
Suci tidak percaya,Ia menyaksikannya sendiri. Dokter Merdu terhisap kedalam lubang hitam yang berputar-putar. Terus menghisap semua yang didepannya.
"Mah,kita pulang sekarang,"ucapnya.
Ia menarik lengan kanan yeni dengan paksa.
"Kenapa,ada apa?"tanya yeni.
"Dokter Merdu di bawa sama Bopo dan Biung barusan!"ungkap suci. Sembari menatap terus pada lubang hitam.
"Bukannya tadi suci lihat sendiri! dokter dibawa petugas medis ke ruang IGD?"jawab yeni.
"Udah mah,kita pulang sekarang ya,"paksa suci. sembari terus menarik pergelangan tangannya.
***
Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Jam makan siang. Yeni dan suci sudah tiba dirumah. Keduanya terlihat didapur. Suci yang masih menyeruput pelan air yang diambilnya di kulkas. Tidak terasa sudah dua gelas air dingin diminumnya.
"Suci,jangan minum air dingin. Minum air yang mamah sudah rebus tadi pagi,"seru yeni sembari ujung telunjuknya mengarah pada botol termos.
Terlihat yeni melangkah keluar menuju kamar tidur suci.
Kaos berwarna pink bertuliskan Hello Kitty terasa lembab dipakainya. Suci yang memiliki riwayat penyakit jantung, menyebabkan tubuhnya selalu berkeringat.
"Suci,ganti bajunya,"seru yeni sembari memberikan kaos berwarna putih.
Kaos yang berbahan catoon yang mampu menyerap keringat.
"Mah,kaos yang mamah beli warnanya belum pudar,bagus lagi,"tukas suci sembari membuka kaos yang lembab oleh keringat.
"Masih bagus dong,mamah beli murah loh,Rp.95.000,- bisa dapat tiga kaos dengan warna yang berbeda,"terang yeni. Dahinya berkerut lupa kapan ia membelinya.
Setelah suci mengganti kaos yang kering.
Yeni dan suci berjalan menuju ruang tamu. Ruangan kecil yang hanya terdiri dari satu sofa besar dan lima kursi. Diruang tamu,nenek salamah tengah duduk. Ia mengetahui kejadian yang dialami dokter yang memeriksa suci.
Yeni terus memandangi Suci dan membelai rambut gadis kesayanganya dengan kelima jari tangannya. Helaian rambut lembut berwarna hitam tercium harum semerbak aroma pepohonan dan hutan belantara. Jiwa perempuan yang terlihat kecil nan cantik bak bidadari yang terlihat sosoknya,memberikannya aroma yang belum pernah yeni endus.
Nenek salamah terbatuk-batuk. Tenggorokannya terasa sakit. Yeni teringat selalu terapi air minum di pagi hari dan siang hari. Sampai saat ini ibu mertuanya baru meminum tiga gelas air mineral.
"Bu,yeni ambilkan minum,ya?"seru yeni.
"Suci,mamah mau ambil minum untuk nenek,kamu duduk duluya?"ucap yeni datar.
Suci beranjak duduk dari posisinya.
Yeni yang mengetahui ibu mertuanya kehausan bergegas kedapur. Kedua ujung mata nenek salamah menatap menantunya sampai tidak terlihat bayangannya.
"Nek,nenek pasti sudah tahu kejadian tadi yang suci lihat sama mamah?"Suci membuka pembicaraan sembari memperlihatkan Pendant kristal yang kini tengah melingkar di jari manisnya. Pendant kristal diberikan Dokter Merdu yang memeriksanya tadi pagi di rumah sakit.
Nenek salamah tetap terdiam mendengarkan cucunya suci berbicara. Ia seperti berbicara dengan telepati dengan sosok yang tadi dilihat oleh cucunya. Pendant kristal yang melingkar manis dijarinya memiliki kekuatan setara dengan ajimat mendiang suaminya.
"Suci nggak nafsu makan karena kejadian tadi,"serunya sambil memandang wajah nenek salamah.
Nenek salamah hanya terdiam mendengar kejadian yang diceritakan cucunya itu.
Wanita yang berperawakan gemuk dengan kulit yang sudah mengkerut tersebut tahu dibawa kemana dokter muda tersebut berada.
