
POV Dira written by ErKa
Pergi ke rumahnya merupakan keputusan yang tepat, meskipun aku harus menelan pil pahit setelahnya.
Ya, aku mengetahui bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain!!
Aku masih mengingat dengan jelas hari itu. Cuaca sedang gerimis. Mungkin pertanda, bahwa tak lama lagi hatiku pun akan seperti itu.
Dengan mengendarai beat berwarna putih, kutelusuri jalanan. Melewati jalan raya maupun jalanan kecil. Rumah kami hanya berjarak 7 kilometer, sehingga tak butuh waktu lama bagiku untuk mencapainya.
Aku memang belum dikenalkan secara resmi, namun ada momen ketika aku bertemu dengan keluarganya. Yaitu momen wisuda.
Pada saat itu, dia mengenalkanku sebagai teman dekat. Keluarganya terlihat biasa saja. Tidak terlalu wellcome ataupun menolakku secara terang-terangan. Benar-benar bersikap aku hanyalah seorang teman wanita dari putranya.
Pergi ke rumahnya seperti ini adalah pengalaman pertamaku. Sudah lama aku tahu alamat rumahnya. Beberapa kali sengaja melewati rumah itu sembari berpikir, kapan aku bisa masuk ke rumah ini? Pemikiran yang sangat bodoh!!
Dalam anganku membayangkan, dia membawaku ke rumahnya. Mengenalkanku kepada kedua orangtua. Keluarganya menerimaku dengan bahagia dan memutuskan untuk meresmikan hubungan kami.
Namun pada kenyataannya, aku ke rumahnya seorang diri. Cukup tak tahu malu dan merendahkan harga diri. Semua itu kulakukan hanya untuk mengetahui kabarnya dan kejelasan status hubungan kami.
Kupandangi rumah bercat hijau bernuansa kuno namun asri. Terdapat banyak tanaman hias di depannya, sehingga membuat betah siapa saja yang melihat.
Pintu rumah terbuka, menandakan ada orang di dalamnya. Kutelan ludah dengan susah payah. Jantung mulai berdetak tak beraturan. Aku berharap bertemu dengannya, bukan dengan keluarganya, sehingga kami bisa membicarakan masalah ini bersama.
Setelah hampir lima belas menit terdiam dan menimbang-nimbang, kuberanikan diri untuk memencet bel yang terpasang di pagar.
Keberanianku menciut. Rasanya aku ingin pergi menjauh dan membiarkan masalah ini berlalu. Tiba-tiba aku menjadi pengecut.
Aku baru saja akan pergi ketika kulihat seorang wanita paruh baya memakai daster dan berkrudung instan keluar dari rumah. Wanita itu sudah terlanjur melihatku. Aku tak bisa menghindar lagi. Wanita itu adalah ibunya.
Beliau membuka pagar dan menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Cari siapa ya?" tanyanya. Tatapannya seperti menelanjangiku. Menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menilaiku.
Mendapat tatapan seperti itu membuatku sangat gugup. Pada saat itu aku memakai blouse berwarna beige yang dipadu dengan celana kain berwarna senada. Rambut kukuncir dengan rapi. Penampilanku layaknya seseorang yang akan melakukan wawancara kerja. Kupikir sudah cukup rapi dan formal.
"Em, saya teman Putra Bu. Putranya ada?"
"Oh, temannya Putra. Dia keluar. Ayo masuk dulu. Tunggu di dalam." Sepertinya beliau tidak mengingatku. Buktinya beliau terlihat lega mengetahui aku teman putranya.
Aku ingin menolak. Rasanya akan sangat canggung bila hanya berdua saja dengan beliau. Namun beliau tetap memaksa sehingga aku memutuskan mengikuti saran beliau.
Beliau menyuruhku untuk menunggu di ruang tamu. Aku duduk di ruangan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Entah mengapa aku merasa akan diwawancara oleh calon mertua.
Tujuh menit kemudian beliau kembali menemuiku dengan membawa air mineral dan beberapa toples camilan. Beliau sudah berganti dengan baju gamis.
"Dimakan camilannya," ucap beliau sembari meletakkan air dan camilan itu di meja. Kemudian beliau duduk di depanku, memperhatikanku penuh minat.
"Siapa namamu Nak?"
__ADS_1
"Ah, nama saya Dira, Bu."
"Katanya temennya Putra. Teman sekolah apa kuliah?"
"Teman kuliah, Bu." Wawancara benar-benar telah dimulai.
