
Pantulan warna merah terlihat di langit. Bola merah akan tenggelam di ufuknya.
Pepohonan pinus yang dipenuhi dedaunan rindang menutupi pantulan sinar matahari yang perlahan-lahan memudar.
Tergantikan cahaya bulan yang berpendar.
Cahaya bulan akan menyinari
rerumputan hijau di wilayah itu.
Langkah kaki mereka memasuki jalan setapak yang dipenuhi rerumputan.
Sandal-sandal yang diinjak terasa lengket di sela-sela kakinya.
Sesekali terdengar patahan ranting-ranting tua yang berjatuhan dari pepohonan yang tinggi.
Terdengar obrolan kecil oleh serangga-serangga kecil di hutan.
"Kkkkrrriiikkk... Kkkkrrriiikkk..."
Mereka bukan serangga-serangga penghisap darah.
Mereka serangga-serangga peloncat di rerumputan dan di dedaunan.
"Rupanya ada sekelompok vampire yang akan melintas. Serangga-serangga peloncat itupun berseru.
"Kkkkrrriiikkk... Kkkkrrriiikkk..."
Serangga-serangga kecil itupun terlebih dahulu bergerak memasuki hutan belantara.
Akhirnya mereka tiba disebuah tebing yang menjulang tinggi. Tebing itu dipenuhi bebatuan kerikil yang licin.
Bebatuan kerikil berjatuhan...
Mereka saling berpegangan tangan...
Yanti dan teman-temannya akan memasuki hutan belantara.
"Cahaya bulan akan menaungi langkah kita,"ucapnya lirih.
Para Vampire memperoleh kekuatan yang besar karena cahaya bulan purnama.
Terlihat Yanti berjalan didepan mendahului dan menunjukkan arah.
Yanti yang memiliki tinggi badan 140 cm dengan wajah pucat. Terlihat dua calingnya tertutup oleh gusi merahnya.
Cahaya bulan purnama menambah kekuatan Yanti disaat malam. Kekuatannya terasa dominan diantara kedua temannya.
Ia anak tertua dari salah satu Klan Vampire.
Bety dan Cinta selalu mengikuti dan menurutinya. Karena mereka hanyalah keponakan dari seorang COUNT.
Mereka sudah lama berjalan. Sesekali mereka berhenti. Sesekali mereka melangkah kembali.
Ke dua kakinya mulai terasa lumpuh dan terkulai lemas.
Perut suci mulai rewel. Ia hanya berharap bisa pulang ke rumah dan makan sepuasnya.
Sampai akhirnya yanti menghentikan langkahnya...
Terdengar suara angin...
"Sssseeessseeesssttt."
Angin berhembus lembut menerpa wajahnya...
Yanti dan teman-temannyapun mulai merasakan aliran energi pada mata kaki mereka.
Selang beberapa lama...
Terlihat Yanti mengacungkan ke dua jari dipergelangan kanannya di atas perutnya.
Getaranpun mulai terasa...
"Eeeennnggg."
Dari kedua ujung jarinya mengeluarkan cahaya berwarna biru.
Ia tengah memanggil roh hutan untuk membantunya.
Seekor serangga bersayap muncul dihadapannya.
Bukan seekor...
tapi segerombolan serangga bersayap...
Serangga-serangga bersayap itu mengeluarkan cahaya terang.
Mereka berdatangan dari arah depan.
Cahaya yang dahulu pernah melintasi pekarangan rumah di saat cahaya malam berpendar terlihat dilangit.
Kini serangga-serangga bersayap tidak pernah terlihat dan menjauhi manusia.
Terdengar...
"Triiiinnnngggg."
__ADS_1
Suci menerima notif telepati dari FREYA.
"Serangga terbang itu namanya kunang-kunang."
Suci melirikkan matanya kearah FREYA...
Salah satu penjaga dari enam batu keabadian.
Sang penjaga itupun menatap wajahnya.
Suci mulai terbiasa dan terasah kemampuannya. Kemampuan yang diberikan FREYA kepadanya.
Lambat-laun,ia akan menjadi penyihir suci sepertinya.
Tatapannya dingin diiringi senyuman.
Serangga-serangga bersayap tengah berputar-putar mengelilingi Yanti dan kelompok kecilnya.
Serangga-serangga bersayap terus mengamati dengan getaran sensor nya agar bisa melindungi.
Serangga-serangga bersayap mulai mengeluarkan gelembung-gelembung kecil halus yang berwarna kuning.
Gelembung yang terlihat seperti saripati madu itupun masuk kedalam pori-pori kulit.
Yanti merapalkan mantera.
"Wahai kunang-kunang,antarkan kami melewati hutan belantara ini. Sirami kami dengan cahayamu. Cahaya yang mampu menembus gelapnya malam."
Manteranya dirapalkannya dengan keras. Kelompok kecil ini mendengar rapalan mantera yang dirapalkan Yanti.
Tiba-tiba...
Terlihat sebuah naungan menyelimuti mereka.
Naungan cahaya yang bersinar.
Tercium aroma wangi dari pepohonan dan sungai. Aroma hutan sebenarnya. Aroma yang belum pernah terendus oleh penciuman selama ini.
Tubuh terasa segar...
Dari pori-pori tubuh mereka keluar butiran-butiran halus yang menghilangkan rasa lelah.
Rasa sakit di kedua kaki merekapun berangsur-angsur hilang.
Keajaiban yang belum pernah mereka rasakan.
Para kunang-kunang berkomunikasi melalui suara gelombangnya pada yanti.
Selang beberapa lama
Ia menatap kearah kelompok kecilnya.
