
POV Aksa written by Densa
Ting
Handphoneku berbunyi. Ada pemberitahuan pesan masuk dari Queendira.
“Aku istirahat ke kamar dulu ya, Yah. Bu.” Aku bergerak celat meninggalkan meja makan dan masuk kamar. Notofikasi balasan baru beberapa detik lalu, semoga Queendira masih aktif.
“iya kak, mau tanya apa ya?” balasan Queendira di sertai tiga emotikon senyum ramah.
“Tapi jawabnya harus jujur ya?” Balasku kemudian. Sengaja kujawab dengan pertanyaan lanjutan karena sebenarnya tidak ada pertanyaan sungguhan yang mau ditanyakan. Aku hanya ingin memperpanjang percakapan ini.
“iya kak, mau tanya apa ya?” balasan Queendira tetap dengan emot yang sama.
Aku memikirkan balasan sejenak.
“Tapi, jangan marah ya?”
“Iya kak. Mau tanya apa?”
Balasan darinya cepat dan kali ini sudah tidak ada emot senyum lagi. Sepertinya dia mulai emosi. Hahaha.
“Janji ya gak marah?”
“Pertanyaannya apa dulu?” tawaku makin menjadi dengan tingkahku sendiri. Setelah tidak ada emot seperti balasan sebelumnya. Kali ini Queendira telah meninggalkan kata ‘kak’ nya. Aku harus memancingnya satu kali lagi.
“Janji ya gak marah dan jujur jawabnya?” pesanku langsung di baca. Namun tak di balas. Sepertinya balasanku benar-benar membuat gadis itu jengkel.
Akhirnya kuketik lagi balasan. “Aku mau tanya ini loh” dan kuberi enter panjang. “Jam berapa sekarang?”
Aku ngakak sendiri membaca ketikan ini. Tak bisa di bayangkan bagaimana jengkelnya dia setelah menunggu sekian lama ternyata pertanyaannya hanya ‘jam berapa?’. Eh, tetapi kenapa aku harus membuatnya jengkel. Aku kan mau mau membuat dia suka, bukan jengkel.
Untung balasan tadi belum sempat di kirim. Cepat kuhapus agar tidak salah tekan dan akhirnya terkirim kepada Queendira. Aku mendownload foto Dira yang paling bagus.
“Ini manusia apa bidadari?” kusertakan foto yang baru di download tadi dalam balasan dan mengirim pesan itu kepada Queendira.
Lagi-lagi pesanku di baca di balas. Sepetinya queendira sedang tersipu-sipu saat ini. Mungkin sedang jingkrak-jingkrak di atas ranjang sambil teriak-teriak kegirangan. Atau mungkin juga dia sedang menatap layar handphone smembaca balasan tadi berulang-ulang dengan senyum merekah di bibir.
Sudah dua menit kutunggu, namun balasan tidak juga datang. Akhirnya aku kembali mencari informasi tentang diri si pemilik akun.
Sampai ke foto paling bawah telah ditelusuri, namun aku belum bisa mendapatkan informasi yang berguna. Minimal nomor handphone atau email. Karena dengan dua akses itu aku bisa mendapatkan semua info dirinya.
Kemudian aku beralih ke aku sosial medianya yang lain. Lagi-lagi informasi yang kuinginkan belum juga di dapat.
__ADS_1
Sembari terus mencari, notifikasi balasan masuk.
“manusia!” balasan yang singkat padat dan jelas.
“Masa? Kok aku ngeliatnya seperti bidadari ya?”
Sama seperti tadi. Balasanku langsung di baca tanpa di balas. Tak apalah, mungkin dia melanjutkan jingkrak-jingkrak kembali. Akupun melanjutkan mencari informasi.
Hampir satu jam aku tak kunjung mendapat data penting.
“Kau kira bisa bersembunyi dariku, hah?” aku jadi seperti orang bodoh yang berbicara sendiri sambil memandang foto Queendira yang sedang tersenyum.
Kalau tidak bisa menggunakan cara legal maka cari ilegal akan kutempuh. Sedikit menyalah gunakan fasilitas negara kurasa tak masalah. Apalagi kalau tidak ketahuan. Orang-orang seperti kami memang memiliki akses khusus untuk data-data penting. Tapi tidak semua agen. Hanya yang level 3 ke atas yang memiliki akses ini.
