagi Gazelle akan bertemu kedua orangtuanya seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Oleh karenanya inilah alasan Gazelle menemui kakeknya hari ini.


Semalam Thomas menghubungi Gazelle, ia mengatakan bahwa satu pesan masuk ke dalam pager. Pager ini sengaja di simpan di kediaman Thomas. Thomas bisa menjadikan pager ini sebagai alasan agar Gazelle mau mengunjunginya.


"Sesulit ini untuk bertemu cucu sendiri," batin Thomas sambil berjalan memutari meja kerjanya. Di belakangnya, Gazelle telah berdiri di samping meja kerja Thomas. Mata gadis itu berbinar menanti kakeknya membuka brankas yang ada di belakang lukisan yang tergantung di belakang meja kerja itu.


"Ehm," ujar Thomas menoleh pada Gazelle saat ia telah menyingkirkan lukisan gantung itu. Suara deheman Thomas merupakan kode bagi Gazelle untuk tak melihatnya saat ia membuka sandi brankasnya.


"Ah hampir saja lupa," ujar Gazelle kemudian sambil berbalik memunggungi kakeknya. "Silahkan kakek, aku tak akan melihatnya," ujarnya tersenyum licik.


Tentu saja ia tak perlu melihatnya karena ia sudah tahu kode sandi kakeknya, ia tahu cara memecahkan kode sandi itu berkat ilmu yang diajarkan ibunya.


Meskipun begitu ia tak berniat sedikit pun membuka brankas pribadi milik kakeknya karena bagi Gazelle ada alasan mengapa orang membutuhkan tempat rahasia yang tidak boleh diketahui siapapun dan ia menghormati alasan itu.


Tut tut tut tut ... Klak.

__ADS_1


Bunyi pintu brankas terbuka. Suaranya semakin membuat hati Gazelle berdebar. Thomas mengeluarkan sebuah pager dari dalam brankas. Lalu menutup kembali brankasnya.


Gazelle yang tahu kalau pintu brankas telah tertutup kembali, segera berbalik melihat ke arah kakek dan berjalan mendekatinya. Melihat Gazelle yang sudah tidak sabaran maka kakek segera memberikan pager itu kepadanya.


Kakek hanya tersenyum tipis melihat kelakuan cucunya sambil meletakkan kembali lukisan ke dinding. Gazelle duduk dengan cepat ke sofa yang ada di tengah ruangan. Ia membuka pager itu dan membaca pesan yang masuk di dalamnya.


Beberapa digit angka tertera di layar pager. Melihat angka-angka itu Gazelle dengan cepat membuka peta pulau Novastica yang tersusun di atas meja di depan sofa. Tangannya bergerak cepat mengikuti arah yang ditunjukkan oleh angka-angka yang tertera di pager.


"Washoku Restaurant," ucap Gazelle cepat setelah menemukan titik yang dimaksud dalam pager. Lalu Gazelle membaca lagi angka-angka di baris kedua pada pager, angka tersebut menunjukkan waktu pertemuan. Di pager tertulis bahwa waktu pertemuan sekitar pukul 04.00 sore.


Gazelle merapikan kembali peta yang tadi dibukanya. Ia pun berjalan menuju meja kerja kakeknya, Thomas sedang membaca surat kabar pagi ini.


"Jadi kita akan ke sana? Washoku Restaurant?" tanya Thomas yang sejak tadi mendengarkan kata-kata Gazelle.


"Benar kakek," ujarnya sambil meletakkan kembali pager di atas meja kakeknya. "Pukul empat sore. Oh iya apa kakek sudah menyiapkan kado untukku?" ia menggoda kakeknya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya kakek kemudian.


"Mobil," ujar Gazelle sambil melebarkan senyumnya. Hadiah yang setiap tahun ia minta kepada kakeknya dan tentu saja setiap tahun pula permintaan itu di tolak. Kali ini ia mengatakan hal yang sama karena ia yakin pasti Thomas akan menolaknya.


"Baiklah, mobil jenis apa yang kau mau?" jawab Thomas tiba-tiba sambil melipat surat kabar yang dibacanya tadi. Jawaban itu membuat Gazelle kaget dan hampir saja menjatuhkan patung giok kecil yang ada di atas meja.


Gazelle menatap tak percaya pada Thomas yang sedang membuka majalah otomotif ditangannya sambil bersandar di kursi kerjanya.


"Kakek? Kakek tak sedang bercanda kan?" tanyanya masih tak percaya.


"Biasanya remaja sepertimu menyukai jenis yang lebih kecil, bagaimana kalau ini," ujar Thomas sambil meletakkan majalah ke mejanya dan menunjuk sebuah gambar mobil yang ada di salah satu halaman. "Bagaimana?" tanyanya lagi sambil menatap pada Gazelle.


