
Dahi dan keningnya berkerut seiring energi yang menyembur keluar. Bathinnya menyusuri warna aura dilingkungan yang diapit dua hutan kecil yang menjadi tempat tinggal elementary peri.
Bety telah mendapatkan gambaran.
*Diri-nya tersenyum*
Sepertinya,bangsawan dan rakyat peri tengah berkumpul di alun-alun kerajaan. Saat ini Ratu tengah merayakan ulang tahun putri-nya Sofie,Putri raja sekaligus salah satu dari murid Alfred Sang Pemilik Pengetahuan.
Dan juga temannya yang pernah mengerjainya. Bety teringat saat sedang berlatih sihir diaula kerajaan. Sopie berkata keras pada-nya.
"Bety,kamu merubah mode sihir-ku!" Memperlihatkan rambut merahnya yang merah menyala.
Rambut Putri Sophie panjang terurai indah sesuai dengan bentuk wajahnya yang oval. Warna rambutnya berubah karena ketidak-sengajaan bety dalam merapalkan mantera.
Helaian rambutnya merah menyala terurai kebawah. Mode perubahan terlihat dari warna dan panjang rambut-nya. Api didalam kepalanya menyala terang yang menyebabkan mode sihirnya aktif.
Mode sihir yang dimiliki Bangsawan dari Kerajaan Elementary Peri,setara dengan kekuatan para dewa dan dewi. Dimensi-nya sama seperti dimensi FREYA Sang Dewi Penjaga.
"Bety,apa yang kamu lihat?"tanya yanti.
"Di mana FREYA dan suci?"tanyanya lagi. Sembari melangkah cepat menjauh meninggalkan bety dan cinta.
Yanti bergegas berjalan menuju di mana mereka berpisah.
Sepanjang perjalanan yanti menggerutu karena kesal.Tiba-tiba langkahnya terhenti di sebuah bangunan yang di cat sama percis.
Yanti melongo melihat FREYA dan suci yang tengah menghabiskan buah durian. Buah durian dan buah apel sedang dimakannya Karena kelaparan,mereka berdua mengunyahnya pelan.
Ke dua bola mata mereka menatap yanti.
"Apa yang kalian lakukan?"tanya yanti dengan nada tinggi sembari masuk dan melihat ke sekelilingnya.
Lantai dibawah di pijaknya penuh dengan kulit durian dan ampas-ampas kulit apel yang berserakan. Ruangan-nya tidak begitu luas. Dihiasi beberapa lukisan pada dinding-nya.
Sebuah meja dengan deretan bingkai photo menceritakan gambaran si pemilik rumah. Dan Pose gaya dari anak-anak dengan ke-dua jari kanannya mengangkat keatas.
Keluarga bahagia menurutku. Anak-anak mereka memberikan senyuman pada ke-dua orang tuanya.
Bahasa ibu yang kental akan tata-krama membungkus tubuh anak-anaknya dengan sulaman dedaunan di hiasi bebatuan dan etika nenek moyang.
Hampir semua tempat tinggal di lembah hijau di huni para peri,mereka memiliki perlengkapan rumah tangga yang sama yaitu Keluarga.
*Keluarga bahagia*
"Kami kelaparan!"ketus FREYA
"Dan lihat! Di sini ada banyak buah durian dan apel yang bisa kami makan,"ketusnya lagi.
"Kamu mau durian?"celetuk suci langkah kakinya menghampiri yanti.
"Suci,ada apa dengan wajahmu?"tanya yanti sembari mundur menjauh.
"Dan kenapa dengan bibirmu?"tanyanya lagi.
Bentuk bibir merekah bak roti. Bibir besar terlihat seperti sarung tinju,yang terlihat membengkak pada mulutnya.
"Jangan-jangan,suci,"ucapnya datar.
Suci kini tengah dalam pengaruh sihir.
Semakin mendekat ke-arahnya.
Jalannya sempoyongan dengan raut wajah seperti meminum beberapa gelas kecil arak beras yang biasa di sajikan pada perayaan festival rakyat.
Buah-buahan yang sudah di makannya telah di beri rapalan mantera sihir.
Apabila buah-buahannya termakan,akan membuat sipemakannya mabuk seperti meminum arak beras.
Karakter sihir-nya mampu melumpuhkan pencuri yang masuk ke dalam rumah. Hal ini sering dilakukan sebagai pengamanan elementari peri.
