Suamiku Intel

Suamiku Intel
Ch 10 - SK Turun


__ADS_3

POV Aksa written by Densa


"Siapa anak itu?"


"Ah ya, anak itu. Jadi, tadi aku ketemu dia waktu di jalan ...."


"Kenapa tiba-tiba dia ikut kamu? Kamu kenal?"


"Nggak. Tadi aku ke rumah dia ...."


"Ke rumah dia? Kenapa? Tadi jadi ambil laptop yang mana?"


"Aku nggak jadi beli."


"Kenapa?"


"Makanya, dengerin dulu." Dira pun mulai bercerita.


Ekspresinya berubah-ubah. Dari sendu, sedih dan berakhir dengan mata berkaca-kaca. Aku menahan diri untuk tidak menyela.


Terkadang aku tidak bisa menebak jalan pikiran Dira. Entah dia ini terlalu polos, baik, atau lugu? Mudah sekali percaya dengan orang.


"Jadi, kamu berikan semua uangmu pada mereka?"


"Nggak semua. Sebagian ...."


"Uang yang kamu tabung selama tiga bulan, kamu berikan pada keluarga yang belum kamu kenal?"


"Nggak apa-apa. Aku bisa cari lagi. Yang penting Nafiz bisa sekolah lagi," ucapnya sembari mengangkat lengan. Berpose layaknya binaragawan yang memamerkan otot bisep.


Kali ini wanita itu tersenyum lebar, masih dengan air mata yang berlinang. Aku melihat ketulusan. Entah mengapa wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Aku terpaku.


Senyum dan ekspresi Dira benar-benar membuatku takjub. Mataku tak bisa lepas dari memandangnya. Ada debaran aneh. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ada yang salah dengan diriku?


***


Semenjak hari itu, pandanganku terhadap Dira mulai berubah.


Aku yang selalu memiliki prasangka buruk terhadap orang, dihadapkan dengan Dira yang tak memiliki prasangka apa-apa.


Wanita itu penuh kejutan. Lagi-lagi aku diperlihatkan dengan sisinya yang lain. Dibalik sikap sok tegarnya, tersimpan hati yang lembut dan rapuh.


Dira tidak pernah berpikir, bahwa mungkin saja orang-orang itu akan menipu. Yang dia lihat, ada orang yang butuh bantuan. Selama mampu, maka wanita itu akan mencoba untuk membantu. Sesimple itu cara pandangnya. Tidak ada rasa pamrih atau ingin mendapat pujian.


Melihat sisi lainnya yang seperti itu, membuat dada ini hangat. Terkadang ada selintas pikiran liar.


Sepertinya, Dira cocok menjadi ibu dari anak-anakku? Hahaha. Gila. Aku yang masih suka bertualang, tidak mungkin bisa berlabuh pada satu wanita.

__ADS_1


***


Dekat dengan Dira, membuatku menjadi lebih terbuka. Entah mengapa, aku bahkan menceritakan pekerjaan sebagai agen intelijen kepada gadis ini. Pekerjaan yang tidak ada satupun orang tahu. Bahkan keluarga intiku sekalipun.


Dira selalu antusias dengan pekerjaan ‘aneh’ku. Bahkan aku sempat menunjukkan bekas luka yang didapat selama menjalankan misi.


Kehidupan kami bagai bumi dan langit. Aku bekerja dengan mencurahkan semua tenaga, pikiran dan bahkan mempertaruhkan nyawa. Sedangkan pekerjaan Dira hanya meringkuk di kamar sambil mengetik kehaluan. Hayalan yang membuat dia mendapat ratusan teman baru di seluruh penjuru negeri. Dira sering sekali menceritakan betapa dia menyayangi para pembaca ceritanya.


Jika Dira sedang mengetik cerita, barulah aku punya waktu untuk hal lain. Kalau tidak bisa saja kami akan ‘chatingan’ ria dari pagi sampai pagi.


Aku jadi tidak sabar untuk segera memulai misi berikutnya. Entah kebetulan atau memang jodoh, misi berikutnya berlokasi di Surabaya. Kebetulan di kota itu juga Dira tinggal. Bisa saja nanti kami akan bertemu disela waktu.


Aku sengaja tidak memberitahu Dira kalau akan bertugas di Surabaya sebulan lagi. Biarkan jadi kejutan. Aku ingin melihat ekspresinya saat tiba-tiba muncul di depan rumahnya.


Kadang kalau memang sedang senggang, aku menyempatkan melalukan panggilan video dengan Dira. Menatap wajahnya langsung saat berbicara membuatku makin jatuh hati.


Tentang panggilan video ini sebenarnya lumayan berat perjuangannya. Awal-awal Dira selalu menolak jika aku melakukan panggilan video. Kesempatan baru ada setelah dia begitu penasaran dengan identitas asliku. Demi melihat KTP dia bersedia menganggkat panggilan. Sebuah kesan pertama yang kudapat, dia lebih cantik dari fotonya.


