Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
02. Murid Prioritas


__ADS_3

Keesokan harinya.


Baron melirik pada Richard melalui kaca spion mobil, tuannya sedari tadi hanya duduk diam dibelakang sejak ia masuk ke dalam mobil.


Baron berniat menyampaikan agenda kerja tuannya hari ini tapi melihatnya diam membisu ia jadi ikut kehilangan kata-kata. Sikapnya tak seperti biasanya. Kejadian semalam pasti menjadi pukulan terberat baginya.


Richard bukanlah orang yang hanya duduk diam selama perjalanan dari rumah menuju kantor.


Richard adalah orang yang selalu sibuk dengan tablet atau ponselnya, memeriksa segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan melalui gawainya adalah rutinitas paginya. Jika tidak maka ia akan sibuk bertanya jawab dengan Baron membahas jadwal kerjanya atau sekedar sibuk menonton berita pagi.


Sepuluh tahun lebih Baron bekerja padanya, baru kali ini ia melihat tuannya seperti kehilangan semangat hidup. Padahal pagi ini akan diadakan rapat darurat pemegang saham dan siangnya melakukan konferensi pers di media guna membereskan kekacauan yang terjadi selama ia pergi ke luar negeri.


Baron juga tahu, kejadian semalam bukanlah hal yang diinginkan Richard. Sekeras apapun caranya pada Lucas semua karena ia menyayangi anak itu. Ia hanya tak bisa menyampaikan rasa kasih sayangnya dengan baik.


Lucas yang mulai memasuki masa remaja, jiwanya yang selama ini terkekang karena hanya bisa menuruti apa yang dipilihkan ayahnya mulai melakukan pemberontakan.


Meskipun ragu, akhirnya Baron berpikir untuk memulai percakapan.


"Tadi pagi Nyonya menemuiku. Sepertinya kondisi nyonya tidak begitu baik. Ia bertanya soal Lucas. Aku hanya mengatakan bahwa ia tak perlu mengkhawatirkannya."


"Ehm...." Richard hanya berdehem. Ia tak ingin Baron membahas Ariadne. Meskipun ia semalam tak keluar dari ruang kerjanya hingga pagi, ia memahami keadaan istrinya saat ini.


"Dan ini...." Baron menyerahkan beberapa lembar foto pada Richard. "Ia masih berlatih boxing secara diam-diam ditempat itu."


Richard mengambil foto-foto itu. Foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat Lucas berada di sasana. Hobi baru yang telah dilakukannya selama satu tahun terakhir.


"Apa yang dia harapkan dari hal-hal seperti ini, dia menyia-nyiakan otaknya demi ototnya," gumam Richard, "sia-sia...." Richard pun meletakkan foto-foto itu disampingnya. Lalu kembali diam memandang keluar jendela.


"Anda tak ingin menanyakan keadaannya?" tanya Baron ragu-ragu.


"Katakan saja yang ingin kau katakan." Richard menjawab datar. "Tak perlu bertele-tele."


"Baik," jawab Baron lega. "Tuan Lucas tiba dengan selamat semalam, sekarang ia tinggal di rumah Nyonya Rosie. Wanita ini dulu pernah bekerja pada keluarga Thomas...."


"Aku yang mengaturnya seperti itu. Kau juga tahu. Diantara semua informasi itu pasti ada hal lain yang lebih menarik perhatianmu. Mengapa tak langsung membicarakan itu saja?"


"Anda benar. Ini mengenai proses perpindahan sekolah Tuan Lucas. Sepertinya sejak awal Anda memang ingin tuan bersekolah disana."


"Kenapa? Apa ada yang perlu di khawatirkan?"


"Dari informasi yang kudapat, sekolah yang ada dibawah naungan yayasan WhiteSwan itu menduduki peringkat teratas sebagai sekolah dengan lulusan terbaik selama sepuluh tahun berturut- turut." Baron membaca artikel di ponselnya dengan cermat.


"Lalu...." Baron melanjutkan, "proses penerimaan siswa baru dilakukan dengan ketat karena adanya batas kuota penerimaan dan sistem seleksi yang rumit. Lalu bagaimana tuan Lucas bisa diterima begitu saja ditengah semester yang sedang berjalan? Aku tidak pernah meragukan kecerdasan putra Anda tapi...."


"Apa menurutmu aku melakukan cara yang salah? Thomas bukanlah orang yang seperti itu, dia orang yang menjunjung tinggi keadilan," potong Richard tiba-tiba. Ia mulai paham arah pembicaraan asistennya itu.


Richard mengambil sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu gaharu, yang sedari tadi disimpannya di dalam saku jasnya. Ia menyerahkan kotak itu pada Baron.


