Suamiku Intel

Suamiku Intel
Ch 4 - Bertemu Keluarga


__ADS_3

POV Aksa written by Densa


Tiba di Bandara Internasional Minangkabau, aku langsung memesan taksi online untuk mengantar ke rumah. Jarak antara Bandara dan rumah agak lumayan jauh, tapi kalau harus pindah-pindah angkutan terlalu capai dan ribet. Walau agak mahal, taksi online adalah pilihan paling nyaman saat ini.


Satu jam perjalanan taksi telah tiba di ujung gang dan terpaksa berhenti. Tumpukan material bangunan tidak memungkinkan mobil menerobos masuk.


“Awak turun di siko se, Da”


Saya turun di sini saja, bang.


“Maaf yo, Da. Ndak talok oto ko naiak gunuang kasiak”


Maaf ya, bang. Mobil ini tidak sanggup mandaki gunung pasir.


Aku membayar kemudian menurunkan ransel dan koper dari bagasi belakang dan mulai berjalan menyusuri lorong kecil.


“Hei Aksa, Baru tibo?”


“Hei, urang rantau ala pulang”


Sapaan para tetangga langsung menyambut langkah di sepanjang jalan menuju rumah ibu. Sejak kecil di besarkan di lingkungan ini membuat semua orang dari ujung gang mengenalku. Apalagi dulu aku anak yang paling badung di gang ini. Semua jambu tetangga habis kupanjat, bahkan saat buahnya masih berbentuk putik sebesar ujung jempol. Kadang cabang-cabang yang agak besar sering kutebang untuk bahan membuat mainan gasing putar.


Semua kenakalan kecil sudah bisa kubayar lunas semenjak telah bekerja. Aku membuat sebuah usaha retail cemilan khas minangkabau di sebelah rumah ibu. Karyawannya adalah semua ibu-ibu rumah tangga yang ada di gang ini. Semenjak itu, tidak ada lagi yang mengungkit putik jambu yang telah aku makan.


Aku telah tiba di rumah yang paling besar di gang ini. Rumah ibu dan ayah telah kupugar 3 tahun lalu. Saat berhasil menyelesaikan misi tunggal di Swiss, dana operasionalnya lumayan banyak bersisa dan bisa di gunakan untuk biaya pemugaran.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikum salam, kenapa tidak memberi kabar kalau abang mau pulang?” Kakak menghampiri ke muka pintu sambil menggendong anaknya. Agak aneh memang, aku di rumah ini memang di panggil abang, bahkan oleh kakak, padahal aku tidak memiliki adik.


“Ibu mana?” jawabku sembari mengambil Zio, keponakanku dari gendongan Ibunya.


“Ibu pergi ke tambangmu bersama ayah. Bayar upah buruh.”


“Oh iya ya, sekarang hari sabtu.”


“Kamu mau makan? Kakak udah selesai masak.”

__ADS_1


“Nantilah.”


“Zio, sini. Main sama mama dulu. Om mau istirahat”


Semenjak berpisah dengan suaminya dua tahun lalu, Kak Rina kembali tinggal di rumah ayah dan ibu. Mereka berpisah saat Zio masih berusia 3 bulan. Sejak saat itu mereka juga kembali menjadi tanggunganku.


Sambil bersantai di sofa, aku membuka ponsel dan mengecek grup Wa perusahaan. Sebagai kamuflase pekerjaan utama, aku mendirikan 3 buah usaha. Satu bergerak di bidang tambang batu, satu bergerak di bidang perumahan dan satu lagi bergerak di bidang kuliner dan distribusi.


Selama aku bertugas, tugas mengelola data semua usaha kudelegasikan kepada Kak Rina di bantu seorang manajer profesional. Tugas kak rina hanya mengawasi putaran cash flow dan menerima laporan mingguan. Ayah mengelola tambang dan Ibu yang mengurusi usaha kuliner.


Setelah memastikan tidak ada penyelewengan dana perusahaan, aku menyempatkan mengecek pasar saham. Ada beberapa saham yang ku ‘hold’ sebagai investasi jangka panjang dan ada juga yang digunakan untuk ‘scalping’ mingguan. Hasilnya lumayan bagus, walau ada beberapa saham yang mengalami penurunan harga. Secara keseluruhan masih bagus dan membuat asetku bertambah.


Sekarang fokusku kembali ke sosial media, mengecek pesan yang ku kirimkan kepada akun Queendira beberapa jam yang lalu. Ternyata belum ada balasan, bahkan di baca saja belum.


Semenjak bekerja sebagai agen intelijen, aku sering memperlakukan semua orang sebagai target operasi. Baik relasi bisnis, calon karyawan atau bahkan sekedar iseng mengulik informasi orang secara acak. Sekarang saatnya mencari tahu semua hal tentang Queendira.


Sasaran awal adalah karakter wanita ini. Aku membuka foto yang dia unggah di laman instagram. Dia sedang duduk di mobil dengan senyum simpul. Di lehernya tergantung pita merah dengan merk sebuah perusahaan. Ada caption di bawah foto.


‘Minggu terakhir menggunakan seragam.” Foto itu di unggah setahun lalu.


