Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Janji


__ADS_3

Malam hari,...


Pintu kaca minimarket tersentak dari dalam memperlihatkan pergelangan tangan kecil yang sedang mendorong. Seorang bocah berjaket hitam tebal dengan tudung kepala dengan ringan melangkah keluar. Dia tidak sendirian. Sebelum pintu menutup di belakangnya, seorang bocah lain juga berjaket hitam tebal bergegas menyusul.


Yup. Mereka adalah Lukas dan Joe. Jenis pemandangan langka melihat keduanya keluyuran di luar rumah bersama- sama.


Untuk pertama kalinya Lukas mengajak Joe keluar rumah. Keputusan ini atas inisiatifnya. Ia sudah memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan Joe, karena dia menganggap bocah itu layak menjadi temannya.


Pemikiran ini tentu saja tanpa sepengetahuan Joe. Dia tidak berniat memberitahunya untuk saat ini. Walau bagaimana pun dia masih harus menguji kesetiaannya dan ini bukanlah hal yang mudah.


Joe tidak tahu apa yang dipikirkan anak yang menjadi Tuan Mudanya. Mereka tidak akrab sebelumnya bahkan tidak saling mengenal. Hanya saja, beberapa hari bersamanya di rumah, Joe mengetahui sedikit tentang dirinya.


Mereka memiliki beberapa sifat dan kebiasaan yang sama.


Lukas tidak menyukai makan makanan ringan begitu juga dengan Joe. Dia hanya ingin mengajak Joe mencoba sepeda baru yang dikirim ibunya tadi pagi. Tampaknya Joe juga memiliki niat yang sama, namun ia tidak berani mengatakannya. Tak menyangka Lukas menyinggungnya terlebih dahulu.


Jadi, dua anak laki- laki dengan dua sepeda berkendara malam- malam menuju minimarket yang tak jauh dari kediaman mereka.


Hanya membeli beberapa makanan ringan tak membutuhkan waktu lama. Kurang dari lima belas menit mereka telah menyelesaikan pembayaran.


Hanya sedikit orang yang berada di dalam minimarket. Dua buah mobil dan kebanyakan sepeda terlihat di area parkir.


Lukas dan Joe masih dalam proses beradaptasi di lingkungan asing di kota itu.


Mereka terdiam sepanjang jalan. Masing- masing tengelam dalam pikirannya sendiri- sendiri. Hanya suara sepatu mereka yang terdengar ringan, seperti musik di kesunyian.


Sedikit kejadian lucu tadi pagi saat mereka menerima paket sepeda dari ibu.


" Bibi Lou juga membelikan ku sepeda?!"


Suara Joe pecah mengejutkan Lukas. Dia sedang membuka plastik yang membungkus sepeda baru miliknya sampai berhenti, menoleh dengan dahi berkerut ke arah Joe.


" Kenapa kau berteriak keras? Apakah tidak ada yang memberimu sesuatu sebelumnya sehingga kau harus bereaksi berlebihan seperti itu?" Lukas mengelengkan kepalanya kembali membuka bungkusan plastik pada sepedanya.


" Maafkan aku, Tuan Muda." Tergagap, Joe meminta maaf. Ia mendekati sepeda barunya. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh benda itu.

__ADS_1


Lukas melihatnya diam- diam. " Tentu saja ibu akan membelikanmu sepeda." Suara Lukas pelan, senang karena ibunya akhirnya membeli sepeda baru dua. Dia sempat berdebat dengan ibu saat meminta sepeda untuk Joe. Tapi dia menjelaskan alasannya. Ibu mendengarnya dan mengabulkan keinginannya. " Apa kau pikir aku akan bermain sendiri? Bukankah kau di sini untuk menemaniku?"


Kepala Joe terangkat, " Harap Tuan Muda tak salah paham." Katanya menjelaskan, " Aku hanya tidak percaya saja. Kalian sangat baik padaku. Aku hanya terlalu gembira."


" Jangan terlalu banyak berpikir." Terdengar helaan napas dalam, " Sekarang kau temanku, Joe."


Setiap anak menginginkan bersama dengan orangtua mereka. Berada jauh saja sudah sulit diterima, apalagi kematian. Bukan hanya tak dapat bersama mereka, memeluk bahkan mendapat ciuman pun tidak akan pernah ada lagi.


Lukas sudah mengalami hal yang pertama, dan dia tahu kesulitan saat menerimanya. Tapi Joe, dia bahkan mengalami kematian orangtuanya.


Itu buruk dan sungguh menyedihkan. Ia bersimpati dan berduka untuk Joe.


Dia tidak tahu seperti apa Joe sebelum kematian orangtuanya. Apakah dia anak yang ceria, nakal, dan selalu banyak tertawa?


Hanya saja, semenjak ia melihatnya di rumah untuk pertama kali, Joe tidak banyak bicara. Kepalanya selalu menunduk. Saat Lukas mengajaknya bicara, ia melihat sepasang mata suram penuh penderitaan di sana.


