
POV Aksa written by Densa
Benar saja, masalah nomor telepon menjadi topik baru pembahasan via WA. Queendira terus mendesak agar aku memberitahu dari mana mendapatkan nomornya.
“Aku blokir kalau tidak mau jawab!” Queendira melancarkan jurus pamungkasnya. Jurus blokir secepat halilitar. Tapi jangan panggil aku Aksa kalau tidak bisa menangkis jurus ini.
“Aku bisa mencari nomormu yang lain, aku juga bisa mencari alamat rumahmu!”
Sama seperti sebelumnya, pesanku hanya di baca tanpa dibalas. Akhirnya aku harus mencari tema bahasan lain agar obrolan ini semakin panjang minimal sampai jam satu malam.
Kenapa harus sampai begitu larut? Karena gelombang otak wanita akan berubah menjadi gelombang betha menuju alpha di lewat tengah malam. Gampangnya, wanita akan berada di fase lemah pada waktu tersebut. Ketika dia lemah, maka semua ‘serangan’ bisa masuk dengan telak.
Aku mempelajari data Queendira atau Anindira Calista. Tidak ada yang menarik dari biodata gadis ini sehingga sulit untuk mencari tema obrolan dari data dirinya. Sepertinya tema kali ini lebih baik ke arah kepribadiannya.
“Kenapa kamu tidak percaya diri? Kenapa tidak bahagia?” Tentu pertanyaan kali ini tidak asal ceplos. Kesimpulan tidak percaya diri terlihat dari senyumnya yang hanya tertarik sedikit dan tak pernah mau tampil di depan saat foto bersama teman. Kalau masalah tidak bahagia baru kukarang-karang. Sedikit spekulasi bisa menjadi bumbu penyedap.
“Jangan sok tahu. Aku sangat bahagia dengan hidupku.” Spekulasiku meleset ternyata. Dira membalas dengan ketus.
Sebuah notifikasi masuk. Pemberitahuan dari aplikasi pantauan perdagangan kalau posisi harga terkini sebuah pasangan mata uang mendekati area pantauanku. Sepertinya aku terpaksa untuk menyudahi percakapan dengan Dira dan fokus ke perdagangan di bursa mata uang.
“Sebelum memblokir, baca dulu novelku. Kau akan tahu pekerjaanku.”
Aku meletakkan hape di atas meja dan mulai fokus menatap batang hijau dan merah pada layar. Kemudian aku teringat sesuatu. Kuketik pesan lanjutan kepada Dira.
“Selamat malam bidadari”.
***
Akhirnya aku tetap saja begadang malam ini, walau tidak lagi berbalas pesan dengan Dira. Trading membuat adrenalin berpacu kencang. Kopi sudah habis satu gelas, dan asbak sudah penuh oleh puntung rokok. Malam ini aku menghasilkan 475 dollar. Lumayan buat tambahan jajan.
Aku beralih ke handphone yang tergeletak di meja, mengecek siapa tahu ada balasan dari Dira. Namun yang kudapati bukannya kalimat balasan, tetapi foto profilnya sudah kosong. Nomorku telah di blokir.
Sakit tapi tak berdarah. Tapi, jangan panggil aku Aksa, bila tidak bisa mendapatkannya!
***
Mata masih tetap terang walau sudah hampir pukul 6 pagi. Aktivitas di rumah produksi sudah terdengar. Suara obrolan khas ibu-ibu yang sudah mulai berdatangan. Daripada berbaring di kasur, maka lebih baik aku keluar dan menyapa mereka.
__ADS_1
“Selamat pagi, Etek!” Aku terbiasa memanggil semua ibu-ibu pekerja dengan sapaan Etek, atau dalam bahasa indonesia berarti bibi.
“Ala jago bos kito. Bilo pulang?”
(Sudah bangun bos kita ternyata. Kapan pulang?)
“Sanjo Patang,”
(Sore kemaren)
Lama aku bercakap-cakap dengan mereka. Menanyai kabar satu persatu, kabar keluarganya dan tentu kabar anak gadis mereka. Hahaha.
Aku jadi teringat dengan Dira, sepertinya pagi ini dia harus diberi sedikit kejutan tambahan.
“Anindira Calista, 27 tahun, single, pengangguran. Kenapa kau blokir nomorku?” Pesan ini kukirim ke nomor kedua yang tertera di biodatanya.