Baron menerimanya dengan sedikit bingung. Aroma khas kayu gaharu menyeruak di indra penciumannya. Ia membaca tulisan yang ditulis dengan tinta emas yang ada di diatas kotak itu.


...Priority Student...


...Lucas Theodore...


...WhiteSwan Foundation...

__ADS_1


"Karena kau membahasanya, aku jadi ingat. Jangan lupa kirimkan kotak itu ke yayasan, buat dengan pengiriman paling cepat," perintah Richard pada Baron yang sedang mengamati kotak itu.


"Akan kulakukan," jawab Baron singkat tanpa banyak bertanya lagi karena kotak kayu kecil yang ada ditangannya sekarang seolah bisa menjawab semua pertanyaan yang berkumpul dikepalanya saat ini.


...----------------...


Kemarin.


Setelah dipaksa masuk kedalam mobil, Lucas hanya mengikuti tanpa bertanya kemana dua pria besar itu akan membawanya.


Dari pemandangan di luar kaca jendela Lucas tahu kemana mobil yang ditumpanginya ini mengarah. Ke bandara. Lucas berpikir bahwa ayahnya pasti akan mengirimnya ke tempat yang sangat jauh di luar negeri.


Sesampai di pintu masuk bandara, Lucas pun turun diikuti oleh kedua pria itu. "Kalian akan mengikutiku sampai mana?" tanya Lucas yang bingung dan kesal melihat mereka terus mengekorinya. "Aku tidak akan melarikan diri," ujarnya ketus.


"Silahkan." Hanya itu kata-kata yang di ucapkan oleh salah satu pria itu. Cara bicara mereka yang singkat menandakan bahwa mereka dilarang banyak berbicara pada Lucas. Mereka juga tak ada niatan untuk menjalin hubungan baik dengan Lucas.


Lucas pun sekali lagi menyerah, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemana pun mereka membawa dirinya.


"Eropa?


Amerika?


Kutub utara?


Kemana kau akan membuangku ayah?


Aku kira kau menyesal karena sikapku, tapi kau malah membuat jarak yang jauh denganku."


Hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Lucas saat ini. Ia hanya merasa sangat lelah bahkan rasa sakit dikepalanya belum hilang. Lukanya hanya diobati sekenanya saat dalam perjalanan tadi. Yang lebih penting, ia merasa lapar, ia lupa kapan terakhir ia makan.


Lucas pun tertidur menenggelamkan dirinya dalam kesakitan saat pesawat mulai lepas landas.


.


.


.


"Tuan Lucas ... tuan... bangunlah kita sudah tiba."


Lucas terbangun karena suara besar seseorang. Ia mencoba menyadarkan dirinya, meski sulit ia pun membuka matanya. Ternyata itu suara dari dua pria tadi.


Dengan tubuh sempoyongan ia memaksa tubuhnya berdiri dan mengikuti mereka untuk turun dari pesawat.


Hujan gerimis menyambut langkah pertama Lucas ditempat ini. "Dimana ini?" ujarnya sedikit bingung karena tetesan hujan menghalangi pandangannya, terlebih lagi karena kegelapan malam yang pekat.


Lucas memang tak tahu dimana ia berada, tapi ia bisa memperkirakan dimana tempat ini dengan membaca situasi disekelilingnya saat ini. Hujan yang turun dan malam yang dingin, suasana yang hampir sama seperti saat ia meninggalkan rumahnya beberapa saat yang lalu.


"Aku masih di negara ini."


"Pulau Novastica," jawab pria satunya dengan singkat memastikan rasa penasaran Lucas.


Lucas terdiam mendengar nama itu disebutkan. Meskipun belum pernah datang ke pulau ini tapi dulu sekali ia pernah mendengar ayah menyarankan sebuah SMA di pulau Novastica sebagai referensi. Jadi sedikit banyak ia tahu karena pernah membaca informasi mengenai pulau ini.


Seperti bisa membaca masa depan ia dapat memastikan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani kedepannya dan jalan seperti apa yang terbentang dihadapannya.

__ADS_1


"Jadi begitu. Ayah benar-benar tahu cara menghukumku rupanya," katanya lirih sambil menghela napas panjang.


...----------------...


Richard adalah orang yang mampu naik ke puncak kesuksesan meskipun harus memulai semua dari titik nol. Ia bekerja siang dan malam hanya untuk mempertahankan apa yang sudah didapatnya selama ini. Ia ingin semua tetap ditempatnya.


Ia tahu benar jika ia sedikit saja lengah dan terjatuh, ada banyak kaki yang akan mendorongnya agar makin terpuruk.


