
POV Dira written by ErKa
Chapter demi chapter kubaca, membuat semakin merinding bulu roma. Kalau benar apa yang ditulisnya, itu artinya dia seorang agen rahasia atau seorang intelijen negara.
Penggambaran setiap adegan begitu detail, seolah-olah penulisnya benar-benar ada di sana.
Tapi, tentu saja aku tidak boleh mempercayai hal itu semua. Banyak penulis yang bisa menggambarkan setiap peristiwa dengan detail sesuai imajinasi mereka, bukan berarti mereka pernah mengalaminya. Mungkin penulis ini pun seperti itu.
Aku memutuskan untuk tidak mempercayai semua omong kosong ini! Bagaimana mungkin seorang agen rahasia begitu mudah membeberkan rahasianya seperti ini pada orang yang tidak dikenal. Itu tidak mungkin bukan?! Kemungkinannya hanya nol persen.
Aku meyakini pekerjaan itu memang ada, tapi tentu bukan berasal dari orang-orang sekelilingku, terlebih-lebih seorang agen rahasia merangkap penulis novel? Hah, rasanya itu sangat tidak mungkin bukan? Aku memutuskan untuk tidak mempercayainya dan memblokir nomor telepon maupun akun instagramnya.
***
Ting ... Ting ... Ting ...
Masih pagi, namun bunyi pesan masuk sudah mulai bersahut-sahutan. Kubuka mata dengan malas dan meraih ponsel yang tergeletak di sampingku.
Isi pesan yang masuk membuatku benar-benar terjaga dan terduduk begitu saja.
08123456xxx : Anindira Calista, 27 tahun, single, pengangguran. Kenapa memblokir nomorku?
Mataku terbelalak. Nomor itu adalah nomor yang sama yang kublokir semalam. Mengapa nomor ini bisa tahu nomor telepon keduaku? Padahal jelas-jelas nomor ini hanya untuk kalangan teman dan keluarga?Dan darimana dia tahu nama lengkap, umur, serta statusku?! Padahal aku sudah menyembunyikan itu semua dari pembacaku. Bagaimana bisa?!
08123456xxx : Bidadari, apa novelku sudah dibaca? Aku bisa membeberkan detail alamatmu dan lainnya.
Aku : Apa maumu?!!
Ketikku dengan gemas. Rasa kantuk dan pusing yang biasa kudapatkan setelah bangun tidur kini telap menguap. Berubah menjadi rasa takut, gelisah serta amarah.
08123456xxx : Kamu
Aku : kenapa kamu menggangguku?!
08123456xxx : Kamu membuatku tertarik.
Aku : ini benar-benar tidak lucu!! Aku nggak suka kamu! Cukup main-mainnya.
08123456xxx : sudah kukatakan, aku tertarik padamu. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu terlihat sangat tidak percaya diri? Kenapa kamu tidak bahagia?
Aku : sudah kukatakan, itu bukan urusanmu!
08123456xxx : aku tidak akan menyerah. Aku akan terus menghubungimu. Jangan diblokir lagi. Karena aku bisa menghubungimu, kapan pun aku mau.
Aku kehilangan kata-kata. Sepertinya aku benar-benat berhadapan dengan orang aneh. Dan aku tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari orang ini.
***
Seperti janjinya, setiap hari pria aneh itu menghubungiku. Berbagai cara dia lakukan agar aku merespon setiap pesan yang dia kirim. Rata-rata topik yang digunakan tetap sama. Menggunakan aku sebagai pusatnya.
__ADS_1
Dia tetap konsisten dengan pertanyaannya. Mengapa aku terlihat kesepian dan tidak bahagia? Menurutnya. Padahal menurutku, hidupku normal-normal saja. Apalagi banyak pembaca yang mengirim cintanya untukku. Harus sebahagia apalagi?
Minggu pertama, kehadirannya masih terasa mengesalkan. Minggu ketiga, aku mulai terbiasa dengan rentetan pesan yang dia kirim. Hingga di minggu ke empat, aku tak lagi bisa menahan diri. Aku sangat penasaran terhadapnya. Terutama mengenai pekerjaannya yang sangat tak lazim itu.
Aku : sampeyan beneran agen rahasia?
08123456xxx : Yups
Aku : siapa nama sampeyan?
08123456xxx : Nama asli apa nama samaran?
Aku : asli lah
Orang aneh itu tak langsung membalas. Dua menit kemudian dia mengirim foto dan seperti biasa, secara otomatis tangan ini mendownloadnya.
Foto itu berisi beberapa belas KTP. Awalnya aku begitu bingung, namun ketika kuperhatikan dengan seksama, aku menemukan kejanggalan.
Setiap KTP memiliki identitas yang berbeda, baik dari daerah tempat KTP itu dikeluarkan, nama, tanggal lahir, alamat maupun pekerjaan. Kesamaan dari setiap KTP itu hanya satu, yaitu foto yang ada di dalamnya.
Aku : maksudnya?
Aku bertanya dengan bingung.
08123456xxx : Namaku banyak. Kamu bisa memilih nama yang mana yang bisa kamu jadikan panggilan.
Aku : Ini semua KTP sampeyan?!
