
Lucas akhirnya tiba di sebuah taman yang tak jauh dari halte bus. Sore itu taman tampak sepi. Tidak ada pengunjung di taman karena hari hampir gelap. Cahaya matahari mulai bersembunyi di balik gedung-gedung dan pepohonan di sekitaran taman.
Lucas turun dari motornya dan berjalan perlahan melihat ke sekitar mencari sosok yang ingin ditemuinya. "Haah... Apa dia membohongiku? Tidak ada siapa-siapa disini, benar benar sial...."
Meskipun tak melihat siapapun disana tapi Lucas memutuskan untuk menunggu saja. Ia pun duduk di sebuah bangku ayunan, tangannya terlipat menahan tiupan angin yang mulai dingin. Sepertinya awan mendunglah yang membuat hari gelap dengan cepat.
"Kau datang juga...!" seru sebuah suara yang tak lain adalah Jake.
Lucas mengangkat kepalanya, menatap sosok yang ia kenali sudah berdiri di hadapannya. Ia pun berdiri dari ayunan itu. "Kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Lucas heran melihat kedatangan Jake alih-alih Gazelle.
"Sepertinya kau menunggu seseorang. Apa kau kecewa karena yang datang itu aku?" ujar Jake tersenyum sinis.
...----------------...
Bagimana Jake bisa datang?
Beberapa menit setelah bel pulang dibunyikan, Jake dan teman-temannya yang mendapat info mengenai keberadaan Lucas berniat menemuinya di parkiran motor. Tapi saat di jalan menuju parkiran, ia dihadang oleh Gazelle.
Melihat sosok Gazelle, Jake jadi kaget. Ia berusaha memutari tempat Gazelle berdiri karena tidak ingin berurusan dengannya. Tapi Gazelle malah ikut bergerak dan terus berusaha menghalangi pergerakan Jake.
"Haaah... Sebenarnya apa maumu? Kau tahu aku tidak suka berurusan denganmu!" ujar Jake setelah lelah menghindari Gazelle.
"Kau pikir aku suka. Aku hanya tidak ingin mengecewakan seseorang. Taman sebelum halte, sore ini. Aku yakin orang yang ingin berurusan denganmu ada disana," ujar Gazelle lalu pergi meninggalkan Jake dan teman-temannya dengan perasaan heran. Mereka masih belum mengerti apa yang dimaksudkan Gazelle.
Bagaimana Gazelle bisa tahu? Tentu saja ia tahu. Saat Bella menemui Lucas di parkiran, Gazelle juga ada disana. Ia mendengarkan semua perbincangan mereka.
Bella adalah orang yang selalu berpura-pura ramah pada Gazelle. Ia selalu berusaha mengajak Gazelle berbicara saat di kelas. Gazelle yang tahu apa niatannya selalu mengabaikannya.
Hari ini sebelum pelajaran terakhir di mulai, Bella beberapa kali bertanya apakah Gazelle akan ke taman di dekat halte sore ini. Bella tahu kebiasaan Gazelle yang suka memberi makan kucing liar di taman itu setiap sore sepulang sekolah. Bella tahu karena ia tak sengaja pernah bertemu Gazelle di taman itu. Atau lebih tepatnya pernah mengikuti Gazelle sampai kesana.
Sikap Bella hari ini terasa aneh bagi Gazelle. Lalu Gazelle pun mengikuti Bella sejak Bella keluar kelas. Dan benar apa yang dipikirkan Gazelle saat ia mendengar perbincangan Bella dan Lucas.
Bukan Gazelle namanya kalau tidak memiliki jalan keluar. Jadi ia pun sengaja memancing Jake kesana. Karena sifat Jake yang selalu ingin mendominasi, pasti Jake tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menekan Lucas di luar sekolah. Jake bisa bergerak bebas saat di luar sekolah.
...----------------...
"Kecewa? Tentu saja aku kecewa. Apa karena ini taman bermain, kenapa yang datang justru pecundang?" ujar Lucas mengejek Jake. "Pergilah aku sedang tidak ingin bermain!" tegas Lucas mengusir Jake pergi.