Gazelle yang kaget hanya bisa diam. Lalu ekspresi wajahnya berubah, ia menyipitkan matanya memandang tajam pada wajah kakeknya dan melipat kedua tangannya ke dada. Naluri seorang agen rahasia bergejolak.


"Syaratnya? Apa syaratnya agar aku bisa medapatkan mobil itu?" Gazelle membalas pertanyaan kakek dengan pertanyaan lain.

__ADS_1


"Wahh cucu kakek ini cepat tanggap rupanya," ujar kakeknya yang ketahuan memiliki maksud tersembunyi dalam kata-katanya barusan. "Tentu saja syaratnya cukup kau kembali dan tinggal bersama kakek," sambung kakek sambil menyandarkan kepalanya ke kursinya.


"Aahhh kakek," ujar Gazelle terdengar malas. "Itu bahkan lebih sulit daripada diminta naik peringkat." Ia pun menghempaskan dirinya ke sofa yang tadi didudukinya. "Kalau kakek tidak mau seharusnya langsung saja bilang tidak," ia menggerutu.


"Kakek tidak bilang tidak, kau saja yang tak sanggup memenuhi syarat." Thomas tersenyum karena berhasil mempermainkan Gazelle. "Apa kau tidak ingin pergi sekolah?" tanya Thomas kemudian.


"Kakek sudah tidak suka aku disini?" ujar Gazelle cemberut.


"Kalau tidak suka mana mungkin kakek memintamu kembali kesini. Tapi coba lihat sudah pukul berapa ini? Setengah jam lagi sekolah dimulai." Thomas mengambil ponselnya dan membuat panggilan.


"Antarkan Gazelle ke sekolah," ujar Thomas pada suara di belakang telepon, yang tak lain adalah suara Liam, sopir pribadi Thomas.


Gazelle yang mendengar kata-kata Thomas langsung berdiri tegak. "Kakek... Aku bisa naik angkutan umum dari sini," rengek Gazelle.


"Yah, dan kau akan terlambat setengah jam jika naik bis. Biar Liam mengantarmu, ia tahu jalur tercepat agar bisa sampai disekolahmu," jelas Thomas.


"Baik kakek," ujar Gazelle yang telah berdiri siap, ia ingin menolak tapi ia baru tersadar kalau jam bergerak cepat. Ia harus tiba tepat waktu jika tidak ingin kena hukum.


"Dan ini," ujar kakek sambil membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah paper bag di dalamnya terdapat kotak hitam kecil dengan nama Lucas tertera di atasnya. "Berikan ini pada kepala sekolahmu."


Gazelle berdiri dan bergerak mengambil paper bag tersebut. Gazelle menatap sekilas nama yang tertera di atas kotak sebelum dimasukkan dalam tas punggungnya. Membaca nama itu membuat ia tersenyum simpul, ia terbayang lagi wajah Lucas yang sedang kesal.


"Jangan mengganggunya," ucap Thomas tiba-tiba pada Gazelle yang sedang bergerak ke arahnya untuk memberi pelukan sebelum pergi. "Hari ini kakek biarkan, tapi tak ada lain kali," ujar Thomas tegas.


Sesaat sebelum Gazelle datang ke rumahnya tadi, Thomas mendapat telepon dari Frank Sinnister, kepala sekolah SMA WhiteSwan, ia ingin menanyakan alasan Lucas Theodore datang ke sekolah pagi pagi sekali apakah karena Thomas yang memintanya.


Tentu saja Thomas tak pernah melakukan itu, ia bahkan belum pernah berkomunikasi dengan Lucas secara langsung. Thomas yang merasa heran segera menelpon Rosie, dan Rosie menceritakan apa yang terjadi pagi ini pada Thomas tanpa ada yang ditutupi.


Thomas hanya menarik napas panjang setelah tahu bahwa ini ulah cucunya. Kali ini ia membiarkan tapi tentu saja tak ada lain kali. Bagaimanapun ia juga tegas dalam aturan.


"Apa pihak keamanan sekolah menelpon kakek?" tanya Gazelle cemberut karena mendapat ancaman kakeknya.

__ADS_1


"Frank yang menelpon kakek. Berhati-hatilah Gazelle. Hanya karena Frank tahu siapa dirimu sebenarnya bukan berarti ia tidak bisa mendisiplinkanmu. Antarkan kotak ini padanya dan meminta maaflah padanya," perintah Thomas kemudian.


"Baik kakek." Gazelle mengiyakan perintah kakeknya. Ia paham ia salah, tapi ia tak menyangka kakek akan tahu perbuatannya ini. Gazelle pun berpamitan pada kakeknya.


__ADS_2