
Di Ruang tamu sebuah tangisan yang memilukan terdengar seisi penghuni rumah. Suara tangisan seorang gadis kecil. Setidaknya terdengar seperti itu.
Suara langkah kaki dan dorongan pintu yang terdengar keras menambah kebisingan rumah yang diapit lima rumah tersebut. Jelas saja suaranya terdengar hampir diseluruh lingkungan sekitar.
Gadis kecil yang bernama Suci Apriyani tengah duduk disalah satu sudut kamarnya. Menangis sendirian sampai kaos yang dikenakannya basah karena air matanya.
"Teh Yeni. Anakmu nangis tuh,
dari tadi manyun terus! Samperin deh,suci tadi masuk kekamar,"serunya sembari menyeruput air mineral yang baru saja diambilnya dari teko.
"Iya,sebentar lagi,yeni samperin suci dikamarnya,"jawab yeni yang sedang mencuci.
Gelas dan piring kotor numpuk di wastafel. Tangannya dengan lihai memutar dan menggosok gelas dan piring dengan spoon. Busah sabun
Spoon di genggamnya dan diremas dengan telapak kanannya.
Di biarkannya busah menempel dan air menetes disela-sela jemarinya. Gelas dan piring digosok dengan spoon secara perlahan dan merata. Semua gelas dan piring kembali di susunnya.
Siap untuk digunakan untuk tamu kondangan. Yeni menyelesaikannya dengan mengelap setiap sudut wastafel dari sisa-sisa air yang menempel dengan lap kering.
Yeni segera mengelap ke dua tangannya dengan handuk. Sembari mengelap tangannya kedua kakinya melangkah menuju jendela. Kedua ujung matanya mengintip keluar.
Sudah lima belas menit tetangganya duduk dipelaminan. Raut wajah mempelai wanita terlihat canggung dan gugup.
Kini mempelai wanita dipersatukan dengan mengikat janji suci-nya di pelaminan. Pesta pernikahan dirayakannya secara sederhana mengundang tetangga dan kerabat dekat.
Ibu-ibu disekitar lingkungan turut membantu dalam menyiapkan kursi dan tenda serta peralatan piring yang dipinjamkan ibu-ibu arisan.
Yeni teringat anaknya Suci yang kini berada di kamarnya. Yeni mengambil gelas yang ukurannya tidak besar. Irisan jeruk diperasnya dengan saringan. Tidak lupa ditambahkannya beberapa sendok teh gula pasir dan air dingin.
Yeni membawa jus jeruk kesukaan suci dengan tatakan dibawahnya langkah kakinya berjalan pelan menuju kamar tidurnya.
Yeni selalu membuatkan jus jeruk untuk Suci. Disaat dadanya terasa sakit.
"Suci suka jus buatan mamah,"bathinnya berkata sembari berjalan pelan menuju kamar.
"Suci,suci. Mamah bawakan jus jeruk,"serunya sembari kepalanya mengintip kedalam kamar.
Raut wajah suci tidak terlihat. Suci tidak membalas dan hanya duduk terdiam disalah satu sudut kamarnya.
Yeni masuk menghampiri suci.
"Mamah bawakan jus jeruk untuk gadis kesayangan mamah,"ucap Yeni yang sudah berdiri didepan kursi. Yeni menggenggam kedua telapak anaknya dan memberikan gelas jusnya. Kedua telapak tangan suci basah dipenuhi hingus dari hidungnya.
Suara tangis terdengar diiringi tarikan nafas berat. Meskipun raut wajahnya tidak terlihat tetap saja jemari tangan yeni basah saat menyentuh wajah gadis kecilnya.
Yeni menekuk kedua lututnya dan wajah mereka saling berhadapan. Meskipun lampu kamar tidak di nyalakan Wajah suci yang kuning langsat terlihat jelas.
Suci memegang gelas dengan tangannya yang gemetar sembari menyeruput pelan-pelan jus jeruk di gelasnya.
"Masam,mah!"ucapnya sembari mengkerutkan mulutnya. Rasa masam yang bulir-bulir jeruknya terasa di rongga-rongga mulutnya.
*Hhhheeemmm*
"Mamah buatnya buru-buru tadi,"ucap yeni sembari mencari sapu tangan disekitar meja rias. Sapu tangan berwarna putih kecoklatan di usapkan pada wajah gadis kesayangannya.
"Suci gapapah Mah,masam juga buatan mamah,"celetuknya.
Mereka berdua tertawa. Suci perlahan-lahan sudah melupakan rasa sedihnya. Rasa sakit didadanya masih terasa.
Obat untuk penyakit jantung yang selalu diminumnya sudah habis. Yeni tahu besok waktunya bagi suci untuk berobat jalan di Rumah Sakit.
"Unty Gita sampai teriak-teriak gitu karena Unty baru pulang kerja.
