
" Mario! Hei, Mario,... tunggu!"
Mario merasa jiwanya tercabut dari pusaran kabut ketika seseorang meneriaki namanya. Kesadarannya kembali seiring dengan tarikan napas panjang yg menekan dadanya.
Memperhatikan sekeliling hanya membuat kedua alisnya menyatu. Sejauh mata memandang di depannya hanyalah jalanan kosong. Artinya hanya dirinya sendirian.
Lalu, suara siapakah itu?
" Mario!" Kembali suara itu terdengar dari arah belakang. Mario memperlambat Kayuhan sepedanya dan menoleh ke belakang.
Dua orang laki- laki sedang menuju ke arahnya dengan menggunakan sepeda. Sepatu kets Mario turun ke aspal. Roda sepeda mulai tersendat dan berhenti.
" Lukas? Apakah itu kau?"
Dua menit Lukas tiba di sampingnya diikuti Joe. Wajah kedua anak itu basah oleh keringat dan napas mereka ngos- ngosan.
Di sela- sela mengatur napasnya Lukas bertanya, " Mario, kau mau ke mana?"
Setelah memastikan bahwa anak di dekatnya itu benar- benar Lukas, Mario merasa lega. Dia pikir ada hantu usil menganggunya.
" Aku sedang mencari Melannie, Lukas." Dia pikir tidak masalah memberitahu anak itu mengenai raibnya Melannie dari rumah." Apa kau melihatnya?"
Ekspresi Lukas sempat kosong sesaat," Aku tidak melihatnya. Apa maksudmu hilang? Dia kabur atau seseorang menculiknya?"
" Jangan sembarangan bicara!" Memikirkan aksi penculikan terjadi pada Melannie membuat Mario gemetar ketakutan. Mudah- mudahan tidak terjadi apa- apa dengan gadis itu. Perkataan Lukas hanya membuatnya naik darah." Kami semua sangat mencemaskan gadis itu. Kau malah bicara omong kosong!"
__ADS_1
Lukas tercekat melihat kemarahan Mario.
" Aku minta maaf! Aku tak sadar bicara sembarangan. Mario, jangan masukan kata- kataku ke dalam hati. Oke?!"
" Baiklah," Mario juga memiliki ketakutan sendiri jika memasukan hal itu ke dalam hati, " Lain kali, hati- hati bicara."
Lukas menganggukkan kepalanya, " Kau akan mencari Melannie ke mana? Biarkan kami menemanimu mencarinya, oke?"
Pandangan mata Mario menatap sosok asing di belakang Lukas. " Dia,..."
" Joe. Dia temanku." Dengan lugas Lukas menjawab.
Tatapan mata Mario dan Joe beradu. Tak satu pun dari keduanya bersuara.
Atmosfir di antara keduanya sedikit konstan, tiada kehangatan atau pun kebencian. Pada dasarnya Joe acuh pada orang lain selain Lukas. Dia tidak ingin dekat bahkan akrab dengan orang lain selain Lukas. Jadi, Joe hanya menggunakan matanya, beradu pandang dengan Mario tanpa berkata- kata.
Dua kepala dengan keenggan yang kurang lebih sama berdiri dalam diam untuk sekian menit.
" Sebaiknya kau kembali." Mario memutus tatapan matanya dari Joe, beralih ke Lukas yang ada di depannya. " Aku tidak ingin membuat masalah dengan orangtuamu. Mereka pasti cemas jika kalian belum kembali,.."
Lukas langsung memotong, " Kau tak perlu mencemaskan mereka." Katanya, " Saat ini ayah dan ibuku sedang berada di luar negeri. Ayo, kita harus segera mencari Melannie."
" Baiklah kalau begitu." Ketersediaan Lukas untuk ikut membantunya menghilangkan ketakutannya sedikit. Paling tidak dia tidak sendirian saat mencari gadis itu.
Dia tidak takut, hanya saja mengingat harus berkeliling di daerah terpencil tanpa seorang pun bersamanya cukup menegangkan. Ditambah lagi ini sudah malam.
__ADS_1
" Apakah kau tahu ke mana kira- kira Melannie pergi dengan sepedanya?"
Mario merenung sejenak. Ia mengingat- ingat apa keinginan terbesar Melannie yang belum dia dapatkan hingga sekarang.
Gadis itu berkemauan keras. Jika dia menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkannya. Entah itu lewat usahanya sendiri atau meminta bantuan dari pihak lain.
Banyak contohnya. Terakhir kali ketika gadis itu ingin membuat prakarya untuk hadiah kakek mereka, dia berusaha keras mengumpulkan kulit kerang di pantai sebagai bahan utamanya. Selama tiga hari gadis itu dengan tekun ke pantai, menyisir kulit kerang yang tersebar di sana.
Bukan hanya dia menyusahkan Mario untuk membantunya, tapi juga mengajak Lukas untuk membantunya mengumpulkan kulit kerang untuknya.
Anehnya, Lukas membantunya dengan senang hati tanpa banyak bertanya. Sungguh, Mario sebagai kakaknya sampai malu dibuatnya.
Bagaimana Melannie bermuka tebal dan menjadikan orang lain budaknya?
Kerja keras mengumpulkan kulit kerang tidak sia- sia. Melannie mengumpulkan banyak darinya. Dan akhirnya ia berhasil membuat prakarya untuk ulangtahun sang kakek.
Semua berakhir sukses.
Mario berpikir keras. Seingatnya, Melannie belum meributkan apa pun tiga hari belakangan ini. Dia belum datang kepadanya untuk sesuatu hal penting.
Tiba- tiba bolham tak kasat mata di atas kepalanya menyala terang. Mario tersentak. Sesuatu melintas dalam benaknya, kilas pembicaraan singkat antara dirinya dan Melannie pagi tadi.
" Ah! Sepertinya aku tahu sesuatu." Dengan bersemangat, Mario menatap Lukas. Senyum lebar terlukis di wajahnya. " Mudah- mudahan ini tidak salah. Gadis nakal itu mungkin ada di sana saat ini."
Lukas melirik Joe sekilas, memberi tanda anak itu untuk mengikuti Mario. Mereka mulai mengayuh sepeda masing- masing, meluncur dengan Mario berada dua Kayuhan di depan.
__ADS_1
***