Sudut Dalam Ruangan FREYA DAN DUA BATU KEABADIAN

Sudut Dalam Ruangan FREYA DAN DUA BATU KEABADIAN
Puzzle Delapan


__ADS_3

"Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan karena hari akan gelap,"tegas yanti. Kita istirahat di sini,lanjutnya lagi.


Suci dan Cinta mengangkat ke dua alisnya. Cinta bergaya seperti anak kecil. Jemari suci mencubit dan menarik ke dua lesung pipinya.


Suci membelai lembut rambut cinta dengan jemarinya yang panjang. Terlihat kuku di jemari tangannya bersih terawat.


Alis matanya yang tipis dan matanya yang besar menghiasi bola matanya yang hitam bersinar.


"Matahari akan tenggelam kita harus menyalakan api unggun,"terang yanti.


"Bety dan cinta,kalian kembali ke hutan dan cari dahan-dahan kering,"lanjutnya.


Bety dan cinta berdiri dari duduknya.


"Aku bisa bantu kalian menemukan dahan-dahan tua yang jatuh,"ungkap suci sembari merajuk.


Yanti menganggukkan kepalanya...


Suci bergegas beranjak dan mengikutinya dari belakang.


Selang beberapa lama...


Mereka bertiga sudah masuk ke dalam hutan. Langkah mereka berhenti pada pepohonan pinus yang berdaun lebat. Banyak dedahanan yang jatuh.


"Disekitar sini banyak dedahanan pohon, cari dahan-dahan yang tua!"tegas bety pada cinta dan suci.


"Siap coach,"jawab mereka berdua serentak.


Bety terlihat mengawasi sekitarnya. Ke dua ujung matanya menatap tajam ke arah pepohon yang rindang.


Ia merasa ada sosok misterius yang mengawasinya dari jarak yang tidak begitu jauh. Ia dan ke dua temannya hanya sedang memungut dedahanan tua untuk api unggun.


Bety terdiam mengawasi dan tidak terpengaruh untuk masuk ke dalam dan mencari siapa sosok misterius itu.


Suci dengan sigap memungut dedahanan tua. Ia memungut banyak dan di kumpulkan. Pengalaman dua hari yang telah membuat jiwa berpetualangnya bangkit.


Sedangkan cinta Ia menjatuhkan dedahanan tua dengan caranya sendiri. Ia menempelkan telapak kanannya dan memberikan gelombang getaran pada batang pohon.


Ttttrrraaakkk." "Bbbbrrruuukkk."


Batang-batang yang tua jatuh dengan mudahnya.


Lima belas menit kemudian...


Suci dan cinta sudah mengumpulkan dan mengikat bebatangan tua dengan segera mereka seret dengan tali.


Mereka berdua berjalan kembali ke arah Bety.


Bety melihat banyak gundukan dan di rasa cukup untuk kebutuhan semalam.


"Kalian berdua berjalan lebih dulu,"seru bety ke dua ujung matanya masih terus mengawasi.


"Baik,"jawab mereka berbarengan.


Suci mengangkat dan menggemblok di punggung dedahanan tua dan mengikatnya melingkar sampai depan dadanya.


Hal yang samapun di lakukan cinta. Ia mengangkat dan menggemblok di punggungnya. Ia lingkarkan tali di dadanya dan mengikatnya dengan kuat.


Selesai!


"Sudah selesai mengikatnya?"tanya suci sembari menghampiri cinta.


Ia menggenggam telapak tangannya dan menempelkan di sela-sela jarinya. Mereka berdua jalan beriringan.


"Bety masih terus melihat ke dalam hutan,kenapa dia begitu cemas?"tanya suci kepalanya berputar ke arahnya.


"Insting pemburunya sangat kuat,akupun merasa sosok misterius terlihat yang membantu gerombolan serigala masih berada di hutan,mengawasi kita tadi,"terang cinta.


"Di setiap pertarungan bety begitu menikmati pancaran darah yang keluar dari lawannya,pancaran darah membuat dirinya terhormat,"lanjutnya lagi.


"Ayo,suci kita bergegas cepat,"tandasnya.


Mereka berdua mempercepat langkah kakinya menuju batu besar. Matahari sebentar lagi akan tenggelam.


Segerombolan serigala itu pasti akan mengendus dengan ujung hidungnya,memberitahukan sosok misterius itu.


Selang beberapa waktu...


Suci dan cinta tiba di batu besar. Gundukan dedahan tua yang mereka bawa di letakkan di bawah.


Suci dan cinta mengibas-ngibaskan pakaian yang mereka kenakan karena banyak debu-debu yang menempel.