Mamah juga kalo capek suka ingin teriak,"seru yeni menerangkan. Suci menangis saat mendengar bentakan. Jantungnya sakit dan suci berlari menuju kamar tidurnya.
"Unty galak ya mah?"potong suci.
"Terlihat galak dari omongannya sih,,"celetuk yeni. "Kalo sudah kenal pasti sayang,"tambahnya.
Berselang empat bulan suaminya meninggal. Yeni membesarkan suci seorang diri. Yeni pindah dan membawa usaha yang tengah dijalani.
"Suci hampir empat bulan kita tinggal bersama nenek di sini."
Hanya unty gita dan nenek,keluarga dari almarhum ayahmu."
Suci tetap terdiam dan tidak berkata sepatah katapun. Suci nggak betah karena suci nggak pernah main keliling komplek.
"Suci kemari duduk disamping mamah,"seru Yeni yang sudah duduk disamping tempat tidur. Kasur kapuk yang beberapa minggu sudah diganti terasa empuk di duduki. Suci bangun dan beranjak melangkah kearah Yeni.
Ia duduk dan menidurkan kepalanya di dada Yeni. Pergelangan tangannya berada di pundak mamahnya.
Hingusnya menempel basah pada ke dua pergelangan tangannya. Keringat dan tetesan air mata membuat kaos yang dikenakannya basah dan lembab.
Suci dengerin mamah. Tadi suci udah minum obat?"tanya Yeni kedua matanya menatap suci.
"Udah mah!"jawabnya. "Dada suci tadi sakit. Suci sampe nggak bisa nafas,"terangnya.
Terkadang rasa sakit didadanya terasa. Sulit bernafas yang membuatnya hanya bisa menangis. Penyakiy jantung yang dideritanya kini membuat suci tidak bisa bermain bersama teman-temannya.
"Yang sabar ya suci,"Ucap yeni yang terus menghibur. Sambil mencium ubun-ubun anaknya. Suci membalas dengan menepuk-nepuk pundak Mamahnya.
Raut wajah suci berubah setelah mengetahui kebisingan yang datang menghampiri. Perasaan yang lain.
Yang hanya bisa diketahui oleh kutukan dan jiwa yang pernah hidup sebelum nenek moyang suci menempati bumi.
__ADS_1
"Nah sekarang main lagi sama Amell,besok kita pergi berobat kerumah sakit,"ucap Yeni sambil memegang kedua pipi suci.
***
Kota Bandung. Sudah empat bulan suci berobat dikota ini. Yeni mengantarkan Suci berobat ke Rumah Sakit Umum.
*Terlihat Yeni masih menganteri di loket administrasi*
*Selang beberapa lama*
yeni kembali menghampiri Suci dengan membawa kartu kesehatan dan rujukan dari puskesmas.
"Perutku lapar mah!"seharusnya tadi beli roti di minimarket,"keluh suci sambil menghabiskan wafer dimulutnya.
"Mamah juga belum sarapan. Hem,selesai berobat dan ambil obat di apotik kita sarapan,"seru Yeni. Suci menidurkan kepalanya di pangkuan Yeni sembari membelai rambut suci dengan jarinya.
Helaian rambutnya berwarna hitam dan lembut sesekali desiran angin membawa keharuman rambut yang dimiliki gadis kesayangannya.
Suci melihat petugas medis berjalan berdampingan. Diimpiannya kelak ia sama sekali tidak tertarik untuk menjadi perawat ataupun bidan pikir gadis kecil yang tengah duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Suci yang tidak terlihat suka dengan obat-obatan dan darah.
Kereta dorong petugas laundry yang membawa pakaian pasien melewatinya dan terlihat sosok berambut panjang sedang menjilati darah pada pakaian tersebut.
Sosok itu melihatnya. Suci hanya terdiam kaku ketakutan. Suara cekikikan itu jelas ditujukkan padanya.
Suci mendudukkan kepalanya.
Yeni memberikan sebatang wafer yang tersisa didalam tasnya. Wafer berlapis cokelat yang selalu di belinya saat bermain bersama Amel dan pipit teman sebangkunya.
Suci masih menikmati wafer terakhirnya sampai sebuah panggilan untuk-nya masuk keruangan dokter spesialis jantung yang letaknya hanya beberapa langkah dari bangku panjangnya.
Terdengar suara dari dalam ruangan mempersilahkan masuk. Kedua telapak yeni memegang pundak suci dan menggiringnya duduk. Suci melangkah pelan karena kedua matanys melihat sosok cahaya tengah melingkar pada tubuh dokter yang baru di temuinya.
Berbeda sekali dengan dokter sebelumnya yang sudah tiga kali memeriksanya. Usianya yang lebih tua dari mamahnya. Dokter yang baru ditemuinya ini akan mengajaknya berpetualang dan membantu mencapai impiannya.
