
Matahari lelah, berniat pamit pada dunia. Penat, nyaris meledak. Manusia dengan ragam perilakunya, menyakiti satu sama lain, tanpa memiliki hati nurani.
Muak, Benar- benar busuk. Sangat tak tertahankan!
Gedung pencakar langit Moluska merayakan kegembiraan. Putri satu-satunya penguasa Matrix City, Penelope Chuzz, hari ini telah melepas masa lajangnya. Pria beruntung yang telah mendapatkan hatinya adalah putra kedua Kepala Polisi setempat, Ryan Larris.
Kisah cinta keduanya telah berlangsung selama tiga tahun, melewati banyak masa manis dan pahit.
Butuh pemikiran mendalam bagi Penelope sebelum menerima pinangan Ryan. Pria itu adalah Casanova yang terkenal memiliki banyak wanita di sampingnya. Berganti teman tidur setiap malam, tanpa banyak kesulitan di pihaknya.
" Aku berjanji akan berubah."
Sungguh, Penelope yang naif. Hanya dengan janji itu melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Cincin berlian besar tanpa keraguan tersemat di jari manisnya. Ryan berhasil menipu wanita bodoh itu tanpa banyak upaya.
***
Kecelakaan mobil pasangan Chuzz terjadi tiga hari setelah pernikahan putri mereka usai. Marie Chuzz tewas di tempat sementara sang suami, Patteo Chuzz, menderita luka parah.
Penelope dan Ryan sedang berbulan madu di kutub Utara saat berita itu sampai ke telinga mereka. Berita duka itu sempat membuat Penelope jatuh pingsan. Dalam kesedihan, keduanya terpaksa mengakhiri bulan madu mereka dan bergegas kembali.
Patteo Chuzz terbaring di ranjang Unit Perawatan Insentif, dengan banyak selang terhubung di tubuhnya. Tiga dokter mengelilinginya, sibuk berdiskusi mengenai keadaannya. Wajah mereka nampak tegang dan suram.
" Paman Lim, bagaimana keadaan ayahku?" Melihat salah satu dokter membuka pintu ruang perawatan, Penelope bergegas mendekat. Wajah Penelope sembab. Ia bahkan nyaris tak dapat membuka matanya karena sekarang kedua matanya bengkak. Air matanya tiada henti mengalir semenjak mendengar berita kecelakaan hingga tiba di rumah sakit.
" Kami sudah melakukan yang terbaik, Peny." Dr. Lim adalah sahabat baik Patteo dan juga dokter keluarga sahabatnya. Ia sudah menganggap Penelope seperti putrinya sendiri. " Luka- lukanya cukup parah, terutama di bagian kepala. Aku meminta kau bersiap untuk menerima yang terburuk dari kondisinya."
" Aku tidak bisa, Paman Lim,.." Lagi-lagi cairan bening mengalir deras di pipi Penelope. Dr.Lim merangkul pundaknya, memberikan dukungan.
" Paman tidak mengerti, apa yang begitu penting sehingga orangtuamu berkendara di pagi buta?" Kerutan dalam menghiasi dahi Dr.Lim saat menatap Penelope. Pertanyaan ini memenuhi benaknya lama. Seakan meminta Penelope untuk mengkonfirmasi kebinggungan besarnya. " Peny, apakah kau mendengar sesuatu yang terjadi di keluargamu baru- baru ini? Apakah kakek dan nenekmu sehat?"
Otak Penelope bergerak, menggali informasi yang mungkin terlewatkan olehnya. Ia mendesah dengan kecewa.
" Sepertinya semuanya baik- baik saja sebelum aku pergi berbulan madu." Jawab Penelope perlahan, " Nenek dan kakek dalam keadaan sehat. Ryan sudah memberi kabar kepada mereka tentang kecelakaan ini. Kemungkinan mereka masih dalam perjalanan. Jika mereka sudah tiba, aku akan mengabari Anda, Paman Lim."
Dr. Lim menganggukan kepala, " Baiklah."
__ADS_1
Sungguh aneh dan membinggungkan.
Ia tidak percaya ini hanya sebuah kecelakaan murni. Patteo dan dia besar di jalanan. Betapa ahlinya Patteo dalam berkendara. Ia ingat puluhan tahun yang lalu, Patteo berkendara bersamanya dengan kain hitam menutupi matanya. Lim sangat ketakutan waktu itu, tapi Patteo dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa ia dapat membawa siapa pun bersamanya dengan selamat meski matanya buta. Itu bukan hanya sekedar omong kosong. Patteo benar- benar membuktikan ucapannya. Mereka berkendara dengan selamat meski pria di belakang kemudi tertutupi kain hitam.
Patteo selalu memastikan keselamatan diri dan orang lain saat berkendara. Sebagai sahabat, Patteo sangat menjaganya.
Mungkinkah pria seperti itu bisa sangat cerobah saat membawa istri yang sangat dicintainya?
Tidak mungkin! Sama sekali tidak mungkin!