Kedua ujung mata Suci masih melihat ke arah nenek salamah.
"Papah juga bisa melihat dan pergi kealam lain ya nek?"tanya suci. Alam yang sama seperti alam manusia.
"Apa suci juga bisa pergi ke alam lain seperti papah?" tanya Suci dengan nada penuh tanda tanya.
Papah pernah cerita "Sebuah alam sering melintas di hadapannya. Alam yang banyak elementary yang hidup dengan kehidupan yang berlangsung tertib,rukun,multi kultur,multi etnis."
Pesan itu masih teringat jelas dipikiran suci gadis kecil yang kini tengah duduk di bangku sekolah dasar. "Dan kematian Papah yang tidak wajar!"serunya sembari merasakan sesuatu yang berat dari dada kirinya.
Obat yang diminumnya kini semakin bertambah seiring rasa sakit yang diderita diusianya yang berusia tujuh tahun. Dan hadirnya sosok gadis kecil seusianya yang telah menangkap jiwanya.
"Nenek taukan kalo Papah punya jimat yang disimpannya dan yang satunya selalu di kalungkannya di leher?"Tandas
Suci yang tidak henti-hentinya bertanya.
Nenek Salamah Memandang cucunya dengan tatapan lembut. Jiwa dari nenek salamah ikut terperangkap dalam lingkaran pendant kristal yang kini melingkar di jari manis suci.
"Suci,nenek akan menceritakan mengenai sebuah dunia yang kebanyakan orang akan menyebutnya dongeng atau mitos. Dunia yang pernah kamu dengar dari papahmu.
Jimat yang suci liat menggantung dileher mendiang papahmu, jimat itu kepunyaan mendiang suami nenek. Kakekmu. Amanah mendiang kakekmu agar Papahmu menjaga apa yang dipegang kakek,"
Kalimatnya terhenti karena hadirnya sosok yang datang mengawasinya.
Kehadiran sosok ini pun dirasakan oleh suci cucunya.
__ADS_1
Terasa berat. Itu yang dirasakan oleh mereka berdua.
"Ini jiwa,sama seperti yang Suci rasakan tadi,dimensi!"bathin suci. Dimensi tertinggi di langit yang kebanyakan orang menganggapnya legenda dan mitos kini perlahan-lahan dibuka melalui simpul-simpul syaraf pada tubuh suci dan nenek salamah.
"Ibu Dokter dibawa oleh sosok besar. Sepertinya Sosok besar yang dilihatnya adalah penjaga pintu dari sebuah gerbang yang menghubungkan alam mereka dengan alam manusia,"bathinnya lagi. Kedua ujung mata suci memandang nenek salamah.
Suci berjalan mendekat kearah nenek salamah. Didalam lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati terlihat cahaya yang berbunyi. Jimat mendiang ayahnya dan pendant kristal milik suci mengeluarkan cahaya berwarna ungu keperakan.
Simpul-simpul syaraf pada tubuh mereka berdua membentuk jalur baru yang mampu menguatkan salah satu dari kelima indera mereka.
*Foton*
Nenek Salamah memandang Suci cucunya yang sudah duduk dipangkuannya.
Terlihat bayangan pada iris matanya. Mata nenek salamah memandang mata kiri cucunya.
Nenek salamah melihat sesuatu yang akan dialami suci.
Nenek salamah tersenyum pada suci. Sosok gadis kecil itu adalah salah satu penyihir suci yang pernah nenek salamah dengar saat tengah duduk disebuah taman kota di kota bandung.
"Sebuah pendant kristal telah diberikan. Cincin itu kini telah melingkar manis dijemarinya. Untuk suci,yang akan menjadi penyihir suci dan perjalanan hidupnya akan dimulai,"bathinnya berkata sambil tersenyum terlihat dari wajah nenek salamah yang terlihat mengkerut.
Suci terdiam. Ia hanya merasakan akan perjalanan yang tadi diceritakan neneknya.
Suci akan bertahan dengan keadaan ini. Sosok perempuan yang mengetahui dimensi ruang dan waktu telah hadir dikehidupan suci dan keluarga.
Dengan usianya yang masih tujuh tahun ia belum mengetahui begitu dalam makna yang diucapkan Nenek Salamah.
***
Terdengar suara sendok dan piring beradu yang biasa berbunyi seiring gerobak bubur ayam melintas.