Yanti semakin terpojok. Punggungnya menyentuh dinding ruangan. Belati tajam yang berada di pinggangnya di hunuskan ke arahnya. Tusukan kecil menancap masuk ke dalam ginjalnya.
Darah-nya menyembur dan menetes jatuh ke lantai di sela-sela kain sutera tipis yang dikenakannya. Sosok yanti perlahan-lahan terlihat dari pandangannya.
"Yanti,kenapa kamu berdiri di sini?ucapnya datar. Taring-mu!"
*Tubuh Suci lemas dan jatuh kelantai*
Di sadarinya taring yang tertidur di dalam gusi merahnya menyembur keluar. Raungan terdengar dari mulutnya seketika ke-dua matanya menghitam. Kesadarannya telah diambil alih oleh jiwa yang kuat.
Dengan cepat FREYA Sang Dewi Penjaga menetralisir tubuh yanti. Butiran kristal yang FREYA masukkan ke dalam dadanya mampu mengunci hawa vampire. terlihat simbol pada dahi dan keningnya.
*Selang beberapa waktu*
Ke dua taring yang menyembur ke luar kembali masuk ke dalam gusi merahnya.
Yanti-pun roboh ke lantai.
FREYA yang masih terkena sihir,bergegas menghampiri suci yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
FREYA membacakan rapalan mantera suci untuk mengeluarkan racun sihir dalam tubuhnya
Terlihat simbol mantera daun berwarna kuning ke-emasan seiring muncul cairan kental berwarna cokelat yang keluar dari dahi dan keningnya.
Luka tusukan pada ginjal-nya pun perlahan-lahan menutup dan hilang.
Ke-dua mata suci terbuka seiring rasa sakit yang teramat cepat hilang.
*Selang beberapa lama*
Bayangan FREYA Sang Dewi Penjaga terlihat jelas dalam wujud aslinya. Wajah yang sangat cantik bak bidadari yang turun dari kayangan.
"Dewi,"tanyanya yang masih menatap FREYA Sang Dewi Penjaga.
"Bangunlah suci,racun di tubuhmu sudah ku keluarkan,begitupula lukamu,"tandas FREYA Sang Dewi Penjaga.
Sembari menggerak-gerakkan tubuhnya,suci mencoba untuk duduk.
Pandangannya masih kabur akibat kepalanya terbentur lantai.
Kepalanya Ia dongakkan ke-bawah dan ke-dua matanya tertuju pada tubuhnya. Tidak terlihat bekas luka tusukan begitu pula rasa sakit dari lukanya.
Suci mengetahui FREYA telah menyembuhkan luka dan mengeluarkan racun di dalam tubuhnya.
*Seketika suci teringat yanti*
"Kenapa dengan yanti?"wajah suci datar.
Yanti terbujur kaku di lantai.
"Dewi,apa aku boleh melihat kondisinya?"tandas suci sembari merubah posisinya.
"Boleh,"jawabnya bijak.
Ke-dua telapak tangannya menyentuh lantai. Suci merangkak pelan ke-arah yanti yang masih pingsan.
"Yanti bangun!Yanti.Yanti,"panggil suci sembari pergelangan kiri suci menepuk-nepuk pelan tubuh yanti yang masih belum sadarkan diri. Bulu matanya terangkat pelan ke atas. Terlihat suci tengah duduk membangunkannya. Suara suci terdengar menggema di ke-dua telinganya.
*Yanti tersadar*
Yanti beranjak duduk karena suci berada di sampingnya begitu dekat. Vampire dengan Keangkuhan yang tinggi terlihat lemah oleh Manusia.
Kepalanya yang masih terasa sakit akibat jatuh di lantai membuatnya cepat menyembunyikan sifat aslinya.
"Aku tidak apa-apa,lukaku sudah pulih,"serunya sembari cepat berdiri dan menjaga jarak dengan suci.
Mereka tidak ingin terlihat lemah di kalangan manusia. Darah manusia telah menjadi mata rantai terakhir mereka.Yang sudah menjadi perburuan sejak nenek moyang bangsa vampire.
"Aku tadi menusukmu dengan belati tajamku! Bagaimana lukamu?"tanya yanti sembari melihat ke-arah ginjalnya. "Sepertinya FREYA sudah menyembuhkan lukamu! Sekarang ikuti aku. Bety dan cinta sudah mengetahui keberadaan elementary-peri!"lanjutnya lagi dengan nada tinggi.
Tatapan tajam terlihat dari sorot matanya menatap FREYA Sang Dewi Penjaga.