Aku beralih ke foto yang lebih awal. Ada beberapa foto lain dirinya mengenakan seragam yang sama. Namun setelah foto ‘minggu terakhir’ tadi tidak ada foto berseragam lain. Kemudian aku menyamakan waktu unggahan foto tadi dengan waktu unggahan-unggahan ceritanya. Benar saja, semenjak foto ‘seragam terakhir’ di unggah. Dia menjadi lebih rajin menulis. Satu hari bisa mengunggah hingga 3 bab. Sedangkan sebelumnya hanya ada bab baru setiap minggu. Aku bisa menyimpulkan kalau sekarang dia tidak bekerja lagi, dan telah menjadi ‘full time writter’.


“Kapan kita nongkrong bareng lagi @quenndira” komentar itu dari akun bernama @Nenakurnia.


Beruntung ternyata akun Nena tidak di kunci. Aku bisa melihat semua unggahannya tanpa harus meminta pertemanan terlebih dahulu. Dan apa yang kucari ada di sana. Sebuah foto 4 orang gadis sedang makan di sebuah cafe. Queendira ada di sana. Dari komentar-komentar yang kubaca, ternyata Nena adalah sahabat satu kantor Queendira. Dia akan kujadikan pintu masuk.


3 Gadis di foto itu semuanya tersenyum riang. Hanya Queendira yang tampaknya tidak seriang yang lain. Dia juga duduk paling ujung dengan posisi sedikit tersembunyi. Senyumnya tampak tidak ikhlas, hanya menarik bibir sedikit kesamping, matanya agak gelap dan tatapan tidak fokus.


“Introvert, pemalu, tidak percaya diri.” Kesimpulan sementara untuk Queendira.


Aku beralih ke foto mereka yang lain. Pose queendira masih serupa. Tatapannya hampa dan tidak ceria.


“Kesepian,” kesimpulan tambahan atas karakter Queendira.


Aku mulai mengatur simulasi awal. Pendekatan kepada gadis introvert, pemalu, tidak percaya diri dan kesepian bukan sebuah pekerjaan mudah. Tetapi, aku gengsi harus mundur dari taruhan dengan pembaca kemarin. Apalagi taruhannya menggiurkan. Aku terkekeh sendiri, dan tanduk virtual di kepalaku mulai muncul.


Terus aku mencari foto-foto Queendira. Akhirnya aku menemukan sebuah foto yang kurasa paling cantik. Dia sedang berdiri di pantai dengan gaun putih dan topi lebar. Aku membuat tangkapan layar untuk menyimpan foto tersebut.

__ADS_1


Konsentrasiku terganggu mendengar suara berisik di luar. Ternyata Kak rina sedang mengengkol sepeda motornya di garasi samping.


“Mau kemana? Zio mana?”


“Kakak mau ke Minang Mart. Zio sudah tidur,” jawabnya sambil terus mencoba menghidupkan mesin motor.


“Starternya tidak mau?” Aku berjalan ke arah Kak Rina dan membantunya mengengkol. Satu kali hentakan motor butut itu menyala.


“Kenapa pakai motor ini.”


“Mau pakai yang mana lagi. Motor kakak Cuma ini. Kakak ke depan bentar, titip Zio ya.”


Kak Rina memang agak unik. Dia wanita yang terlalu lugu dan sederhana. Padahal keuangan perusahaan ada di tangannya. Tapi selain gajinya yang memang di siapkan, dia tidak pernah mengambil seribu rupiahpun.


Setiap kutawari untuk membeli sesuatu dia selalu menolak.


“Kakak dan Zio sudah terlalu banyak membebankan kamu. Yang kami terima lebih dari cukup.” Aku masih terngiang jawabannya saat kutawari mengganti sepeda motor bututnya.


Aku mencari sebuah kontak dan menelpon Joni. Teman yang bekerja di sebuah dealer sepeda motor.


“Jon, ang antekan honda paling baru ke rumah gaek. Yang cocok untuk padusi.”


(Jon, kamu antarkan sepeda motor keluaran terbaru ke rumah orang tuaku. Yang cocok untuk perempuan.)


“Siap laksanakan, juragan”


***


Malamnya, kami bercerita banyak sambil menikmati makan malam. Ayah bercerita tentang tambang, ibu bercerita tentang ibu-ibu yang bekerja membantunya di rumah produksi. Sedangkan kakak malah melaporkan semua cashflow sambil membeberkan data fisik. Dia seperti harus bekerja lebih ekstra gara-gara mendapat hadiah motor baru.


Sedangkan aku, bercerita sebuah kebohongan tentang pekerjaan tambang batu bara di pedalaman kalimantan. Mungkin karena sudah sepuluh tahun terus berbohong kepada keluarga membuat lidahku begitu lancar mengarang cerita. Pekerjaan lancar dan menjadi kesanyangan bos sehingga di beri bonus yang besar. Padahal, kenyataannya aku harus bertaruh nyawa di perbatasan Thailand dan Myanmar. Bahkan harus makan dedaunan selama pelarian melalui hutan. Tentu saja kisah itu tidak boleh mereka tahu, cukup kutelan sendiri.


Ting


Handphoneku berbunyi.


Ada balasan dari Queendira.

__ADS_1


***


__ADS_2