***
Dokter muda itu menyentak bilik toilet, mengatur napas sejenak sebelum bergerak. Jantungnya berdebar keras, seakan tak mau mereda meski ia berusaha menenangkannya.
Pekerjaan ini sangat penting. Sederhana dan tidak memakan banyak waktunya. Namun, sedikit saja ia melakukan kecerobohan, semua akan berantakan.
Dia hanya memiliki satu nyawa, dan itu akan menjadi taruhannya.
Hanya dalam waktu singkat dokter muda itu telah berada di depan kamar perawatan Patteo Chuzz. Lewat jendela di pintu ia melihat pria itu berbaring sendirian di ranjang. Tidak seorang pun berada bersamanya.
Bodoh. Kenapa ia harus repot memikirkan dua orang itu? Bukankah justru bagus mereka tidak ada di sana sekarang ini? Ia dapat melakukan pekerjaannya tanpa gangguan dan pergi secepat mungkin.
Senyum di balik masker berwarna hijau itu melebar. Tangannya yang terbungkus sarung tangan berwarna putih menyentuh pintu, siap mendorong.
" Paman dokter, dapatkah Anda membantu aku?" Suara itu selembut bisikan angin, berasal dari sisi kanan dokter muda itu. Ia tak percaya hantu, belum sekali pun bertemu hal- hal menyeramkan. Namun, bulu halus di tengkuknya langsung berdiri, seakan- akan suara itu berasal dari salah satu makhluk halus.
Apa- apaan ini!
Otak dokter muda itu terdistorsi dengan ketakutan tak beralasan.Tangan yang menempel di pintu seakan dilapisi es tebal, mulai gemetar.
" Paman,..."
" Kau,... sedang apa kau di sini?" Menekan habis ketakutannya, dokter muda itu melirik ke sumber suara yang berada di samping. Ia terkejut karena tak melihat siapa pun di sana. Sebuah tangan mungil menarik ujung jas putihnya, menarik kesadaran dokter muda dari jurang yang dalam. Matanya mengarah ke bawah, dan menemukan seraut wajah mungil seperti boneka di sana.
Bocah laki- laki itu hanya setinggi pahanya.
__ADS_1
" Paman Dokter, maukah Anda menolongku?" Bocah laki- laki itu kembali mengajukan permintaan. Matanya menatap sang dokter muda penuh pengharapan.
Jantungku hampir copot. Aku pikir sejenis hantu yang menyeramkan. Ternyata hanya seorang bocah,...
" Kenapa kau bisa ada di sini, bocah?Di mana orangtuamu?" Setelah berhasil menenangkan diri, dokter muda itu bersuara.
" Paman dokter, jika aku tahu di mana kedua orang tuaku, aku tidak mungkin minta bantuanmu. Anda harus membantuku mencari mereka."
Dokter muda itu berdecak, " Kamu, bocah, perhatikan kata- katamu. Begitukah caramu berbicara dengan orang yang lebih tua? Kau harus bersikap sopan, kau tau itu."
" Aku tidak sopan? Paman dokter, mungkinkah Anda salah menangkap kalimatku? Kemarahan Anda tidak beralasan sama sekali. Aku berkata sejujurnya dan membutuhkan bantuanmu. Di mana letak ketidaksopananku dalam hal ini?"
Puncak kepala bocah laki- laki itu hanya setinggi pahanya. Ia memperkirakan usianya baru 3-4 tahun, tidak lebih. Bagaimana bisa bocah itu berbicara begitu fasih dan lancar dengannya.
Bahkan, bocah itu berani berdebat dengannya!
Tangan yang menempel di daun pintu terlepas. Sebagai gantinya, dokter muda itu memijat pelipisnya sejenak.
Kehadiran bocah laki- laki itu kini menganggu rencananya. Ia harus menyingkirkannya segera.
" Baiklah, jangan berdebat." Dokter muda itu meraih pergelangan tangan bocah laki- laki yang menjepit ujung jasnya." Kau tahu, tidak boleh bersuara keras di sini. Pasien sedang beristirahat, kau akan menganggu mereka dengan suaramu. Ayo, Paman akan membantu untuk mencari kedua orangtuamu."
Bocah laki- laki itu menyeringai lebar, memperlihatkan barisan gigi kecil nan imut dan menggemaskan , " Paman dokter, anda baik sekali."
Ia hanya ingin menyingkirkan bocah laki- laki itu sesegera mungkin. Rencananya tertunda untuk sementara.
Kegagalan rencana dokter muda itu adalah tujuan dari bocah laki- laki di sisinya. Ekspresi polosnya menyimpan kepuasan.
Dokter muda itu salah satu pria dengan masa depan cerah. Ia pandai dan ahli di bidangnya. Hanya karena ketidaksabaran akan kesuksesan, ia terbujuk iblis. Menjadi bagian dari kerakusan.
Jangan salahkan dirinya karena berniat menginjaknya.
Berantas kutu busuk satu demi satu, hingga tak bersisa. Itu adalah misinya.
***
__ADS_1