
POV Aksa written by Densa
"Sayang, SK-ku sudah turun.”
Raut sumringah yang biasa hadir di wajah Dira setiap kami melakukan panggilan video lenyap seketika. Senyum yang tadi mengembang seketika layu, rautnya menjadi pucat.
“Aku harus tugas lagi,” rasanya agak tidak tega untuk melanjutkan karena mata Dira mulai berkaca-kaca. “Aku di beri spare waktu seminggu untuk persiapan.”
Dira langsung memberondong dengan pertanyaan lanjutan. Di mana? Berapa lama? Bahayakah? Dan berbagai pertanyaan lain yang menunjukkan kalau kecemasannya bukan di buat-buat. Dan lagi-lagi aku terpaksa berbohong bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tak mau wajah cantik itu bersedih jika harus tahu bahwa tidak ada satupun manusia yang bisa menjamin sebuah misi aman atau tidak. Termasuk misi kali ini.
Aku sendiri tidak yakin kalau tugas ini aman. Tugas-tugas di divisi satu tidak pernah ada yang aman, sudah pasti akan berhadapan dengan target dan intelijen dari negara yang akan bakal dimasuki. Negara lawan akan mengirim intel kontra, sebagai pencegahan ada informasi rahasia negaranya yang bocor oleh intel yang baru masuk. Sedangkan target juga akan menyiapkan anak buahnya untuk melacak keberadaan penyusup. Seperti sebuah pertempuran Satu lawan banyak.
Sepertinya firasat itu juga masuk ke sanubari Dira. Dia terus mengejar dengan rentetan pertanyaan untuk memastikan kalau tugas ini benar-benar aman.
“I hope.” hanya itu yang bisa aku jawab di sertai helaan nafas.
Lama kutatap wajah Dira di layar ponsel. Aku hapal kalau wajahnya mulai memerah berarti dia sedang dalam mode penuh emosi. Air matanya mulai mengalir di pipi.
***
Selain tidak memberitahu detail tugas, aku juga terpaksa tidak memberitahu Dira jika selama satu minggu ini aku telah berada di Jakarta. Takut dia nekat dan menyusul. Jadi aku tetap mengatakan kalau masih berada di padang setiap kami berkomunikasi, sudah pasti dia tidak akan berani menyusul melintasi pulau.
Di sela waktu menjalani persiapan sebelum keberangkatan. Mulai dari tes fisik, tes psikologi, latihan dan pembuatan identitas baru, aku selalu menyempatkan untuk menghubunginya. Bahkan harus sembunyi-sembunyi dari rekan lain agar tidak di ejek mereka gara-gara sibuk menjadi budak cinta. Betah berjam-jam menatap layar ponsel, Chatingan tanpa tahu waktu lagi. Aku bisa betah duduk di kursi taman safe house demi bisa chatingan atau bertelpon ria Dengan Dira.
“Aksa!” Reni berteriak dari balkon lantai dua sambil mengibar-ngibarkan kertas di tangannya kepadaku.
“Apa itu?”
“Surat tugas Lu.”
Aku bergegas naik dan menerima selembar kertas dari Reni. Surat berlogo garuda yang di kelilingi bintang kecil. Bunyi surat memerintahkan agen menyelesaikan ritual terakhir sebelum besok berangkat.
“OP gimana?” tanyaku.
__ADS_1
“Seperti biasa 30% dulu. Via crypto.”
30 persen dana operasional, cukup buat misi doang. Belum ada yang bisa masuk ke kantong. Apalagi biaya hidup di New York luar biasa tinggi. Bisa saja habis sebelum pencairan berikutnya.
“Oh iya. Kalian di sebar di 4 titik. Jadi empat orang yang bertugas tidak berada dalam satu lokasi. Lu nanti bakal di bantu sama agent dari sana.”
“CIA?”
“Bisa jadi. Bisa juga dari interpol. Data partner bakal di kirim nanti malam. Via KBRI.”
“Baiklah”
Reni menyerahkan surat tugas tadi beserta pasport dengan identitas baru beserta tiket pesawat komersil tujuan San Fransisco.
