
Gazelle memasuki kediaman Thomas Edison, setelah setengah jam perjalanan dengan bus akhirnya ia sampai juga di rumahnya, rumah yang sebenarnya.
...----------------...
Siapa sebenarnya Gazelle? Tentu saja dia adalah cucu satu-satunya Thomas Edison. Cucu pemilik yayasan WhiteSwan. Cucu yang akan mewarisi seluruh harta kekayan yang di miliki Thomas Edison.
Thomas Edison hanya memiliki satu orang putri, Elizabeth Edison, yang mana putrinya ini tak tertarik sama sekali dengan urusan-urusan yang berhubungan dengan manajemen yayasan atau kepemilikin perusahaan. Putrinya menolak mentah-mentah ide ayahnya untuk mengelola yayasan. Oleh karenanya Thomas Edison mewasiatkan akan memberikan seluruh peninggalannya kepada Gazelle.
Yah tentu saja gadis itu juga pasti akan menolak. Putri Elizabeth Edison itu mewarisi gen ibunya dengan sempurna. Tak hanya sama dalam hal-hal yang disukai, mereka juga membenci hal yang sama. Bagi Gazelle, ibunya adalah panutannya dalam menjalani hidup. Ia bahkan memiliki impian untuk meneruskan jalan hidup yang dipilih ibunya.
Lalu apa yang dilakukan Elizabeth? Sesuatu yang tak biasa tentu saja. Ia adalah seorang agen rahasia, pekerjaan yang sangat berbahaya dan menantang maut. Pekerjaan yang tak akan dipilih oleh seorang konglomerat generasi kedua manapun.
Tapi kecintaannya pada pekerjaannya yang bahkan melebihi kecintaannya pada suaminya, Gregorius Clifford, tak pernah membuat Elizabeth ingin berhenti dari pekerjaan dan menikmati hingar bingar dunia layaknya putri seorang konglomerat.
Suami Elizabeth sendiri adalah seseorang yang bekerja di bidang yang sama dengannya. Bedanya tentu saja Elizabeth bekerja dibelakang layar saat ini sedangkan Greg bekerja sebagai agen lapangan.
Bukan berarti Elizabeth tidak pernah menjadi agen lapangan. Tapi sejak menikah dengan Greg, Greg yang sangat mencintai istrinya itu sebanyak ia mencintai pekerjaannya meminta Elizabeth untuk bekerja di belakang layar. Awalnya tentu saja Elizabeth menolak, tapi kehadiran Greg junior didalam rahimnya membuat Elizabeth menerima keputusan suaminya.
Ia mungkin mencintai pekerjaannya, tapi nalurinya membuatnya tanpa sadar lebih mencintai makhluk kecil yang kini mendekam didalam tubuhnya, makhluk yang wajahnya bahkan belum pernah ia lihat sama sekali. Jiwa petualangnya menyerah pada naluri keibuannya.
Sekarang makhluk kecil itu telah menginjak usia remaja. Gazelle sudah berada di tahun terakhirnya di SMA. Kurang lebih setengah tahun lagi akan lulus dan akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Sebagai orang tua, Elizabeth dan Gregorius tentu menginginkan Gazelle memilih jalan hidup yang telah terbentang dihadapannya. Begitu juga bagi Thomas, ia ingin anak itu melalui jalan yang sudah ia pilihkan untuknya.
Tapi kenyataan selalu tak seindah harapan. Bagi Gazelle, sejak kecil hingga saat ini, pekerjaan yang dilakukan ibu dan ayahnya adalah pekerjaan dan jalan hidup yang paling ia impikan di dunia ini. Tidak ada yang lebih indah baginya selain menjadi agen rahasia yang misterius dan hidup seperti bayangan.
Meskipun tak bisa dipungkiri, sejak kecil ayah dan ibunya bahkan tak sama seperti orang tua lain yang memiliki waktu yang cukup dengan anaknya. Orang tua Gazelle selalu berpergian, bahkan dalam satu tahun bisa dihitung dalam hitungan jari waktu untuknya berkumpul keluarga.
Sejak kecil Thomas lah yang selalu ada disampingnya, kakeknya yang sangat menyayanginya. Ia membesarkan Gazelle layaknya putri pewaris tunggal kerajaan. Ia mengajarkan semua yang akan di butuhkan Gazelle untuk menggantikannya nanti.
Namun kendati demikian, segala hal yang berhubungan dengan ayah ibunya lah yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar dan bergairah. Ia bahkan tak tertarik sedikit pun dengan apapun yang kakeknya lakukan.
__ADS_1
Thomas Edison adalah orang yang sangat mencintai pekerjaannya, ia mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk membangun yayasan ini hingga menjadi besar seperti sekarang.
Jiwanya bersemangat setiap kali ia sibuk dengan urusan pekerjaannya, namun ia menyadari bahwa raganya tak bisa sekuat dulu. Usia membuatnya sadar bahwa sudah saatnya ada seseorang yang akan menggantikannya.
Tapi putrinya satu-satunya memilih jalan yang berbeda dengannya. Bukan ia tak menentangnya tapi ia tak ingin menjadi orang tua yang egois.
Thomas membiarkan anak-anaknya berhasil dijalan yang mereka buat sendiri, karena baginya itu adalah hal yang terindah yang terjadi saat ia menjadi orang tua. Kebahagiaan mereka sesuatu yang tak ternilai baginya.
Bahkan saat Gazelle, satu-satunya keluarga yang membuat hari-harinya tak pernah terasa sepi, mulai menyatakan pendapatnya untuk pertama kalinya, Thomas tak kuasa menentangnya.
