
Iya aku paham, pasti kamu benci padaku, kan ? Karena aku, kamu harus berbagi kasih sayang orang tuamu yang seharusnya kamu dapatkan penuh untukmu sendiri.
***
TRISHA membuka apron dan disimpannya di loker yang kini miliknya, kafe akan segera tutup dan dia ikut membantu membereskan beberapa barang sebelum Imam menyuruhnya untuk segera pulang karena hari sudah malam.
"Gimana hari pertama kamu kerja?" tanya Aidan
Mendengar pertanyaan Aidan barusan membuat Trisha menoleh, "Cukup menyenangkan, gu--eh, saya punya pengalaman baru."
Aidan tertawa melihat nada canggung dari nada bicara Trisha, "Kalau di luar jam kerja boleh ngomong pake lo-gue kok, gak masalah."
Trisha mengangguk lalu dia mendengar ponselnya berbunyi, pertama Trisha abaikan, namun suara ponselnya kembali terdengar dan itu tak berhenti, terus menerus.
"Pacar?"
"Hah?" Trisha menggeleng, "Bukan Mas, orang di rumah, bentar ya?"
"Oke."
Melihat ada telepon dari Aagam, Trisha menjauh dari Aidan. Sebelum mengangkat teleponnya dia menyiapkan mental dan kupingnya, karena Aagam pasti mengomel dan marah besar karena Trisha lama mengangkat teleponnya dan tidak membalas pesannya.
"LO DIMANA?!!!!!" teriakan Aagam di seberang sana membuat Trisha menjauhkan ponsel dari kupingnya, dia mendengus sebal dalam hati sebelum akhirnya dia mendekatkan lagi ponselnya ke kupingnya.
"Masih di kafe, kenapa Gam?"
"Gue diluar, cepet!"
"Aku kan gak minta dijemput," ucap Trisha
"MAMI YANG PINTA GUE JEMPUT LO! CEPET!"
"Iya...iya... sebentar, maaf ya?"
Aagam tidak menjawab permintaan maaf Trisha, dia langsung memutuskan sambungan telepon itu. Trisha berjalan menghampiri Aidan yang masih menunggunya.
"Mau pulang bareng Tris?" tawar Aidan
"Panggil Tica aja, berasa gimana gitu dipanggil Tris, Mas." Trisha tersenyum ke arah Aidan, "Gue udah ada yang jemput, jadi mungkin next time."
"Oh yaudah, hati-hati ya Ca."
Trisha pamit kepada Aidan dan segera pergi meninggalkan kafe, benar saja mobil Aagam terparkir rapi di parkiran kafe. Trisha mengetuk kaca mobil Aagam, Aagam membuka kacanya dan membukakan pintu untuk Trisha dari dalam, raut wajah Aagam terlihat kesal dan menahan marah.
__ADS_1
"Aku gak megang handphone selama kerja, jadi aku gatau kamu nunggu."
"Y."
"Gak ada kata yang lebih irit?" sindir Trisha
"G."
Trisha menggelengkan kepalanya, lalu dia terdiam menunggu Aagam melajukan mobilnya, namun Aagam masih diam saja tak bergerak sama sekali, menatap lurus ke arah jalanan di depannya.
"Kenapa gak berangkat?"
"Seatbelt gue belum dipasang."
Trisha menghela napasnya dan terdengar berat, Aagam langsung menoleh ke arah Trisha dengan tatapan mata tajam.
"Gue gak minta dipasangin kok," ketus Aagam
Meski Aagam mengatakan hal demikian, Trisha tetap memasangkan seatbelt Aagam. Posisi mereka benar-benar dekat sekali, dan Aagam langsung mendorong tubuh Trisha menjauh dari dekatnya.
"Lo bau."
"Kan baru beres kerja."
"Pulang langsung mandi." Aagam langsung menjalankan mobilnya keluar dari parkiran kafe.
"Gam..."
"Hmm..."
"Kalau aku nanti gak ada, kamu harus bisa ngelakuin semuanya sendiri, ya?"
"Lo mau kemana gitu? Mati?"
"Bukannya kamu emang pengin aku pergi dari rumah kamu ya?"
"Iya sih."
"Intinya kamu harus bisa nyiapin semuanya sendiri mulai sekarang."
"Selama lo masih numpang di rumah gue, lo masih harus layanin gue."
