
Gazelle meminta tuan Liam menurunkannya di depan gerbang sekolah. Rumor tentangnya bahwa ia adalah seorang anak sopir rupanya sangat berguna bagi Gazelle. Karena sekalipun Ia turun dari mobil mewah tersebut orang-orang tidak terlalu mempedulikannya.
Masih ada lima menit lagi sebelum bel sekolah dimulai, Gazelle berjalan cepat menuju ruangan kepala sekolah yang ada di lantai dua gedung sekolah ini.
Pintu ruangan itu masih tertutup ketika Gazelle tiba di sana. Tapi Gazelle tahu bahwa pak Frank sudah tiba sejak tadi. Gazelle mengangkat tangannya berniat untuk mengetuk pintu, tapi tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
Melihat pintu terbuka Gazelle kaget, rupanya ada yang akan keluar pikirnya. Gazelle bergeser ke samping untuk memberikan ruang agar tidak saling bertabrakan dengan orang yang akan keluar.
Seseorang keluar, orang itu adalah Lucas. Gazelle sedikit tersentak melihat sosok itu tapi ia tetap berusaha tenang dan bersikap seolah ia tidak peduli.
Lucas yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah juga sedikit kaget. Ia tidak tahu ternyata ada seseorang, yang tak lain adalah Gazelle, sedang berdiri di depan pintu. Ia pun hanya melihat sebentar ke arah gadis itu dan berlalu pergi.
"Rupanya dia sudah bertemu dengan pak Frank apa dia menceritakan semuanya? Tidak masalah sih jika pak Frank marah padaku. Tapi apa sekarang Lucas sudah tahu siapa aku? Ah tidak mungkin! Melihatnya berjalan melewatiku itu artinya ia belum tahu siapa aku." Itu yang dipikirkan Gazelle sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
Tujuan Gazelle masuk ke dalam ruangan kepala sekolah adalah untuk memberikan kotak hitam yang tadi dititipkan oleh kakeknya dan juga untuk meminta maaf kepada pak Frank. Gazelle tak menyangka akan berpapasan dengan Lucas di tempat ini.
Gazelle duduk di sofa yang ada di tengah ruangan setelah kepala sekolah mempersilahkannya duduk.
"Tuan Thomas menelponku, dia bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku, apa itu?" tanya Frank sambil mengamati wajah Gazelle yang merasa bersalah dari belakang mejanya.
Frank sudah mengetahui kejadian di depan gerbang sekolah pagi ini adalah ulah Gazelle. Tapi ia tidak ingin langsung menghakimi gadis itu. Ia ingin melihat ketulusannya saat meminta maaf.
Gazelle pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke meja kerja Frank. "Aku ingin meminta maaf Pak," ujarnya pelan. Ia tahu ia salah, meskipun ia tak sedikit pun merasa bersalah.
"Soal pagi tadi? Sepertinya kau sudah mengenalnya. Lucas Theodore maksudku. Uhmm... Aku tak akan membesarkan masalah ini, tapi aku tidak ingin ini hal seperti ini terulang lagi," jelas Frank kemudian.
"Baik Pak," Gazelle menundukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. Atau lebih tepatnya pura-pura mengerti. Frank adalah orang yang sama dengan Thomas. Orang yang tak akan membiarkan siapapun melanggar aturan yang ada di sekolah ini. Jadi jika kali ini ia membiarkan masalah ini tentu ada yang ia inginkan dari Gazelle dan Gazelle tahu itu.
"Kalau begitu mulai sekarang jika kau benar-benar meminta maaf maka kau harus mem-ban-tu-nya," ucap Frank pada Gazelle. Suaranya penuh dengan ketegasan.
Entah kenapa bagi Gazelle kata-kata terakhir yang di ucapkan Frank seolah tak berujung, kata-katanya menggantung. Ia menyadari adanya maksud lain dari kata-kata itu.
"Baik Pak," Gazelle mengiyakan saja dengan sopan, tak ingin bertanya lagi.
__ADS_1
Di mata Frank, meski ia bersikap sopan begitu tapi ia tahu benar apa yang ada di pikiran Gazelle. Gazelle bukanlah orang yang akan menuruti kehendak orang lain jika ia belum mencapai tujuannya. Jadi jika kali ini ia meminta maaf dan mengakui kesalahannya bukan berarti ia tidak akan mengulanginya.
Frank juga tahu Gazelle bukan orang yang melanggar aturan tanpa alasan. Sudah beberapa kali Gazelle mendapatkan hukuman tapi selalu ada alasan dibaliknya. Dan setelah tadi bertemu Lucas, Frank jadi tahu alasan mengapa Gazelle mengusik pria itu di hari pertamanya.
Frank sangat berharap Gazelle menangkap kata-kata yang disampaikannya. Karena jika ia menangkap maksudnya maka baik Gazelle maupun Lucas tidak akan menjadi orang yang perlu dikhawatirkannya lagi.
Jadi secara tidak langsung Frank berharap Gazelle lah yang mampu mengubah Lucas dan Lucas lah yang akan membantu Gazelle.
"Baik kalau begitu kembalilah ke kelas. Kelas akan segera dimulai," perintah Frank padanya.
Gazelle pun meninggalkan ruangan kepala sekolah. Ia berjalan menuju ruang kelasnya sambil memikirkan perkataan Frank tadi. "Bagaimana caranya ya membantu bocah itu. Membantu itu kata kata yang sulit bagaimana kalau jadi membuatnya tunduk hihihi," Gazelle senyum-senyum sendiri membayangkannya.
...----------------...
