
Melannie seperti matahari. Dia gadis yang hangat, ceria, dan menyenangkan. Di mana pun dia berada dan ke mana pun dia pergi, sinarnya selalu menghidupkan suasana.
Tidak mengherankan jika Melannie memiliki banyak teman. Di sekolah, dia populer. Banyak anak mengenalnya dirinya. Bukan hanya itu. Para guru, staff, bahkan petugas kantin pun tahu namanya.
Selama di sekolah, di mana pun ia berada, selalu ada beberapa teman bersamanya. Dia jarang sendirian, meski pun itu di toilet.
Ada beberapa anak yang akrab dengannya, salah satunya adalah gadis bertubuh gemuk yang memiliki rambut keriting panjang. Usia mereka sebaya, dan mereka duduk bersebelahan di kelas.
Gadis itu bernama Viona.
" Lani! Anjingku Merci sudah melahirkan lima puppy kemarin sore. Mereka lucu dan imut!" Viona sengaja menunggu Melannie di depan pintu kelas untuk menceritakan kabar gembira ini. Jadi, setelah melihat temannya itu melompat turun dari sepedanya, dia segera berlari melintasi koridor kelas menyambutnya.
Antusias Viona menulari Melannie," Woww!" Dia menjerit nyaring, " Aku tidak sabar ingin melihatnya, Viona!"
" Kau bisa ke rumahku sepulang sekolah nanti," Mereka saling berangkulan, berjalan bersama menuju ke kelas.
" Viona, bolehkan aku memiliki puppy- mu satu?" Melannie bertanya, " Maukah kau memberikannya kepadaku?"
Viona tidak langsung menjawab. Kepalanya yang kecil sedang berpikir keras untuk beberapa saat.
Mereka telah tiba di kelas dan duduk di kursi masing- masing.
" Aku akan membicarakan permintaanmu pada ayahku terlebih dahulu." Viona tersenyum ke arah temannya, berusaha untuk membesarkan hatinya. " Ayahku tahu kau teman baikku. Asalkan kau berjanji akan merawatnya dengan baik, mungkin ayah akan mengizinkanmu membawa puppy."
" Kau memang temanku yang terbaik!"
***
" Tidak ada puppy!"
Mata bening Melannie menajam menatap ayahnya.
__ADS_1
Dia sudah melihat kelima puppy milik Viona sepulang sekolah tadi. Paman Gaby, ayah Viona, tidak keberatan sama sekali jika Melannie ingin membawa salah satu puppy pulang. Hanya saja, dia harus mendapatkan izin orangtuanya terlebih dahulu. Karenanya, Melannie cepat- cepat kembali untuk mengatakan ini kepada ayahnya.
Ibu dan Mario sama- sama memiliki kerutan di dahi saat melihat Melannie yang gelisah semenjak pulang dari sekolah. Gadis itu enggan menjawab pertanyaan dari keduanya perihal tingkah lakunya yang aneh.
" Ini rahasia." Katanya dengan wajah serius, " Aku hanya akan mengatakannya kepada ayah saja."
" Rahasia?" Ibu dan Mario saling bertukar pandang, semakin binggung.
" Aku tidak tahu apa yang dia rahasiakan, Bu." Mario berusaha sabar mendengar ibunya terus- terusan bertanya kepadanya tentang Melannie. Dia bahkan tidak tahu jika Melannie menyimpan rahasia darinya sekarang. Sebelumnya gadis itu selalu terbuka tentang segala hal.
Menjelang kepulangan ayah, Melannie terus menerus memperhatikan pintu. Dia takut jika berpaling sebentar saja dari sana, akan kehilangan waktu yang tepat untuk berbicara kepadanya.
Tok, tok, tok!
Gadis itu langsung melompat dari sova dan berlari dengan kaki- kakinya yang kurus tmenuju pintu.
" Ayah, selamat datang!!"
Melannie yang tidak menyadari bahwa antusiasnya nyaris membuat ayahnya terkena serangan jantung segera merentangkan tangan dan melempar dirinya ke pelukan sang ayah, " Ayah, aku sangat merindukanmu!"
Mengernyit, Melvin menunduk untuk melihat rambut tergerai Melannie yang memeluk perutnya. Dia menepuk punggung gadis itu dengan lembut, " Wow! Ayah juga sangat merindukan putri ayah yang cantik ini. Hm, sayang, apakah kau baik- baik saja?"