Itu pasti berhubungan erat dengan kematian orangtuanya dan kejadian buruk yang ia alami setelahnya.


Dibandingkan Joe, kehidupannya sedikit lebih baik. Paling tidak kedua orangtuanya belum tiada. Mereka hanya tak bersama saja.


Selain ibunya, Lukas tertutup untuk orang lain. Ia merasakan semua emosi ibunya. Kesedihan, kekecewaan, putus asa hingga kemarahan.


Untuk pertama kalinya Lukas merasakan kesedihan orang lain selain ibunya. Dia ingin membantu Joe melupakan kedukaannya sedikit demi sedikit. Dia telah menjadikan Joe temannya. Sudah sewajarnya untuk membantu temanmu, bukan?


Kota kecil ini terlihat sepi. Hanya ada suara jangkrik bernyanyi bersahutan dan sesekali suara anjing dan hewan malam lainnya.


Keadaan yang sangat kontras dengan kota besar tempat tinggalnya sebelumnya. Di Jam- jam seperti sekarang ini kendaraan masih banyak berseliweran di jalan. Bukan hanya suara bising kendaraan, tapi juga suara musik sayup- sayup terdengar dari klub malam.


Perbedaannya seperti siang dan malam.


" Joe, apakah kau betah di sini?" Dengan mata menatap lurus ke arah depan ke jalanan sepi, Lukas bersuara.


Joe mendengarnya, tapi dia tidak segera menjawabnya.


Lalu, " Saya mulai betah di sini, Tuan Muda."

__ADS_1


Lukas mengangguk, Diam sejenak sebelum melanjut, " Aku sudah mendengar tentangmu dari ibu. Aku ikut berduka dengan kematian kedua orangtuamu, Joe."


Terdengar helaan napas berat dari arah belakang, " Ya. Terima kasih, Tuan Muda."


" Apakah sanak saudaramu benar- benar jahat, Joe? Semuanya?"


" Semuanya jahat, kecuali kakek." Joe kembali diam, seakan mengingat perbuatan mereka membuat lukanya kembali berdarah. " Hanya saja kakek sakit, sehingga dia tak bisa membantuku."


Setelah orangtuanya tewas, saudara- saudara orangtuanya bukannya merawat Joe, mereka malah berebutan untuk merampok harta kekayaan orangtua Joe. Mereka berkolusi dengan pengacara untuk mengambil alih semua aset- aset orangtuanya.


Mereka beralasan karena Joe masih di bawah umur, masih kecil, jadi mereka membantunya mengurus perusahaan ayah Joe. Mereka menjadi wali Joe hingga dia cukup umur untuk menyerahkan semuanya kepadanya kembali.


Tapi semua itu hanya akal- akalan mereka saja. Setelah mendapatkan perusahaan dan aset- aset orangtua Joe, mereka mengusirnya keluar dari rumahnya. Mereka bahkan mengancam akan membunuhnya jika Joe kembali ke rumah.


" Tumbuhlah kuat bersamaku, Joe. Kita akan balas mereka bersama- sama nanti."


Joe hampir tak dapat mempercayai pendengarannya. Apakah kata- kata itu keluar dari bocah dingin Itu? Bocah yang tidak pernah berbicara dengannya sebelum ini sekarang mengucapkan sebuah janji kepadanya.


Kabut mulai menghalangi kedua matanya. Itu adalah janji pertama yang diucapkan orang lain kepadanya.


" Apakah kau tidak percaya kepadaku, Joe?"


" Saya percaya kepadamu, Tuan Muda." Tanpa ragu Joe memberikan jawabannya. Mereka baru saja saling mengenal, belum dekat untuk bisa memiliki kepercayaan satu sama lain.


Orang seperti apakah Lukas nantinya, Joe juga belum tahu. Sekarang masih sulit untuk dekat dan mengerti dirinya. Mereka adalah dua bocah asing yang ditempatkan bersama.


Ayahnya pernah berkata jika ketulusan datang dari hati akan dapat dirasakan oleh hati juga.


Janji juga sama. Hatimu akan tahu apakah seseorang berjanji dengan sungguh- sungguh atau hanya meludah saja.


" Tuan Muda, ...mari menjadi kuat bersama- sama."


" Hm." Sudut- sudut mulut Lukas terangkat sedikit. Joe yang berada di belakangnya tentu saja tidak dapat melihat itu. Dia hanya melihat Lukas bergerak menaiki sepedanya, dan mulai mengayuh. Dengan cepat Joe mengikuti.


Mereka belum meninggalkan area minimarket terlalu jauh, ketika sosok bersepeda melintasi jalanan di depan mereka. Kondisi jalan redup, karena lampu yang menerangi berjarak cukup jauh. Namun mata tajam Lukas dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang bergegas di depan itu.

__ADS_1


" Mario,..."


***


__ADS_2