Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Merajuk demi Puppy


__ADS_3

Melannie sedih dan juga kecewa.


Menurutnya keputusan ayah sangatlah tidak adil. Ayah tidak memberinya kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.


Jika dia tidak belajar bagaimana dia bisa.


Ayah tidak percaya kepadanya. Itu membuat hatinya kesal. Dia kecewa dengan sikap ayahnya.


Ketiga anggota keluarga melihat gadis itu tertunduk lesu di sofa setelah Melvin menolak permintaannya. Mereka saling bertukar pandang. Ibu mengirim tatapan penuh ancaman ke arah ayah. Dia harus bertanggungjawab atas kesedihan dan kekecewaan putrinya.


Melvin tak berdaya menghadapi tatapan penuh permusuhan dari istri dan puteranya. Fisik dan mentalnya sedikit lelah dengan urusan di kantor, dan berharap dapat beristirahat bersama istri dan anak- anaknya di rumah.


Tapi sekarang, karena keputusannya telah membuat permata keluarga mereka menjadi sedih, dia harus membujuknya.


Memang, tugas ayah sangatlah berat.


" Apakah Lanlan marah kepada ayah?" Melvin duduk di samping Melannie di sofa di depan TV. Dia melirik sekilas Mario yang duduk di karpet di depannya yang asyik memainkan hp.


Gadis itu menunduk dan bungkam. Dia sudah tahu jawabannya dengan reaksi itu.


" Tunggu hingga hasil ujianmu keluar tahun ini." Akhirnya Melvin merubah keputusannya tentang puppy. Dia akan mencari tahu bagaimana mereka memelihara hewan dengan benar tanpa menyebabkan gangguan pada penyakitnya.


Selain itu menghadapi wajah murung Melannie dia merasa dunianya menjadi hampa. Gadis itu adalah permata hatinya. Dia akan melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia.


"Jika hasil ujian Lanlan bagus, ayah akan mengizinkan untuk memelihara puppy."


Matahari yang tertutup awan tebal segera bersinar lagi. Melannie mengangkat kepalanya, menatap Melvin dengan binar kebahagian di matanya, " Sungguh, ayah?!"


Melvin mengangguk, " Iya, benar."


" Tapi," Wajah Melannie kembali lesu, " Akhir tahun masih lama. Sekarang baru bulan Maret. Sembilan bulan lagi! Ayah, itu terlalu lama!"


" Tidak lama." Kata Melvin, " Belajar dan bermain seperti hari- hari biasa. Waktu akan berlalu dengan cepat tanpa kau sadari nanti."

__ADS_1


Melannie menatap ayahnya dengan tidak percaya.


Sembilan bulan itu sebentar? Apa ayahnya sedang bercanda?!


Siapa yang tahu apa yang terjadi dengan Puppy selama sembilan bulan nanti?


" Tapi, Ayah, sembilan bulan itu lama sekali."


" Ayah memiliki pertimbangan sendiri saat mengatakan ini, Lanlan." Kata ayah dengan lembut." Jika Lanlan kuatir dengan puppy nya, nanti ayah akan menelpon Mr. Gaby dan memintanya untuk merawat puppy hingga kita mengambilnya nanti. Bagaimana dengan itu?"


Kesedihan gadis itu menyusut sedikit. " Kalau begitu ayah harus berbicara dengan paman Gaby secepatnya. Banyak yang ingin mengambil puppy mereka, ayah. Aku takut mereka akan mengambil milikku juga."


" Baiklah. Setelah kita makan, ayah akan menelpon Mr. Gaby,..."


Melannie memotong, " Telepon paman Gaby sekarang saja, Ayah. Please!"


" Setelah kita makan malam,..."


" Ya, ampun, anak ini." Melvin kewalahan menghadapi desakan Melannie." Baiklah, baiklah, ayah akan menelpon Mr. Gaby sekarang. Sayang, ponselku,..."


Sebuah tangan terulur di depan wajah Melvin, " Ini ponselnya, ayah." Ternyata Mario sudah terlebih dahulu bergerak untuk mengambilkan ponsel ayahnya. Melvin menatap Mario dalam diam.


Anak- anak ini suka sekali mendesaknya.


Di bawah tatapan lengket kedua anaknya, Melvin menekan nomor Mr. Gaby. Setelah itu dia menempelkannya di telinga dan menunggu,...


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif,...bla, bla, bla...."


***


Sosok kecil itu mengendap- endap menjauh dari gerbang sebuah rumah besar dengan menuntun sebuah sepeda. Berhenti sejenak setelah lima langkah, memutar kepalanya ke belakang untuk menatap bangunan rumahnya, lalu dengan gesit melompat menaiki sepedanya dan meluncur pergi.


Aksinya itu berjalan lancar tanpa ada yang melihat.

__ADS_1


Seisi rumah tidak mengetahui bahwa salah satu anggota keluarganya menghilang. Mereka asyik dengan kesibukannya sendiri- sendiri.


Mereka baru menyadari aksi angkat kaki diam- diam itu beberapa jam kemudian. Lebih tepatnya ketika waktu makan malam telah tiba, sosok kecil itu tidak kelihatan batang hidungnya.


Kurang dari sepuluh menit pencarian, seisi rumah dilanda panik,..


Sementara itu pelaku utama sudah berada ratusan kilometer jauhnya dari rumah. Dia memiliki misi penting yang harus ia selesaikan sebelum malam ini berakhir.


Hatinya fokus hanya pada misinya, sama sekali tidak memikirkan konsekuensi dari tindakannya.


Tentu saja sebelum pergi dia sedikit berdebat dengan dirinya sendiri. Apakah harus minta izin orangtuanya atau tidak.


Sebelum pilihan pertama dia lakukan, ayah sudah mengatakan dengan tegas bahwa masalah puppy akan berlanjut besok pagi. Suaranya tegas, tanpa memberikan ruang baginya untuk berdebat.


Menurutnya ayah tidak melihat besarnya resiko penundaan masalah ini. Ayah terlalu menganggap enteng kecemasannya.


Karena itu, dia hanya bisa mengambil pilihan kedua. Dia akan pergi diam- diam ke rumah Viona untuk menindaklanjuti masalah puppy.


Kecemasan Melannie berhubungan erat dengan kegagalan ayahnya menghubungi Mr. Gaby. Dia benar- benar memikirkan puppy- nya.


Saat dia mengatakan bahwa banyak orang yang menginginkan puppy Viona, itu semua benar. Viona sendiri yang mengatakan itu kepadanya di kelas pagi hari.


Keluarga Viona sudah memiliki sepasang anjing. Karena Mr. Gaby sibuk mereka akan kewalahan mengurus tambahan lima puppy. Mereka hanya bisa menanggung dua puppy, dan sisanya, tiga puppy, mereka akan melepas kepada siapa pun yang ingin merawatnya.


Ponsel Mr. Gaby tidak aktif sehingga ayah akan menelponnya kembali keesokan hari.


Dia takut jika tidak berbicara dengan Paman Gaby sekarang, besok pagi tiga puppy sudah dibawa pergi orang lain.


Melannie tidak ingin sampai hal itu terjadi.


Walau bagaimana pun caranya, dia harus mendapatkan puppy nya malam ini juga!


***

__ADS_1


__ADS_2