Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
19 | Aidan si pencuri hati


__ADS_3

Lama-lama aku cape dengan sikap kekanak-kanakanmu. Bahkan kemungkinan terbesarnya, aku ingin segera terbebas darimu.


***


SETELAH kejadian di pagi hari yang menyebalkan, mood Trisha menjadi buruk. Dia bahkan tidak pergi ke kantin, malas rasanya karena pasti bertemu dengan Farhan, Nikolas dan Dian. Ketiga orang itu membuatnya dalam masalah. Beberapa kali teman-teman sekelasnya melihat ke arah Trisha dengan wajah ingin tahu, tapi Trisha mengabaikannya.


Dia tidak ingin menjadi fokus utama dalam hal seperti ini, memalukan.


"Ca ada titipan." Elvaro datang ke kelas sambil membawakan satu paperbag dan disimpan diatas meja Trisha.


Trisha menatap ke arah paperbag itu, dan menatap Elvaro penuh tanda tanya. Seolah bertanya siapa yang memberinya itu.


"Kata satpam sih, katanya dari orang yang sedang mengusahakan lo. Lo tau kali siapa."


Entah mengapa mendengar jawaban Elvaro membuat perasaan Trisha sedikit menghangat, lalu Trisha mengangguk, dia tau paperbag itu dari siapa.


"Makasih Varo."


"Oke."


Trisha membuka isi paperbag itu, isinya beberapa potong sandwich di dalam kotak bekal berwarna biru, diatas kotak makan itu ditempeli sticky note.


Jangan lupa makan siang Ca.


Baru saja Trisha membacanya, tiba-tiba orang yang mengiriminya makan siang langsung mengirim pesan.


Mas Aidan :


Meskipun males pergi ke kantin, jangan males makan siang ya Ca.


Nah kan, benar dugaan Trisha. Makan siang itu dari Aidan. Dia membuat perasaan Trisha merasakan hal yang tidak biasa. Lalu Trisha mengetikkan balasan untuk Aidan.


Trisha :


Kok tau?


Balasan dari Aidan datang secepat kilat.


Mas Aidan :


Namanya aja lagi diusahakan, pasti dicari tau terus.


Trisha :


Hahaha, makasih ya.


Mas Aidan :


Jangan bilang makasih aja, tapi doain.


Trisha :


Mau di doain apa, Mas?


Mas Aidan :


Doain semoga yang lagi diusahakan mau sama saya.


Trisha :


Aku dong.


Mas Aidan :


Peka juga ternyata hehe. Mas lanjut kuliah dulu ya Ca, jangan lupa dimakan ya, terus Mas kasih susu Vanilla biar Tica cobain rasa kesukaan Mas, enggak minum susu stroberi terus.


Sampai ketemu nanti siang di kafe.


Trisha :


Semangat kuliahnya Mas.


Trisha tidak sadar bahwa sedari tadi Kimi memperhatikannya. Trisha tersenyum saat tengah berbalas pesan, persis seperti orang yang tengah jatuh cinta.


Cewek yang mandirinya keterlaluan, yang tak pernah melirik satu cowok pun kini berbeda. Kimi sadar, kalau perbedaan Trisha dimulai saat dia mulai mengobrol dengan Farhan. Mungkin saja paperbag itu dari Farhan.


"Ca, dari Farhan?"


Trisha menggeleng, "Bukan, Mas Aidan."


"Wah siapa Ca? Lo sama Mas-mas?"


"Itu lho pemilik kafe tempat gue kerja."


"Gue pikir cerita yang begituan hanya ada di novel, pacaran sama boss. Gila sih, selera lo mah bukan levelnya anak sekolahan lagi. Tapi emang gue denger, pemilik kafenya cakep."

__ADS_1


"Iya, emang, dia masih kuliah juga."


Kimi tidak tahu saja, kalau boss sesungguhnya dalam hidup Trisha bukanlah Aidan melainkan Aagam.


Panjang umur, baru saja Trisha memikirkan Aagam, dia mengirimi Trisha pesan singkat.


Boss Aagam :


Lu kemana?


(Read : kok ga ke kantin?)


Trisha :


Gak kemana-mana.


Boss Aagam :


Gak makan lo?


Trisha :


Ini lagi makan.


Trisha mengirimi Aagam kotak bekal yang dikasih oleh Aidan.


Boss Aagam :


Lo gak buatin bekal buat gue?


Trisha :


Dikasih Mas Aidan tadi.


Aagam mau Tica buatin bekal?


Boss Aagam :


G


Trisha :


Oh yaudah deh.


Boss Aagam :


Trisha :


Terus Tica harus gimana?


Boss Aagam :


Gtw


Trisha :


Aagam udah makan? Jangan makan aneh-aneh nanti sakit perut, perut kamu kan sensitif.


Boss Aagam :


Sp l?


Trisha :


Cuma ingetin.


