Sweet Dreams, Mom!

Sweet Dreams, Mom!
Dunia Tanpa Warna


__ADS_3

Lima menit tepat tidak kurang tidak lebih, dia akhirnya menyelesaikan kerang terakhir dalam upaya pengeringan. Ekspresi puas jelas terpancar dari raut wajahnya.


Dengan santai dia melempar kain lembut ke lantai. Jempol dan telunjuk kirinya tengah menjepit kerang berukuran sebesar ibu jari, mengamatinya penuh perhatian seperti sedang mengamati sebuah mahakarya.


Di atas meja belajar, ada selusin lebih kerang yang tersusun membentuk lingkaran. Bentuk, ukuran dan warnanya bermacam- macam. Terlihat menarik, unik, dan juga lucu.


Kerang berbentuk bintang laut adalah favoritnya.



Matanya tak bosan- bosan menatap semua kerang itu. Baginya, mereka adalah sumber kebahagiaannya, harta karun miliknya.


Pikirannya melayang kembali ke hari kemarin,...


Dia masih merasakan sakit cubitan di sepanjang lengan kirinya, hasil dari perbuatannya sendiri, bukan orang lain. Dia harus memastikan apa yang terjadi, apa yang ia alami, itu semua bukanlah mimpi.


Tetap saja, meski ada bilur- bilur hijau samar pada lengan kirinya, rasa tidak percaya masih menguasai kepalanya.


Yang terjadi sungguh kenyataan,..


Apa yang terjadi hari kemarin, bukan merujuk pada sekumpulan anak bodoh yang mencari gara- gara dengannya. Di matanya mereka sama sekali tidak penting. Seperti kotoran,...


Mampu membuatnya terpaku lama di tempat, mencuri seluruh perhatiannya adalah peri yang datang untuk menyelamatkannya.


Peri itu bernama Melannie,...


Dia sangat luar biasa. Tanpa banyak bicara langsung mendatangi kelima bocah lelaki itu dan mengangkat kakinya untuk menendang mereka semua. Tindakannya terlalu keren!

__ADS_1


Begitu berani walau pun yang dia hadapi lebih besar dan berjumlah banyak.


Sebenarnya dia tidak membutuhkan orang lain untuk menghadapi kawanan bocah itu. Ia mampu mengalahkan mereka semua. Tangannya sudah terkepal kuat- kuat dan bersiap untuk membalas.


Tapi, mereka datang sebelum ia melakukan apa- apa.


Dia hanya bisa terpaku di tanah. Dunia di sekitarnya seakan membeku, diam tak bergerak. Hanya gadis perwujudan peri itu saja yang bergerak.


Gambaran gadis itu saat bergerak cepat di depannya seperti sentuhan pelangi menggores cakrawala, membaur semua warna.


Dunia abu- abu miliknya retak dan hancur menjadi debu di detik kemudian.


Melannie, dia adalah keajaiban dalam dunia tanpa warna miliknya,...


Tok, tok, tok.


Dia mendengarkan tanpa mengalihkan matanya dari tumpukan kerang di depannya dan kenangan manis sehari kemarin.


Hidupnya terlalu rumit. Banyak hal yang sulit dia pahami. Keberadaannya di kota terpencil ini adalah keputusan sepihak dari ibunya. Dia menentang keras pada waktu itu.


" Ibu melakukan semua ini demi kebaikanmu, Lukas." Dengan nada lembut ibu membujuk bocah lelakinya yang mengamuk. Dia menghancurkan semua tanaman mahal miliknya dengan pemukul bisbol. Wanita itu hampir muntah darah melihat kelakuannya.


" Sayang, Lukas. Kau harus percaya sama ibu." Wanita itu menahan kesabarannya." Apa kau sayang sama ibu, Lukas? Katakan!"


" Apakah ada anak yang tidak menyayangi ibu yang melahirkannya?" Pertanyaan terlempar kembali," Pertanyaan macam apa itu, ibu?!"


" Karena kau sayang sama ibu, maka kau harus menurut semua perkataan ibu. Lukas," Wanita itu menekan bahu bocah lelakinya kuat- kuat, menghentikannya untuk protes," Hanya kau putraku satu- satunya, Lukas. Aku melakukan ini semata- mata untukmu. Kau harus mendapatkan hakmu. Dan ibu akan memperjuangkannya untukmu."

__ADS_1


Dia tahu apa yang dimaksud ibunya. Walau pun tidak mengerti apa yang ingin direncanakannya, tapi ia yakin, bahwa ibunya melakukan ini untuk masa depannya.


Pesawat membawanya ke kota kecil ini keesokan harinya. Selain pelayan yang mengurus rumah besar, ia tinggal sendirian.


Dia berusaha menahan kesedihan karena jauh dari ibunya. Selama ini, ibu memang jarang bersamanya karena harus bekerja. Paling tidak mereka selalu bersama setiap malam. Ibu akan memasak makanan untuknya. Meski pun rasanya tidak enak di lidah, ia dengan senang hati tetap memakannya.


Kemudian Joe datang. Dia seumuran dengannya. Ternyata nasibnya lebih buruk darinya. Kedua orangtuanya sudah tiada. Ibu menemukannya terlunta- lunta di pinggir jalan. Joe bersedia tinggal bersama dia atas permintaan ibunya.


Seperti dirinya, Joe jarang berbicara. Karena ibu yang mengirimnya untuk menemaninya, ia akan berusaha menjadi dekat dan berteman dengannya.


Kehidupan mereka sepertinya sedikit mirip dalam hal kesepian. Bergulirnya waktu, dia akan menemukan betapa setianya Joe. Mereka akan terikat dalam waktu yang cukup lama.


Apa yang ibunya rencanakan, ia sama sekali tidak tahu dan tidak diberitahu. Praktis, ia hanya harus mematuhi perintah ibu, tinggal di kota itu untuk sementara waktu.


Demi ibu, dia akan patuh.


Ketika dia berusaha mengenali kota ini dan menyesuaikan diri, orang pertama yang ditemuinya adalah sekumpulan sampah. Tapi karena mereka, gadis itu kemudian muncul.


Jika sekumpulan sampah itu tidak datang mencari gara- gara dengannya, akankah gadis itu datang sesaat kemudian untuk menolongnya?


Kemungkinan besar jawabannya, tidak.


Jadi, dia seharusnya berterima kasih kepada sekumpulan sampah.


Dan ibu, apa pun rencana yang Kau rancang untukku, terima kasih karena telah mengirim aku ke kota ini.


Sebab karenamu aku menemukan seseorang yang membawa pelangi dalam kehidupanku. Dia akan menjadi warna dalam kehidupanku.

__ADS_1


***


__ADS_2