
POV Aksa written by Densa
Sudah tiga jam kami duduk mengelilingi meja sambil menatap layar projector di bagian depan. Memperhatikan presentasi pak Rizal tentang misi Filtrasi dan colect data. Seharusnya presentasi ini bisa selesai dalam satu jam. Namun, dengan gaya bahasa Pak Rizal yang seperti benang kusut, kami terpaksa duduk di ruangan ini lebih lama.
“Yang akan melakukan Filtrasi adalah agen Aksa Pradipta. Durasi 8 bulan dan akan di mulai awal april.”
Cukup kaget saat namaku di sebut oleh pimpinan rapat, baru saja aku hendak bertanya, beliau langsung menutup rapat.
Baru satu minggu yang lalu aku kembali ke tanah air setelah menjalankan misi filtasi di perbatasan Myanmar dan Thailand. Sekarang misi baru telah menunggu.
“Semangat bro, cuan gede.” Risky menepuk-nepuk pundakku sambil membereskan berkas yang berserakan di meja.
“Cuan apaan. Capek iya,”
“Ingat sumpahmu anak muda. Untuk terus mengabdi pada ibu pertiwi hingga tuhan memanggil, hahaha”
Semua orang yang ikut rapat sebenarnya sudah tahu kalau misi kali ini cukup sulit. Petugas lapangan harus masuk menyusup ke jantung sebuah organisasi hitam yang mengatur suply minyak mentah negara. Nama-nama beken nan mentereng di curigai menjadi dalang organisasi ini. Kami bertugas untuk mendapatkan bukti penyelewengan mereka dan langsung melaporkan kepada presiden.
“Jadi elu yang dapat misinya?” ujar Rina saat aku meminta kopian file tugas.
“Ya begitulah. Nasih buruk belum juga menjauh dariku.”
“Misi tunggal kan, OP makan sendiri dong.”
Dana operasional, hanya itu yang akan menjadi pengobat hati agen-agen di lapangan. Sudah jadi rahasia umum kalau dana tersebut bisa di gunakan untuk kepentingan pribadi, tinggal pintar-pintar agennya saja mengatur. Kalau selama misi hanya menghabiskan 30% dari total dana. Sisanya bisa masuk kantong. Kalau yang menjalankan misi empat orang, ya bagi empat. Kalau sendirian, kenyang lah pokoknya.
“Ya kalau bisa kembali hidup. Kalo mati, gak ada gunanya OP gede.” Aku menerima salinan yang baru saja Rina cetak.
__ADS_1
“Masukin namaku aja jadi ahli warismu. Jadi pengabdianmu gak sia-sia. Aku jamin deh, pusaramu aku sirami kembang tiap lebaran.” Rina mulai berceloteh mengharapkan warisan yang belum nyata.
“Mending gua kasih ke panti asuhan deh, ketimbang ngasih elu. Lu sholat aja kagak, gimana mau di terima doanya. Hahaha.”
Aku terpaksa harus meliuk-liuk menghidari pukulan Rina gara-gara kelakar barusan.
“Bay de wey, makasih file nya.”
Sudah hampir sepuluh tahun aku bekerja sebagai salah satu agen di agensi Intelijen negara. Berbagai tugas sudah pernah kujalankan. Mulai dari tugas menye-menye level kerupuk hingga tugas A-class yang membuat setiap langkah di iringi malaikat pencabut nyawa. Capek sih, tapi jiwa muda nan patriot selamu membuat tanda tangaku selalu tercetak di lembar persetujuan.
Keluar dari kantor aku langsung memesan taksi online menuju bandara Soekarno Hatta.
Pulang, ya aku mau pulang dan menemui ibu. Sudah enam bulan aku tidak bertemu dengan wanita yang telah melahirkanku itu.
Ibu tidak pernah tahu kalau anaknya bekerja di bidang intelijen. Dia hanya tahu aku bekerja di perusahaan tambang batu bara. Alasan bekerja di pertambangan memudahkanku untuk pergi jauh dalam waktu lama. Juga kalau sempat lost kontak, cukup dengan ngeles tidak ada signal semuanya akan beres.