"Kita harus terus berjalan
sampai menemui telaga."
Dan
"Jangan sekali-kali melihat kebelakang selama perjalanan."
"Kenapa tidak boleh?"suci menimpali.
"Jiwa kalian akan terjebak di hutan belantara ini. SELAMANYA!"
YANTI MENATAP TAJAM KEARAH KELOMPOK KECILNYA.
Suci tidak tahu harus berkata apa. Ia melihat ke sekeliling berupaya menyembunyikan rasa cemasnya.
Yanti dan teman-temannya melanjutkan perjalanannya menuju Telaga.
Perjalananpun dilanjutkan...
Cahaya dari naungan berada di sekelilingnya menemani perjalanan malam.
Terlihat Bety selalu berdoa.
Sesekali kepalanya mendongak kelangit menatap bintang.
Sepertinya Cinta tertarik mendengar
candaan FREYA dan suci tentang bangsa vampire.
"Aku rasa Bangsa Vampire tidak lagi menghisap darah binatang,"seru FREYA menatap Suci.
Yanti dan kedua vampire lainnya terperanjat...
"Iya,,,aku melihatnya di filem. Para Vampire menyimpan stok darah mereka di lemari pendingin,"jawab suci sambil menoleh pada Cinta.
"Bagaimana pendapatmu,Cin?maksudku kenapa mereka tidak lagi berburu binatang dan menghisapnya langsung!"celetuknya.
Tatapannya tetap tertuju kedepan.
Cinta terdiam...
Ia tengah berkomunikasi dengan yanti.
Sepertinya ia meminta ijin untuk menjawabnya...
__ADS_1
Lanjut cinta...
Bangsa kami,memang tidak lagi menghisap darah binatang.
Sebagian besar dari kami.
"Tapi sebagian kecil kelompok vampire,mereka masih berburu hewan untuk dihisap darahnya,"sahutnya.
Ia sepertinya ingin sekali memperkenalkan bangsanya pada Suci.
Tapi niatnya terhenti...
Ia melanjutkan perkataanya...
Kamu masih memikirkan perempuan itu? Perempuan yang dibawa Bopo dan Biung?
Suci terdiam...
Perempuan itu saat ini berada di sebuah Telaga sihir. "Telaga sihir yang harus di jaganya,"dahinya terlihat mengkerut.
"Bagaimana keadaannya?"
"Apa ia masih bisa kembali ke tubuhnya atau selamanya akan terjebak?"tanyanya lagi.
Beberapa saat. Suci masih mengingat kejadian di Rumah Sakit. Wafer terakhir pemberian Ibu Dokter dan Pendant yang saat ini melingkar di jari manisnya.
Di usianya yang kini berusia tujuh tahun dan kematian Ayahnya yang sepertinya berkaitan dengan Jimat yang selalu melingkar di lehernya.
Air matanya menetes jatuh ke pipinya. Ia yakin jiwa Ayahnya berada di alam ini. Terjebak dan terkurung meminta untuk dibebaskan.
"Kita hampir tiba,"terdengar sahutan dari arah depan.
Sahutan itu membuyarkan lamunannya.
"Kita harus cepat-cepat tiba disana,"ucap cinta sambil berlari mendekati ke arah Yanti.
Suci penasaran dengan tempat yang akan dikunjunginya. Ia lari perlahan menyusul cinta.
Mereka menjumpai jalanan menurun.
Sebuah telaga...
Telaga yang berwarna biru berkilau.
Yanti dan ke dua temannya meminum air ditelaga itu dengan menyiukkan telapak kanannya.
"Hhheeemmm."
Ke tiga Vampire saling berbicara dalam bahasa yang belum bisa dipahami oleh penulis.
FREYA dan Suci mengikuti cara mereka menyiukkan air dengan telapak kanannya dan meminumnya.
Suci membasuh kedua telapak tangan dan wajahnya sambil memercikkan air kewajah FREYA.
Perjalanan Spiritual di hari pertama telah mereka lalui. Sebuah cermin besar di lereng gunung berada dihadapannya.
Telaga warna seperti cermin besar dikelilingi pepohonan rindang. pinus dan cemara.
"Malam ini kita istirahat,"sahut Yanti pada kelompok kecilnya.
Suci mengacungkan tangan untuk menyela pembicaraan.
"Ada apa suci?"tanya Yanti.
"Apa telaga ini aman untuk anak seusia saya?"candanya dengan tidak sabar untuk mandi di cermin besar itu.
Yanti menjentikkan jarinya...
"Segerombolan ikan muncul ke tepi telaga. Dasar telaga terlihat jelas oleh mata yang memandang."
Ikan ikan berwarna kuning keemasan berenang ketepian.
Malam semakin larut.
Para kunang-kunang pergi meninggalkan telaga.
Perjalanan Spiritual yang dialami Suci belum usai.
***
Disudut lain disekitar telaga...
Yanti dan Cinta berdiri diatas batu besar. Mereka berdua mengamati FREYA Sang Penjaga dan Suci.
Freya pasti tidak sendiri...
Disudut lain disekitar telaga...
Yanti dan Cinta berdiri diatas batu besar. Mereka berdua mengamati FREYA Sang Penjaga dan Suci.
FREYA pasti tidak sendiri...
Mata mereka terlihat dingin.
Bangsa Vampire berbeda dengan Manusia.
Hal serupa terpikirkan oleh FREYA Sang Penjaga.
__ADS_1
IA menginginkan sesuatu dari Gadis kecil yang saat ini bersamanya.
Posisi yang sulit bagi Suci gadis kecil berusia tujuh tahun.