“Kenapa ke San Fransisco?”
“Satu agent akan berhenti di sana, satu ke Washington, satu ke LA dan elu ke NY.”
“Napa gua yang paling jauh? Mereka ber 3 dekat-dekat!” Jelas aku protes, San Fransisco, Washington, dan Los Angeles ada di area barat United States, sedangkan New York ada di area Timur. Sama seperti 3 orang tugas di aceh, sumatera utara dan sumbar sedangkan aku di Papua.
Aku membaca nama yang tertera di Tiket dan pasport.
Reni memutar badan hendak pergi.
“Kenapa tiket gua gak langsung ke NY aja? Jauh banget dari SF ke NY.”
“Kau ingat kata MenKeu! Peng-he-ma-tan!” Ujar Reni meniru gaya sang ibu menteri.
Aku terpaksa pasrah dan memasukkan tiken dan pasport ke saku celana. Pasport ini harus di jaga karena buku kecil ini adalah satu-satunya jalan pulang dan semua identitas asli akan di pulihkan. Jika pasport ini hilang, bisa-bisa identitas asli juga tidak akan kembali.
Aku meraih ponsel dan membuka pesan Dira. Sekarang saatnya memberi tahu gadis itu tentang keberangkatanku.
“Besok aku berangkat.” Kuketik pesan dan mengirim ke whatsapp Dira. Hanya selang beberapa detik pesan langsung di baca.
__ADS_1
Seperti biasa Dira membalas dengan segudang pertanyaan yang tak bisa aku jawab.
“Pokoknya kamu tenang. Semua aman dan baik-baik saja. Aku akan terus menghubungimu!”
***
Usai mengabari Dira, aku masuk ke mess dan menemui 3 orang rekan lain yang juga akan berangkat besok. Ini pertama kalinya kami berkerja sama dalam 1 misi.
Saat aku masuk, mereka sudah berkumpul di kamar. Memasukkan semua barang-barang pribadi ke dalam kotak. Aku duduk di ranjang ujung, mulai menyortir barang-barang yang harus di tinggal.
“Aksa, Lu udah buat Surat cinta?” Bang Hendra menyapa, dia sedang memegang pena dan selembae kertas.
“Belum Bang, tar aja. Toh gua dah hapal isinya. Gitu-gitu aja. Hahaha.”
“Lu enak, masih bujangan. Kalau kami yang udah punya anak bini. Nulis beginian yang bikin berat.”
Surat cinta yang kami maksud adalah surat wasiat yang harus selalu di buat sebelum berangkat menjalani misi. Karena surat itulah komunikasi terakhir kepada keluarga jika terjadi sesuatu yang menyebabkan agen harus pulang nama. Aku sudah puluhan kali menulis surat ini, dan beruntung surat itu tidak pernah sampai ke pada ibu dan ayah di Padang.
Aku meraih kertas dan mulai menulis kalimat-kalimat serupa seperti puluhan surat wasiat yang lalu. Tapi kali ini ada sebuah surat kedua yang tertuju ke ujung pulau Jawa.
“Kepada Anindira Calista,
jika kamu menerima surat ini. Aku tidak bisa menemuimu lagi. Janji untuk menemuimu setelah misi usai harus aku ingkari dan tak akan pernah terwujud.
Mungkin kamu akan bersedih selama beberapa hari karena kehilangan, tapi setelah itu semua akan kembali normal. Kamu harus kembali menjalani hidup dan menemukan kebahagiaan yang baru. Teruslah jalankan hoby dan profesimu. Aku yakin kamu akan menjadi penulis besar suatu saat nanti.
Sebagai ganti ketidakhadiran diriku, aku akan menitipkan kalung identitas ini sebagai kenangan bahwa aku pernah ada dalam harimu. Aksa Pradipta.”
Kalung identitas kumasukkan kedalam lipatan kertas Surat, dan memasukkan ke dalam kotak bersama dengan barang pribadi yang lain.
Aku telah siap berangkat.
***
__ADS_1
Kunjungi IG @erka_1502 atau @densa15