Boss Aagam :


O


Balasan Aagam menyebalkan, lama-lama Trisha jengah juga. Mungkin Trisha sudah mulai bosan dan lelah menghadapi sikap kekanak-kanakan Aagam, jadi dia tidak membalas pesan Aagam. Dia memakan sandwich yang diberikan oleh Aidan.


Lebih baik makan siang, daripada memikirkan Aagam yang semakin menyebalkan.


Ponsel Trisha kembali berbunyi.


Boss Aagam :


Berani ya lo gak bales chat gue!


Trisha berdecak sebal, meskipun kesal dia tetap mengetikkan balasan untuk Aagam.


Trisha :


Kenapa?

__ADS_1


Boss Aagam :


WHAT? KENAPA? MASA GUE NYURUH BABU HARUS ADA ALASANNYA SIH.


Ini kesekian kalinya, entah mengapa dia merasa sakit hati dengan balasan Aagam barusan, padahal biasanya dia biasa aja. Mungkin Aagam sudah keterlaluan sekarang.


Trisha :


Iya, Aagam perlu apa?


Boss Aagam :


Lo pacaran sama ADAN ADAN ITU?


Trisha :


Kenapa emangnya Gam?


Boss Aagam :


GUE BAKALAN BILANGIN MAMI, KALAU ALASAN LO KERJA CUMA BUAT KECENTILAN SAMA BOS LO! ****** LO TAU RASA!!!! TAU DIRI! MIKIR DONG, LO MASIH HARUS NGURUSIN GUE!


Trisha :


Bilangin aja.


Boss Aagam :


MULAI BERANI YA LOOO!!!!!! AWAS AJA, GUE ADUIN BENERAN.


Trisha :


Iyaa aduin aja, terserah kamu. Biasanya juga kan gitu, kamu selalu ngelakuin apapun mau kamu.


Kali ini Trisha bersikap tak peduli, meskipun nanti Aagam mengadukan kepada maminya, Trisha tinggal menjelaskan apa yang terjadi. Perkataan Aagam sudah tidak lagi mengganggunya. Dia ingin segera terbebas dari semua tentang Aagam.


***


Seperti biasa Trisha melayani pelanggan di kafe dengan senyum dan ramah. Bahkan dia tidak sadar kalau Aagam ada disana memperhatikannya, di pojok sendirian, sebelum akhirnya Marissa datang menemaninya.


Entah kebetulan atau bagaimana, Trisha tidak melayani meja Aagam, dia terlalu sibuk dengan meja-meja yang lain.


"Kamu kenapa Gam?" Tanya Marissa


"Gapapa Ris, lo mau pesan apa?" Aagam mencoba fokus kepada Marissa, namun tetap saja melihat Trisha yang mondar mandir di depannya begitu mengganggu.


Menyebalkan sekali. Dia tidak melihat ke arah Aagam.


"Hey...," Marissa menyadarkan Aagam dari lamunannya dengan menyentuh tangan Aagam, "Kamu lagi mikirin sesuatu?"


"Enggak Risa. Gue gak mikirin apa-apa."


"Bohong."


"Gue mikirin lo, kenapa lo masih tetep cantik sekarang hehe."


"Kamu belajar dari Tito jadi jago gombal? Gak pantes tau, nanti temenin aku cari buku sama nyalon ya?"


"Oke, sekalian gue mau beli sesuatu."


"Gam, kamu gak deket sama cewek lain kan selagi aku ga ada kemarin?"


Aagam terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk, "Enggak."


"Aku seneng dengernya, Gam...."


Suara Marissa mendadak tak terdengar oleh telinga Aagam, karena kini dia fokus kepada orang yang baru saja masuk ke dalam kafe, orang itu tersenyum ke arah Trisha dan Trisha membalas senyumannya.


Mereka mengobrol sebentar, Trisha terkekeh pelan. Sekarang satu tangan Trisha menggenggam satu paperbag lagi.


Mereka mengobrol sebentar, Trisha terkekeh pelan. Sekarang satu tangan Trisha menggenggam satu paperbag lagi.


"Gam..., Kamu dengerin aku, kan?" Marissa menyadarkan lamunannya kembali.


"Iya Ris, kenapa? Sori gue gak fokus, laper."


Marissa melihat di mejanya Aagam sudah ada makanan beserta minumannya, bahkan Aagam sudah makan setengahnya. Marissa merasa ada yang aneh dengan sikap Aagam, tapi tak mau menyimpulkan terlalu cepat.


Karena satu hal yang Marissa ingin dia yakini, Aagam masih seperti dulu.


"Gam, aku sayang kamu," ujar Marissa tiba-tiba.


***


*TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN

__ADS_1


Btw sikap Aagam tuh gemesin gimana gitu, tetep aja Mas Aidan mencuri hatikuuuuuuu*.


__ADS_2