
Yanti kembali berdiri...
Yanti kehilangan Perisai Peraknya. Ia mengambil Belati tajamnya di tanah.
Tiba-tiba...
*Ggggeeerrr*
*Aaaarrrccchhh*
Yanti meraung keras. Ke dua vampire yang tengah asik bertarung mendengar raungan keras itu.
Bety tengah menggenggam leher serigala dengan telapak kirinya.
Saat Ujung belatinya hendak menusuk leher. Ia berbicara dalam bahasa Vampire..
"Suatu kehormatan darahmu terpancar dalam peperangan."
Dua taringnya terlihat muncul,lalu menusuknya dengan dua tikaman hingga jatuh terkapar.
Terdengar...
Raungan Keangkuhan. Raungan Peperangan.
Sang Vampire tahu raungannya terdengar oleh Penguasa mereka.
Seketika itu pula Bety dan Cinta mendengar raungan yang sama kerasnya di kejauhan. Raungan jawaban dari penguasa mereka.
Aura hitam kelam terpancar dari tubuh mereka bertiga...
Seruling kematian telah terdengar...
Kali ini Reptile Besar itu tidak terlihat untuk melindungi mereka.
***
"Aaaakkk... Aaaakkk... Aaaakkk..."
Terdengar kicauan burung lompat beterbangan menjauh karena mendengar raungan keras di hutan.
Ranting-ranting kecil dan dedaunan di atas pepohonan pinus berjatuhan,karena kepakan sayapnya.
"Kau dengar itu! teriakan yanti terdengar sampai burung-burungpun terbang ketakutan,"seru suci.
"Teriakan seorang COUNT!"ucapnya tidak di lanjutkan.
Gesekan rerumputan pada telapak kaki serigala berbulu putih yang pelan-pelan terdengar.
"Alpha..."
terdengar suara menggema di belakang pepohonan pinus.
Dedaunan yang rimbun menyebabkan sosok makhluk yang bersahut tidak terlihat.
Seketika mendengar sahutan, serigala berbulu putih itu pun menghentikan langkah kakinya.
"Kami tidak berperang di hari suci,kami tidak boleh melakukannya."sahutnya.
"Kalian yang mulai mengepung kami!"teriak Yanti sambil mengubah kuda-kuda kakinya. Ia berdiri tegak. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan.
Mencari sumber suara...
"Kalian telah melewati dua pohon besar dengan Tiga garis cakar.
*Terdengar suara gelombang*
Bety terdorong tiga kaki ke belakang. Ia melihat tanda goresan yang terlihat seperti cakar tergores pada dua batang besar pohon pinus.
"Benar,tadi kami melihat Tiga garis cakar,"ketus bety dengan suara lantang. Ia yang masih mengayun-ayunkan belati tajamnya bersiap-siap menghadapi serangan berikutnya.
"Lalu apa yang harus kami lakukan?sedangkan pemimpin dari serigala kalian sudah kami lukai?"cetus yanti dengan nada tinggi.
"Posisi kalian terpojok!kami akan terus bertarung,"dilanjutkan dengan teriakan keras.
Perisainya di ketuk-ketukkan pada belati. Penguasanya menyaksikan pertarungan di kejauhan. Rasa Bangga tercipta di sekujur tubuh.
"Pilihan bagi kalian gerombolan serigala hanyalah satu."
*MUNDUR*
Selang beberapa lama...
Terdengar siulan di balik pepohonan pinus yang rimbun.
__ADS_1
Para serigala berlari masuk kedalam hutan. Berbeda dengan serigala berbulu putih. Ia masih berdiri menatap Yanti Sang Vampire.
Darahnya kini tidak mengalir. Luka tusukan yang diterima dari belati.
Menghilang...
***
Rasa lelah mulai terasa...
Ia menarik nafas panjang. "Terasa berat,"pikirnya. Plasma energy yang menaunginya memiliki dimensi waktu yang lambat.
