Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Rumah Viona


__ADS_3

Otot- otot di kaki Melannie bekerja keras, mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi dan stabil. Gadis itu bermandikan peluh di balik sweater dan napasnya berpacu seiring waktu.


Syukurlah, dia terbiasa bersepeda setiap hari. Fisiknya terjaga dengan baik dan juga ia tak mudah menjadi lelah.


Jalan menuju ke rumah Viona sangat panjang di setiap kelokan, kurang lebih 5km. Walau pun jauh, namun mudah perjalanannya.


Lokasinya tak begitu jauh dari pom bensin yang terletak di dekat sekolah. Melannie tahu karena sering berkendara melewatinya ketika datang bermain ke sana.


Jadi, ketika melewati area pom bensin yang dimaksud, ia dapat bernapas lega. Sebentar lagi ia akan sampai di rumah temannya itu.


Tok, tok, tok,...


Enam menit kemudian Melannie telah mendarat di depan pintu rumah Viona. Dia melepas helm, menurunkan tudung di kepala dan melepas masker yang menutupi wajahnya. Akhirnya ia dapat menghirup udara tanpa terhalang masker.


Sebelum ketukan keempat, pintu terbuka.


" Lanlan,..." Gadis bertubuh subur terbeliak kaget melihat teman kelasnya berdiri tepat di depan pintunya. Sudah jam tujuh lewat tiga puluh. Mestinya gadis itu berada di rumah, sedang kumpul bersama keluarganya.


Melannie mengibas tangannya di depan wajah Viona, membangunkan temannya itu dari keterkejutannya. " Malah benggong." Katanya menegur, " Kau seharusnya mempersilahkan aku masuk, Vio."


" Maafkan aku, Lanlan." Viona tersenyum malu, " Aku hanya kaget kau ada di sini. Apa yang begitu penting sehingga kau datang malam- malam ke sini?"


Melannie mengambil napas cepat, " Tentu saja untuk puppy. Vio, apakah Paman Gaby ada?"


" Ya,..." Viona mengangguk, sedikit ragu. Lalu ia menatap lurus melewati Melannie, mencari- cari seseorang di sana. Alisnya naik sedikit, " Lanlan, di mana kakakmu? Apakah dia tidak ikut bersamamu?"


" Aku sendirian, Vio."


Wajah Viona penuh dengan ketakjuban, "Wow! Kau luar biasa! Kau sangat berani, Lanlan!"


" Lingkungan kita terkenal aman. Kejahatan sama sekali tidak ada di sini. Apa yang harus ditakutkan." Tentu saja Melannie dengan santai mengatakan ini karena dia belum pernah menemukan aksi kejahatan di sekitarnya.

__ADS_1


Dan perkataannya sepenuhnya benar. Tingkat kriminalitas di kota itu minus. Hampir tidak ada aksi- aksi kejahatan di sana. Setiap hari petugas polisi hanya melakukan patroli rutin, tanpa menemukan sesuatu yang berarti.


" Masuklah!" Tangan Viona terulur, menarik lengan temannya. Kedua gadis itu masuk ke dalam bersama, membiarkan pintu tertutup di belakang mereka.


***


Bocah lelaki melambaikan tangannya dari halaman rumahnya ke arah Mario dan dua temannya, melepas mereka pergi. Sampai bayangan ketiganya menghilang di kegelapan, dia berbalik dan kembali ke dalam rumah.


Mario menduga Melannie pergi ke rumah temannya, Viona, sehubungan dengan puppy. Dia memang menebak dengan benar. Hanya saja dia tidak tahu di mana Viona tinggal.


Berpikir keras, akhirnya Mario bergegas ke rumah teman sekelasnya terlebih dahulu. Temannya itu memiliki anjing dan selalu membawanya ke klinik hewan tempat Mr. Gaby bekerja. Ya, ayah Viona adalah seorang dokter hewan. Besar kemungkinan temannya itu tahu di mana rumah Mr. Gaby.


Lagi- lagi intuisi Mario tepat. Temannya tahu rumah Mr. Gaby dan segera memberitahu alamatnya. Setelah memperoleh alamat, Mario mengajak Lukas dan Joe bergegas.


" Apa kau yakin dia ada di sana?" Sepanjang perjalanan Lukas tak banyak bertanya, dan hanya mengikuti Mario.


Ketika mereka datang ke sebuah rumah, Mario bertukar obrolan singkat dengan anak lelaki sebaya dan menanyakan sebuah alamat seseorang padanya.


