Ssstt... Ini Rahasiaku

Ssstt... Ini Rahasiaku
05. Nama Yang Harus Diingat


__ADS_3

"Selamat pagi nek," sapa seorang gadis pada Rosie yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi.


"Gazelle ??" Rosie yang mengenali siapa pemilik suara itu langsung berbalik sambil menatap kaget pada sosok gadis yang sedang berjalan mendekat padanya.


Rosie melirik jam dinding yang tergantung di dekat lemari pendingin. Rosie ingin meyakinkan bahwa dirinya tak salah membaca waktu.


Rosie tahu bahwa hari ini hari senin, hari yang sibuk bagi orang-orang yang akan pergi bekerja atau pergi sekolah. Tapi saat ini waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Masih terlalu dini untuk beraktivitas.


Rosie juga tahu kebiasaan gadis itu, gadis yang bernama Gazelle itu, bahwa ia akan turun untuk sarapan pagi kira-kira pukul setengah delapan. Tepat setengah jam sebelum kelasnya dimulai.


Gazelle mendekat pada Rosie yang masih terlihat bingung akan sikapnya, tapi dengan santainya ia mengambil satu potongan kecil apel yang telah tertata di piring lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


"Ini enak," ujar Gazelle masih cuek sambil mengunyah apelnya dan tak berusaha menjelaskan maksud dari perbuatannya ini.


"Apa hari ini ada acara khusus atau kau akan mengunjungi suatu tempat?" Rosie pun bertanya karena penasaran. Ia masih berdiri menatap heran pada Gazelle.


Gazelle hanya menggeleng tanpa memberi jawaban. Ia senang menggoda wanita tua itu. Wanita yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri.


Tingg!


Suara panggangan berdenting. Rosie yang terkejut segera beralih ke oven, ia bergerak cepat mengeluarkan muffin stroberi yang tadi di panggangnya.


"Kalau begitu harusnya kau bilang, nenek akan menyiapkan sarapanmu lebih awal," ujar Rosie sambil berusaha memindahkan muffin ke meja makan terburu-buru. Ia bahkan tak menghiraukan rasa panas muffin itu menyentuh kulitnya.


Gazelle tertawa kecil lalu dengan sigap memakai sarung tangan dan mengambil satu per satu muffin lalu menatanya di piring. "Nenek... hati-hati, kuenya masih panas."


"Bukan seperti itu Nek," lanjut Gazelle. " Hanya saja tiba-tiba kami diminta untuk datang lebih pagi hari ini. Aku juga baru tahu malam tadi saat membaca pesan dari grup obrolan kelas."


"Benar begitu? Haah... mengapa mereka selalu memberi kabar mendadak seperti itu? Kalau begitu duduklah, kau harus makan sesuatu." Rosie menggiring tubuh Gazelle cepat menuju kursi makan.


"Tidak nenek, tidak perlu." Gazelle menahan tangan Rosie dengan lembut, ia pun melepas sarung tangan yang tadi dipakainya. "Aku akan makan ini saja sambil jalan." Ia mengambil satu buah apel yang masih utuh dari atas meja makan dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya.


"Ah tidak... Tidak... Kau harus makan yang benar." Rosie masih mencoba membujuknya untuk sarapan pagi.


Gazelle melipat tangan kirinya, ia melihat ke arah jam di tangannya. "Sepertinya tidak bisa nek, Aku harus benar-benar berangkat sekarang. Pak Guru meminta kami untuk segera berkumpul setengah jam lagi nek." Matanya memelas menatap Rosie. "Dan muffin ini sisakan untuk siang nanti ya nek." Ia pun berlari menghindari Rosie menuju pintu rumah.


Rosie tidak bisa berkata-kata lagi melihat Gazelle telah berlari meninggalkannya, akhirnya ia menyerah dan bergegas mengekorinya untuk mengantar Gazelle sampai ke depan pintu rumah. Hatinya masih tak tenang terlihat dari raut wajah sedihnya memandang Gazelle.


"Nenek tidak perlu mengantarku," ucap Gazelle sambil mengenakan sepatunya. Ia sadar kalau Rosie benar-benar mengkhawatirkannya sekarang tapi ia memilih untuk bersikap pura-pura tidak tahu.


"Maafkan aku kali ini nek," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


"Ah soal muffin...?" ujarnya seketika teringat sesuatu.


"Jangan khawatir, nenek akan menyisakan beberapa untukmu," ujar Rosie cepat.


