Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Menempatkanmu Di Hati Semenjak Awal


__ADS_3

Teriakan itu laksana petir melecut langit tepat di atas kepala. Suaranya mengelegar teramat dasyat.


Kesehatan kelima bocah laki-laki itu dalam keadaan baik. Jantung mereka normal dan sangat baik- baik saja. Namun guntur dari petir itu seakan mencambuk mereka tepat di jantung, merobeknya sangat keras!


Mereka terperanjat kaget. Jantung serasa mau melompat dari tempatnya. Mendadak tubuh para bocah menjadi kaku, tak sanggup bergerak,...


Bersama, mata kelima bocah laki- laki itu bergerak ke sumber suara. Lalu di detik berikutnya, mata mereka membola secara kompak.


" Mel,... Mel,... Melannie!!!"


Ada jeda keheningan setelah nama itu tersebutkan. Ketenangan pagi berubah menjadi mencekam layaknya di pemakaman.


Tiba- tiba angin kencang bertiup, datang dari arah depan dari kelima bocah lelaki yang berdiri kaku seperti patung. Angin pantai di pagi hari teramat dingin, membuat tubuh mereka gemetaran. Namun yang datang ke arah mereka bukanlah angin dari arah pantai, melainkan bayangan dari sosok tubuh kecil.


Ryan mematung sama seperti lainnya. Sedikit terlambat saat sadar bahwa bayangan yang membawa angin kencang itu menuju tepat ke dirinya.


Tangannya menyilang di depan dada, posisi melindungi tubuh standar. Ia sedang menarik napas ketika perutnya merasakan rasa sakit karena sebuah tendangan.


" Ah,....!" Pekik Ryan, membungkuk kesakitan dan memegangi perutnya. Ia limbung ke tanah detik berikutnya.


" Bos!" Keempat bocah lelaki terlihat panik melihat Ryan meringkuk di tanah dengan kesakitan. Dua dari mereka segera menghampiri Ryan untuk membantu sementara dua lainnya masih berakar di tempatnya tak bergerak.


Sebelum kedua bocah lelaki yang berniat membantu Ryan melaksanakan niatan mereka, Sebuah tendangan yang sama menghantam punggung dan pantat mereka satu demi satu.


Hal yang sama berlaku pada dua bocah yang masih mematung di tempat karena linglung. Tubuh bagian depan mereka menjadi sasaran berikutnya sebuah tendangan.


" Aduuuuhhhh,....!"


" Ampuuuuunnnn,...!"


" Aakkkhhhhh,....!"


" Ahhh,...!"


Keempat bocah lelaki itu melolong dalam waktu yang hampir bersamaan. Mengikuti bos mereka, Ryan, tergeletak di tanah dengan kesakitan di tubuh mereka.


Perubahan pemandangan terjadi dengan cepat. Kurang dari sepuluh menit yang lalu kelima bocah lelaki itu berteriak penuh semangat untuk melakukan pengeroyokan. Tapi sekarang yang terjadi, mereka malah meringkuk di tanah dengan desis kesakitan.


Jiwa- jiwa kesombongan seakan menghilang di sana berganti dengan ratap kesedihan.


" Bagaimana rasanya?" Tidak jauh dari Ryan dan kawan- kawannya, Melannie berdiri dengan satu tangan di pinggang dan tangan lainnya mengepal kuat. Matanya yang tajam seperti kucing menatap lurus ke arah mereka berlima, " Jika belum cukup, aku bisa menambahkan tinjuku dengan senang hati."


" Tidak!" Tolak Sean cepat. Ia memegangi punggungnya yang sakit terkena tendangan gadis itu, " Jangan lakukan lagi, Mel. Sakit!"

__ADS_1


" Aku mungkin harus mendapat perawatan di rumah sakit." Zen terlihat meringgis menyedihkan, memegangi tulang ekornya yang nyut-nyutan, " Pantatku,..."


Melannie mencibir, " Sebaiknya kalian mengingat rasa sakit itu baik- baik. Itu akan membuat kalian berpikir dua kali sebelum memukuli orang lain!"


Tak jauh dari sana, Mario yang mendengar percakapan ringan mereka menghela napas dalam- dalam. Ia menyentuh keningnya yang mendadak sakit.


Bukankah ia memiliki adik yang hebat? Melannie bukan hanya mencintai olahraga bersepeda, tapi dia juga mencintai perkelahian.


" Mel, sudah cukup!" Akhirnya Mario bergerak meninggalkan sepedanya, bergegas menuju Melannie.


Dia sempat takut sewaktu gadis itu melompat turun dari sepedanya dan berlari ke arah para bocah lelaki. Seperti pahlawan yang muncul di tengah- tengah pertempuran untuk menolong yang lemah.


Bersama ayahnya, Melannie berlatih beladiri di rumah. Selain latihan kuda- kuda, ia belum pernah melihat gadis itu sparing secara langsung. Ini adalah yang pertama kalinya dan ia sangat terkejut.


Gerakan kaki Melannie begitu lincah, kuat dan semua tepat mengenai sasaran.


Luar biasa!


Mario mencengkram lengan gadis itu setelah tiba di dekatnya dan menarik kuat- kuat untuk mundur.


" Aku mengizinkanmu menghentikan mereka dari perkelahian yang tidak adil, bukannya memulai perkelahianmu sendiri. Sekarang kau menasehati mereka. Apakah kau tahu tindakanmu ini hanya memprovokasi mereka?!"