Saat itu Gazelle baru lulus dari SMP nya. Gazelle yang bahkan tak pernah pergi kemanapun jika tanpa sopir pribadinya menyatakan ingin keluar dari rumah itu.
Tentu saja Thomas memandang kaget pada Gazelle kala itu. Ia tak menyangka bahwa gadis kecil itu telah tumbuh besar dengan cepat. Sekali lagi dalam hidupnya ia menyaksikan bagaimana sebuah jalan baru akan terbentang lagi di hadapannya.
Thomas menyetujuinya, karena ia tahu darah lebih kental daripada air, tidak ada gunanya menghalangi kehendak cucunya itu jika melihat pada watak ibunya.
Hanya saja ia memberikan syarat pada Gazelle bahwa suatu saat nanti ia akan dijadikan pewarisnya. Ia tidak ingin terlambat seperti saat ia menyerahkan yayasan disaat Elizabeth telah menggeluti pekerjaannya, yang berujung pada kegagalan.
Keputusan yang dibuat Gazelle untuk hidup mandiri setelah lulus SMP merupkan keputusan yang telah dipikirkannya matang-matang. Keputusan yang ia tetapkan sebagai langkah awal untuk hidup seperti ibu dan ayahnya.
Selama ini Gazelle sebenarnya tak pernah mengungkapkan siapa dirinya yang sesungguhnya pada teman-temannya. Dengan alasan itu lebih sempurna lagi baginya jika ia tidak tinggal di rumah kakeknya, begitu yang dipikirkannya.
Gazelle bukanlah seorang introvert yang tak bisa bersosialisasi. Ia hanya ingin dirinya dianggap misterius, karenanya ia tak pernah benar-benar punya sahabat dekat. Selain itu pada saat sekolah ia tidak pernah meminta pada sopirnya untuk mengantarnya sampai ke depan sekolah.
Pernah suatu ketika seorang teman melihatnya turun dari mobil mewahnya saat hendak ke tempat kursus. Ia hanya mengatakan ke temannya bahwa mobil itu adalah mobil milik tuannya, sedangkan sopir itu adalah ayahnya. Tentu saja dengan cepat rumor bahwa Gazelle ternyata anak seorang sopir menyebar.
Hingga saat ini tidak ada yang pernah tahu siapa Gazelle sebenarnya, mereka hanya tahu bahwa Gazelle adalah anak sopir di keluarga Thomas Edison.
...----------------...
Pagi itu Thomas sedang duduk menikmati udara pagi di sebuah kursi putih di dalam rumah kacanya sambil menatap fokus pada tablet yang ada di pangkuannya. Ia sedang memeriksa beberapa laporan mengenai yayasan.
__ADS_1
Secangkir kopi hangat dan beberapa kue manis tersaji di sebuah meja kaca bulat berwarna senada yang ada di samping tempat duduknya.
Suara langkah kaki masuk ke dalam rumah kaca dan semakin mendekat padanya. Ia tahu siapa yang datang. Cucunya, Gazelle.
Seorang tukang kebun yang sedang sibuk membersihkan gulma segera undur diri saat melihat Gazelle telah mendekat pada Kakeknya.
"Selamat pagi," sapa Gazelle sambil memeluk kakeknya dari belakang. Ia pun mendaratkan ciumannya pada pipi renta lelaki tua itu lalu dengan cepat mengambil tempat duduk di kursi kosong di sebelah Thomas.
"Ehmm." Thomas mematikan tabletnya dan meletakkannya di meja. "Kau terlihat senang, apa karena akan bertemu kakek?" ujarnya tenang sambil mengintip Gazelle dari balik kacamatanya.
"Tentu saja kakek, aku sangat sangat merindukan kakek." Gazelle terdengar senang.
"Benarkah?" Thomas melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas tabletnya. "Kedengarannya tidak seperti itu," lanjut Thomas sambil memejamkan matanya.
"Mana mungkin, kakek kan tahu aku selalu ingin bertemu kakek," jawab Gazelle buru-buru.
"Ehmmm... kapan terakhir kau datang kesini? Apa kau masih ingat?" tanya Thomas tiba-tiba.
Gazelle tahu kalau kakeknya ini sedang marah padanya. Bagaimana mungkin Thomas tidak marah. Sejak Gazelle tinggal terpisah dengannya, Gazelle sangat jarang mengunjunginya.
Gazelle selalu memiliki alasan untuk menolak datang menemui kakeknya. Bahkan jika Thomas yang akan datang menemuinya, ia juga menolaknya. Ia selalu mengatakan mungkin Rosie akan merasa sedih karena mengira Rosie tak mampu menjaga Gazelle sampai-sampai kakek harus menemuinya di rumah Rosie.
"I-itu dua bulan yang lalu sepertinya kek..., " ujarnya pelan sambil memainkan rambutnya. Ia mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga indah disekelilingnya tak berani memandang wajah kakeknya.
"Haaahh... Aku benar-benar tidak bisa berharap lebih," ujar Thomas mengambil nafas panjang. "Dua bulan lalu, kau datang karena itu kan. Kali ini pun kau datang dengan alasan yang sama." Thomas pun berdiri dari tempat duduknya.
Gazelle yang kaget melihat kakeknya berdiri, langsung cepat mengambil langkah disamping kakeknya. Gazelle merangkulkan tangannya pada lengan kakeknya sambil tersenyum sumringah.
"Kakek, aku janji aku akan sering-sering datang kemari, ok?" Gazelle terus merayu kakeknya sambil berjalan menuju ke dalam rumah dan meninggalkan rumah kaca dalam keheningan.
__ADS_1