Suamiku Intel

Suamiku Intel
Ch 9 - Semakin Dekat


__ADS_3

POV Aksa written by Densa


Hari telah berganti minggu. Sekarang sudah hampir tiga bulan aku kembali ke kota Padang dan menjalani kehidupan sebagai warga sipil. Kegiatan harian hanya ke kantor, kadang ke tambang atau bahkan ngobrol dengan etek-etek yang bekerja di rumah produksi. Tak ada pistol atau senjata yang menemani perjalanan selama di Padang. Hidup menjadi orang normal sebenarnya nikmat sekali. Tak perlu cemas ada musuh yang tiba-tiba datang menyergap.


Selain aktifitas tadi, tentu ada satu aktifitas tambahan. Ngobrol online dengan Dira. Entah kenapa gadis itu mampu membuatku betah menatap layar handphone berlama-lama.


Berkomunikasi dengan Dira membutuhkan usaha yang lebih ekstra dibanding dengan gadis lainnya. Aku harus mencari topik yang benar-benar menarik perhatiannya. Hal pertama yang kulakukan adalah membaca karya tulisnya.


Tulisan mencerminkan kepribadian. Membaca tulisannya memberikanku beberapa keuntungan. Salah satunya topik bahasan.


Sebenarnya genre yang ditulis Dira cukup membuatku geli. Pekerjaanku yang berbahaya serta kebanyakan novel yang kutulis bergenre action, dan sekarang harus membaca genre romantis. Apa kata dunia?! Andaikan para rekan kerja dan anak buah tahu kelakuanku yang seperti ini, aku pasti tidak akan punya muka. Mereka akan menertawakanku!!


Tapi, bukankah 'all is fair in love and war'?


Yah, meskipun apa yang kulakukan sekarang ini bukan karena cinta, tapi sama saja 'kan? Yang penting buruan jatuh dalam genggaman.


Membahas novel membuka dunianya. Seperti membuka kotak pandora. Dira menjadi pribadi yang lebih terbuka. Dia bersedia menceritakan segala tentang kehidupannya.


Intensnya komunikasi dan semakin dekatnya hubungan kami, membuat panggilan pun berubah, dari saya dan Anda berubah menjadi aku dan kamu dan sekarang Dira lebih sering menggunakan kata “samean” sebagai kata ganti orang keduanya. Itu kuartikan sebagai bentuk respectnya terhadapku.


Makin lama berkomunikasi dengan Dira, makin banyak informasi yang kudapat. Sebagai gadis introvert, dia sangat membatasi komunikasi dengan lawan jenis. Pengalaman percintaan sebelumnya dijadikannya sebagai acuan.


Berdasarkan pengakuannya, aku adalah lelaki pertama yang berkomunikasi dengannya secara intens dalam beberapa tahun terakhir. Tentu saja sebatas komunikasi secara virtual.


Ada rasa bangga mendengar hal itu. Namun tetap saja, ada perasaan berat yang mengikuti. Aku semakin takut menyakitinya.


***


Aku baru tiba di kantor pagi ini. Staf baru saja meletakkan secangkir kopi di mejaku beserta map laporan progres penjualan. Tapi yang lebih aku utamakan adalah mengirim pesan selamat pagi kepada Dira.


“Pagi. Udah bangun, Nduk?”


“Udah dari tadi.”


Sekarang tidak ada lagi jeda waktu balasan dari Dira. Sepuluh detik setelah pesan di kirim, balasan akan langsung datang. Dira juga mengaku kalau handphonenya tak pernah jauh, kalau tidak di balas atau tidak di baca bukan berarti dia tidak sempat. Tapi memang tidak mau membacanya.

__ADS_1


Selalu ada yang kami bahas setiap hari, seakan tak ada habis-habisnya. Dari bahasan serius hingga hal-hal aneh nan receh menjadi bahan obrolan.


Ada suatu kejadian yang membuat pandanganku terhadapnya menjadi berubah.


Beberapa kali Dira mengatakan, ingin segera membeli laptop baru. Laptop lamanya sering kali error sehingga hal itu mengganggu kegiatan tulis-menulisnya.


Dia sudah menyisihkan gaji menulisnya selama tiga bulan berturut-turut. Dari awal dia mengutarakan keinginan, aku sudah menawarkan bantuan. Anggap saja dia memakai uangku lebih dulu, nanti baru menyicil kemudian. Meskipun itu hanya akal-akalanku saja. Tidak mungkin aku mau menerima uang itu kembali.


Bukannya senang dan berterima kasih, Dira malah marah besar. Dia mengatakan bahwa menerima sesuatu yang bukan berasal dari kerja kerasnya sendiri sangat merendahkan harga dirinya. Hal yang tak bisa dia terima. Kejadian itu membuatku belajar, bahwa Dira bukan tipe wanita yang bisa ditaklukan dengan uang. Aku tidak boleh memamerkan materi, bila ingin dia tetap didekatku.


