
Novel ini adalah versi panjang dari cerpen virtual relationship. Mohon maaf kalau ada pengulangan cerita, karena di novel ini akan ditulis secara detail. Dari awal pertemuan hingga akhirnya mereka bersama.
Novel ini akan ditulis menggunakan dua POV (Point of View/Sudut Pandang). POV Dira akan ditulis oleh saya (ErKa) sementara POV Aksa akan ditulis oleh Author Densa.
Semoga tidak bosan dan selamat membaca 🥰
POV Dira written by ErKa
"Ra!! Dira!!"
"Enggeh Bu."
"Belikan Ibu gas. Ini Ibu lagi masak kompornya malah mati."
"Enggeh." Aku melepas selang regulator dan menenteng gas 3 kg itu keluar rumah. Sebenarnya aku sangat malas keluar rumah. Apalagi pergi ke warung. Tatapan mata, bisikan serta sindiran ibu-ibu tetangga membuatku jengah.
Mereka memandangku sebagai pengangguran berusia 27 tahun yang merepotkan orangtua. Terlebih aku belum menikah, sehingga julukan 'pengangguran dan perawan tua' melekat kuat dalam diriku.
Aku tidak terima diberi julukan pengangguran karena pada dasarnya, meskipun aku di rumah, namun aku tetap berpenghasilan. Julukan sebagai perawan tidak bisa kubantah, karena pada kenyataannya aku memang masih perawan. Tapi 'tua'?? Aku tidak bisa menerimanya!! Apakah umur 27 tahun sudah dianggap tua di negara ini?!
Dan lagi, bukan salahku kalau tidak punya pacar. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal lain.
Di sepanjang jalan, aku hanya bisa menggerutu. Berharap tidak ada ibu-ibu tukang gosip di sana. Jarak antara warung dan rumahku hanya 50 meter, sehingga dalam waktu tak kurang dari lima menit, aku telah sampai di warung tersebut.
Harapanku sia-sia. Kumpulan lebah berdengung itu ada di sana. Melihatku dari ujung kaki hingga kepala. Menilaiku dengan tajam layaknya aku sebuah barang tak berharga.
"Aku kasihan sama Bu Yati." Ibu A memancing di air keruh. Menyebut-nyebut nama ibuku.
__ADS_1
"Kenapa Mbak?" tanya Ibu B, menimpali. Sepertinya dia sudah paham dengan arah pembicaraan, namun berpura-pura tak tahu untuk mengikuti alur.
"Bu Yati ini 'kan baik, pekerja keras juga. Tapi kasihan, punya anak perawan tua. Untung saja almarhum suaminya masih bisa melihat anak keduanya menikah sebelum tutup usia. Coba kalau tidak? Bagaimana perasaannya?"
"Iya Bu. Dalam tradisi Jawa, harusnya yang menikah dulu kan kakaknya, baru adiknya. Ini malah kebalik. Tapi kasihan juga kalo adiknya disuruh nunggu. Lah wong kakaknya nggak punya calon lho Bu. Jangankan calon, pacar saja tidak ada." Ghibahan itu pun dimulai. Membuat panas telinga dan hati ini. Berusaha mengacuhkan, namun tetap saja terdengar.
"Bu - Ibu, permisi ya. Jangan di jalan. Saya mau beli gas," celetukku seraya menyerobot gerombolan empat orang itu. Mereka menyingkir dengan bibir manyun dan tertekuk. Aku tak menggubrisnya. Selesai bertransaksi, aku berniat untuk langsung pergi. Namun gemuruh di hati rasanya tak bisa dibendung lagi. Biasanya aku akan mengabaikan ucapan-ucapan sumbang, namun kali ini entah mengapa aku ingin membalas ucapan mereka.
"Oh ya, Ibu - Ibu. Daripada sibuk membicarakan anak gadis orang, alangkah lebih baik bila memperhatikan anak gadis sendiri. Jangan sampai ada yang hamil di luar nikah lagi, seperti yang sudah-sudah," sindirku pada Ibu A yang memiliki anak gadis yang hamil di luar nikah.
"Atau stress dan menjadi gila karena putus cinta," sambungku lagi, menyindir anak dari Ibu B. "Atau ada yang sudah menikah, tapi malah mau cerai," sindirku pada Ibu C, yang langsung membuang muka. "Saya permisi dulu, terima kasih atas perhatiannya." Selesai mengucapkan kata itu, aku langsung berlalu dari gerombalan lebah.