Kedua bola mata suci tervisualisasi dari kecepatan yang terlihat pelan.
Ia melihat keystoone dari landscape dimensi waktu di kunci Seekor hewan mitologi.
Terlihat...
Seekor Naga bersayap,bersisik bercahaya hijau...
Keringat terasa pada ke dua telapak tangannya. Dadanya mulai terasa sakit. Suci memegang dada sebelah kirinya.
Gawat...
Aku lupa membawa obat...
Rasa lelah mengalahkan kekhawatirannya mengenai obat yang lupa di bawanya.
"Capeknya,kenapa aku bisa lari secepat kilat,"gumamnya pada diri sendiri,sambil tidak percaya. Seumur hidupnya suci tidak pernah berlari secepat ini.
"Seperti kecepatan kayuh Himawan salah satu rider sepedah yang membantu mamah,"pikirnya sembari mengingat Raka dan Thomas menyusul jauh Himawan.
Mereka bisa menyusulnya karena ukuran ban sepedah bukan karena keahliannya.
Hhhhaaahhhaaahhh...
"Kenapa aku memikirkan Himawan,memang dia itu siapa!"pikirnya sembari mengingat wajahnya yang selalu berkeringat.
Suci membungkuk. Kepalanya mendongak ke depannya dan ke dua telapak kanannya menyentuh ke dua lututnya.
Keringat menetes pada kening dan dahinya mengalir jatuh ke rerumputan dibawahnya.
Bokongnya menempel pada batu besar di belakangnya. Sambil memutarkan pinggangnya ke arah kanan agar ke dua matanya bisa menerawang ke dalam hutan.
Ia mencoba mengatur nafas yang di hirupnya.
Gerombolan serigala kelaparan itu tidak mengikutinya sampai ke padang rumput.
"Syukurlah..."
"Kenapa kita harus berlari dan meninggalkan mereka?"tanya suci pada Freya Sang Dewi Penjaga. Ke dua ujung matanya yang masih mengawasi.
"Bangsa Vampire dan Serigala sejak dulu saling berperang,mereka tidak menyukai koalisi dengan Bangsa spirit lain,"pungkas FREYA Sang Dewi Penjaga.
***
Yanti dan ke dua vampire lainnya merubah mode sihirnya. Jirah perang dan perisainya kembali pergi ke dimensinya.
Tidak sedikitpun terlihat cakaran dan goresan pada pakaian mereka.
Betul-betul jirah perang yang di berkati penguasa mereka.
"Kita menang dalam pertarungan,"pungkas Bety dan Cinta. Senangnya!
Yanti mendekati mereka berdua.
"Kalian berdua terluka?"tanya yanti sembari mengibas-ngibaskan pergelangan kirinya pada pundak sebelah kanan.
Bety melongo mendengar Yanti berucap.
Nanti kalau kita jawab,akan banyak spirit yang protes.
Saya akan sangat kesal mendengar hal itu...
Yanti dan Cinta tertawa...
***
"Suci dan FREYA?"tanya cinta. Mereka sedang menunggu kita dan sepertinya suci sudah terbiasa menggunakan sihir!"ungkap bety pada yanti dan cinta.
"Akan terasa sulit untuk mempengaruhinya,"tambahnya lagi.
"Iya,FREYA Dewi yang menyebalkan itu sepertinya mengajarkan sihir Seribu Tangkai Bunga Mawar padanya,"serunya.
__ADS_1
Hhhhaaahhhaaahhh...
Terdengar yanti tertawa keras.
"Kita Bangsa Vampire selalu menang dalam pertempuran,"ucapnya.
"Kalianpun tahu,Bangsa Vampire ditakuti bahkan oleh manusia sekalipun dan lihat hasrat alaminya,bujuk rayu kebodohan mereka,"ungkap yanti.
"Sebentar lagi senja akan datang,kita bergegas sekarang"ujar cinta.
Suci dan FREYA pasti sudah lama menunggu.