"Oh, kuliah satu jurusan?"
"Iya Bu ...."
"Sekarang kerja dimana?" Pertanyaan yang sering kudengar, semenjak aku lulus kuliah.
"Masih belum Bu ...."
"Oh, masih belum toh. Lulus tahun berapa?"
"20XX."
"Sama dengan Putra. Tapi kenapa kamu belum dapat kerja Nak? Putra saja sudah jadi PNS sekarang." Nada bangga terdengar sangat jelas. Wajar saja bila orangtua bangga dengan pencapaiannya anaknya, namun jangan sampai rasa bangga itu merendahkan hati anak orang lain.
"Iya Bu, saya rencana mau ikut tes CPNS lagi tahun depan. Untuk sekarang masih di rumah, bantu-bantu orangtua ...."
"Orangtuamu kerja apa?"
"Ayah pensiunan telkom. Kalau ibu, ibu rumah tangga biasa."
"Oh, sudah pensiun ya." Beliau manggut-manggut. "Kalau ayah Putra PNS. Alhamdulillah sekarang Putra mengikuti jejak ayahnya." Lagi-lagi terselip rasa bangga dan menonjolkan diri dalam nada suara itu. Aku hanya bisa terdiam, bingung mau menanggapi apa.
"Oh, t-tidak ada urusan yang begitu penting Bu. S-saya hanya ingin tahu kabarnya, karena sudah cukup lama lost contact ...."
"Lho, berarti kamu belum dapat undangan?"
DEG
Seketika perutku menjadi mulas. Ada rasa pusing berputar-putar dan ingin muntah. Perasaanku benar-benar tidak enak. Sepertinya aku mengerti pembicaraan ini mengarah kemana, namun aku berusaha menepisnya. Aku tetap berpikir positif. Mungkin yang dimaksud undangan adalah undangan tasyakuran.
"B-belum Bu ...."
"Putra mau menikah pertengahan bulan depan. Sekarang dia dan mantuku keluar untuk fitting baju dan memesan gedung. Alhamdulillah mantuku juga PNS. Setidaknya kehidupan mereka kedepannya bakal enak. Sebentar, Ibu carikan undangannya dulu. Tunggu dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, beliau masuk ke dalam kamar. Sepertinya untuk mengambil undangan.
Perkataan itu layaknya petir di siang bolong. Menamparku bertubi-tubi, hingga otakku tak sanggup berpikir lagi. Kepalaku serasa kosong. Hanya kata-kata 'Putra menikah' yang terus saja terngiang-ngiang.
Aku tak begitu ingat dengan jelas, bagaimana aku keluar dari rumah itu dan mengendarai motor di tengah gerimis yang telah berubah menjadi hujan deras.
Derai airmataku bergabung menjadi satu dengan derasnya tetesan air hujan. Membuatku tak kuasa menahan dan meluapkan segala kesedihan.
Dadaku sesak dan pepat. Seolah-olah ada batu besar yang menindih. Membuatku kesulitan bernapas.
Aku memutuskan untuk berhenti di bahu jalan. Memarkir motor di sana dan menangis di pinggir jalan.
__ADS_1
"Aakkhhh!!" Sesak!! Sangat sesak!! Mengapa ini sangat menyakitkan?! Seperti ada ribuan belati yang ditikamkan?! Sakit!! Sakit sekali!!
Pengkhianatan Putra menorehkan luka yang sangat dalam. Tidak mudah bagiku menerima seorang pria dalam hidup. Bila aku memutuskan untuk menerimanya, itu artinya aku sudah menilainya dan memutuskan dia yang terbaik.
Tak disangka, aku telah salah menilai. Dia pergi dengan wanita lain!! Meninggalkanku!! Mengapa dia melakukan hal itu?!! Apa karena aku kurang cantik?! Apa karena ayahku hanya seorang pensiunan?! Apa karena aku pengangguran?! Apa karena aku bukan seorang PNS?! Mengapa?!!
Luka itu tertoreh begitu dalam. Rasa sakitnya terasa sampai ke sumsum tulang. Aku tidak yakin luka itu akan bisa disembuhkan. Dan memang terbukti. Bahkan ketika kejadian itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu, lukanya tetap membekas. Tidak bisa hilang.
Sikap Putra yang seperti itu membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Aku tak lagi percaya pada pria. Menutup diri pada dunia. Rasa rendah diri tumbuh semakin besar. Merasa diri ini tak pantas untuk siapa pun.