__ADS_1
"Hahaha... sial... rupanya memang kau tak pantas diajak bicara," seru Jake marah. Ia pun bergerak cepat ke arah Lucas dan melayangkan tinjunya pada Lucas.
Tak!!
Lucas menahan tinju Jake hanya dalam satu gerakan. Ia mencengkram tangan Jake sangat kuat membuat Jake yang tak pernah kalah dalam perkelahian sedikit terkejut. "Apa ini? Kau pikir tangan lemahmu ini bisa menyentuhku?" ujar Lucas memprovokasi Jake.
"Dia bisa membaca gerakanku?" batin Jake. Lalu Jake menarik cepat tangannya dan melayangkan kakinya hendak menendang samping tubuh Lucas.
Tapi sekali lagi Lucas menahan serangan kaki Jake dengan tangannya lalu mendorong keras tubuh Jake hingga Jake jatuh terduduk.
"Apa sudah selesai? Sekarang giliranku," ujar Lucas dengan cepat mendekat ke Jake yang masih terduduk di tanah. Lucas berjongkok di atas Jake dan satu tangannya meraih kerah kemeja Jake bersiap melayangkan tinjunya pula.
Lucas telah memusatkan seluruh tenaganya di kepalan tangannya. Ia siap menghantam wajah Jake. Tapi tiba-tiba sebuah suara membuat Lucas kaget dan fokusnya terpecah. Tinjunya pun berhenti.
"Pusss pusss kemarilah... Ayolah ini makanan kalian," suara Gazelle yang sedang berjongkok tak jauh dari Lucas dan Jake. Di tangannya ada sekaleng makanan kucing. Tak lama memanggil, dua ekor kucing berwarna hitam abu-abu keluar dari semak-semak dan menghambur ke arah Gazelle.
Mata Lucas menegang mendengar suara itu begitu juga Jake. Lucas pun menarik tangannya dan melepas cengkraman tangannya pada Jake. Ia melihat ke arah kucing-kucing yang mengeong kelaparan. "Kau...," ujarnya langsung berdiri dan berjalan mendekati Gazelle. Ia meninggalkan Jake begitu saja.
Jake yang wajahnya sudah pucat pasi karena tinju besar Lucas yanh hanya tinggal berapa centi dari wajahnya menarik napas lega. "Hampir saja... aku salah meremehkannya," batin Jake yang mulai berdiri mengangkat tubuhnya.
"Berdiri kau," ujar Lucas membentak pada Gazelle yang tampak sibuk membelai kepala kucing-kucing liar itu.
Gazelle pun berdiri dengan tenang setelah ia memastikan kaleng tersebut kosong. Ia pun dengan tenang menatap Lucas yang berdiri tepat di hadapannya. Tapi tiba-tiba ia memiringkan tubuhnya untuk melihat Jake yang berdiri tak jauh dibelakang Lucas.
"Hei Jake kau tak apa? Kulihat kau sudah menemukan orang yang kau cari!!" seru Gazelle pada Jake yang menahan emosi.
"Hah gadis licik itu, selalu saja membuatku kesal," batin Jake. "Hei ketua kelas, ku harap kau tak bercerita apapun soal hari ini," seru Jake lalu pergi meninggalkan Lucas dan Gazelle. Ia benar-benar tak ingin berurusan dengan Gazelle.
Gazelle mengangkat satu tangannya memberi isyarat melalui jarinya bahwa ia mengerti apa maksud Jake barusan. Setalah Jake berlalu, ia pun menegapkan kembali badannya dan menatap wajah Lucas yang sejak tadi menahan amarah karena diabaikan gadis itu.
"Kau mengabaikanku?" ujar Lucas menatap tajam pada Gazelle. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap gadis itu.
"Kau tidak dengar yang dikatakan Jake tadi, aku ini ketua kelas. Aku memiliki kewajiban untuk melaporkan apapun yang terjadi pada teman satu kelasku. Termasuk kau... Lucas Theodore," ujar Gazelle santai.
Mata Lucas mulai berkedut. "Hanya karena kau perempuan bukan berarti aku tidak bisa memukulmu!" ujar Lucas tegas.