Di sepanjang jalan, aku berusaha menahan air mata yang akan keluar. Sudah puluhan kali aku mendengar kata-kata itu, namun mengapa hatiku belum kebal juga? Hatiku masih sangat sakit.
Mengapa orang terlalu sibuk memikirkan urusan orang lain? Mengapa urusan orang lain menjadi menarik di mata mereka? Mengapa mereka suka mengorek kelemahan orang lain? Apa mereka suka merusak mental orang?
***
Namaku Anindira Calista. Tahun ini usiaku menginjak 27 tahun. Tamatan S1 Sastra Indonesia dengan tinggi badan 159 cm dan berat badan 50 kg. Dari segi wajah, aku tidak terlalu jelek.
Wajahku berbentuk oval, nyaris bulat. Mata cukup besar dengan hidung mungil. Sementara bibir cukup bervolume. Terdapat tahi lalat di dagu kiri. Sedangkan kulitku kuning langsat.
Aku hanya dua bersaudara. Adikku bernama Rara, usianya terpaut dua tahun di bawahku dan dia sudah menikah. Semenjak dia menikah, aku hanya tinggal berdua dengan Ibu. Bapak meninggal tak lama setelah pernikahan Rara. Sepertinya Bapak benar-benar menunggu pernikahan itu.
Status Rara yang sudah menikah, acapkali dibanding-bandingkan denganku yang merupakan anak tertua. Dan itu menjadi beban mental tersendiri.
Bukannya tidak ada yang mendekati, namun aku yang menghalau mereka pergi. Pengalaman beberapa tahun silam masih membekas dalam ingatan. Sulit sekali untuk dilupakan. Membuatku kehilangan kepercayaan diri dan memandang rendah diri ini.
__ADS_1
***
Pada saat masih kuliah semester enam, aku pernah menjalin hubungan dengan teman satu angkatan. Berawal dari pertemanan, rasa suka itu pun mulai datang, sehingga kami memutuskan untuk berpacaran.
Lambat laun hubungan itu mulai serius. Hingga akhirnya kami sepakat untuk saling mengenalkan ke orangtua masing-masing begitu lulus kuliah dan mendapat pekerjaan.
Kami menjalani proses perkuliahan dengan lancar sehingga bisa lulus secara bersamaan. Begitu lulus, kami berdua mengadu peruntungan dengan mengikuti tes CPNS. Nasib mujur berpihak kepadanya. Dia diterima pada percobaan pertama, sementara aku gagal.
Tak mau terlalu larut dalam kesedihan, aku pun mulai menyibukkan diri dengan belajar dan memutuskan untuk mencoba peruntungan di tahun depan.
Di sela-sela belajar dan menunggu pembukaan CPNS lagi, aku mulai menyalurkan hobby yang sudah kutekuni semenjak SMA, yaitu menulis.
Pada awalnya hanya cerpen yang kutulis, hingga akhirnya aku memberanikan diri menulis sebuah novel. Tidak ada ekspektasi berlebihan. Hanya sekedar menyalurkan hobby. Tak disangka hobby itu mulai menyenangkan, membuatku ketagihan dan menggelutinya hingga aku lupa dengan tujuan awal, yaitu menjadi seorang PNS.
Entah karena melihatku yang effortnya kurang, sedikit demi sedikit sikapnya mulai berubah. Dari pandangan mata, kulihat ada setitik rasa tak suka. Salahku, pada saat itu mengabaikannya. Menganggapnya hanya lelah dengan pekerjaan barunya. Aku tak menyangka, perubahan-perubahan kecil itu menjadi bola api yang menghancurkan hubungan kami.
Dia mulai jarang membalas pesanku. Setiap kali ditelepon, nada suaranya mulai meninggi. Tidak ada lagi pertemuan, hingga akhirnya dia benar-benar menghilang.
Nomor ponsel tidak aktif, sementara sosial media di private. Aku tetap berusaha menghubunginya, meskipun tidak ada hasilnya. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tujuanku hanya satu, ingin menanyakan kabarnya dan mempertanyakan hubungan yang tak jelas ini.
Pergi ke rumahnya merupakan keputusan yang tepat, meskipun aku harus menelan pil pahit setelahnya.
Ya, aku mengetahui bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain!!
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1