Semua yang dilakukannya, termasuk mengirim Lucas ke Pulau Novastica adalah keputusan yang dibuatnya dengan perhitungan yang matang. Ia tak akan memberi sekecil pun celah pada kesalahan kali ini.


Pulau Novastica adalah pulau yang berjarak cukup jauh dari kediamannya, hanya bisa ditempuh melalui perjalanan udara selama dua jam. Kondisi perairan yang berkarang besar dan sering mengalami perubahan cuaca ekstrim mendadak menyebabkan tidak pernah ada perjalanan melalui jalur air yang berhasil.


Dengan keadaan seperti itu setidaknya bisa menjadi alasan bagi Richard untuk mempersempit cakupan pengawasan Richard pada putranya. Selain itu dipulau itu ada alasan yang lebih penting lagi bagi Richard hingga memutuskan untuk mengirim putranya kesana. WhiteSwan Foundation lah jawabannya.


WhiteSwan Foundation adalah yayasan yang dimiliki oleh Thomas Edison, seorang kenalan lama Richard. Bagi Richard Thomas sudah seperti ayahnya sendiri.


Yayasan WhiteSwan ini membangun beberapa panti asuhan, panti jompo dan sebuah sekolah menegah atas. Richard sendiri donatur tetap di yayasan ini.


Di SMA WhiteSwan inilah Lucas dikirimkan. Seperti yang dikatakan Baron, tidak mudah untuk diterima jika tidak bisa lulus tes awal, apalagi kalau kuotanya sudah penuh. Tapi Lucas tidak butuh itu semua, karena Lucas menerima Undangan Eksklusif sebagai Murid Prioritas dari SMA WhiteSwan.


Setiap tahun, hanya ada lima anak saja yang mendapatkan undangan itu, anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Dan Lucas adalah salah satunya.


Undangan itu ibarat tiket emas, memiliki masa berlaku selama tiga tahun, jadi kapanpun anak yang mendapat undangan memutuskan masuk ke SMA WhiteSwan selama jangka waktunya masih berlaku, ia akan diterima begitu saja.


Alasan Richard tidak memasukkan Lucas sejak tahun pertama karena Ariadne memohon agar Lucas tak dibiarkan sekolah ditempat yang jauh dari ibunya.


Saat itu Richard hanya mengiyakan saja karena ia yakin dimanapun Lucas berada, maka ia tetap akan bersinar, baginya berlian tetaplah berlian sekalipun didalam lumpur.


Tapi ternyata berlian itu mulai kehilangan cahayanya perlahan karena benturan dari luar. Sejak tahun pertama Lucas di SMA, Lucas terus membuat masalah. Lucas berubah menjadi seperti anjing yang lepas dari rantai.


Lucas sering membolos, berkelahi, melakukan balap liar dengan motornya, bahkan sering tidak pulang ke rumah. Awalnya semua masih bisa diatasi, tapi lama kelamaan perilakunya sudah diluar kendali.


Tepat dua minggu yang lalu, ini merupakan awal semester genap di tahun keduanya. Lucas mencelakai seorang anak, yang bersekolah di tempat yang sama dengannya, ia menabrak anak itu dengan motor sportnya.


Anak yang tertabrak itu harus koma selama seminggu di rumah sakit, beberapa tulang kakinya patah, bahkan tulang rusuk dan tengkoraknya hampir remuk. Tubuh anak itu bisa dikatakan hampir hancur.


Hal itu diperparah lagi dengan fakta bahwa anak itu adalah anak dari salah satu investor ventura diperusahaan Richard. Orang tua anak itu banyak memberi pengaruh di perusahaan selama ini.


Tak terima anaknya hampir mati karena perbuatan Lucas, ia yang memiliki banyak kenalan media, jadi memanfaatkan media untuk menjatuhkan Richard dengan membesar-besarkan kejadian kecelakaan yang dialami putranya tersebut.


Semua jadi kacau dalam waktu yang cepat. Richard yang sedang dalam perjalanan bisnis, setelah mendengar berita itu langsung menutuskan untuk memindahkan Lucas kesana.


Ia tak punya waktu lagi untuk beradu argumen dengan Lucas, ia hanya ingin fokus menyelesaikan kekacauan di perusahaannya dan secepat mungkin meredam media saat ia pulang nanti.


...----------------...


Saat ini, dalam diamnya, Richard hanya berharap bahwa suatu hari nanti putranya akan memahami maksud dari perbuatan ayahnya sekarang.


"Suatu saat nanti kau akan berterima kasih padaku.


Kau harus ditempa.


Karena kau adalah berlian.


Jangan sampai kehilangan cahayamu."

__ADS_1


__ADS_2