Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
10. Sekutu atau Musuh (1)


__ADS_3

Lucas berjalan menuju motornya dengan perasaan kesal. Setelah kelas selesai ia kehilangan lagi sosok Gazelle. Gadis itu menghilang dengan cepat diantara orang-orang.


"Gazelle. Aku bahkan belum menemukan dia. Sekarang ada cewek gila lainnya. Kenapa semua cewek di sini menggila seperti ini?" gerutu Lucas.


Lucas baru saja menghidupkan motornya tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang. Hal itu membuat Lucas langsung berbalik ke belakang untuk melihat sosok yang berani menepuk pundaknya.


"Hei," sapa seorang gadis pada Lucas yang tampak kaget. Setelah mengetahui sosok yang menepuk pundaknya adalah seorang gadis membuat Lucas hanya menatap dengan dingin lalu kembali beralih pada motornya. Ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan gadis gila lainnya.


"Aku Bella," ujar gadis bernama Bella itu penuh percaya diri. Bella memang termasuk anak yang cantik dan menarik meskipun tanpa dandanan apapun. Banyak anak laki-laki yang terbuai rayuannya karena paras cantiknya itu. Mereka yang berhasil dirayu akan dimanfaatkan habis-habisan oleh Bella.


Sore ini tujuan Bella menemui Lucas tentu bukan hanya untuk merayunya, namun niatnya lebih dari itu. Oleh karenanya meskipun Lucas tak menggubrisnya ia tak pantang menyerah.


"Aku satu kelas denganmu, kau ingat aku?" ujarnya kemudian.


Lucas tetap tak memperdulikannya. Paras cantik Bella rupanya tak menggerakkan hati Lucas. Lucas pun bersiap memasang helmnya.


Pengabaian Lucas itu ternyata membuat harga diri Bella terkoyak. "Ciihh dia benar-benar mengabaikanku?" seru Bella dalam hatinya.


"Kau ingin bertemu dia kan? Si ketua kelas," lanjut Bella kemudian. Perkataan Bella barusan membuat Lucas menarik kembali helm yang hampir terpasang di kepalanya. Lucas pun akhirnya berbalik menghadap Bella.


"Hah, akhirnya kau melihatku juga," ujar Bella kesal.


"Katakan, dimana aku bisa bertemu dengannya!!" jawab Lucas cepat dan dingin.


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Kau pikir alasan aku kesini untuk mengatakan hal tak penting seperti itu?" Bella pun menjawab dengan cuek. Ia merasa menang saat Lucas akhirnya merespon dirinya.


Lucas pun menjadi kesal. "Kau pikir aku perduli dengan alasanmu, menjauhlah kalau kau tak ingin mengatakan apa apa!!" seru Lucas berusaha menahan kata-katanya. Lucas pun kembali berbalik ke motornya.

__ADS_1


Sekali lihat, Lucas bisa tahu bahwa Bella adalah tipe gadis yang sangat merepotkan, gadis yang tidak akan memberi apapun jika ia tak menerima sesuatu darinya. Dan Lucas tidak menyukai hubungan yang seperti itu.


"Ergh... jika aku mengatakannya, apa yang akan aku dapat," seru Bella kemudian dengan perasaan kesal. Ia tak menyangka Lucas akan mengusirnya begitu saja alih-alih memohon padanya.


"Hah... pergi!! Aku tak butuh bantuanmu!!" ujar Lucas mengusir Bella dengan tegas. Ia pun naik ke motornya dan tak sedikit pun perduli pada Bella yang wajahnya mulai merah padam karena perasaan malu.


"Ck!! Benar-benar... taman bermain sebelum halte... sore ini, jangan terlambat!" jerit Bella cepat saat Lucas hendak menghidupkan motornya. Setelah mengatakan itu Bella pun segera pergi meninggalkan Lucas. Ia tak tahan berhadapan dengan Lucas lebih lama lagi. Terlebih lagi ia sudah menyampaikan pesan yang harus disampaikan pada Lucas.


Lucas hampir saja tak mendengar dengan jelas perkataan gadis itu, untungnya ia belum menghidupkan motornya. Jika tidak suara Bella akan tenggelam dalam raungan motor sport itu.