Tidak ada balasan dalam beberapa menit. Ya sudahlah, lebih baik aku bersiap ke kantor.
“Awak masuak lu, Tek.”
(Aku masuk dulu, Bi)
Selesai mandi, aku kembali mengecek handphone. Pesanku telah dibaca oleh Dira. Dan, seperti sebelumnya. Tak ada balasan.
“Bidadari, novelku sudah di baca?”
Aku baru saja memasukkan ponsel kedalam saku, dan benda pipih itu bergetar.
“Bagaimana kau dapat nomor keduaku?”
“Bukan hanya nomormu, aku bisa membeberkan detail alamatmu dan yang lainnya.”
Ternyata umpan kali ini mampu memancing Dira lebih antusias. Aku mulai sibuk membalas pesannya yang masuk bertubi-tubi.
Dari pagi hingga sore komunikasi kami terus berlangsung. Aku membalas pesannya di sela waktu mengecek laporan progres perusahaan. Sebenarnya belum ada percakapan romantis. Di hari pertama ini lebih ke arah perdebatan.
Aku tetap bersikeras dengan opini sebelumnya. Dia tidak percaya diri dan tidak bahagia. Dira berusaha menjelaskan bahwa opiniku salah. Dia bahagia dengan hidupnya, walau akhirnya dia mengakui kalau memang benar dia tidak percaya diri.
__ADS_1
Sekarang aku mulai memiliki aktifitas tambahan. Setiap hari mengirimkan pesan kepada Dira agar wanita ini merasa bahwa kehadiranku adalah sebuah kenormalan yang baru dalam hidupnya. Dia harus secepatnya merasa terbiasa.
Beberapa kali aku menghubungi pembaca yang memberi tantangan untuk mendekati Dira untuk mengabarkan kalau progres pendekatan sudah mulai tampak.
“Udah siap kalah, Mbak?” kuteruskan beberapa pesan Dira kepadanya. Sengaja kupilih kalimat Dira yang terkesan dia sudah membuka hati walau sebenarnya pembahasan asli jauh dari urusan cinta. Licik dikit tak masalahlah, dalam peperangan dan pertaruhan. Semuanya Fair. Hahaha.
“Aku berharap kalah kok, Bang. Biar bisa bobo bareng,” balas Mbak penantang.
Tanduk di kepalaku muncul kembali.
***
Sudah satu minggu aku kembali ke kota Padang. Menjalani hidup sebagai manusia normal tanpa misi-misi aneh dan bahaya. Percakapan online dengan Dira terus berlangsung setiap hari.
Tiga hari di minggu pertama percakapan masih seputar perdebatan bahagia dan tidak. Hari ke empat hingga ke enam mulai membahas cerita yang dia tulis.
Sebuah perkembangan pesat terjadi di hari Sabtu. Sejak pagi hingga pagi obrolan tidak pernah putus. Lepas tengah malam Dira mulai membuka diri dan bercerita tentang keluarganya.
Dia ternyata gadis sederhana dari keluarga yang juga sederhana. Ayahnya sudah tiada, sementara ibunya tidak bekerja. Dia memiliki seorang adik yang sudah menikah. Statusnya yang masih single acapkali menjadi pembicaraan orang-orang sekitarnya.
Dira ternyata memiliki masa lalu yang cukup memprihatinkan. Ditinggal menikah oleh seorang pria yang ia percaya akan menjadi pelabuhan terakhirnya, membuatnya tidak percaya diri hingga saat ini.
Hatinya sulit terbuka untuk menerima pria dalam hidupnya. Itulah alasan mengapa di usia 27 tahun, Dira masih sendiri.
Mengaca pada sifatku yang masih suka bermain-main dan tidak ada keseriusan pada wanita manapun, membuatku ragu.
Rasa penasaran yang awalnya kurasakan berubah menjadi kasihan. Aku mulai ragu untuk melanjutkan taruhan ini. Apakah keputusan yang tepat untuk melanjutkannya? Bagaimana bila nantinya aku menorehkan luka yang semakin dalam di hatinya?
***
FYI
Akun *** : Densa AP / Densa1507
Akun IG : Densa015
Akun FB : Densa
__ADS_1
Silakan mampir ke akun *** saya untuk membaca cerita saya yang sudah tamat 🙏