Gerobak bubur ayam berhenti di depan pintu pagar rumah. Kebetulan unty gita selalu sarapan pagi dengan bubur ayam.
"Bubur ayam,"sahut mamang sembari sendok di pergelangan kanannya mengetuk mangkok kosong yang belogo ayam tersebut.
Gemerincing dari mangkok itupun semakin mendatangkan pelanggannya di pahi hari.
"Amell,ambil mangkok sama sendok lima!"sahut unty gita dengan nada tinggi.
Amell bergegas jalan ke dapur. Kedua telapaknya sibuk menyusun kelima mangkok di dadanya. Terlihat beberapa mangkok dan sendok dibawanya. "Lima mangkok bubur
ayam,sambelnya dipisah,"seru amell pada mamang. Amell meletakkan tumpukan mangkok itu menempel di dadanya.
"Ada yang mau bubur ayam nggak?, terdengar suara dibalik pintu," kepala unty gita terlihat menongol masuk.
"Neng suci,sambelnya dipisahya?"tanya mamang. Ia akrab dipanggil mamang oleh warga sekitar.
"Banyakin ya mang," timpal suci. Nenek Salamah lagi ngidam sambel lanjutnya."Boong mang,yang ngidam sambel,suci tuh," terdengar sahutan dari dalam rumah.
"Yey,suci bohong," seru amell dan unty gita.
Unty gita melihat wajah suci,sekilas mirip wajah almarhum iyus kakaknya hadir melalui jiwa yang berada jauh didimensi tertinggi dilangit.
Unty gita tidak memiliki firasat apa-apa mengenai sosok yang dirasakannya. Sosok yang selalu bersamanya saat menonton doraemon yang tengah berpetualang di dunia fantasi.
***
Yeni tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Jasa pengiriman online diliriknya.
Usaha yang tengah dijalaninya sedang banyak orderan pesanan yang diterimanya sejak yeni menjadi distributor pempek palembang.
Penjualan yang ditentukan oleh jarak yang yeni sanggupi. Pengiriman rutin yang di setiap hari dengan jarak yang telah ditentukannya.
Yeni melihat suci tengah asik bermain game di ponselnya. Banyak tulisan pada percakapan terlihat di layar ponselnya. Suci teringat seorang temannya yang saat ini menjadi author disalah satu novel online.
Author tersebut tengah mempersiapkan dirinya agar bisa menulis percakapan yang sering dimainkannya di games. Teman-temannya dikelas selalu melafalkan kalimat dengan keras *Hidup Raja Iblis* disalah satu games online yang saat ini tengah di gandrungi anak-anak dibangku sekolah dasar. Semoga games online digandrungi remaja milenial.
"Liburan sekolah yang panjang,"bathin yeni berkata untuk dirinya sendiri.
Yeni memandang wajah anaknya yang terlihat berucap mengikuti tulisan pada layar ponselnya.
"Suci,kamu tahu ngga bagaimana mendapatkan diskon?"tanyanya.
"Pengiriman mamah makin banyak,dan mamah berpikir untuk mengirimnya dengan cara yang lebih unik dan ramah lingkungan,"tukas yeni sembari melihat sesuatu yang terasa pada suci. Sesuatu yang hadir pada diri mamahnya sebagai teman yang mampu berbagi. Jiwa tua turut bersemayam hadir pada diri suci.
"Kenapa mamah enggak langganan sama kurirnya?" jawab suci yang tengah asik bermain game.
"Aduh,kalo langganan susah,biaya pengirimannya bisa bengkak," cetus yeni sembari kedua ujung jempolnya melihat di Playstore. Sebuah jasa pengantaran dengan sepedah.
Suci berjalan menghampiri mamahnya dan berdiri di belakang sofa hitam. Yeni menunjukkan atribut kurir sepedah yang jaket dan helemnya yang mereka kenakan saat mengantar. Tas yang digemblok kurir sepedah sedikit besar.
Sehingga pengiriman bisa dilakukan secara multi drop.
__ADS_1
"Jaket dan helemnya keren,mah,"seru suci melihat lebih seksama gambar yang terlihat.
"Siapa tahu dari pengiriman dengan sepedah orderan mamah makin banyak,"ucap yeni sembari mengikuti intuisinya.
