Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
8 | Perang di Pagi Hari


__ADS_3

Bahkan disaat gue kecewa dan marah sama lo, gue masih memikirkan lo. Ini antara gue yang b e g o , atau emang gue yang udah terbiasa dengan lo.


***


SEMENJAK kejadian kemarin, Trisha dan Aagam benar-benar perang dingin. Bahkan biasanya Aagam yang selalu meminta bantuan Trisha, pagi itu dia tidak memanggil Trisha. Suasana di antara dia dan Aagam pun benar-benar canggung, tak ada percakapan selama di meja makan. Veronica dan Romi melihat keduanya saling bergantian, namun mereka tidak bertanya karena melihat raut wajah Aagam yang masih kesal, jika mereka bertanya pasti Aagam akan semakin emosi dan meluapkan emosinya kepada Trisha.


"Gimana hari petama kamu kerja kemarin, seru?" tanya Veronica dengan nada antusiuas, "Boleh kan nanti Tante sama Om, mampir?"


Trisha tersenyum dan mengangguk, "Cukup menyenangkan Tante, iya boleh Tante, nanti kabarin Tica aja kalau mau mampir."


Veronica dan Romi mengajak terus Trisha mengobrol panjang lebar, dari keadaan sekolah, pelajaran dan apa saja yang menjadi keinginan Trisha. Mereka tertawa seolah Aagam tak ada ditengah-tengah mereka.


Tatapan mata tajam Aagam melihat ke arah Trisha, namun Trisha tak menyadarinya dia malah asik mengobrol dengan kedua orang tua Aagam.


PRANG!!!


Suara piring pecah menginterupsi obrolan mereka, ternyata suara itu berasal dari piring Aagam. Nasi goreng tercecer semua di atas lantai.


"Kamu ini kenapa sih Gam?" tanya Veronica.


"Kenapa?" Aagam mengejek pertanyaan Maminya, "Mami masih tanya, Aagam kenapa?"


"Lah, kamu yang daritadi diajak ngobrol cuma diem aja, cemberut ya Mami pikir kamu lagi badmood gak mau ngobrol, terus masalahnya di mana?"


"Sebenernya anak kalian itu siapa? Aagam atau Trisha?!" Aagam bangkit berdiri dari kursinya, menatap sengit ke arah orang tengah duduk di meja makan itu satu persatu.


"AAGAM!!" bentak Romi, "Duduk!"


Trisha terdiam, dia tidak berani bersuara dan dia pun merasa bahwa Aagam seperti ini karena dia. Ini benar-benar membuatnya tak nyaman berada disituasi seperti sekarang, seandainya dia bisa memilih untuk tidak tinggal bersama keluarga Aagam, namun dia tahu sebelum dia lulus SMA, Veronica dan Romi tidak akan mengizinkan Trisha tinggal sendiri.


Selama ini pun dia bertahan di rumah ini, karena orang tua Aagam yang benar-benar baik kepadanya.

__ADS_1


Aagam tak menuruti permintaan Romi, dia malah mendelik sebal, "Selama ini Aagam ngerasa kalau Mami sama Papi lebih sayang sama si penumpang ini," tunjuk Aagam ke arah Trisha, "terus si penumpangnya juga gak tau diri, bukannya bilang makasih udah ditampung."


Romi yang merasa tindakan Aagam sudah keterlaluan itu kemudian menggebrak meja makan, sampai ada beberapa gelas dan piring yang jatuh. Trisha terkejut dengan yang dilakukan oleh Romi, dia memejamkan matanya, mencoba menetralisir rasa takutnya. Semua ini disebabkan oleh dia.


"AAGAM berhenti! Kamu gak berhak bilang Tica penumpang. Yang gak tau terima kasih itu kamu, selama ini Trisha selalu ngebantu kamu kan? Coba, apa pernah Trisha marah dan ngebantah kamu?"


"Yayayaya... padahal dia punya keluarga tapi kenapa malah memilih tinggal di rumah kita? Bukannya itu sama-sama numpang ya?"


Romi menggelengkan kepalanya, lalu dia menghampiri Aagam dan menjewer kuping Aagam sampai Aagam meringis kesakitan. Meski dalam keadaan seperti itu pun, dia tetap tidak mau minta maaf kepada Trisha dan mengatakan bahwa dia tidak salah, apa yang dia katakan memang fakta yang terjadi.


