
*Srak Srak Srak
Mendengar suara langkah kaki yang muncul dari semak-semak, Augus pun bangun dari duduknya dan menarik tangan Yuna untuk mendekat ke arahnya.
"Maaf Nona Yuna, tapi tolonglah berada di belakangku sebentar." Augus memegang katananya menggunakan tangan kirinya.
"Eh? ah, b-baik." Balas Yuna.
Tidak lama kemudian, sekelompok orang yang memakai pakaian layaknya prajurit dan jubah hitam muncul dari semak-semak sambil membuat pola lingkaran yang mengelilinginya.
Salah satu dari orang itu, maju ke depan Augus dan membuka Hoodie hitam yang dipakainya.
"Selamat malam petualang, maaf menganggu waktumu dengan berbagai urusan mendadak ini." Ucap orang itu.
Tampak seorang pria berumur 30 tahunan dengan tubuh terlatih yang membawa sebilah pedang di pinggul kirinya. Orang itu mempunyai wajah yang ramah senyum, namun entah kenapa, Augus sedikit merasa tidak enak dengan senyuman itu.
"Malam juga, aku tidak tahu siapa kamu tapi...bisakah jelaskan dulu kenapa anda ke sini dengan rombongan di sekitar anda ini?" Ucap Augus.
Pria tua itu tersenyum mendengar ucapan Augus. "Wah-wah, maafkan saya karena kurang sopan sebelumnya. Pertama-tama, izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya dulu. Nama saya adalah Petra Yugas. Saya adalah salah satu Jenderal dari pasukan Kerajaan Weis" Ucap Petra.
Augus sedikit memiringkan kepalanya mendengar penjelasan Petra. "Jenderal pasukan? apa yang sedang dilakukan oleh seorang Jenderal di tengah-tengah malam begini?" Tanya Augus.
Seorang Jenderal pasukan kerajaan datang ke hutan pada malam hari bersama dengan rombongannya dan mendatangi Augus, tentu saja Augus merasa heran sekaligus curiga karena itu.
"Mengenai itu, jawabannya sangatlah mudah. Itu karena kami sedang ingin membawa Putri Felencia pulang ke Kerajaan." Jawab Petra.
__ADS_1
Augus semakin bingung setelah mendengar jawaban Petra. "Felencia? siapa itu?" Ucap Augus terheran.
Mendengar pertanyaan Augus, Petra membuat wajah terheran. "Siapa? bukankah sudah jelas yang sedang bersembunyi dibelakangmu itu?" Ucap Petra.
"Eh?" Augus sontak langsung menghadap ke arah Yuna yang berada di belakangnya.
"Um anu...." Yuna bingung harus mengucapkan apa kepada Augus yang melihat ke arahnya.
Melihat situasi membingungkan antara Yuna dan Augus, Petra tertawa kecil. "Jadi begitu..sepertinya putri sendiri tidak memberitahukan identitas aslinya kepadamu ya.." Ucap Petra.
Mendengar ucapan Petra, Augus akhirnya dapat menyimpulkan semuanya. "Ah begitu-begitu..tidak heran kenapa aku ditawari imbalan yang begitu besar..." Ucap Augus.
Imbalan sebanyak 40.000 gold sendiri awalnya sudah membuat Augus curiga bahwa orang yang akan ia kawal merupakan orang penting. Dan kecurigaan itu ternyata terbayar ketika dia mengetahui bahwa Nona Yuna sebenarnya adalah seorang Putri.
"Jadi begitulah...apakah kau sudah mengerti kenapa kita ke sini? itu benar, kami ke sini untuk mengantar putri kembali ke istananya atas titah dari Raja." Ucap Petra.
Augus sebenarnya penasaran tentang kenapa Yuna menyamarkan status aslinya yang merupakan seorang putri darinya, namun ia juga penasaran tentang kenapa Putri Yuna rela membayar 40.000 Gold kepada Augus untuk mengantarnya ke kerajaan Varisis yang terletak jauh di Utara.