"Kita ambil bebatuan kecil dan di letakkan melingkar,"ucap cinta.


"Lalu kita gundukkan beberapa ranting yang kecil,"ucapnya lagi.


"baik,aku ambil dulu bebatuan kecil,"seru suci sigap.


Suci mengamati sekitarnya,tidak jauh dari lokasinya berdiri Ia melihat banyak bebatuan. Ia cepat-cepat memungutnya dan meletakkannya melingkar.

__ADS_1


Lalu ia gundukkan dahan-dahan untuk di bakar.


Selesai!


Yanti masih terus mengawasu hutan dari kejauhan. Gelombang energy yang di pancarkan tidak kecil. tatapannya masih tertuju pada bety.


Bety membuat barier. Ke dua telunjuknya ia hadapkan di depan perutnya. Terdengar suara gelombang...


Bola energy kecil berwarna putih muncul di ke dua ujung telunjuknya.


Bety menggerak-gerakkan ke dua jarinya Bola energy kecil berubah menjadi benang energy.


Ujung benang energy berwarna putih berbelok dan melilit ke setiap batang pepohonan pinus di sekitarnya agar seperti jaring laba-laba.


Lilitan benang putih yang lebar dan panjang. Kekuatan ikatannya hanya sebentar.


Ia merapalkan mantera dalam bahasa peri. Peri-Peri hutan selalu mengucapkan rapalan mantera di saat mereka melintasi hutan.


Selang beberapa waktu, Bety terlihat keluar dari hutan. Ia terlihat berjalan cepat kembali.


Cinta meminta ijin untuk membakar dedahanan yang sudah di susunnya.


Ia membuka telapak kanannya,mulutnya berbicara dalam bahasa yang belum di mengerti suci.


Tiba-tiba api berwarna merah berkobar melahap Dedahanan.


Sesekali terdengar suara letupan dari dedahanan yang terbakar.


Freya Sang Dewi Penjaga menghampiri suci.


"Suci duduk dan istirahatlah sejenak,kamu pasti lelah,"tegur FREYA.


"Iya,aku istirahat dulu,"jawabnya Mereka berdua berjalan menuju batu besar lalu duduk di rerumputan.


"Terasa hangat,"ucap suci. Terlihat api menari-nari membakar dedahanan tua. Kemudian kepalanya mendongak ke atas.


Di atas,bintang-bintang berkelap-kelip terang. Ia merasa tidak percaya apa yang ia alami selama dua hari ini.


Petualangan yang belum berasa feel nya. Penulis kurang memberikan konflik pada alur cerita di Puzzle ini.


Mereka berdua tertawa.


FREYA memberikan kantung airnya pada suci. Ia meneguknya pelan-pelan.


Rasa dahaganya hilang seiring tegukkan air yang di telannya.


Bety datang mendekat ke arahnya. Terlihat Yanti masih terus menatap dingin ke arah hutan.


"Ya,aku sudah membuat barier pelindung di antara pepohonan pinus,mereka gerombolan serigala tidak mungkin melewati barier itu,"tandas bety yakin.


"Duduk dan istirahatlah,kamu pasti menggunakan banyak tenaga saat membuat barier tadi,"pungkas yanti peduli.


Bety duduk bersila,Ia melepaskan lelah.


yanti menghampirinya untuk memberikan kantung air.


"Terimakasih,"ucapnya sembari membuka tutupnya.


"Aku tidak menyangka orang itu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka serigala-serigala itu dengan cepat,"ungkap bety sembari meneguknya pelan-pelan.


"Kita akan mengetahui siapa sosok misterius itu,sepertinya sosok itu ada kaitannya dengan keluarga kita!"tandas yanti sembari matanya menatap ke arah bety.


Air terasa dingin membasahi kerongkongannya yang kering.


Bety membuka kain yang ia selempangkan tadi. Ia tengah membuka ikatan simpul pada tali.


"Aku mencabut umbi jalar yang merambat di sekitar pepohonan,"pungkas bety.


Umbi jalar yang baru di tariknya dari tanah ia serahkan kepada yanti.


Ia merasakan saripati dari umbi jalar di tangannya. Rasa pedas yang kuat terasa.


"Masukkan umbi jalar ini pada bara api,"lanjut yanti.


Bety beranjak melangkah menuju api unggun dan melempar beberapa umbi jalar besar ke dalam bara api dan mendorong-dorongnya dengan sebatang dahan.


"Yang kamu lempar tadi seperti umbi jalar?"seru cinta penasaran.


"Iya,umbi jalar ya---" bety tidak melanjutkan kalimatnya.


