Sudut Dalam Ruangan FREYA DAN DUA BATU KEABADIAN

Sudut Dalam Ruangan FREYA DAN DUA BATU KEABADIAN
Puzzle Enam - Vampire Pemburu


__ADS_3

Di sudut lain di sekitar telaga...


Yanti dan Cinta berdiri di atas batu besar. Kerikil-kerikil kecil berjatuhan. Mereka berdua mengamati FREYA Sang Dewi Penjaga.


FREYA pasti tidak sendiri...


Mata mereka melihat dingin.


Bangsa Vampire berbeda dengan Manusia.


Hal serupa terpikirkan oleh FREYA Sang Dewi Penjaga.


IA menginginkan sesuatu dari Gadis kecil yang saat ini bersamanya.


Posisi yang sulit bagi Suci,gadis kecil berusia tujuh tahun.


***


Alas kaki para raja...


Setelah ke dua vampire dan suci selesai mandi. FREYA memberikan sehelai sutera berwarna kuning untuk suci kenakan.


"Sutera tipis yang indah,"tandasnya.


"Tentu saja,sutera tipis berwarna kuning ini sesuai dengan kepribadianmu suci!"jawab Sang Dewi Penjaga.


Kain sutera tipis sudah ada sejak sebelum nenek moyang manusia menempati bumi.


"Apa aku boleh mengenakannya?"pinta suci sembari meletakkan kain sutera berwarna kuning menutupi payudaranya.


"Tentu saja boleh,kamu bisa mengenakannya sekarang,"ujar Sang Dewi Penjaga.


Suci mengenakannya...


Kain sutera melekat indah di tubuhnya. Kecantikan Medusa Sang Dewi Pengabdi di Kuil Athena tercipta pada jiwanya.


Suci berputar menunjukkan keindahan tubuhnya.


"Betul-betul kain sutera yang indah,"kagumnya lagi.


Tubuh suci bersinar terang...


Selaput pengetahuan dalam raganya bertambah,jiwanya telah memperoleh Berkah dari Dewa Pengetahuan dan aroma tubuh yang mengenakannya menjadi harum seharum seribu bunga.


Teksture dari sutera tipis merubah strukture tulangnya dan meluruskan tubuh halusnya.


Rambut pendeknya memanjang sepinggang.


Tinggi badannya meninggi dan bentuk payudara suci membesar seperti gadis remaja berusia 14 tahun.


***


Sinar bulan menyinari telaga biru. Ke tiga Vampire tengah menghisap energi bulan.


Butiran-butiran cahaya seperti debu halus terhisap kedalam pori-porinya.


Butiran-butiran cahaya meluruskan perlahan-lahan tubuh spiritnya.


Sesekali wujud mereka berubah seperti penguasa mereka.


Nafsu syahwat Iblis yang tertanam dalam wujud yang berbeda.


Bulan Purnama waktu yang tepat untuk menghimpun kekuatan dan mengganti kekuatan yang lama. Energinya terhimpun cukup kuat.


Sari pati darah yang berada di tubuh memudar.


"Kita harus meminum darah segar atau..."tandas yanti pada Bety dan Cinta.


Kekhawatiran Yanti beralasan karena ia lupa membawa kotak obat darah yang berisi "Enam cairan darah yang tersimpan dalam kapsul kecil."


Bety dan Cinta saling menatap...


Mereka tahu apa yang akan dilakukan Yanti.


Suci sudah terlelap. Ia terbaring beralaskan kain beludru berwarna biru.


Bunga tidur...


FREYA Sang Dewi Penjaga melihat mimpi Gadis kecil ini.


"Minum susunya! mamah sudah siapkan,"pinta Yeni.


"Aku nggak suka minum susu,mamah kan tahu!"cetusnya.


"Iya,mamah tahu kalau kamu akan minum kalau mamah temani,"


ungkap yeni.


"Ya udah,kalau gituu gelas susunya mana?,suci mau minum,"pintanya.


Suci menangis dalam tidurnya...


Air mata mengalir di pipinya yang putih...


Kelopak Matanya terbuka...


Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan...


Mah,suci kangen sama mamah,suci mau pulang.


Terdengar isak tangis...


"Hhhheeeuuuhhh.""Hhhheeeuuuhhh."


FREYA Sang Dewi Penjaga membalikkan pinggang membelakanginya.


***


Cahaya mentari pagi bersinar terang menaungi telaga...


Kicauan merdu terdengar di dedahanan yang berdaun rimbun.


Terlihat sepasang burung berwarna biru tua ke hitaman dengan paruh bengkok tengah memadu kasih.


Kicauannya mengaburkan pendengaran kicauan burung-burung lain.


Paruh-paruh mereka beradu mematuk bebijian kecil pada dedahanan pohon.