"Lalu?" tanya Gazelle menekankan kata-katanya. "Kau ingin memukulku sekarang?" tanya Gazelle.
__ADS_1
"Kau benar benar tak takut apa-apa rupanya! Kau tahu apa kesalahanmu kan?" tanya Lucas yang mulai bingung harus berbuat apa. Ia marah karena Gazelle menantangnya namun ia tak bisa melampiaskan amarahnya. Karena seumur hidupnya ia belum pernah memukul perempuan.
Lagipula setelah Lucas pikirkan ulang, kesalahan gadis itu semata karena ia mengejutkannya tiba-tiba saat ia hampir saja tertidur.
"Bisa jadi itu karena ia tak menyadari keberadaanku kan dan saat kupanggil ia tak mendengar karena saat itu ia sedang memakai ear phone," batin Lucas mencoba memaklumi perilaku Gazelle saat itu.
"Gara-gara gadis yang bernama Gazelle itu aku jadi melampiaskan emosiku pada semua orang," batinnya lagi.
"Kesalahanku yang mana tepatnya?" tanya Gazelle balik pada Lucas yang tampak sedang berpikir. Didalam hatinya Gazelle merasa puas melihat wajah kesal itu dari dekat.
"Kau... Kau...." Lucas makin bingung karena pertanyaan itu.
Lucas tidak berpikir untuk mengatakan alasannya hanya karena ia terkejut. Itu bisa membuatnya berpikir bahwa ia berlebihan. Tapi juga tak mungkin baginya untuk meminta maaf. Tak ada maaf di dalam kamusnya.
Jadi Lucas berpikir untuk segera mengakhiri hal ini tanpa harus meminta maaf. "Bukannya harusnya kau meminta maaf karena membuatku terkejut tadi. Kau tahu aku baru saja memejamkan mataku siang tadi, tapi kau...."
"Maaf," sela Gazelle tiba-tiba sebelum Lucas menyelesaikan kata-katanya.
"Apa?" ujar Lucas yang kaget mendengar permintaan maaf seperti itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu bisa dengan mudah melakukannya. Ia berpikir mungkin gadis itu akan memarahinya. Jika kejadiannya seperti ini Lucas makin bingung harus berbuat apa.
"Apa masih kurang? Baiklah... Maafkan kesalahanku tadi," ujar Gazelle setengah membungkuk pada Lucas.
Lucas benar-benar bingung. Ia tak bisa berkata apa apa lagi. Ia hanya merasa serba salah dan bahkan tak bisa menjawab apapun.
"Apakah sudah cukup? Kalau begitu aku sudah boleh pulang? Hari sudah gelap. Aku akan ketinggalan bus jika tak pulang lebih awal. Lagipula aku takut ne.nek akan marah," jelas Gazelle sambil menekankan kata 'nenek'.
"Oh... Bus? Apa dia pulang naik bus? Dan nenek? Dia tinggal dengan neneknya? Ah aku bisa gila, bisa-bisanya aku membuat masalah dengan orang menyedihkan seperti dia," batin Lucas.
"Jika kau ulangi lain kali... Aku akan benar-benar menukulmu," ujar Lucas berusaha tenang dan dingin lalu berlalu meninggalkan Gazelle menuju motornya.
"Aku akan mengingatnya," teriak Gazelle pada Lucas sambil berlari menjauh menuju ke halte bus.
"Hari yang sial... Gara gara gadis sialan itu. Gazelle... aku pasti akan menemukanmu. Kalau bertemu aku akan benar benar menghabisimu," batin Lucas sambil berjalan menuju motornya.
"Ngomong ngomong siapa namanya? Karena terlalu marah aku jadi lupa bertanya... Ah sial," ujar Lucas sambil melajukan motornya dengan kencang menuju rumah karena hari sudah benar benar gelap sekarang.
...----------------...
__ADS_1
Hari itu Jake mengakui bahwa Lucas tidak bisa dijadikan musuh, ia harus menjadi sekutu yang menguatkan posisinya. Dan Lucas tidak pernah menyadari bahwa musuh yang ia cari ada di depan wajahnya.