Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Masa Damai Sebelum Badai


__ADS_3

Mengayuh sepeda adalah salah satu hobi Melannie. Berkeringat tanpa takut ganasnya matahari atau tubuh basah bermandikan air hujan.


Singkatnya, tak ada satu pun yang dapat menghalangi keinginannya saat bersepeda ria.


Gadis itu mampu menghabiskan waktunya tanpa mengenal lelah. Jadwalnya akan selalu sama setiap harinya.


Pagi hari setelah menyelesaikan sarapan, ia langsung menyambar sepeda dari garasi. Membawa ransel mungil berisi kotak bekal dan sebotol minuman yang telah disiapkan ibunya, ia akan keluar halaman dengan penuh semangat dan wajah riang. Ketika ia kembali, itu sudah menjelang petang dan terkadang berbarengan dengan ayah yang pulang dari kantor.


Ayah dan ibu gadis cilik itu tak kuasa melarang kecintaannya pada sepeda. Mereka tahu jika anak gadis mereka jauh berbeda dari gadis- gadis lain seusianya yang lebih banyak menyukai boneka, atau main rumah- rumahan bersama.


Melannie cenderung menyukai kegiatan fisik dan aktifitas di luar ruangan. Menyukai alam, matahari dan juga debu.


Yah, Melannie memang sedikit tomboy.


Kali ini Melannie tidak bersepeda sendirian karena ada sang kakak, Mario, yang ikut menemaninya.


Omong- omong tentang Mario. Putera sulung itu nyaris menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Introvert akut. Sangat berbanding terbalik dengan sang adik. Gemar belajar, membaca dan melukis.


Usia mereka hanya terpaut dua tahun saja. Mario menginjak usia 9 tahun dan Melannie baru merayakan ulangtahunnya yang ke-7 dua minggu yang lalu.


Kedua saudara itu selalu akur. Mereka jarang bertengkar satu sama lain. Mario sedikit berbicara, tidak seperti adiknya yang ceriwis. Ia lebih banyak mendengarkan, membiarkan pihak lain berceloteh seperti burung. Hanya jika dimintai pendapat, barulah ia bersuara.


Dua saudara ini sangat berbeda dalam hal karakter. Tapi justru perbedaan itu membuat mereka saling melengkapi satu sama lain.


Tuvalu City, tempat kedua bersaudara itu lahir dan tumbuh besar termasuk negara kecil yang terletak di wilayah Samudera Pasifik dan bertetangga dengan Negara Benua Australia. Negara ini punya luas wilayah sebesar 26 kilometer persegi, dengan masyarakat sejumlah 10.000 jiwa.


Jangan remehkan negara ini. Walau pun termasuk salah satu negara terkecil di dunia, namun Tuvalu City lebih makmur dari negara- negara besar di dunia.


Dua bersaudara, Melannie dan Mario, mengayuh sepeda masing- masing beriringan meninggalkan rumah. Keduanya memiliki ransel kecil di punggung mereka yang berisi bekal.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka bercakap- cakap dengan penuh semangat.


Lebih tepatnya, Melannie yang berkicau riang tiada jeda dan Mario hanya menanggapi sesekali.


" Kita akan bermain ke mana hari ini?" Mario sama sekali tidak keberatan menemani adiknya bermain, meski ia tak begitu suka bersepeda seperti Melannie.


Seingatnya Melannie selalu bercerita tentang banyak tempat yang ia kunjungi dalam sehari. Gadis itu tidak pernah berlama- lama di suatu tempat. Besar kemungkinan karena ia terlalu bosan.


Kondisi fisiknya tidak setangguh Melannie, jadi dapat dipastikan ia tak akan bisa mengikuti rute Melannie ke banyak tempat tanpa jeda. Tulangnya bisa rontok tak tertahankan.


Mario wajib menanyakan hal ini memastikan mereka memiliki tujuan perjalanan sewajarnya. Hanya satu tempat maksimal dua.


" Ke pantai." Sahut Melannie cepat, senyum tak lepas dari wajah bonekanya, " Ulang tahun kakek tinggal seminggu lagi. Kakak harus membantuku mengumpulkan kulit kerang dan batu- batu cantik dari pantai di sana. Aku ingin membuat sebuah mahakarya."


Kepala Mario mengangguk, " Baiklah. Tapi sebelumnya kita harus mampir ke minimarket."