***


Siang itu kami sedang melakukan video call. Kulihat wajahnya sangat ceria. Hari ini gaji menulisnya telah cair. Seperti rencana sebelumnya, dia akan membeli laptop. Dia meminta saranku untuk mencari spek laptop yang bagus dikisaran harga 5 - 8 juta.


"Tutup dulu vcallnya. Nanti sampai toko vcall lagi. Hati-hati bawa motornya."


"Siap." Dira memasang helm. Senyum cerah menghiasi wajahnya, membuatku betah berlama-lama menatapnya.


"Pakai masker. Jangan lupa," perintahku.


"Iya, iya." Menyuruhnya memakai masker, selain untuk mencegah penularan covid juga bisa menutupi wajah Dira yang cantik dari tatapan liar buaya-buaya darat di luaran sana.


"Mungkin sepuluh menit. Begitu sampai, aku akan langsung vcall samean."


"Oke. Aku tunggu. Hati-hati, Sayang," ucapku ringan. Kata penuh rayu sudah terlalu lancar kuucapkan. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa tendensi apa-apa di dalamnya.


"Hem." Kali ini tak ada lagi tolakan seperti sebelum-sebelumnya. Setiap memanggilnya 'sayang', wajah Dira akan langsung memerah begitu saja. Membuatku ingin menciumnya, hahaha. Laki-laki mana yang bisa menolaknya 'kan?


Waktu sepuluh menit kugunakan untuk melihat pergerakan kurva. Memantau posisi kapan harus buy atau sell. Melihat naik turunnya kurva cukup memacu adrenalin. Trading menjadi salah satu cara untuk mengusir kebosanan di kala senggang seperti ini.


Tidak melihat posisi bagus untuk masuk, aku menutup akun dan melihat waktu. Ternyata, sudah setengah jam waktu berlalu. Harusnya Dira sudah menghubungi sedari tadi. Tapi kenapa sampai saat ini dia belum juga menghubungi?


Aku memutuskan untuk menghubungi Dira, untuk memastikan, tapi tidak kunjung ada jawaban.


Panggilan masuk, tapi tidak diangkat. Kemungkinannya ada dua. Dira tidak tahu ada panggilan atau Dira tidak bisa mengangkat panggilan ini. Berbagai pikiran buruk mulai berdatangan memenuhi kepala, tapi sebelum asumsi itu berubah menjadi kecemasan, panggilan akan terus aku lakukan sampai diangkat. Walau aku harus mengulang hingga seribu kali.

__ADS_1


Kucoba meneleponnya lagi. Namun tetap tidak ada jawaban. Di percobaan yang entah sudah ke berapa kali, panggilan itu dijawab.


"Halo?" Terdengar suara anak kecil di ujung sana. Aku menatap contact, untuk memastikan tidak salah memencet nomor. Memang nomor Dira yang kuhubungi, tapi mengapa yang mengangkat anak kecil?


"Siapa ini? Berikan HP-nya pada yang punya!"


"Ah, ini Nafiz ...." Tidak sabar, aku segera mematikan telepon dan menggantinya dengan panggilan video. Dalam tiga kali deringan, panggilan itu dijawab.


Wajah seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 - 7 tahun memenuhi layar. Terdengar suara deru motor dan kendaraan lain. Dilihat dari backgroundnya, dia sedang berada di motor yang tengah berjalan.


"Dimana pemilik HP ini?" tanyaku tak sabar.


"Arahkan kameranya ke aku, Dek." Terdengar suara familiar. Suara Dira. Aku sedikit bernapas lega.


"I-ini ...." Bocah kecil itu mengubah posisi kamera ponsel sehingga aku bisa melihat wajah Dira, meskipun tidak begitu jelas. Wanita itu tengah menyetir. Raut wajahnya terlihat kalut.


"Aku masih sibuk. Nanti aku telepon. Nanti aku ceritain semua. Sudah dulu ya. Dek, matikan HP-nya." Panggilan ditutup begitu saja.


***


Kata "nanti" yang dimaksud Dira adalah empat jam kemudian. Wanita itu melakukan video call. Dia sudah berada di kamarnya.


"Jadi?" tanyaku tak sabar, ingin mendengar cerita versinya. Tidak biasanya Dira melakukan sesuatu yang tak terjadwal. Itu artinya ada kejadian tak terduga yang dialaminya.


"Ah, aku bingung mau cerita darimana?"


"Siapa anak itu?"


***


FYI


Akun : Densa AP / Densa1507


Akun IG : Densa015

__ADS_1


Akun FB : Densa


Silakan mampir ke akun saya untuk membaca cerita saya yang sudah tamat 🙏


__ADS_2