Cinta menutup bibirnya dengan telunjuknya "Rahasia."


Dahinya berkerut mengingat di sekitar sini banyak umbi jalar. Umbi jalar yang pedasnya kuat.


Cinta tidak mau memberitahukan Suci mengenai pedasnya.


Tergurat secuil senyuman di wajahnya.


"Di sekitar hutan banyak umbi jalar,"serunya sembari tangannya menyodok-nyodok umbi jalar yang terlihat matang.

__ADS_1


Beberapa umbi terlihat sudah matang dan Ia pisahkan keluar dari bara api.Abu berwarna keabuan mendebu di sekitar dedahanan yang hangus terbakar.


Ia masih menunggu tiga yang tersisa yang belum matang.


Selang beberapa waktu...


Bety menggeserkan tiga umbi jalar yang sudah matang itu dengan sebatang dahan di pergelangan kanannya dan di kumpulkan menjadi satu dengan umbi jalar yang sudah matang.


Umbi jalar yang sudah matang di letakkannya dengan menjajarkannya agar mudah di pilih.


Bety meminta yanti terlebih dahulu mengambil bagiannya. Ia mendapat satu ubi berukuran besar.


"Silahkan kalian ambil umbi yang menjadi bagian kalian,"seru yanti kembali duduk.


Terlihat suci dan FREYA tengah asik memilih dan kembali duduk.


Cinta berjalan mendekat ke arah Suci dan FREYA.


Bety melangkahkan kakinya ke arah yanti.


Terlihat suci meniup-niup Ubi jalar yang besar di tangannya. Ia mengupas membelahnya menjadi dua bagian besar. kepulan asap menguap ke atas.


"Waaahhh." aroma umbi yang legit.


Ia memakan dan mengunyahnya pelan-pelan.


Terasa legit di mulut.


Lidah suci terasa panas,menahan pedas di lidah. Ia menutup mulutnya dengan ke dua telapak tangannya.


"Lidah cinderella terbakar,"gurau Suci sembari memberikan kantung airnya.


"Tidak, terimakasih."


"Aku bawa thumbler sendiri."ujarnya.


Mereka berdua tertawa...


"Aku lupa menjelaskan,umbi jalar yang di tanam di wilayah ini rasanya pedas,"terang cinta.


"Bagaimana lidahmu?masih terasa pedas?"tanyanya lagi.


"Hhhhuuufff...Hhhhaaahhh."


Suci menarik udara untuk masuk ke dalam mulutnya.


Saking Pedasnya...


Bibir mungilnya terlihat memerah sensual. Semerah langit yang saat ini tengah menaungi.


"Nnggak nahan pedasnya,poll!"tukas suci pada cinta.


"Tapi,pedasnya itu Nggak bikin mules loh!"seru bety menimpali.


"Bangsa Vampire tahan juga dengan pedas,"ucap suci pada cinta.


Tergurat secuil senyuman di wajahnya...


"Aku boleh nanya Nggak?"ucapnya pada cinta sembari memeluk ke dua lututnya.


Cinta terdiam sambil mendengarkan...


"Waktu mendengar raungan,aku merasakan insting liar di ke dua bola mataku.


Kehausan kalian pada darah dan kebesaran garis keturunan melebihi rasa dahaga akan darah,"ucapku senggugukkan.


Kalimat dari pertanyaanmu seperti tulisan dalam buku Dale Carnegeot yang judulnya


"Bagaimana cara memusingkan orang lain,"sindir Cinta sembari memikirkan plesetan berikutnya.


"Malam sudah semakin larut,aku harus tidur,"ucapnya lirih sembari menghabiskan umbi yang nanggung.


Suci berdiri tegak dan berpamitan pada semuanya.


Ia menggeserkan duduknya ke samping dan berbaring. Setelah terbaring ia mencari kontur tanah yang datar agar tubuhnya terbaring lurus.


Ia hamparkan alas berbahan beludru berwarna biru. Suci membaringkan tubuhnya ke samping kanan dengan menempelkan kepalanya pada telapak kanannya.


Ke dua matanya belum terpejam. Selama dua hari ini Ia belum meminum obatnya. Mamah pasti memarahiku karena belum pulang.


"Eeehhh,nenek pasti memberitahukan keberadaanku,"pikirku mencoba menghibur diri.


Di sisi lain di dekat api unggun.


Yanti dan bety tengah asik melahap ubi jalar yang terasa pedas.


Yanti dan bety tengah mengunyah ubi yang besar dan mengepul dengan lahapnya.


Tiba-tiba...

__ADS_1


Yanti menghentikan kunyahannya. Ia merasakan sesuatu...


__ADS_2