"Sepertinya kurir sepedahnya kuat goes,ya! Kebetulan di kota bandung ini kurir mereka sudah ada,"seru yeni sembari mengingat bunyi bell sepedah yang pernah di dengarnya.
"Coba mamah telepon dan tanya,siapa tahu dapat diskon tanpa berlangganan?"ucap suci dengan cepat.
"Mamah coba telepon ya,"tukas yeni sembari ujung jempol kanannya menyentuh gambar panah yang memutar.
*Selang beberapa lama operator merespon*
Yeni tertarik untuk menggunakan jasa kurir sepedah dalam mengirim Pempeknya.
Customer Service merespon dengan cepat. Mereka siap mengirimkan beberapa rider terbaik mereka untuk ditempatkan dilokasi.
Kerjasamapun dimulai dengan datangnya marketing dari Penyedia layanan tersebut.
Keesokan harinya. Keempat rider sepedah tiba. Mereka memperkenalkan diri pada yeni dan suci.
Dengan helem,jaket dan tas besar dipunggung. Membuat hitungan kalkulatornya menghemat banyak. Diskon 50% telah yeni dapatkan untuk pengiriman selama dua bulan.
Setelah menunggu tiga puluh menit mereka mendapat orderan pertamanya.
Salah satu dari mereka terlihat menekan layar dan mengambil orderan multidrop pertama mereka.
Terdengar notif
*Kring. Kring*
"Sepedah tiga,siap!" Tukas salah satu kurir yang bernama Himawan. Ia menghampiri yeni dan menunjukkan orderan di aplikasi drivernya.
Himawan memilih pempek palembang yang sesuai dengan orderan tujuannya.
Terdengarn notif lagi
*Kring. Kring*
Yeni membantu memisahkan orderan yang akan dibawa Andreas.
Andreas terlihat memasukkan pempek palembang kedalam tas yang besar.
Salah satu dari mereka menyentuh layar. "Sepedah satu siap," teriak Thomas sembari tertawa.
Mereka berempat terbiasa mengendarai sepedah besarnya. Sepedah yang belum tentu bisa di goes oleh yeni.
"Sepedah tuh ukuran bannya besar,"ucap Andreas sebelum berangkat.
Kedua ujung telunjuknya terlihat membentuk lingkaran.
Mereka bertiga tertawa riuh. kalimat yang Andreas sering ucapkan saat melihat Himawan tersusul olehnya.
Terdengar tawa mereka yang membuat yeni datang mendekat. "Kalian sudah lama jadi kurir sepedah?"tanya yeni sembari melihat wajah-wajah kurir yang selama dua bulan kedepan akan lebih terlihat.
"Siapa dulu yang jawab?" tanya Andreas sembari menatap pada ke tiga rekannya.
"Saya dulu yang jawab,"seru raka
"Kalo saya sudah tiga bulan jadi kurir sepedah,"jawab Raka.
Seorang kurir yang menggunakan sepedah fixie berwarna hitam.
Dari pekarangan rumah. Suci terdiam duduk melihat kurir yang tengah asik berbicara.
Salah satu kurir sudah selesai mengepak pempek palembang dan tas besarnya sudah di gemblok di punggungnya.
Sepedah empat ready,"teriak Thomas yang berbadan gemuk. Ia berjalan menghampiri sepedahnya.
"Gua berangkat duluan ya,ka,"
jelasnya sambil telapak kakinya menginjak pedal.
"Saya masih nunggu,mas." "Orderan belum masuk,"lanjutnya sambil menunjukkan ponsel barunya yang ia dapatkan dari prestasinya selama tiga bulan menjadi rider sepedah.
Thomas membunyikan bell sepedahnya dan pergi meninggalkan raka.
Dan selang beberapa menit
Ponsel Raka menerima notif orderan masuk dan berjalan ke pekarangan depan.
Ia pisahkan orderannya dan dimasukkan kedalam tas berukuran besar.
Sepedah dua ready. Ia mengklik tombol berangkat pada aplikasinya dan bergegas menuju sepedah fixienya.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan raka,"ucap yeni sambil melambaikan pergelangan tangannya.
Mereka berempat sedang tidak mengikuti funbike. Mereka rider sepedah di delivery pertama yeni.