Ke tiga Vampirepun berjalan menuju sisi luar hutan belantara.
Matahari sebentar lagi tenggelam. Cahaya merah terlihat jelas di langit.
Burung-burung beterbangan bersama koloni kecilnya. Sesekali burung-burung itunes berkicau.
Yant dan Bety mendengar kicauan mereka diatas.
Cinta mengarahkan ujung telunjuknya pada batu besar yang terlihat agak jauh jaraknya.
"Lihat!mereka berada di sana!"tandas bety yang terlebih dahulu berjalan di depannya.
Ke tiga Vampire berjalan dengan pelan.
Angin berhembus lembut menerpa wajah mereka. Rambut panjang yanti terurai indah. Wajahnya yang terlihat pucat kini memancarkan pesona bagai rembulan.
Ke beringasan wajahnya saat bertarung dengan segerombolan serigala tidak terlihat sama sekali.
Tidak lama setelah itu...
Suci dan Freya Sang Dewi Penjaga terlihat duduk dan tengah asik berbicara.
Batu kerikil di lemparkannya ke arah depan dan di mulutnya terlihat sebatang dahan ilalang tergigit pada mulut mereka berdua.
Yanti mengirim notif telepati pada ke duanya. FREYA Sang Dewi Penjaga menepuk pundak kanan suci agar berdiri.
"Mereka sudah di sini,"ucapnya.
Mereka berduapun berdiri. Suci mengibas-ngibaskan pakaian bawahnya dari debu.
"Kalian sudah tiba,syukurlah kalian bertiga selamat,"ucap suci senang lalu bergegas menghampiri dan menyalami kedua.
"Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan karena hari akan gelap,"tegas yanti. Kita istirahat di sini,lanjutnya lagi.
Suci dan Cinta mengangkat ke dua alisnya. Cinta bergaya seperti anak kecil. Jemari suci mencubit dan menarik ke dua lesung pipinya.
Suci membelai lembut rambut cinta dengan jemarinya yang panjang. Terlihat kuku di jemari tangannya terawat.
Cinta tahu karakter sihir yang di gunakan suci,karakter sihir Peri Hutan yang mampu terus menerus merestorasi.
Alis matanya yang tipis dan matanya yang besar menghiasi bola matanya yang hitam bersinar.
Suci pun yang kini terlihat seperti gadis remaja berusia 14 tahun. Bangsa Manusia yang selalu di rendahkannya kini bersamanya dengan tatapan dingin Ia melihat.
***Diketik Tapi TAK Di baca
Rintik-rintik hujan jatuh menetes. Rintik-rintik tadi berubah menjadi guyuran besar. Matahari masih menaungi padang rumput.
Ke dua gadis yang terlihat remaja kini melekat sepi. Mereka duduk di rerumputan basah dan kelelahan.
"Kenapa kamu cemberut,"tanya suci.
"Sepertinya ke tiga vampire itu akan menjadi idola dalam pertempuran,"ujar FREYA Sang Dewi Penjaga.
Suci tengah asik mengemut dahan ilalang. Ia menghadapkan wajahnya ke arah Freya Sang Dewi Penjaga.
"Apa salah satu dari ke tiga vampire itu akan saling bermusuhan? "ketusnya.
FREYA Sang Dewi Penjaga terperanjat kaget.
"Hei,setahuku Plot twist nya bukan di chapter tujuh."celetuk Sang Dewi Penjaga.
"Iya,tidak mungkin si penulis meletakkan Plot twist nya di Chapter Tujuh!Ia ingin di chapter tujuh,aku yang tertekan!"jeritnya.
Si penulis pasti akan berkata...
"Alphabetic...Writer block terasa lezat,"serunya.
"Di sore hari Ia selalu membaca ebook,seharian otaknya akan terus berputar memikirkan Kotak Pandora di Era Moderen,"tambahnya lagi.
Mereka berdua tertawa***...
__ADS_1