Ada beberapa yang berusaha mendekat, tapi aku menghalau mereka pergi. Aku menenggelamkan diri pada hobby yang membuatku semakin keranjingan. Yaitu menulis.
Dunia haluku semakin liar. Kubangun tokoh-tokoh pria sempurna yang tak bisa kutemui di dunia nyata. Berharap aku bisa bersama mereka. Semakin sempurna tokoh halu, membuatku semakin tak berminat dengan tokoh nyata. Itulah salah satu alasan, mengapa aku masih belum menikah di usia 27 tahun.
***
Aku mencoba melupakan kejadian tidak mengenakkan di warung tadi pagi. Malam ini aku ingin berselancar di dunia literasi dan dunia maya.
Ibu sangat mengerti kebiasaanku. Bila aku sudah masuk ke kamar dan membuka laptop, maka tidak ada yang bisa mengganggu.
Ibu tidak pernah mempermasalahkan statusku yang menurut orang pengangguran ataupun perawan tua. Beliau mendukung apapun keputusanku yang menyangkut masa depan, asalkan itu hal positif.
Beliau tahu, bahwa hobbyku ini telah menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang. Bukannya ingin membanggakan diri, namun aku telah mampu membuktikan bahwa hobby ini bukan omong kosong belaka.
Dengan hobby ini, aku telah membantu biaya pernikahan Rara dan masih banyak hal lainnya. Ingin membanggakan diri, tapi buat apa? Cukup keluarga saja yang tahu.
Malam ini aku begitu sibuk bermain sosmed. Sebenarnya bukan sekedar bermain-main saja, tapi ada misi yang harus kuselesaikan, yaitu membalas setiap pesan yang masuk.
Setiap hari ada ratusan pesan yang masuk di aplikasi sosial mediaku. Merupakan kebanggaan dan kepuasaan tersendiri bila bisa membalas setiap pesan-pesan itu.
Aku seorang penulis novel online. Berawal dari keisengan, aku memposting tulisan di platform online. Ada rasa takut dan tidak percaya diri, namun aku tetap memberanikan diri. Dan luar biasanya, tulisanku cukup diterima oleh pembaca. Malah bisa dikatakan, mereka menyukainya. Hal itu membuatku sangat bersemangat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan kehaluanku itu sebagai suatu pekerjaan.
Memiliki tulisan yang disukai pembaca cukup membuatku memiliki kesibukan. Selain sibuk menulis, aku juga cukup sibuk membalas pesan yang masuk. Semakin banyak pesan yang datang, membuatku semakin senang. Itu artinya, antusiasme pembaca semakin besar.
Selesai merampungkan episode yang akan dipublish, aku mulai berselancar di semua sosial media. Kegiatan rutin yang dengan senang hati kutekuni, membalas setiap pesan yang masuk dia sosial yang kupunya. Baik itu Whats App, Facebook, Messenger hingga Instagram dan mulai membalas pesan dari urutan paling bawah.
Butuh waktu hampir dua jam untuk membalas pesan semua pesan itu. Setelahnya aku beralih ke instagram.
Ada puluhan chat yang masuk, padahal baru setengah hari aplikasi itu tidak kubuka. Setiap membaca pesan dari pembaca, selalu menimbulkan perasaan yang hangat.
Ada berbagai macam tipe pembaca. Ada yang tipe mendesak, menuntut agar cerita yang kubuat segera rilis episode terbaru. Ada tipe yang selalu memberi support. Ada juga tipe kepo, menanyakan alur cerita selanjutnya sembari menebak-nebak ending dari cerita. Dan masih banyak lagi tipe lainnya.
Aku mencintai semua pembacaku. Aku bisa merasakan ketulusan dari setiap pesan yang mereka kirimkan. Aku bisa merasakan cinta mereka. Hal seperti itu selalu berhasil membuatku menangis. Cinta yang jarang kudapatkan di kehidupanku -aku tipe introvert yang jarang memiliki teman di real life, malah kudapatkan secara berlimpah di dunia virtual. Betapa sangat membahagiakan. Sungguh aku sangat mencintai para pembacaku.
Oh ya, balik ke cerita awal. Ketika aku sedang membuka satu per satu chat, tibalah di chat terakhir. Chat paling atas sendiri. Pengirim memiliki nama akun yang cukup aneh. Tapi aku tidak menggubrisnya. Aku tetap membalas chat itu.
Baka_yarou017 : selamat malam
***
__ADS_1
Happy Reading 🥰