__ADS_1


Ketiga vampire tengah berdiri saling berhadapan menghimpun kekuatan. Sesekali Bety memberikan energy kejut pada Cinta agar tidak tertidur.


FREYA berdiri di samping suci.


Melerai rambut yang menutupi dahinya karena menangis semalam.


Matanya sembab akibat menangis.


FREYA mengajarkan bagaimana merubah raut wajah yang terluka menjadi raut wajah ceria.


Suci memutarkan tubuhnya diiringi desiran angin lembut.


Kain sutera yang membungkus tubuhnya mengeluarkan aroma wewangian yang membuat wajahnya ceria ketika.


Beberapa menit kemudian...


Yanti berkata


"Kita akan melanjutkan perjalanan menuju Telaga seribu mawar."


Harap bersiap-siap.


Kali ini. Cinta memperoleh ijin mendekati suci. Sepertinya Yanti merubah pemikirannya mengenai Bangsa Manusia.


Lain halnya dengan FREYA. IA acuh tak peduli.


Wajah Cinta tidak lagi pucat pasi. Setidaknya terlihat seperti itu.


Tubuhnya tidak lagi gemetar saat ketiga vampire mendekat. Terlihat dari ketebalan auranya. Kini,suci telah bermain dengan alam semestanya.


***


Melanjutkan perjalanan...


Hangatnya sinar mentari terasa di kulit.


Sesekali suci teringat rumah.


Kerinduan bermain dan bertemu Pipit teman sebangkunya dapat di rasakan pula oleh Ke tiga Vampire lainnya.


Tepukan FREYA menyadarkannya.


"Kesepian..."


Ia tahu FREYA mengawasinya.


FREYA Sang Dewi Penjaga, bernyanyi untuk mengobati rasa rindunya...


I'am beauty... I'am mistery...


Suaranya terdengar merdu.


FREYA Sang Dewi Penjaga melanjutkan nyanyiannya...


What's going on in that beautiful mind?


I'am on your magical mistery ride And I'am so dizzy,don't know what hit me,but I'll be alright.


My head's under water...


"Terimakasih,"jawabnya.


"Dan jangan panggil aku Dewi,"selanya.


Jiwa yang bersemayam di dirinya kini lebih tua.


Jiwa yang pernah hidup dengan kemampuan yang telah di berkahi para dewa kala itu.


Selang beberapa lama...


Langkah yanti terhenti...


Ia menutup matanya. Berkonsentrasi mendengarkan suara.


jantungnya berdetak cepat.


Yanti memberikan notif telepati pada ke dua vampire di belakangnya. mereka merespon...


"Heemm,sepertinya kita sedang di ikuti!"seru cinta berbicara dalam bahasa vampire.


Ia berharap beruang atau serigala.


Jumlahnya sekitar dua puluhan yang mengikutinya...


Ketiga Vampire tidak menyukai pertempuran mereka di temani Spirite lain.


"Dua puluh ekor serigala..."tegas suci sembari menimpali percakapanya dengan Yanti dan Bety.


"Beberapa ratus meter lagi kita akan keluar dari hutan belantara,kita harus berlari kencang atau di mangsa dan di makan oleh serigala kelaparan ini,"tandas yanti sambil berbicara pada kelompok kecilnya.


"Aku akan melawannya,"ujar yanti.


Terutama pada FREYA Sang Dewi Penjaga.


"Kamu tahu,saat ini kami tengah kehausan,"ungkapnya.


"Meskipun kami telah menghisap energy bulan,kalau melihat tetesan darah, insting alami kami akan bangkit,"ucapnya lagi.


Ia berpikir untuk situasi terburuk...


"Maksudmu,aku harus berlari beserta suci mendahului kalian menjauh dari hutan?"tukas FREYA.


"Sungguh terlalu..."


FREYA mengetahui maksudnya untuk berlari.


Takutnya suci akan...


Akan dimangsanya...


FREYA mengirimkan notif pada suci agar siap-siap mengikutinya berlari sekencang-kencangnya menjauhi hutan.


"Tinggalkan ke tiga vampire ini dan biarkan mereka melawan segerombolan serigala yang kelaparan itu,"perintahnya.


"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya berlari kencang,"celetuk suci.


"Mendekat ke arahku,"serunya.

__ADS_1


"Baik,Dewi!"jawabnya sambil bergegas mendekati FREYA.


Ia berjalan disamping FREYA.


Mode sihirnya berubah menjadi Mode berlari.


Terlihat plasma energy mengitari tubuhnya...


Ayunan Ke empat kaki dari ke dua gadis ini perlahan-lahan semakin cepat.


Mereka bagai dua ekor chitah yang tengah berlari kencang.


Mereka berlari kencang menyusuri jalan setapak dan menuju padang rerumputan yang luas.