Setelah itu Trisha tidak lagi berkata-kata lagi. Entahlah, setelah lulus SMA nanti, mungkin Trisha akan kuliah ke luar negeri dan hidup mandiri. Keluarga Aagam memang sudah baik kepadanya, menyayangi Trisha seperti anaknya sendiri, namun Trisha pun mengerti perasaan Aagam, bagaimana rasanya dibanding-bandingkan dan membagi kasih sayang yang seharusnya hanya milik dia ke orang lain. Itu pasti menyebalkan, karena itulah Trisha selalu menuruti perkataan Aagam.
__ADS_1
Mobil Aagam memasuki pekarangan rumahnya, Aagam membuka pintu mobil dan membantingnya cukup keras, Trisha terkejut dengan prilaku Aagam barusan. Aagam masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arah Trisha.
Trisha merasa bahwa dia salah ngomong sama Aagam sehingga membuat anak itu semarah ini, tapi memang perasaan Aagam sangat sensitif.
"Ca, Aagam kenapa?" tanya Veronica saat Trisha baru masuk ke dalam rumah.
Trisha menggelengkan kepalanya, "Gak tau Tante, mungkin Aagam kesal harus nunggu Tica selesai kerja, besok-besok Aagam gak perlu jemput Tica lagi aja. Tica bisa pulang sendiri kok."
Veronica mengangguk, lalu mengelus rambut Trisha lembut, "Tante hanya khawatir, tapi naik taxi online aja ya? Jangan naik angkutan umum."
"Iya Tante."
"Yaudah kamu istirahat, pasti cape kan."
Trisha meninggalkan Veronica dan naik ke lantai atas menuju kamarnya, namun setelah pintu kamarnya terbuka Trisha melihat kamarnya seperti kapal pecah. Barang-barangnya berantakan, bahkan sprei kasurnya terlepas. Kali ini tindakan Aagam benar-benar keterlaluan.
Meskipun lelah, Trisha membereskan kamarnya, setidaknya agar dia bisa istirahat. Setelah dirasa cukup rapi, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk merilekskan pikirannya, karena air yang terjatuh dari shower ke kepalanya benar-benar menenangkan. Tetapi kali ini Aagam berulah kembali, shower Trisha tidak menyala dan skincare milik Trisha dia buang-buang.
Trisha mengeluh napasnya sangat panjang, lalu dia mengambil handuknya dan turun dari kamarnya untuk menggunakan kamar mandi di lantai bawah.
Setengah jam berlalu, Trisha telah selesai mandi dan dia segera kembali ke kamarnya, dia melihat Aagam tengah makan mie di kasurnya dan ada airnya yang menetes di kasur Trisha.
"Gam, di kamar kamu aja sana, aku mau istirahat," ujar Trisha sambil menahan emosinya agar tidak meledak.
"Kamar lo kan ada di rumah gue, jadi ini punya gue," jawab Aagam dengan nada menyebalkan, lalu dia menaruh mangkuk mienya di kasur dan tepat saat itu juga air dari dalam mangkuk mie itu tumpah, membuat noda yang cukup besar di kasur Trisha.
Dua mata Trisha melotot, lalu dia menarik Aagam dari kasurnya.
"Keluar!" tunjuk Trisha ke arah pintu, "Kali ini keterlaluan!" dari 17 tahun hidupnya di dunia, kali ini ia membentak Aagam.
Aagam menatap Trisha dengan raut wajah datar, lalu dia mengambil mangkuk mienya yang masih ada di kasur Trisha.
"Inget lo itu cuma numpang!" Aagam balas membentak Trisha, "TAU DIRI!"
"Apa gue harus bayar selama gue tinggal disini?!" kali ini air mata Trisha keluar, dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Aagam menatap Trisha dengan sinis, lalu dia melemparkan mangkuk mie yang ada ditangannya, setelah itu pergi dan membanting pintu kamar Trisha dengan sangat keras.
Trisha menangis, ini adalah tangisan pertama Trisha setelah orang tuanya meninggal kecuali kalau dia dapat nilai jelek. Trisha tidak bisa menahannya lagi, namun dia juga sadar kalau dia tidak seharusnya membentak Aagam seperti itu tadi.
***
*TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN*
__ADS_1
KALIAN KALAU JADI TICA KESAL GAK SAMA TINGKAH AAGAM?
KALIAN AKAN NGELAKUIN APA SAMA AAGAM KALAU JADI TICA**?