*Yanti berbicara melalui telepati*
Kekuatan yanti tidak berdaya dengan adanya kristal berwarna hijau yang kini telah menyatu perlahan dengan jutaan sel dalam tubuhnya.
Yanti tahu bahwa butiran kristal yang sudah larut tidak mungkin bisa di keluarkan dan akan terus beresonansi di setiap inti sel.
FREYA Sang Dewi Penjaga kini memiliki Duplikat tubuh dari yanti keturunan COUNT.
FREYA dan suci melangkah cepat mengikuti yanti yang tengah berjalan cepat di depannya. Kekuatan langkah kakinya sama seperti se-ekor chitah.
*Selang beberapa waktu*
Terlihat bety dan cinta tengah berdiri menunggu.
"Yanti sudah datang,"seru cinta pada bety. Mereka berdua bergegas berjalan menghampiri.
"Kenapa lama sekali?"tanya cinta pada yanti.
Bety merasakan ada yang berbeda pada yanti.
"Maaf,kelamaanya,"jawab yanti.
"Bety,sudah kamu cari di mana para-peri pergi?"tanya yanti. Bety terperanjat kaget. Wajahnya berubah seketika mendengar suara yanti.
Bety sama sekali tidak merasakan hawa vampire pada dirinya. "Tidak mungkin! FREYA Sang Dewi Penjaga memasukkan butiran kristal kehidupan ke-dalam tubuh-nya.
Bety terdiam dan tidak bertanya sepatah-katapun.
Pengaruh dari kristal yang saat ini tengah menyatu didalam sel-sel tubuhnya memprogram ulang,sehingga kemampuan yang dimiliki-nya hilang.
Yanti bukan lagi Seorang Vampire,kini ia telah memiliki ke-dua telinga panjang dan tubuh berwarna hijau.
"Aku tahu,saat ini aku terlihat berbeda,aku harus segera bertemu Alfred,ini sangat memalukan. Suaranya berubah.
"Wujudku dan warna kulitku,"kepanikan yanti di luapkannya di depan bety. Ke-dua tangannya terus menyentuh wajahnya. Yanti pada akhirnya menutup sebagian wajahnya dengan sehelai kain.
Bety terus mendiamkan yanti yang terus berbicara tanpa henti. Kecemasannya membuat sel-sel pada tubuhnya semakin dikuasai oleh salah satu hewan mitologi yang telah bersemayam.
__ADS_1
Getaran Yanti terasa kuat,berupaya terus menghisap energi di depannya. Makhluk mitologi yang kini bersemayam tengah menatap bety. Tatapan bak GAIA yang memandang cucu-nya ZEUS.
"Kita akan menemui Alfred,sekarang!"ucapnya lantang.
Perjalanan menuju istana peri dilanjutkan. Kali ini bety yang memimpin. Langkah kaki mereka terdengar jauh sampai kelembah hijau Istana Kerajaan Peri. Disalah satu kerajaan yang berkoalisi dengan Bangsa Vampire.
Panglima Perang kerajaan Peri mengetahui kedatangan yanti putri keturunan COUNT.
"Sepertinya Alfred belum mengetahui kedatangan murid kesayangannya,datang dengan wujud yang berbeda," Ia berbicara dalam hati. Sebuah seringai misterius terukir pada wajahnya.
Seorang kesatria elite bergegas menghampirinya setelah mendengar seruannya. Di perintahkan padanya membawa gulungan kertas untuk Penasehat kerajaan.
Alfred sang pemilik pengetahuan. Yang kini berusia ribuan tahun,terus membukukan ramalan yang di dapatnya dari para dewa didimensi tertinggi dilangit.
***
Alfred kecil terlihat tampan mengenakan dedaunan yang membungkus tubuhnya. Ke-dua kakinya melangkah cepat menuju kelas.
Pagi ini dimulai dengan pelajaran merapal mantera untuk berkomunikasi dengan roh-roh pohon. Alfred sangat hafal rapalan mantera tersebut.
Alfred memiliki seorang guru yang memiliki suara yang indah.
"Intonasi sangat mempengaruhi kekuatan sihir,"ajarnya bijak.
Sejak kecil hanya alfred yang memiliki suara merdu seperti gurunya yang mampu menirukan kicauan burung. Kicauan dari burung apapun mampu di tirunya.