" Apa kau melihat para pengecut ini, Kak? Mereka itu selalu membuat onar di sekolah. Suka sekali memukuli anak- anak lain yang lebih lemah dari mereka. Sebenarnya mereka bukan apa- apa jika sendiri. Dasar pengecut! Beraninya keroyokan!"


" Ya, aku mengenal mereka. Mereka semua satu sekolah denganku, Kak." Lalu Melannie melempar tatapan mengancam kepada kelima bocah laki- laki itu, terutama Ryan yang masih terduduk sembari memegangi perutnya.


" Pergi kalian dari sini. Jika aku melihat kalian membuat kekacauan lagi lain kali, aku akan mengadukannya ke sekolah!"


Saling membantu, kelimanya bangkit dari tanah dengan susah payah. Ryan tidak bersuara, hanya mengirimkan pandangan penuh kebencian kepada Melannie.


Gadis brengsek itu! Lihat saja nanti!


Dengan kebencian yang menghitamkan hati, Ryan terseok- seok pergi bersama keempat temannya. Seiring kaki melangkah, niat untuk membalas dendam kian membesar.


Kepala Ryan menoleh ke belakang setelah selusin langkah. Sorot matanya tertuju pada satu tubuh, merekamnya kuat- kuat dalam ingatannya.


Gadis itu, Melannie, tunggu saja pembalasanku,...


***


" Mau sampai kapan kita di sini? Mereka sudah pergi." Setelah para perusuh itu tidak lagi terlihat, Mario menepuk bahu adiknya pelan lalu meraih salah satu pergelangan tangannya, " Kau lihat, karena aksi heroikmu kita telah menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit. Mel, apa kau melupakan ucapanmu sendiri? Waktu sangat berharga, Mario."


Melannie tahu Mario sedang menyindirnya. Dia membiarkan Mario menyeretnya pergi untuk mengambil sepeda mereka.

__ADS_1


" Berapa usiamu, Kak?" Kata Melannie sambil menggelengkan kepala, " Apakah waktu begitu penting dibandingkan dengan nyawa seseorang? Pikiranmu harus lebih terbuka dan jauh lebih luas. Seandainya aku yang dikeroyok oleh para berandal itu, apakah kau akan diam saja?"


" Tentu saja tidak." Sahut Mario. Dia melepas tangan Melannie setelah tiba di dekat sepeda mereka. Matanya melirik sosok bocah berkaca mata yang berdiri diam tak jauh dari mereka. " Apakah kau baik- baik saja?" Dia melontarkan pertanyaan itu tiba- tiba.


" Ah," Melannie hampir melupakan anak laki- laki yang telah diselamatkannya. " Apakah kau terluka?" Tanpa sadar dia menanyakan pertanyaan yang sama.


Bocah berkaca mata itu memandangi Mario dan Melannie bergantian. Ia tersenyum gugup, " Aku baik- baik saja, " Katanya pelan, " Terima kasih atas bantuan kalian."


" Jangan sungkan." Setelah sedikit membungkuk untuk mengambil sepeda Melannie dan menyerahkannya kepada pemiliknya Mario kembali bersuara. " Lain kali hati- hati. Meski pun mereka telah dipukuli oleh adikku karena membelamu, kau tetaplah sasaran mereka. Mereka akan mencarimu untuk membuat perhitungan baru."


Baik Melannie maupun bocah berkaca mata itu terkejut,


" Benarkah?" Tanya Melannie, " Bagaimana kau tahu, Kak?"


" Ya, bagaimana kau bisa tahu mereka akan mencarimu di lain waktu?" Bocah berkaca mata itu juga melontarkan tanya.


" Jawabannya mudah. Mereka adalah gang pembuat onar yang selalu mendapatkan apa yang mereka mau, berbuat sesukanya, dan memiliki harga diri yang tinggi. Kali ini mereka telah dipermalukan, bahkan dikalahkan oleh seorang gadis. Tentu saja harga diri mereka akan terluka."


Kepala bocah berkaca mata itu menunduk.


" Aku minta maaf. Karena aku kalian akan mendapatkan masalah."


" Eh," Melannie melihat rasa bersalah bocah berkaca mata itu. Dia melirik kakaknya sejenak, " Kau jangan merasa bersalah seperti itu. Aku mengenal Ryan dan teman- temannya. Mereka akan berpikir seribu kali untuk membalas dendam padaku. Aku malah mengkuatirkan dirimu. Kau harus hati- hati. Aku mungkin tidak ada di dekatmu untuk membantu."


" Jika kau tidak memiliki kemampuan, aku sarankan kau kabur untuk menyelamatkan diri. Nyawamu lebih penting dari apapun."


Melannie mengangguk, " Kakakku benar. Apakah kau bisa berlari kencang? Jika tidak maka kau payah!"


Bocah laki- laki itu sedikit terhibur dengan saran Melannie. Dia tahu gadis itu tidak bermaksud melecehkannya.


" Boleh aku tahu siapa nama kalian? Maukah kalian menjadi temanku?"


" Aku Mario."


" Melannie."


Senyum bocah berkaca mata itu melebar. Dia senang karena mendapatkan dua teman baru. Kedua kakak beradik itu sangat baik dan juga ramah. Dia sungguh beruntung bisa bertemu dengan mereka hari ini.


Dan gadis itu, dia sangat menyukainya.


" Lukas." Kata bocah berkaca mata itu memperkenalkan dirinya, " Namaku Lukas."


***

__ADS_1


__ADS_2