Lucas pun mencoba merapalkan kata-kata yang di ucapkan Bella barusan. Helm dikepalanya membuat suara Bella tak jelas terdengar di telinganya. "Taman... halte... sore ini...."


Setelah Lucas tahu kemana ia harus pergi, Lucas pun mengemudikan motornya dengan cepat meninggalkan parkiran motor di sekolah.


...----------------...


"Bagaimana?" suara seorang gadis yang sejak tadi duduk di dalam mobil menunggu Bella.


Bella yang ditanya hanya tersenyum hambar pada gadis berambut cokelat pendek yang duduk di sebelahnya.


"Aku telah menyampaikannya sesuai perintahmu," jawab Bella pelan seolah ia takut salah ucap.


"Begitu? Lalu kenapa lama sekali... kau membuatku menunggu," ujar gadis itu lagi. Kata-katanya bergetar menahan emosi.


"Itu tadi...," ujar Bella mulai terbata-bata.


"Kau ingin membuat alasan? Apa kau mencoba merayunya?" potong gadis itu cepat sambil menatap tajam pada Bella. Bella yang diberi tatapan menusuk itu pun hanya memasang tampang ketakutan.

__ADS_1


"Tentu tidak," ujar Bella menjawab cepat penuh keyakinan. "Ta-tapi apa kau yakin ini akan berjalan lancar... Jane?" tanya Bella pada gadis yang bernama Jane itu.


"Berhasil atau tidaknya aku tak perduli. Setidaknya aku harus memastikan sesuatu sebelum melaksanakan balas dendamku!" jawab Jane dingin.


"Apa yang ingin kau pastikan?" tanya Bella kemudian.


"Tentu saja untuk memastikan apakah aku bisa menjadikan orang itu sekutu atau musuhku!" jawab Jane lagi.


"Lalu bagaimana bila ia menolakmu?" ujar Bella sinis. Gejolak amarah dihatinya membuat ia kelepasan bicara.


"Haaah bukannya kata-kata itu terlalu kasar Bella?" jawab Jane santai sambil memainkan sehelai rambut Bella yang mengenai pundaknya, lalu dengan sekuat tenaga tanpa aba-aba ia mencengkram dan menarik rambut tersebut hingga Bella meringis kesakitan.


"Arggh...!!!" rintih Bella sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Jane pada rambutnya.


"Apa? Sakit?" ujar Jane dingin pada Bella. "Berani beraninya mulut kotormu menghinaku, kau lupa siapa dirimu?" tanya Jane dengan mata penuh kebencian seolah sedang menatap sampah-sampah busuk.


Bella tak menjawab apapun. Ia hanya meringis kesakitan. Ia juga bahkan tak berani membalas perbuatan Jane padanya. Karena meskipun Jane juga murid sama seperti Bella, tapi Bella dan Jane memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Ayah Jane adalah seorang pebisnis sukses sedang Bella hanya anak seorang pelayan di rumah Jane.


Bella yang memiliki kemampuan akademik yang bagus mendapatkan kesempatan yang sama dengan Jane untuk bersekolah di SMA WhiteSwan, meskipun kenyataannya Bella hanyalah sebatas kacung tak berguna di mata Jane.


Sopir mobil yang dari tadi hanya diam mendengarkan percakapan kedua perempuan itu melirik dari spion tengah ke arah Jane. Jane yang merasakan bahwa tatapan itu untuknya langsung melepaskan genggamannya pada rambut Bella.


"Ck!" ujar Jane sinis pada sopirnya. "Awas kalau kau buka mulut," ujar Jane pada sopirnya.


Bella pun membenarkan rambutnya dan hanya tertunduk menahan sakit. Ia hanya melirik pada Jane yang telah mengalihkan pandangannya pada kaca jendela mobil. Jane sekarang hanya diam saja dan duduk dengan anggun selama di perjalanan menuju rumah begitu juga Bella. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Lalu kenapa jika ia ternyata musuhku. Tak ada bedanya bagiku, keduanya tetap menguntungkanku. Musuh dari musuhku adalah temanku," ujar Jane dalam hatinya.

__ADS_1


"Sekarang mungkin aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika waktunya tiba aku akan menghabisimu." Itu adalah perasaan Bella pada Jane saat ini. Perasaan yang terpahat dalam hatinya yang mulai membusuk sedikit demi sedikit.


__ADS_2