"Tidak, bukan itu. Tap.i..." Gazelle menunjukkan raut wajah kebingungannya. "Apa nenek tak memanggang muffin terlalu banyak untuk kita berdua? Atau hari ini nenek akan makan bersama bibi - bibi disekitar rumah?" ujarnya teringat dengan muffin tadi yang terlihat lebih banyak dari seperti yang biasa di panggang Rosie selama ini. Gazelle tahu benar alasannya, hanya saja ia sedang berusaha tidak tahu apa-apa.


"Ya... Itu... Sebenarnya hari ini nenek ingin kita sarapan bersama. Ada seseorang yang mau nenek perkenalkan, nenek pikir akan lebih baik jika memperkenalkannya padamu sambil kita menyantap sarapan," jelas Rosie kemudian.


"Uhm seseorang?" Gazelle memutar kepalanya ke kanan dan kiri, mengintip ke dalam rumah, mencari sosok yang disebutkan Rosie. "Aku tak melihat siapapun, apa saat ini dia menempati lantai dua?"


"Benar. Ia bahkan satu sekolah denganmu dan juga satu kelas...." Tiba-tiba Rosie menghentikan kata-katanya. "Satu kelas?" Rosie merasa telah melupakan sesuatu dan sekarang ia baru tersadar.


Rosie mulai menghubungkan ingatannya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan. Jika Lucas satu kelas dengan Gazelle artinya ia harus datang pagi juga sekarang. Dan sepertinya saat ini Lucas masih tertidur nyenyak di kamarnya.


"Astaga," ujar Rosie sambil menepuk dahinya sendiri. "Apa semua anak harus datang pagi hari ini?" tanya Rosie mulai panik.


"Tentu saja Nek. Ada apa? Apa orang yang mau nenek perkenalkan itu teman satu kelasku?" Gazelle pun mulai mengerti apa yang dikhawatirkan Rosie sekarang walaupun sebenarnya ia memang tahu kebenarannya. Tapi ia tetap harus menunjukkan sikap pura-pura terkejut.


"Aduh nek, Kalau begitu nenek harus segera membangunkannya sekarang, tunggu apa lagi nek, ayo cepatlah," ujar Gazelle memutar tubuh Rosie dengan pelan.


"Ah... ohh... baik baiklah." Rosie jadi panik sendiri. "Kau pergilah sayang, berhati-hatilah di jalan, jangan berjalan ketempat yang tidak dilalui orang-orang, kau mengerti...," teriak Rosie sambil terus berjalan cepat menuju lantai dua.


"Tentu saja neeeek...," teriak Gazelle sambil menutup pintu dengan tenang.


Gazelle tahu benar siapa pemilik motor itu, yaitu Jacob, putra Rosie yang saat ini sudah tak tinggal dengannya. Melihat motor itu terparkir di luar, pasti ada yang akan memakainya, yang pasti orang itu bukan Jacob.


"Waah Rosie bahkan meminjamkannya motor itu? Uhmm baiklah ini jadi makin seru." Sebuah senyum misterius mengembang dari wajah Gazelle, ia pun melanjutkan berjalan meninggalkan rumah Rosie.


.


.


.


Gazelle duduk di salah satu kursi lipat yang ada di depan sebuah toserba. Toserba ini terletak beberapa blok dari rumah Rosie dan jika berjalan kira-kira dua puluh meter lagi dari toserba ke arah depan akan sampai ke jalan besar.


Gazelle menyesap perlahan susu stroberi yang dibelinya dari toserba. Ia melipat tangannya dan menggoyangkan satu kakinya yang terlipat, matanya menatap lurus pada jalan di depan toserba. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai tertiup angin.


Gazelle melirik jam ditangannya, jarum menit telah bergerak ke angka tiga, artinya sekarang sudah pukul 06.15. Ia pun lanjut menyesap susu stroberinya.


Tak lama menunggu, dari arah rumah Rosie sebuah motor sport hitam melaju dengan kencang melewati toserba tempat ia duduk.

__ADS_1


Bruuuumm!!


Suaranya nyaring ciri khas motor-motor sport dan hanya menyisakan asap putih di udara di setiap tempat yang dilewatinya. Motor itu terus melaju masuk ke jalan besar.


Alasan Gazelle bangun pagi-pagi hari ini tentu saja bukan karena ada perintah untuk datang lebih pagi ke sekolah seperti yang dikatakannya pada Rosie. Ia berbohong soal itu. Tentu juga bukan karena ingin duduk santai di kursi lipat toserba ini.