Suci masih terdiam saat melihat sesosok makhluk lagi diruangan dokter. Sosok yang baik dan tidak menakutkannya.
Terlihat stateskop menggantung di leher dokter yang mengenakan jas berwarna putih. Sangat pantas dikenakannya.
Di setiap sudut ruangan terlihat ditempati beragam peralatan medis yang sampai saat ini suci hanya mengetahui nama-namanya. Yang hanya bisa dimengerti dengan kamus ilmu kedokteran.
Dokter yang baru diketahui bernama merdu terlihat dari pintu masuk ruangan ini. Dokter yang tingginya terlihat sama dengan guru Bahasa Indonesia-nya di sekolah. Rambut nya yang hitam pendek dibiarkannya terurai.
Senyum di wajahnya yang menawan membuat banyak pasien menanyakan nomor AW-nya. Tapi ada sesuatu yang menarik dari dokter spesialis jantung yang bernama merdu yang membuatnya tetap terdiam.
Seorang perawat memberikan sebuah map file berisi rekam medis terakhir suci. Dokter merdu membaca-nya dengan cepat dan akurat rekaman medis yang dibawa perawat berbaju putih tadi.
Tubuhnya yang tinggi dan langsing merubah pemikiran dalam menentukan cita-citanya. Selalu berubah-ubah.
"Dadanya masih terasa sakit dan sering pingsan,"kepalanya mendongak kedepan dan matanya menatap kearahnya.
Sekarang berbaring dulu yuk di sana.
Yeni segera menggiring lagi suci untuk mengikuti perintah Dokter Merdu.
Suci mengangkat kaos yang dikenakannya keatas. Terasa dingin stateskop menempel pada dadanya. Stateskop berpindah-pindah bergerak kedepan dan kebawah.
Kedua telinganya mendengar suara denyut jantung. Intonasi denyut jantung yang hanya bisa dipahami dengan kamus ilmu kedokteran.
"Suci suka makan waferya?"tanya Dokter Merdu. sembari tetap memainkan stateskop didadanya. Suci terdiam sebentar terasa menahan geli stateskop yang menempel di dadanya.
"Iya dok,suci suka makan wafer,setiap hari suci minta dibelikan wafer," jawabnya.
Matanya terus menatap wajah dokter merdu. seperti melihat dari sebuah sudut yang pengetahuannya hanya dimiliki para dewi didimensi yang sedikit berbeda.
Sebuah jiwa sudah mulai membenturkannya pada selaput pengetahuan gadis kecil berusia tujuh tahun ini.
Suci punya tiga teman,ya?"tanya dokter kembali. Mata dokter itupun kembali menatapnya.
Suci menatap mata dokter merdu. Dahinya yang putih terlihat mengkerut.
Ketiga sosok berwujud gadis kecil seusianya datang menghampiri ruang peraktek dokter spesialis jantung ini.
Mereka terlihat seumuran dari penampilannya. Tapi suci dan Dokter Merdu melihat perbedaan pada fisiknya.
Mereka memiliki Taring di gigi depannya yang disembunyikan di dalam gusi merahnya.
Bety,cinta,yanti dan Dua sosok orang tua terlihat melalui bathinnya. Jemari tangan suci memegang tangan Dokter Merdu. Mereka datang dan mengajak suci main. Dokter Merdu merasa akan terjadi sesuatu pada dirinya.
Langkah kakinya berjalan menuju wastafel berwarna putih susu yang diatasnya terdapat keran dan sabun pencuci tangan.
Kedua mata Dokter Merdu menatap cermin di depannya. Akan terjadi sesuatu yang akan menimpanya.
Saat akan duduk. Terdengar suara perempuan di telinganya agar memberikan sebuah pendant yang dulu pernah dilingkarkan dijari manis tangannya.
"Klep pada jantung suci,"terdengar Dokter Merdu berbicara pelan pada dirinya sendiri sembari menulis rekam medis terbaru.
Dokter Merdu tertawa. "Maaf kalo saya menakuti bunda,"serunya sembari tetap mencatat pada rekam medis suci.
Yeni dan Suci mendengarkan melihat dokter tengah mencatat disebuah map file .
Suci melihat sosok perempuan yang muncul di sekitar tubuh dokter.
"Kamu harus menyelamatkannya,"ucap perempuan yang wujudnya samar terlihat. Perlahan-lahan sosok perempuan itu menghilang.
__ADS_1
Seketika itu ekspresi wajah Dokter Merdu berubah. Dua bola sinar berwarna putih keperakan masuk kedalam tubuhnya. Telinga kanannya terasa penging. Dokter menutup telinga kanannya dengan telapak kanannya.
Ke-dua sosok tengah berkomunikasi pada-nya melalui telepati.