Bel sekolah berbunyi, para siswa pun bergegas memasuki kelasnya masing-masing, tak terkecuali Gazelle. Koridor kelas setiap lantai gedung yang tadi ramai hiruk pikuk siswa kini hening.
Pelajaran pertama di kelas Gazelle adalah sains tapi belum juga dimulai karena guru yang akan mengajar belum masuk kelas. Kelas pun menjadi gaduh.
Ia tidak peduli dengan kegaduhan yang dibuat oleh teman-temannya. Bukan karena ia tidak memiliki teman untuk di ajak cerita, hanya saja ia lebih memilih diam saat tidak ada hal penting yang ingin ia katakan kepada teman-temannya dan mereka semua tahu itu.
Drrrkk! Suara pintu kelas bergeser dan terbuka. Seorang pria berusia sekitar 40 an dengan kacamata tebal dan rambut hampir tidak ada masuk ke dalam kelas. Pria itu adalah pak Wilmar, guru sains yang kehadirannya sudah ditunggu sejak tadi.
Tak lama masuk pula seorang mengekor di belakang pak Wilmar. Pria itu adalah Lucas. Kelas yang tadi sepi sejenak karena pak Wilmar masuk langsung berubah gaduh kembali setelah melihat kedatangan Lucas. Semua siswa bersorak.
Tak! Tak! Tak! Pak Wilmar memukulkan penggaris besi ke mejanya. "Bapak minta kalian semua tenang," serunya kemudian.
Kelaspun sedikit tenang, hanya menyisakan bisik-bisik kecil di antara siswa perempuan. Lucas terlihat tak terlalu perduli bahkan sedikit merasa risih saat dirinya menjadi pusat perhatian. Tatapannya dingin dan mulutnya terkunci rapat.
"Hari ini kita kedatangan teman baru. Ayo perkenalkan dirimu," suruh pak Wilmar pada Lucas.
Lucas hanya menatap dan mengedarkan pandangannya ke seluruh orang tanpa berniat memperkenalkan dirinya. Para siswa telah menutup mulut mereka dan memasang telinga menunggunya memperkenalkan nama.
"Apa sekarang aku sudah bisa duduk di kursiku?" tanya Lucas datar pada pak Wilmar setelah beberapa saat yang hening.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Lucas barusan membuat semua siswa kaget. Meskipun pelan mereka mulai mengkritik tingkah pola Lucas.
"Oh!!" Pak Wilmar pun kaget namun ia mengerti lalu ia mengambil alih. "Nama teman kita ini adalah Lucas. Lucas kau bisa duduk disana," tunjuk pak Wilmar pada bangku kosong dibelakang sekali dekat jendela, tepat dua bangku di belakang Gazelle.
"Baiklah sekarang kita mulai saja pelajaran kita," seru pak Wilmar mengajak semua siswa untuk fokus pada proses belajar mengajar. "Sebelumnya bapak akan panggil nama kalian satu persatu."
Lucas yang baru saja duduk di bangkunya mulai menajamkan telinganya saat pak Wilmar akan memanggil nama semua siswa. Ia ingin sekali menemukan si pemilik nama yang ia ingat dengan baik pagi ini.
Sementara itu Gazelle hendak mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya. Saat membuka tasnya ia terkejut melihat paper bag itu masih ada di dalam tasnya. "Bagaimana ini? aku lupa memberikan benda ini kepada Pak Frank," batinnya.
Gazelle pun bergegas mengambil paper bag itu dan berdiri. Ia meminta izin kepada Pak Wilmar untuk keluar kelas karena ada sesuatu yang ingin ia berikan kepada kepala sekolah. Pak Wilmar pun mengizinkannya.
Pak Wilmar melanjutkan mengabsen nama-nama siswa. Ketika tiba di nama Gazelle, ia tidak memanggil lagi nama Gazelle melainkan hanya mencentang pada kotak di samping nama Gazelle.
Lucas menyandarkan tubuhnya di kursi. Pak Wilmar telah selesai mengabsen nama-nama siswa. Dari semua nama yang dipanggil tidak ada satupun nama Gazelle yang disebutkan sehingga Lucas tampak kecewa. "Jadi ia tidak satu kelas denganku?" tanya Lucas pada dirinya sendiri.
...----------------...
15 menit yang lalu sebelum pelajaran dimulai.
Lucas sedang duduk di dalam ruangan kepala sekolah ia menunggu Frank datang. Tak lama Frank memunculkan batang hidungnya. Ia kaget melihat sosok Lucas yang sudah duduk di sofa menunggunya.
"Kau sudah datang?" tanya Frank memulai percakapan dan mengambil tempat duduk di hadapan Lucas.
Lucas hanya diam saja tidak berniat membalas pertanyaan Frank. Ia menyilangkan satu kakinya dan mengaitkan jari jemari tangannya di pangkuannya.
"Bagaimana tempat ini apa kesan pertamamu?" tanya Frank mencoba mencairkan suasana.
"Entahlah... untuk orang yang sudah menunggu lebih dari satu jam kedatangan Anda, menurut Anda saya harus memberikan kesan seperti apa?" Lucas balik bertanya. Kata-katanya dingin penuh dengan emosi.
Frank menarik nafas panjang. Ia tahu penyebab kemarahan anak itu. Pihak keamanan sekolah telah memberitahukan kepada Frank perihal kejadian pagi ini di depan gerbang sekolah.
"Bapak harap kau menyukai tempat ini," jawab Frank sebelum mulai untuk memberi sedikit pengarahan pada Lucas.
__ADS_1