Yah inilah alasan sebenarnya mengapa ia ingin bangun lebih pagi hari ini. Itu karena Lucas. Ia ingin melihatnya terburu-buru pergi sekolah. Ia tak bisa membayangkan betapa kesalnya wajah Lucas saat tahu bahwa ia telah tertipu.


"Huahahahahaha...." Tiba-tiba tawa Gazelle lepas begitu saja karena bayangan wajah yang kesal itu. Sampai-sampai ia hampir memuntahkan susu yang baru di minumnya.


"Gazelle, kau tak apa?" ujar Cindy tiba-tiba, seorang gadis muda berusia sekitar 25 an, Cindy merupakan pegawai toserba ini. Gadis yang sudah lama mengenal Gazelle ini sekarang sudah berdiri disamping Gazelle tanpa Gazelle sadari.


Cindy yang dari tadi melihat dengan bingung pada Gazelle, saat ia sedang jalan menuju toserba untuk shift paginya, sekarang makin dibuat kebingungan saat Gazelle tiba-tiba tertawa lepas.


"Ah ... Anu... tidak apa apa kak," ujar Gazelle sambil menyeka susu yang menempel di bibirnya dan menahan tawanya. Ia juga terkejut saat tahu Cindy sudah berdiri di sampingnya.


"Benarkah? Aku pikir kau tersedak atau apa... Tapi... sedang apa kau pagi ini? Bukankah masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah?" tanya Cindy memastikan.


"Iya kak, ah aku akan pergi ke suatu tempat sebelum ke sekolah, jadi aku berangkat pagi-pagi sekali," ujarnya menjelaskan alasan dirinya disini sekarang. "Kalau begitu aku pergi dulu kak, kakak bekerjalah." Gazelle membungkuk pamit pada Cindy.


"Uhm... Kau berhati-hatilah, jangan pulang terlalu malam," balas Cindy sambil setengah menjerit pada Gazelle yang telah berjalan menjauh. Gazelle hanya melambaikan tangannya pada Cindy sambil terus berjalan.


''Jangan terlalu malam ya? Apa kak Cindy masih diikuti pria itu?'' Gazelle terus berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sana sambil memikirkan kata-kata terakhir yang dikatakan Cindy barusan. Kata-kata itu sangat mengganggunya, rasa senangnya tadi seketika hilang mendengar rasa cemas gadis itu.


Pagi ini tentu saja Gazelle akan pergi ke suatu tempat seperti yang dikatakannya pada Cindy, ia tak berbohong soal itu. Tapi tentu saja bukan ke sekolah, tapi ia akan pergi ke rumahnya. Rumahnya yang sebenarnya.


...----------------...


Sementara itu, didepan pintu gerbang sekolah SMA WhiteSwan.


Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang yang besar nan megah, dibagian tengah atas gerbang ukiran SMA WhiteSwan tertulis dengan jelas. Pintu gerbang itu masih tertutup rapat.


Pengemudi motor itu, yang tak lain adalah Lucas, mematikan mesin motornya. Ia membuka helm-nya, sarung tangan karetnya dan perlahan turun dari motor.



"Apa ini?" Ia mendekati ke pintu besar itu. Ia merasa heran melihat pagar itu masih terkunci rapat padahal Rosie mengatakan padanya bahwa seluruh anak-anak diminta datang lebih pagi hari ini.


Lucas pun mendorong-dorong pintu gerbang hingga suara pintu besi iti bergemerutuk keras. Ia ingin meyakinkan dirinya kalau pintu gerbang sekolah belum dibuka sama sekali.


"Haaaa sial...." Lucas menghela nafas panjang sambil menendangkan kakinya ke pintu. "Wanita tua itu mana mungkin berbohong kan?" ujarnya sambil berjalan kembali ke motornya.

__ADS_1


"Jadi siapa namanya...?" Ia menggaruk dahinya yang tak gatal sambil mengingat nama gadis yang tadi dibicarakan Rosie saat menyuruhnya untuk cepat-cepat bersiap pergi ke sekolah. "Ga.. Ga... Gazelle? Ahhh Ya Gazelle, aku akan mengingat nama itu baik-baik mulai saat ini, aku ingin tahu gadis seperti apa yang berani mempermainkanku... Sial...."


Lucas kembali duduk di motornya, saat ini rasanya ingin sekali ia menabrak pintu gerbang besi itu. Namun ia harus menahannya karena ini hari pertamanya di sekolah ini. Jadi ia memutuskan untuk menunggu hingga penjaga keamanan sekolah membuka pintu gerbang untuknya.


__ADS_2