
Waktu akan merubah kepribadian seseorang, siapa yang penuh keyakinan mengatakan itu? Kebenarannya adalah tidak bisa, sama sekali!
Siapa yang begitu bodoh akan mempercayai itu?
Jawabannya tentu saja, banyak!
Sambil menyisir rambutnya di depan cermin, Ryan bersiul- siul. Suasana hatinya terlihat riang.
" Apa yang membuatmu begitu bahagia?"
Melalui cermin, Ryan menemukan Penelope berdiri beberapa langkah di belakangnya berbalut jubah mandi, sedang berkonsentrasi menatap dirinya. Entah apa yang tengah wanita itu pikirkan di kepalanya. Hanya dengan melihat kedua alisnya yang terajut kaku, Ia dapat menebak jika itu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Ryan membatu sejenak. Ia memaki dirinya dalam hati. Seharusnya ia dapat menahan diri.
Bibir Ryan tertarik membentuk seulas senyuman, " Apa aku terlihat gembira?" Alih- alih menjawab, ia malah balik bertanya. Pria dengan segudang akal, mudah bagi Ryan untuk mendapatkan sebuah alasan.
" Kau bersiul." Penelope langsung menjawab.
" Sayang, jika aku mengatakan sesuatu, apakah kau janji tidak akan marah?" Ryan meletakkan sisir dan berbalik. " Dalam situasi sekarang ini, aku menyadari untuk bersikap dengan pantas. Keluarga kita sedang dalam situasi berkabung saat ini. Aku tidak seharusnya memiliki perasaan lain selain kedukaan. Tapi,..." Dalam lima langkah besar ia sudah berada di hadapan Penelope. Meraih kedua tangan wanita itu dan meremasnya," Ini di luar situasi yang sedang kita hadapi. Sayang, ini mengenai pekerjaan yang sedang aku kerjakan bersama Lukas, sahabatku."
Penelope akhirnya mengangguk, " Bicaralah."
" Aku berhasil mendapatkan proyek Michigan bersama Lukas." Ryan bersemangat ketika memberitahu mengenai proyek besar yang tengah dikerjakannya. Sebelumnya ia sama sekali tak pernah membahas bisnis dengan Penelope.
Pengecualian untuk sekali ini. Ia harus mencari alasan untuk kecerobohan kecil yang baru saja ia lakukan.
" Kau tahu, betapa besarnya proyek ini. Kami sudah bertarung keras dalam beberapa minggu. Pesaing kami, mereka pemain besar yang sudah memiliki nama. Siapa kami di mata mereka, hanya anak kemarin sore. Tapi pada akhirnya, kami memenangkan proyek itu. Rasanya, sungguh luar biasa!"
" Selamat untuk keberhasilanmu kalau begitu." Virus kegembiraan Ryan menulari Penelope dalam waktu singkat. Senyumnya melebar.
" Apakah kau bangga dengan keberhasilanku, Sayang?" Ryan mengigit bibir Penelope, ********** penuh emosi.
__ADS_1
" Tentu,...aku sangat,..bangga,.." Penelope terbata- bata karena bibirnya terkunci rapat oleh bibir Ryan. Pria itu sepertinya ingin,...
" Mana hadiahku kalau begitu."
" Hadiah,.."
" Layani aku." Tidak menunggu persetujuan Penelope, Ryan langsung melepas jubah mandi sang istri, " Puaskan aku seharian."
" Tapi,.."
Ryan tidak membiarkan Penelope menolak dirinya. Semenjak musibah kecelakaan Patteo dan Marie, mereka belum sekali pun berhubungan ****.
Ia tidak mungkin mencari pelampiasan di luar, meski pun ia ingin.
Tubuh telanjang Penelope begitu indah membuat 'Ryan kecil' langsung bersemangat. Dengan mudah Ryan membawa Penelope ke ranjang. Tak memberi kesempatan sedikit pun untuk melarikan diri.
Penelope menjerit. Ryan langsung menindih tubuhnya, dan mengambil hadiah tanpa persetujuannya.
***
Setelah puas menyiksa Penelope sepagian di ranjang, Ryan bergegas ke rumah sakit.
Sejujurnya, ia tidur dengan gelisah semalam. Pihak lain belum menghubunginya untuk melaporkan tugas yang ia perintahkan.
Apa yang terjadi? Kenapa orang itu belum memberinya kabar? Apakah orang itu gagal melaksanakan tugasnya sehingga ia takut untuk memberikan laporan?
Tapi, mustahil orang itu gagal. Lukaslah yang merekomendasikannya. Orang itu sangat berpengalaman di bidangnya.
Jika Lukas sangat mempercayai orang itu, bukankah itu berarti orang itu sangat mampu!
Lagi pula, ia sudah mengatur waktu pelaksanaan dengan sebaik mungkin. Menyingkirkan para penganggu yang akan menghalangi jalannya eksekusi.
__ADS_1
Ryan percaya hidupnya penuh dengan keberuntungan. Apa pun yang ia lakukan, selalu berjalan dengan baik dan lancar. Tak satupun ia menemui kegagalan dalam hidupnya. Sama sekali.
Sayangnya, dia bukan anak emas semesta. Keberuntungan bukanlah anugerah yang dipergunakan untuk hal- hal buruk. Semesta muak dan bosan dengannya.
Keberuntungan Ryan ditakdirkan akan berakhir sebentar lagi tanpa ia menyadarinya.
Sesuatu yang buruk pada akhirnya berujung pada kehancuran. Keyakinan besar yang begitu dibangga- banggakan Ryan ditakdirkan hancur.
Dua pria berperawakan besar berjaga di pintu ruang perawatan insentif Patteo. Seseorang menempatkan mereka untuk mengamankan ruangan.Tapi, siapa yang melakukannya?
Penelope? Cih, sama sekali tidak mungkin!
" Apa kalian tahu dengan siapa kalian bicara?" Nada suara Ryan naik, dengan berang menembak keduanya, " Berani sekali kalian melarangku masuk! Aku Ryan, suami Penelope, menantu ayah Patteo!"
Kedua pria itu saling lirik sesaat, lalu salah satu dari mereka angkat bicara," Maafkan kami, Tuan Ryan. Kami diperintahkan untuk menjaga Tuan Patteo. Selain Tuan dan Nyonya Tua dan Nyonya Penelope, kami tidak boleh mengizinkan siapa pun masuk."
Ryan tercenggang, " Kenapa bisa begitu? Aku adalah suami Penelope, kenapa aku dikecualikan? Siapa yang melakukan pengaturan ini, hah, SIAPA?!!!"
" Aku," Pintu kamar terbuka dari dalam. Seraut wajah jelita terlihat di sana.
Kerutan muncul di dahi Ryan. Ia menatap tak berkedip sosok langsing berbalut gaun biru muda di hadapannya.
Wajahnya terlihat tak asing. Tapi, siapa?
" Apakah kau sedang mengingat siapa aku, Ryan?" Wanita itu tak terganggu dengan kebisuan mendadak Ryan. Jelas pria itu sedang berpikir keras, berusaha mengenali dirinya. " Empat tahun, Ryan." Wanita itu kembali bersuara, membantu Ryan dengan memorinya, " Aku pikir itu bukan waktu yang lama untuk melupakan seseorang. Bukankah begitu?"
Mata Ryan terbelalak lebar. " Kau,..."
" Tepat sekali." Hanya senyum sinis yang mampu wanita itu perlihatkan." Seperti yang kau pikirkan. Itu,...aku."
***
__ADS_1