Veronica menatap Trisha dan merasa bahwa Trisha akan menganggap semua ini kesalahannya dan karenanya. Veronica langsung menggenggam tangan Trisha dan jangan menyalahkan dirinya sendiri, namun Trisha malah pamitan untuk segera berangkat sekolah karena hari sudah mulai siang dan dia tidak ingin kesiangan. Veronica mengangguk dan mengatakan agar Trisha berhati-hati.


Trisha meninggalkan rumah Aagam, tak terasa air matanya menetes, namun sedetik kemudian dia mengusapnya agar tidak terjatuh. Dia tidak secengeng itu. Langkah kakinya membawa Trisha menuju depan komplek, dia berniat memesan taxi/ojek online, namun tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang berhenti di depannya.


Kaca helmnya dibuka, sehingga Trisha kini bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada dibalik helm itu, Farhan.


"Mau bareng?" tawar Farhan


Trisha menggeleng, "Enggak, makasih."


Trisha terdiam, lalu Farhan mencolek tangan Trisha, "Nanti gue turunin lo sebelum gerbang, kalau lo emang gak mau orang lain tau lo berangkat bareng gue."


"Bukan gitu," bantah Trisha, alasan sebenarnya, karena Farhan teman dekatnya Aagam dan hubungan dia dengan Aagam sedang tidak baik atau mungkin hubungan mereka memang tidak pernah baik.


"Terus? Tenang Ca, gue enggak niat ngedeketin lo kok kalau lo-nya gak mau dideketin." Farhan tersenyum membuat mata sipitnya menjadi segaris saja, "Jadi, mau enggak?"


"Gak bakal gue suruh bayar kok," kejar Farhan selanjutnya


Trisha melirik ke arah jam tangannya. Lalu dia mengangguk, Farhan tersenyum, dia meminta Trisha untuk segera naik ke motornya. Awalnya canggung dan Trisha pun tidak nyaman, dia tidak pernah naik motor apalagi sampai roknya naik ke atas. Farhan yang peka terhadap hal itu, langsung melepaskan jaketnya dan memberikannya untuk Trisha.


Farhan beberapa kali mengajak Trisha mengobrol namun Trisha hanya menjawab seperlunya saja. Pikirannya masih melayang ke kejadian tadi, di mana Aagam bertengkar dengan Om Romi.

__ADS_1


"Ca?"


"Hah?"


"Udah sampe."


Trisha langsung menyadari bahwa dia sudah ada di parkiran sekolahnya, kemudian dia turun dari motor Farhan.


"Soalnya lo gak bilang berhenti tadi, jadi gue pikir gak masalah kalau nganterin lo sampe sekolah."


"Iya gapapa, makasih ya Han." Setelah mengucapkan terima kasih, Trisha langsung pergi meninggalkan Farhan.


Langkah kaki Trisha membawanya ke arah lift, beberapa pasang mata menatap terang-terangan ke arahnya, seolah ingin memangsa Trisha hidup-hidup. Dia sudah terbiasa diperhatikan seperti ini, namun pagi ini seperti ada yang lain dari tatapan mereka.


"Hai Ca..." panggil Kimi yang baru saja masuk ke dalam lift, disusul oleh Elvaro.


"Hai Kim."


"Itu di tangan lo, jaket siapa Ca?" tanya Kimi


Trisha langsung tersadar akan jaket di tangannya, dia melupakannya, jaketnya Farhan.


"Gue ngerasa kenal sama jaketnya," ujar Elvaro, "kaya jaket anak basket dari kelas sebelah."


Trisha mengangguk, "Iya, jaketnya Farhan," jujur Trisha


"Ca, lo sama Farhan?" Pertanyaan Kimi barusan langsung dibantah tegas oleh Trisha. Namun, Trisha juga tidak mengatakan bahwa dia berangkat bersama dengan Farhan, yang Trisha lakukan saat itu karena pintu lift sudah terbuka dia langsung pergi meninggalkan Kimi dan Elvaro.


Ini kesalahan Trisha, dia tidak teliti karena terlalu memikirkan permasalahannya dengan Aagam. Dia harus mencari cara bagaimana mengembalikan jaket Farhan nanti, dia juga tidak mempunyai kontak Farhan sama sekali, yang dia tahu hanya Farhan adalah teman dekat Aagam.


***

__ADS_1


**TERIMA KASIH TELAH MEMBACA TAK TERLUKISKAN


KIRA-KIRA GIMANA CARANYA TICA NGEMBALIIN JAKET FARHAN YA**?


__ADS_2