Sebenarnya mudah untuk mencari informasi lengkap Queendira. Tinggal masukkan nama atau NIK atau no SIM atau nomor Handphone ke situs kami. Maka semua detail dirinya akan muncul. Namun masalah sebenarnya adalah aku tidak memiliki data utama di atas.
Aku membuka laptop dan masuk ke akun personal intelijen. Kemudian masuk ke aplikasi pencarian dan membuka sosial media.
Sekarang aku telah membuka profil Queendira dan menekan CTRL+U di keyboard. Coding website muncul di layar bagian kanan. Aku scroll sampai bawah hingga menemukan username queendira tertera di bagian bawah.
Setelah mendapatkan usernamenya, aku kembali ke website sosial media dan mengeluarkan akunku dan kembali login dengan username Queendira dan menekan menu lupa password.
Masukkan email atau nomor handpone anda
Apakah ini benar akun anda?
Sebuah perintah muncul dan menampilkan foto profil queendira. Aku mengelik tombol ‘benar’
Kami telah mengirimkan email konfirmasi ke email queendira15@gmail.com. Silahkah klik email konfirmasi untuk kembali masuk.
Aku nyengir saja. Karena tak butuh kembali masuk. Tetapi email ini yang kucari.
Email tadi kusalin dan tempel di akun pancarian khusus kami.
Hanya beberapa detik kemudian semua info detail queendira telah terpampang di layar laptop.
Aku menang!
“hei bidadari? Marah?” ku kirim kembali pesan kepada gadis itu karena balasan tak kunjung muncul.
“sampeyan umur berapa sih? Bisa tidak rayuannya di upgrade? Biar keliatan lebih modern.”
“Hahaha” Tidak ada kata lain yang bisa mengungkapkan kesenangan ini karena umpanku telah di tangkap dengan sempurna. Saatnya berubah mode serius dan sok bijak.
__ADS_1
“Wanita suka di puji, setidak masuk akal apapun pujian itu”
“Tapi aku tidak suka, sampeyan umur berapa?”
Seperti tadi. Aku selalu memperpanjang obrolan dengan mengindar jawaban langsung. Masalah umur saja bisa sampai lima enam kali berbalas pesan baru terjawab.
“Sampeyan aparat?”
Alisku bertaut saat membaca pertanyaan queen. Aku membuka profil Fbku, aku menepuk dahi karena lupa menyembunyikan pekerjaan di laman profil.
“Lebih kurang” hanya itu yang bisa kubalas. Dan tampaknya jawaban itu tak mampu membuat rasa penasaran queen berkurang. Dia terus mengorek dengan pertanyaan lanjutan. Dari balasannya dia tampak tidak percaya dengan pekerjaan yang tampil di profilku.
“Kau mau tau siapa aku kan? Okeh.”
Ku kirimkan salah satu file tugasku kepadanya. Pesan langsung dia baca, sengaja kuberi jeda satu menit sampai file tadi kutarik kembali. Bahaya kalau sampai dia download dan tersebar luas.
“aku belum lihat. kirim ulang”
Hahaha, pake alasan belum lihat. Padahal bukan belum lihat, tapi belum di simpan. Aku tidak akan mengirim kembali file tadi. Karena sudah pastinakan dia download langsung.
Aku lebih memilih mengirim foto bersama bapak presiden saat mengawal beliau meninjau lokasi ibukota baru. Foto ini kupilih biar dia tau kalau aku bukan orang sembarangan. Dia pasti sekarang makin terpesona. Hahahah.
“Apasih sebenarnya pekerjaanmu?” lanjut Queendira.
Ini saatnya promosi.
“Coba baca novelku. Pekerjaanku tertera di sana”
“Malas!”
Sok iyes lu. Saatnya mengeluarkan jurus kedua.
“pindah ke WA ya.”
Aku langsung menyalin nomor handphone queendira di layar laptop. Dan mengirimkan pesan melalui aplikasi WA.
“Kenapa kamu tidak percaya diri?”
Pesanku lagi-lagi di baca tanpa di balas. Dia pasti sedang terheran-heran bagaimana bisa aku mendapatkan nomor pribadinya tanpa bertanya.
Sambil menunggu balasan, aku mengambil sebatang rokok dan menyelipkan ke bibir. Kuhembuskan asap nikotin itu ke layar laptop yang masih menampilkan foto Dira.
“Tesepona kan kau sekarang! Aksa dilawan”
__ADS_1
***