" Untuk apa?" Melannie menoleh ke arah Mario. Alis indahnya naik sedikit mengindikasikan kebinggungan. Ia menggerakan tas di punggungnya, " Kita sudah membawa makanan dan minuman."


" Aku bisa membagi makananku denganmu jika kau masih kelaparan nanti. Jangan menunda waktu, Kak. Kulit kerang dan batu yang ingin aku kumpulkan sangat banyak. Kita harus cepat- cepat mengumpulkannya sebelum tersapu ombak."


Mario menatap rambut Melannie yang dikuncir kuda. Hatinya sedikit masam.


Gadis itu dapat melupakan apa pun jika sudah asyik mengerjakan sesuatu. Meski ibu selalu membawakannya bekal, tapi seringkali makanan itu masih utuh saat ia kembali ke rumah.


Melihatnya mengabaikan makanannya tentu saja membuat ibu dan ayahnya marah. Mereka langsung memarahinya tanpa ampun.


Siapa yang percaya gadis itu akan menghabiskan bekalnya jika sudah fokus mengumpulkan kerang dan batu di pantai?


" Hanya sebentar." Seperti halnya Melannie yang berkepala batu, Mario tidak kalah keras kepalanya. Ia bisa memaksa gadis itu jika ia sudah bersikeras." Aku janji tidak sampai sepuluh menit. Akan merepotkan jika aku pingsan dan terbawa ombak karena kurang makan dan minum. Dan kau, aku sudah berjanji pada ibu untuk mengawasi makanmu hari ini. Aku tidak ingin ibu memarahiku nanti."

__ADS_1


Respon dari Melannie adalah dengusan keras. Kepala mungilnya menoleh ke samping dan matanya memincing galak, " Oke, oke! Ingat, hanya sepuluh menit. Jika kau bohong, aku akan memukulmu!"


Mario mencibir tapi tersenyum tipis pada akhirnya. Satu kesukaan Melannie lainnya selain bersepeda yaitu gemar memukul orang, tak terkecuali dirinya.


***


Perkelahian enam bocah laki-laki itu berawal dari aksi mengejek. Lima bocah berusia 9-10 tahun mengeluarkan kata-kata tak pantas pada seorang bocah berkaca mata.


Lima lawan satu, tentu saja sangat tidak seimbang. Hanya saja, bocah berkaca mata itu bukanlah penakut menghadapi pihak lainnya yang berjumlah lebih banyak. Ia sama sekali tidak bereaksi alias menulikan telinga.


Di matanya lima bocah itu hanyalah sekumpulan burung gagak jelek yang menjerit- jerit mencari perhatian.


Bah! Waktunya sangat berharga. Mereka tidak pantas mendapatkan perhatiannya sedikit pun.


Karena tidak mendapatkan reaksi seperti yang diharapkan, kelima bocah lainnya menjadi malu dan marah. Wajah dingin bocah berkaca mata itu seakan mengejek mereka.


Tangan kelima bocah itu tanpa sadar gatal untuk memukul.


" Bajingan sombong!" Ryan, ketua gang, menghardik dengan keras. Ia melangkah cepat ke depan bocah berkaca mata itu dan mendorong tubuhnya dengan keras." Kita lihat, apakah kau bisa bersikap sombong ketika kami menghajarmu!"


" Pukul saja wajahnya!" Bocah lainnya, Sean, mengacungkan tinju ke udara. " Aku benci melihatnya."


" Biarkan bos memukulnya terlebih dahulu." Kata Zen, bocah kurus dan terjangkung," Kita bergantian setelahnya. Jangan beri ampun!"


Melihat bocah berkaca mata itu berusaha bangkit dari tanah, Ryan segera mengangkat kakinya. Sebuah tendangan cukup keras mengenai perut bocah berkaca mata itu. Ia terlambat menyadari sehingga tak dapat menghindar tepat pada waktunya. Akibatnya ia kembali terjatuh ke tanah dengan suara keras.


Suara pekik tertahan dan tubuh mencium tanah dari bocah berkaca mata itu menjadi pemandangan pertama dari dua bersaudara, Melannie dan Mario, ketika mereka tiba di minimarket.


" Hei, berhenti! Dasar tidak berotak! Beraninya kalian memukulnya bersama- sama!!!"

__ADS_1


***


__ADS_2