Alfred Sang Pemilik Pengetahuan. Memilki dua orang murid kesayangan. Sebenarnya tiga. Karena dalam lirik lagu manapun akan tertulis,"Satu dua dan tiga,"Tertulis *DAN* tidak ada angka tiga setelah angka dua.
*Segala puji bagi Dewa Tooth yang agung*
***
Perjalanan telah membawanya menuju lembah hijau. Banyak sekali kicauan burung terdengar disini. Kicauannya saling bersahutan satu dengan yang lain. Tidak dengan yanti. Kini dirinya berbeda!
Keangkuhannya. Kesombongannya melebur menjadi sebuah nyanyian dengan intonasi yang mampu melumpuhkan hasrat liarnya akan darah.
Yanti tidak percaya. Ia akan bisa bernyanyi seperti FREYA Sang Dewi Penjaga. Nyanyian yang selalu menghibur setiap entitas yang akan memasuki hutan belantara.
*Jiwa-nya berkata pada pikirannya*
"Yanti,kamu tidak berkata apapun selama perjalanan? Apa yang kamu rasakan pada tubuhmu setelah mengalami perubahan? Kenapa aku tidak lagi merasakan hasrat liar-mu? Insting pemburu-mu? Apakah kamu telah dilumpuhkan oleh jiwa yang pernah hidup sebelumnya?"
Ke-dua matanya terus menatap kedepan. Strukture tulangnya terasa berubah,terlihat dari caranya berjalan.
Kini wujudnya terlihat sempurna seperti Kesatria peri.
Suci yang berjalan dibelakangnya melihat hal serupa. Sosok hijau terlihat sangat cantik.
Dedaunan besar bewarna hitam berubah menjadi dedaunan hijau yang dihiasi butiran-butiran air beku mengkristal.
Mengambil air di sungai yang airnya jernih terasa segar jika diminum. Bety dan kelompok kecilnya mengisi air kedalam kantung yang terbuat dari kulit kerbau.
Merendamkan tubuh mereka kedalam air dan memercikan air sembari bersenda-gurau tentang petualangan dihari ini.
*Kamu-mah tidak percaya dengan petualangan kami*
Berbeda dengan yanti yang masih terdiam malas. Ia hanya merendam ke-dua kakinya masuk kedalam air.
*Tidak buruk dengan wujud-mu sekarang. Kamu pernah tinggal bersama mereka. Dan kamu diajarkan oleh mereka. Jiwa kelembutan akan berbenturan dengan Para Bangsawan di kalangan Vampire*
Jiwa besar elementary peri kini bersemayam terus meresonansi kebiasaannya. Kebiasaannya yang selalu dilakukan dalam lingkup habitat.
Jiwa yanti benar-benar terperangkap. Hanya Alfred yang mampu memulihkannya.
*5000 meter kemudian*
Terlihat di depan mereka bangunan yang megah menjulang tinggi ke atas. Sebuah Kastil dengan dinding yang terbuat dari bebatuan alam unik nan indah.
Dipagi hari sinar matahari masuk kedalam jendela-jendela yang mengarah kepadanya. Begitupula pada sore hari sinar matahari kemerahan terlihat jelas.
Berita mengenai kedatangan yanti anak dari keturunan COUNT.Telah terdengar ke telinga Sopie Putri Raja yang juga murid dari Alfred.
Bagaimana dengan bety? sudah lama wajahnya yang dari kejauhan terlihat melalui bayangan tubuh-nya.
*Suara keledai*
Seekor keledai menarik gerobak dengan muatan tumpukan jerami kering. Ke-empat kakinya berjalan pelan melewati bety dan kelompok kecilnya.
"Selamat sore gadis cantik,"sapanya ramah sembari mengangkat topinya ke arah Bety dan kelompok kecilnya. Pemuda bersama keledainya baru saja keluar dari gerbang istana.
Topi jerami yang melingkar di kepalanya merupakan khas dari Para petani di kalangan peri. Bety dan cinta tersenyum menyapa pemuda itu dengan ramah.
"Petani yang tampan,"seru cinta pada bety merasa senang terlihat dari raut wajahnya. Peradaban besar terlihat dike-dua mata mereka.
Peradaban yang melebihi Bangsa Manusia sekalipun. Banyaknya pujangga-pujangga dan sastrawan yang menetap di kerajaan ini. Karya besar telah di publikasikan dan menjadi buku ke-dua setelah kitab suci.
Meskipun Pujangga-pujangga dan sastrawan telah wafat,karya mereka akan dibaca oleh generasi-generasi sesudahnya.
Alfred
__ADS_1