Anak itu menggambarkan rute jalan menuju rumah yang dimaksud. Ciri- ciri rumah dan nomor rumahnya.


" 100% aku yakin dia di sana." Mario kembali menaiki sepedanya, menatap Lukas sekilas sebelum menatap jalanan kosong di depannya, " Ayo, kita harus ke sana secepatnya."


Lukas mengangguk, " Ayo."


***


Untung saja Melannie datang ke rumah Viona sekarang, karena jika tidak, seperti yang sangat dia takutkan, puppy terakhir Viona akan dijemput pemiliknya malam ini.


" Paman Gaby, aku akan belajar dengan baik untuk menjaga puppy. Anda harus menepati janji untuk membimbingku untuk itu."


Mr. Gaby adalah seorang pria paruh baya berwajah ramah. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya semenjak Melannie tiba di hadapannya.

__ADS_1


Sahabat putrinya itu memang tergila- gila dengan puppy mereka semenjak pertama kali melihatnya. Begitu mendengar bahwa mereka akan melepas tiga puppy, dengan antusias dia ingin merawat salah satu di antara mereka. Tentu saja dia tidak keberatan, asalkan ayah Melannie mengizinkan.


" Paman Gaby, kenapa ponsel Paman tidak bisa dihubungi?" Gadis itu langsung mengeluh begitu mereka duduk bersama. Wajah kecilnya basah oleh keringat dan napasnya masih mengepul. Viona duduk di sisi temannya itu dan dengan penuh perhatian menghapus keringat di wajahnya.


" Ayah menghubungi ponsel Paman Gaby sore tadi, tapi ponsel Anda tidak bisa dihubungi."


" Paman minta maaf, Lanlan. Ponsel Paman rusak tadi siang. Kenapa kamu tidak menelpon telpon rumah. Apakah kamu tidak memilikinya?"


Melannie melirik Viona yang sedang menghapus keringat di wajahnya dengan ekspresi serius, " Kenapa kau tidak memberitahuku telpon rumahmu, Vio?"


Gadis bertubuh subur itu mengangkat bahunya, " Kau tidak bertanya, Lanlan. Kau hanya meminta nomor ponsel. Kau ingat itu kan?"


Melannie terdiam sebentar, lalu menepuk jidatnya, " Oh, ini salahku."


" Kau hanya sedikit salah. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Oke!"


Kepala Melannie mengangguk- angguk, " Kau benar, Vio. Aku terlalu keras pada diriku sendiri. Itu tidaklah baik."


Gaby memperhatikan interaksi keduanya dengan ketertarikan yang besar. Viona, putrinya, sangatlah pemalu. Sulit mengajak dia berbicara. Tapi, dengan Melannie, Viona begitu lepas dari rasa malunya.


" Pada dasarnya ayah mengizinkan aku memelihara seekor puppy." Setelah bertukar kata singkat dengan Viona, Melannie kembali menatap Mr. Gaby yang duduk di seberang mereka. Wajahnya kembali serius, "Hanya saja ayah memiliki elergi hewan, sehingga ayah tak bisa ikut mengurus puppy secara langsung." Melannie jeda sejenak, sebelum meneruskan kembali," Paman Gaby, apakah benar- benar berbahaya memiliki puppy sementara ayah punya elergi? Aku tidak ingin ayah sakit, tapi aku juga ingin memelihara puppy. Paman Gaby, ayah ingin membahas masalah ini dengan Anda."


" Paman dan ayahmu perlu membicarakan ini panjang lebar." Mr. Gaby mengerti keresahan yang dirasakan gadis itu. Dia perlu memberi nasehat untuk menenangkan emosinya." Kau jangan kuatir, Lanlan. Banyak yang menderita penyakit yang sama dengan ayahmu tetapi masih bisa memelihara hewan di rumahnya. Tentunya banyak hal yang harus diperhatikan kalian. Paman akan memberitahu kalian cara mengatasinya."


Perkataan Mr. Gaby sungguh melegakan hati. Keresahan Melannie menguap cepat.


" Aku sangat bahagia mendengarnya, Paman Gaby." Kata Melannie, " Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Besok pagi ayah akan menelpon Paman untuk membicarakan ini."


" Baik, Paman akan tunggu."


Melannie merangkul Viona erat, " Vio, bolehkah aku melihat puppy sebelum aku pulang? Sebentar saja. Apakah mereka sudah tidur?"

__ADS_1


" Ada yang sudah tidur ada yang masih menyusu." Viona menjawab, " Ayo, kita lihat puppy mu."


***


__ADS_2