Kerajaan Weis sendiri terletak jauh di selatan, itu artinya. Butuh effort dan waktu kerja yang banyak untuk seseorang dari selatan menuju ke Kerajaan yang terletak di Utara. Dengan kata lain, Nona Yuna pasti mempunyai alasan yang kuat untuknya pergi dari kerajaan Wais.
Bukti ia menyewa Petualang untuk mengawalnya pun menjadi salah satu bukti bahwa dirinya benar-benar serius ingin sampai di kerajaan Varisis dengan aman. Walaupun Augus tidak tahu alasannya apa, yang pasti ia tahu bahwa Nona Yuna tidaklah main-main ataupun bercanda soal itu.
Namun, kenyataan bahwa seorang jenderal pasukan dari Kerajaan mengejarnya sendiri sampai sini. Cukup mengganggunya karena suatu alasan. Ia tidak tahu kronologinya seperti apa namun...
1 hal yang pasti, Yuna ingin dibawa paksa oleh rombongan prajurit di sekitarnya, dan karena Augus sudah diberi tanggung jawab untuk mengawalnya sampai ke Kerajaan Varisis, Augus tidak bisa membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
"Jadi? apakah kamu sudah paham sekarang tuan petualang? jika iya maka izinkan kami untuk membawa Putri pulang dengan damai." Ucap Petra.
Petra mendekat ke arah Augus dengan niat untuk menarik Yuna yang bersembunyi dibelakangnya.
Yuna yang melihatnya dengan erat menarik baju Augus dengan erat karena ketakutan.
"Kalau begitu Putri, mari kita pulang." Petra mengarahkan tangannya ke arah Yuna.
Melihat Yuna yang ketakutan di belakangnya, Augus pun menghalangi tangan Petra menggunakan badannya. "Maaf tetapi...aku tidak bisa membiarkan itu." Ucap Augus.
Mendengar ucapan Augus, Petra sedikit terheran karenanya. "Bukankah anda sudah mendengarnya sendiri? bahwa dia adalah putri dari kerajaan kami dan kami diperintahkan untuk membawanya pulang oleh Raja?" Ucap Petra.
"Aku tahu itu tetapi...itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku telah dibayar olehnya untuk mengawalnya sampai ke tempat tujuan dengan aman." Balas Augus.
Mendengar Augus, Petra memasang wajah kesal sekaligus mundur beberapa langkah dari Augus.
"Tuan Petualang...apakah kamu serius? tidak membiarkan kami membawanya pulang sama saja menyatakan perang kepada Kerajaan Wais secara tidak langsung bukan?" Ucap Petra.
"Aku tahu, namun tetap saja aku tidak bisa membiarkannya. Aku tidak bisa membiarkan seorang putri kecil yang ketakutan ketika hendak dibawa pergi oleh rombongan yang datang entah dari mana." Augus menarik bilah katananya keluar dari sarungnya.
Melihat Augus menarik pedangnya, Petra pun mendecikkan lidahnya. "Huh, jadi pada akhirnya tetap saja akan memakai pedang ya. Baiklah, kalau begitu tuan petualang, aku harap kamu tidak menyesali keputusanmu karena telah menyatakan perang kepada kami." Petra mengeluarkan bilah pedangnya dari sarungnya.
Semua rombongan yang melihat Petra pun mengikutinya dan mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya.
Yuna yang melihat orang-orang di sekitarnya mengeluarkan pedang mereka, sontak gemetar karena ketakutan. "T-tuan Augus...apakah ini akan baik-baik saja?" Ucap Yuna dengan suara gemetar.
__ADS_1
Augus yang mendengar Yuna, mengarahkan wajahnya ke arah Yuna yang berada di belakangnya dan tersenyum percaya diri. "Tenang saja, ini bukanlah apa-apa bagiku." Ucap Petra.