Ah, aku benar-benar merindukan mereka berdua sekarang.
Namun, aku harus menahan rasa rindu ini beberapa jam lagi. Penerbangan tujuan Jakarta-Padang harus tertunda 1 jam 45 menit. Aku memilih untuk membaca file tugas sambil menunggu.
Tugasnya berlokasi di kota surabaya selama 8 bulan. Agen harus mampu mengungkap dalang utama pengatur suplai BBM, aliran dana dan tujuan utama organisasi ini. Pihak Istana mencurigai mereka bukan hanya hendak menumpuk kekayaan, tapi ada misi lain yang terselubung.
Aku lanjut membaca profil orang-orang yang di curigai sebagai dalang. Salah satu dari mereka adalah petinggi partai nasional dan pemilik media besar tanah air. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya saat mengawal bapak Presiden peninjauan lahan calon ibukota baru. Jika memang benar dia dalang organisasi hitam ini, sebuah penghargaan sebagai ‘aktor terbaik’ perlu di sematkan pada dirinya.
Dia bersama partainya menjadi pendukung utama saat presiden mencalonkan diri untuk kedua kali. Dia juga menggelontorkan dana yang sangat besar untuk keperluan kampanye. Ternyata ada maksud lain di balik keroyalannya selama ini.
Membaca file kerja di saat santai ternyata sangat membosankan. Aku akhirnya membuka akun sosial media yang sudah lama tidak kubuka.
__ADS_1
Selama ini, setiap ada waktu luang aku sering menulis di sebuah grup literasi. Akun sosial mediaku jadi cukup ramai oleh komentar atau pesan dari angota grup yang meminta kelanjutan cerita.
Ada puluhan pesan yang belum dibuka semenjak aku tinggalkan 6 bulan lalu. Dan mulai membalas satu persatu. Ada sebuah pesan yang cukup menarik.
“Bang, gombalan abang mujarab gak di dunia nyata. Coba gombalin Mbak queendira. Kalo dapat artinya abang beneran hebat!”
Lah, ada yang nantangin. Sejak dulu aku paling pantang untuk mundur jika di ajak taruhan. Entah kenapa penyakit jiwa satu ini tidak hilang-hilang walau usia terus bertambah.
Aku langsung mencari akun yang di maksud penantang ini. Ternyata benar, ia seorang penulis wanita di grup yang sama. Satu hal yang membuatku makin tertarik menerima tantangan. Targetnya cantik sekali.
“Kalau aku bisa dapatin apa hadiahnya?” kuketik balasan ke akun penantang tadi.
“Terserah abang deh maunya apa. Mau bobo bareng juga gak papa.” Balasan akun penantang tadi di ikuti emot menutup mulut.
Langsung saja aku buka profil si penantang. Usianya sekitar 35an. Lumayan cantik. Boleh juga tawarannya. Sekali langkah empat gunung kenyal di daki. Hahahah.
“Boleh deh. Awas kalau mangkir”
Kami sempat berbalas pesan beberapa saat, kemudian mulai beralih meneliti target. Aku mencoba mengumpulkan semua informasi dari akun sosial media target, tapi infonya sangat minim. Bahkan nama aslinya saja tidak ada.
Aku beralih ke akunnya di platform lain, akun ini lebih ramai dari akun sosial media. Dari akun literasinya aku mendapatkan akun instagram target.
Ada beberapa foto yang dia unggah, jelas tanpa penutup atau sensor seperti di akun facebooknya. Kecantikannya benar-benar paripurna. Wajah oval dengan kulit kuning langsat khas nusantara. Mata yang bulat dan jernih. Dan yang paling mempesona adalah senyumannya.
Aku mulai memikirkan cara untuk memulai percakapan dengan pemilik akun queendira. Kalau hanya menyapa ‘halo’ kurasa tidak akan mendapat balasan. Harus ada cara lain. Aku memutuskan untuk menggunakan sebuah trik psikologi dasar sebagai umpan dan mulai mengetik pesan.
“Boleh tanya, Mbak?”
__ADS_1
***