Mereka berbelok dan berhenti di sebuah bebatuan yang besar.


Lapangan terbuka...


Ketiga vampire merubah mode sihirnya. pakaian yang mereka kenakan berubah.


Terlihat, ketiga Vampire mengenakan Baju jirah terbuat dari perak yang dibakar .


Jirah perang dan perisai Bergambar matahari.


Sebilah belati tajam tergenggam di telapak kanan mereka.


Gerombolan serigala mengelilingi nya.


Ketiga vampire saling membelakangi.


"Serigala berbulu putih itu untukku,"tandas yanti bergeser sambil menatap ujung mata serigala pilihannya.


Tiba-tiba...


Detak jantungnya terhenti...


Hasrat liar membunuhnya muncul.


Insting liar Yanti terasa oleh kedua temannya.


Bahkan terasa oleh FREYA Sang Dewi Penjaga yang telah menjauhi hutan belantara.


Ke dua caling terlihat di dalam gusi merahnya.


"Ggggeeerrreeerrr.""Ggggeerrreeerrr."


Serigala berbulu putih itu berlari dan meraung. Yanti melompat mundur menghindar.


Serigala berbulu putih melangkah memutar ke arah kirinya. Yanti melihat sinar matahari mengarah tepat di depan perisai peraknya. Yanti berjalan selangkah untuk melakukan serangan.


Pantulan sinar dan perak merupakan penghantar energy yang kuat. Cahaya matahari di pantulkannya dengan perisai perak dan cahayanya mengenai ke dua matanya.


Ke dua matanya terasa panas akibat cahaya itu. Serigala berbulu putih meraung kesakitan. Yanti melangkah maju dengan Perisai peraknya.


Serigala berbulu putih merintih kesakitan. Sakit yang hanya terasa sebentar.


Ia kembali bangkit dan menggonggong.


Ke tiga serigala yang lain datang untuk membantunya. Serigala berbulu putih sepertinya tidak ingin di bantu oleh ke tiga serigala yang lain.


Getaran terasa kuat...


Yanti mengetahui laki-laki yang bersembunyi di rerimbunan pepohonan pinus itu yang membantu memulihkan luka pada Serigala kelaparan ini.


Ia melangkah maju,Yanti tidak gentar.


Serigala berbulu putih berlari kencang,sorot ujung matanya mengarah pada lengan kanannya yang menggenggam belati tajam.


Yanti melompat mundur beberapa langkah untuk bertahan. Ia menarik nafas panjang,nafasnya tersengal-sengal. Ia mencoba mengatur nafasnya.


Serigala berbulu putih menyerang dan melompat terbang kearah Yanti.


Perisai Perak Ia lemparkan ke atas dan mengenai lehernya. Serigala berbulu putih itupun jatuh ke bawah bersimbah darah.


Yanti kehilangan Perisai Perak di pergelangan kirinya.


Serigala berbulu putih berlari menyerang cepat dengan Ke dua moncong di mulutnya menganga memperlihatkan ke empat gigi tajamnya.


Ke empat gigi tajam tertancap pada pergelangan kirinya.


Untung jubah jirah menahan serangan gigitannya.


Yanti membalasnya dengan menghujamkan belati tajamnya dengan sekali tusuk. Dan serigala berbulu putih itu pun berguling-guling,jatuh tidak berdaya.


"Tttteeerrraaakkk.""Tttteeerrraaakkk."


Terdengar dedahanan tua patah berjatuhan akibat benturan.


Serigala berbulu putih di hadapannya terus meraung kesakitan. Terlihat darah kental berwarna merah mengalir pada bulu-bulu putihnya.


Ia masih bertahan dan menyerang untuk ke dua kalinya.


Moncongnya di benturkan pada bagian depan perisai. Yanti terdorong mundur dan jatuh.


Ia mencoba bangkit.


Perlahan-lahan ia angkat ke dua kakinya menekuk dan mengangkat pergelangan kakinya.


Ke dua telapak tangannya Ia dorong bersamaan dengan kedua kakinya.


Yanti kembali berdiri...


Yanti kehilangan Perisai Peraknya. Ia mengambil Belati tajamnya di tanah.


Tiba-tiba...


"Ggggeeerrr." "Aaaarrrccchhh."


Yanti meraung keras. Ke dua vampire yang masih sibuk bertarung mendengar raungan keras itu.


Raungan Keangkuhan. Raungan Peperangan. Sang Vampire tahu raungannya terdengar oleh Penguasa mereka.


Seketika itu pula Bety dan Cinta mendengar raungan yang sama kerasnya di kejauhan.


Raungan jawaban dari penguasa mereka.


Aura hitam kelam terpancar dari tubuh mereka bertiga...

__ADS_1


__ADS_2