Lihat, betapa hebat dirinya. Hanya dengan pelukan darinya saja, ayah langsung dapat mendeteksi sesuatu.
" Ayah," Tanpa melepaskan pelukannya, Melannie mendongakkan wajahnya. Ia menatap ayahnya yang tampan untuk mulai bercerita, " Ayah, aku,..."
Melannie langsung menceritakan tentang lima puppy milik Viona yang baru saja lahir dan keinginanya untuk memelihara salah satu dari mereka.
Dia pikir, setelah ia menceritakan hal itu sang ayah akan menganggukkan kepalanya dan mengabulkan permintaannya. Tapi, kali ini dia salah besar. Dengan tegas ayah langsung menolaknya!
" Tapi, kenapa tidak boleh?" Raut wajah Melannie terluka dan hampir menitikkan air mata, " Ayah, aku sangat menyukai salah satu puppy itu. Izinkan aku membawanya ke rumah, please!"
__ADS_1
Melvin sangat memanjakan putri kecilnya ini. Semua permintaannya selalu ia berikan tanpa berpikir dua kali. Tidak peduli sulitnya permintaannya, dia akan berusaha keras untuk mendapatkannya.
Namun kali ini dia terpaksa mengecewakan putrinya.
" Sayang, dengarkan ayah." Melvin melihat kekecewaan di wajah Melannie dan kedua matanya yang berkaca- kaca." Ayah tidak melarang Lanlan untuk memelihara puppy. Tapi Lanlan harus tahu bahwa ayah memiliki penyakit elergi terhadap hewan yang parah. Dari kecil ayah menghindari hewan sejauh mungkin. Apakah Lanlan ingin melihat ayah sakit karena puppy?"
Melannie sedang mencerna perkataan ayahnya, sehingga ia membisu sejenak.
Dia baru tahu ada penyakit aneh seperti itu. Apakah tubuh manusia sangat lemah, sehingga menjadi sakit hanya dengan bersentuhan dengan hewan? Selain ayah, apakah orang lain juga memiliki keluhan penyakit yang sama?
Melannie dalam dilema saat ini. Dia sangat menyayangi ayahnya dan juga mulai memiliki kasih sayang terhadap hewan dan ingin memilikinya. Di satu sisi, dia tidak ingin ayahnya sakit tapi di sisi lain ia sangat menginginkan puppy.
" Kita bisa meletakkan kandang puppy di luar rumah." Melannie akhirnya menemukan solusi yang brilyan untuk masalah. " Ayah, bukankah penyakit elergi itu akan kambuh jika bersentuhan. Aku akan menjaga puppy dengan baik agar jauh- jauh dari ayah. Bukankah itu baik- baik saja?"
Pemikiran cerdas putrinya membuat Melvin tertawa pelan. Ia mengelus rambut lembut Melannie, " Sayang, memiliki hewan bukan perkara mudah." Katanya, berusaha memberi pengertian kepada gadis itu," Kau harus bertanggung jawab penuh atas dirinya. Ayah jelas tidak bisa membantu karena penyakit ayah. Apakah kau yakin, kau sanggup melakukan semuanya sendiri?"
" Ayah, Paman Gaby sudah mengajariku cara memelihara puppy. Dia akan terus melatihku dan mengawasiku agar puppy tumbuh dengan baik di sini." Melannie meletakkan telapak tangan mungilnya di kedua sisi wajah Melvin, menatap ayahnya dengan ekspresi serius, " Ayah, aku sudah besar dan bisa bertanggung jawab. Tolong percaya kepada aku. Izinkan aku memelihara puppy, oke?
Saat ini Melvin hanya bisa terpana dan tak bisa membalas kalimat bijak gadis itu.
Apakah anak- anak lebih cerdas dan cepat dewasa di masa sekarang ini?
" Lanlan, ayahmu lelah. Biarkan dia masuk ke rumah dulu." Dari ruang makan, ibu setengah berteriak ke arah mereka. " Makan malam sudah siap. Kita makan dulu baru lanjutkan pembicaraan. Ayo, Lanlan. Bawa ayahmu masuk!"
" Tapi, ayah,..."
" Ibumu benar, Lanlan." Kata ayah," Perut ayah lapar sekali. Apa Lanlan tidak kasihan dengan ayah?"
Untuk saat ini, dengan berat hati, terpaksa Melannie mengalah. " Baiklah."
***
__ADS_1