Taruhan sudah hilang dari benakku. Kali ini aku menjalin komunikasi dengan Dira bukan lagi demi memenangkan taruhan tapi memang karena aku mulai menyukainya. Gadis cupu dan lugu ini bisa membuat hariku kacau kalau dia cemberut.


Lagi asyik berbalas pesan dengan Dira, sebuah panggilan masuk dari kontak bernama ‘safe house’. Aku menutup pintu ruangan sebelum mengangkat telepon.


“Siap!”


“Sudah puas liburan?” Suara Reni sang staff admin terdengar.


“Sebelum Bos yang nelpon. Sebagai temen gue kabarin lu duluan biar gak kaget.” Celoteh Reni. Tapi aku menangkap sebuah kejanggalan dari kalimatnya.


“Ada apa, Ren?”


“Misi lu yang di Surabaya dibatalin, Sa.”


“Loh, kok bisa main dibatalin. Terus gimana misinya. Itu permintaan presiden loh!” Aku jadi agak menggebu-gebu karena berita barusan. Kalau misi ini dibatalkan, aku bakal kesulitan untuk menemui Dira.


“Misi Surabaya tetap lanjut. Tapi bukan elu yang maju," jelas Reni dengan santai.


“Siapa?”


“Misi itu dialihkan ke tim gabungan sekarang. Ada Polisi dan TNI juga.”


“Kalo tim gabungan, berarti dari pihak kita masih tetap gua yang maju dong.”


“Sayangnya gak begitu yang terjadi, nama lu udah gak ada di deputi dua lagi!”


“Maksudnya? Gua dipecat?”


“Muke gile ni anak. Mana ada pemecatan!” Gadis Betawi ini mulai mengumpat dengan umpatan khasnya. “Lu dipindahin ke divisi satu. Jadi jangan kaget kalo misi berikutnya lu bakal disuruh nyikatin gigi singa afrika! Hahaha!”

__ADS_1


“Becanda aja lu. Gua di divisi berapa sebenarnya? Tujuh kah?” Sejak dulu aku selalu berharap dipindahkan ke divisi surga. Divisi tujuh yang hanya bertugas sebagai corong organisasi ke publik. Hanya urusan remeh, jelasin ini itu namun dana operasionalnya tetap sama dengan divisi lain.


“Lu dipindahin ke divisi satu!”


Aku terdiam sesaat. Divisi satu bertugas di luar negeri. Kapan aku bisa bertemu Dira?!!


“Lu pingsan, Sa!” Reni tertawa di ujung telepon. “Penjelasan detailnya akan disampaikan oleh pak Rizal. Aku juga baru dapat perintah dari deputi 1 untuk mengumpulkan semua agen. Begitu saja berita dari saya. Bisa dipahami Pak Aksa?”


Aku tak bisa menjawab dengan kalimat. Hanya bisa mengucapkan ‘heeh’ dan Reni tertawa kencang sebelum menutup telepon.


Kacau!!!


Seluruh skenario yang aku siapkan buyar sudah. Rencana tiba-tiba muncul di depan rumah Dira jadi menguap bagai kentut.


Tapi masih ada sebuah harapan. Aku harus bisa meyakinkan deputi agar mengembalikanku ke divisi semula.


***


Akhir bulan ketiga aku mendapatkan email dan harus kembali ke Jakarta. Seperti biasa, aku beralasan akan kembali bekerja di tambang batu bara kepada Ibu dan Ayah.


Baru satu jam tiba, aku telah dipanggil masuk ke ruangan Deputi 1. Ada tiga orang agen lain yang belum pernah kutemui telah berada di sana.


“Selamat bergabung di divisi satu. Seminggu lagi kalian akan menjalankan misi colect data. Lokasi Amerika Serikat dan Meksiko. Durasi 6 bulan. Detail tugas akan dijelaskan saat meeting,” ucap Sang Deputi.


Aku baru hendak bertanya alasan kepindahanku, namun pria yang sedang duduk di balik meja kembali berbicara.


“Kalian sengaja kupilih karena reputasi yang kudengar. Misi ini tak menerima kegagalan. Harga diri negara kita akan ada di tangan kalian berempat. Bisa dimengerti!”


“Siap mengerti!” Kami berempat menjawab kompak.


Tidak ada harapan untuk membujuk lagi.


***


Aku duduk di ruang bangku taman belakang kantor sambil memikirkan cara menyampaikan berita ini kepada Dira. Dia sudah beberapa kali berpesan agar selalu mengabarkan jika aku harus kembali menjalankan misi.


Akhirnya aku mutuskan untuk melakukan panggilan video.


“Sayang.” Aku berusaha tersenyum saat wajah Dira tampil di layar ponsel. Dira tersenyum manis sekali siang ini, namun tiba-tiba senyum itu memudar. Sepertinya dia bisa membaca ekspresiku.


“Ya?” Alisnya bertaut.


“SK-ku telah turun.”


Rentetan pertanyaan langsung keluar dari bibir gadis cantik ini. Diikuti oleh genangan. air matanya yang ikut mengalir. Bidadariku menangis.


***

__ADS_1


Selamat Membaca.


__ADS_2