08123456xxx : sudah kukatakan sebelumnya. Pekerjaan ini membuatku memiliki banyak identitas. Kamu pilih nama yang kamu sukai, dengan senang hati aku akan menerimanya.
Aku : aku butuh nama asli.
Tiba-tiba dia melakukan panggilan video. Hal yang sering dia lakukan, namun aku selalu memilih untuk tidak mengangkatnya.
Malam ini berbeda, rasa ingin tahu yang tinggi membuatku menerima panggilan itu.
Wajah seorang pria, yang kutebak kisaran umurnya tak berbeda jauh dariku terlihat memenuhi layar ponsel. Wajah yang sama seperti yang ada di dalam KTP.
Pria itu berkulit sawo matang dengan rambut ikal. Hidungnya mancung dan bibir bervolume. Alis tebal terangkat tinggi, seolah-olah menunjukkan bahwa dia bukan tipe yang mudah didekati. Sementara lesung pipi bertengger dengan nyaman ketika bibir itu tersenyum berulang kali. Secara keseluruhan, pria itu manis. Terlepas dari banyaknya hal kelam dalam hidupnya.
"Akhirnya diangkat juga," ucapnya tersenyum semringah.
"Yang mana KTP asli sampeyan?" tanyaku tak membuang-buang waktu.
"Sebegitu penasarannya. Aku senang kamu mau angkat video call-ku. Kamu cantik ya. Meskipun nggak pakai make up ...."
"Jangan kebanyakan gombal. Aku serius tanya. Yang mana KTP samean yang asli?"
"Sabar sayang. Bentar ...."
__ADS_1
"Nggak usah panggil-panggil sayang. Aku bukan sayangmu!!"
"Akan menjadi," ucapnya dengan senyum menyebalkan. Kemudian dia mengacungkan sebuah KTP dan mendekatkan di kamera, hingga aku bisa membaca dengan jelas nama yang tertera di sana.
Aksa Pradipta. Itulah nama yang tertulis di KTP.
"Benar itu nama sampeyan?" tanyaku curiga. Wajar kalau aku curiga bukan? Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan pria yang memiliki banyak KTP?
"Mau percaya alhamdulillah, nggak percaya juga gak apa-apa. Hanya padamu aku menunjukkan identitas asliku." Wajahnya terlihat sendu dan melembut ketika mengucapkan kata-kata itu.
"Kenapa? Bukankah bahaya kalau ada orang lain yang tau?"
"Sudah kukatakan. Aku tertarik padamu. Melihatmu membuatku ingin memelukmu ...."
"Apa-apaan sih. Kututup kalau omongannya mulai aneh-aneh!"
"Iya, iya, maaf ...."
Dan anehnya panggilan video itu berlanjut hingga beberapa jam kemudian.
Rasa penasaran yang seakan tak ada habisnya membuatku selalu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Aksa banyak bercerita tentang dirinya, keluarga maupun detail pekerjaannya.
Dia merahasiakan pekerjaan aslinya dari keluarga besar. Memutuskan untuk membuka beberapa usaha untuk mengelabui keluarga dan masyarakat sekitar.
Aksa juga menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang terluka yang didapatnya ketika menjalankan sebuah misi. Luka sayatan belati di perut, bekas tembakan di pinggang dan luka lainnya di lengan maupun punggung. Tubuhnya penuh dengan bekas luka.
Sebenarnya, sebagai seorang wanita single yang tidak memiliki pengalaman dengan laki-laki, melihat hal seperti itu membuatku malu. Namun lagi-lagi karena dorongan rasa penasaran yang tinggi, membuatku terpaksa melihatnya. Berusaha mensinkronkan kinerja otak dan mata. Mencari celah kebohongan dari setiap ucapannya.
Aku memutuskan untuk mempercayai Aksa sebanyak 50% saja.
***
Tanpa kusadari, hubunganku dan Aksa semakin berkembang. Berawal dari rasa kesal, curiga dan penuh permusuhan, berkembang menjadi perasaan sayang. Ya, aku mulai menyayangi Aksa, begitu pun dengan dia. Kami menjalani virtual relathionship.
Tak terasa sudah tiga bulan hubungan ini terjalin. Kami masih betah dengan saling mengirim chat, bertelepon ria, maupun video call. Di sela-sela waktu itu, ucapan Aksa yang selalu kuingat adalah "Jangan kaget kalau aku tiba-tiba muncul di depan rumahmu."
Aku tak tahu harus mempercayai ucapan itu atau tidak. Aku hanya menjalani hubungan ini dengan nyaman saja. Tidak menarget hubungan ini harus dibawa ke jenjang yang lebih serius juga. Oh ya, kepercayaanku pada Aksa masih 50%. Meskipun aku menyayanginya, tapi aku tidak mau memberikan kepercayaan yang berlebih. Takut ujung-ujungnya akan kecewa.
Suatu malam, Aksa kembali melakukan video call. Wajahnya terlihat serius. Tidak seperti biasanya. Perasaanku menjadi tidak enak.
"Sayang ...."
"Ya?"
"SK-ku sudah turun."
"Hah?"
***
__ADS_1
Happy Reading 🥰