Suci yang mengetahui akan terjadi sesuatu pada Dokter Merdu. Hanya bisa diam dan mematung. Seperti sebuah benturan yang telah mengunci salah satu dari ke-lima inderanya.
Yeni yang terus memikirkan kondisi gadis kesayangannya. Terlihat dokter mencatat banyak obat-obatan yang harus dibelinya. "Sudah banyak uang yang dikeluarkannya hanya untuk berobat jalan,"bathinnya berkata lelah.
"Suci gapapa mah,"serunya sambil memperhatikan wajah Dokter Merdu.
Yeni terdiam duduk. Kepalanya menoleh kearah suci yang tersenyum padanya.
"Gapapah kenapa?"tanya yeni.
"Suci gapapah. Selama empat bulan mamah merawat suci,"jelasnya.
"Padahal mamah tadi bicara dalam hati,kenapa suci bisa tahu?"tanya Yeni bingung.
Dokter Merdu mendengarkan percakapan Yeni dan suci. Ia berusaha untuk tidak terbawa lamunannya.
"Sepertinya Suci bisa memahami perasaan orang,bun,"seru Dokter Merdu sembari menatap wajah suci yang sepertinya mengetahui apa yang akan terjadi padanya.
Karakter suci yang perasa dan mudah akrab akan membantunya dalam bergaul dengan orang-orang yang baru ditemuinya.
Saat ini suci bertemu Ibu dokter. Suci meniru kemampuan Ibu dokter
kan?jelas Dokter Merdu. Bertemu dengan orang yang tepat,suci mampu menirunya. Dokter Merdu melirik dan mengedipkan matanya kearah Suci.
*Selang beberapa lama*
Dokter Merdu memberikan resep obat pada yeni. Resep yang terlihat harus dibelinya. Suci harus meminum banyak obat pereda rasa sakit selama pengobatan
"Obatnya harus di beli hari ini,"terang Dokter Merdu.
"Baik,dok. Terimakasih,"jawab yeni sembari beranjak diri,merentangkan tangannya dan berjabat tangan.
"Semoga kita bertemu lagi ya bunda." Ucapnya.
"Suci,ini wafer terakhir ibu dokter.
Kalau bety,cinta dan yanti ngajak main lagi.kamu harus melingkarkan pendant ini di jari manismu,"serunya sembari membantu melingkarkan-nya di jari manis tangannya.
Dokter Merdu memberikan sebuah kristal berwarna hijau. Kristal yang pernah dilingkarkan di jari manisnya sewaktu kecil.
Kristal yang kini melingkar di jari manisnya mengeluarkan cahaya.
Suci tertarik masuk kedalam dimensi rahasia pada cincin yang dikenakannya.
Sosok perempuan yang tadi terlihat oleh-nya berdiri menyambutnya. Wajah bak bidadari yang memiliki getaran bak Dewi penjaga.
Suci melihat sosok perempuan yang kini tengah dihadapannya tersenyum padanya.
*Selang beberapa lama*
Yeni dan Suci keluar dan menuju apotik yang tidak jauh dari loby.
Terdengar suara teriakan perawat. Petugas medis berdatangan.
"Ada apa?" tanya salah satu petugas medis."
"Dokter Merdu tidak sadarkan diri sepertinya pingsan!"sahut perawat yang hampir tiba diruang spesialis jantung.
Terlihat beberapa petugas medis berdatangan.
*Yeni diam mematung*
"Suci, arah suara tadi berasal dari ruangan spesialis jantung deh?"seru yeni. Sembari berdiri dibelakang suci.
*Lima menit kemudian*
Dokter Merdu melewati Yeni dan Suci.
Dokter Spesialis Jantung itu dibawa ke ruang IGD karena tidak sadarkan diri.
Pandangan Suci teralih oleh sosok Dokter Merdu di depan ruangan kerjanya.
Dokter Merdu dibawa dua sosok yang samar terlihat.Terlihat siluet hitam berputar di samping kiri Dokter Merdu. Dua sosok orang tua membawanya masuk dan menghilang pergi.
Dokter Merdu teriak keras. Raut wajahnya terlihat pucat pasi.
Suci tidak percaya,Ia menyaksikannya sendiri. Dokter Merdu terhisap kedalam lubang hitam yang berputar-putar. Terus menghisap semua yang didepannya.
"Mah,kita pulang sekarang,"ucapnya.
Ia menarik lengan kanan yeni dengan paksa.
"Kenapa,ada apa?"tanya yeni.
"Dokter Merdu di bawa sama Bopo dan Biung barusan!"ungkap suci. Sembari menatap terus pada lubang hitam.
"Bukannya tadi suci lihat sendiri! dokter dibawa petugas medis ke ruang IGD?"jawab yeni.
"Udah mah,kita pulang sekarang ya,"paksa suci. sembari terus menarik pergelangan tangannya.
__ADS_1
Alfred