
Aku hanya ingin meluruskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman. Jadi, maksud dari semua ini itu apa?
[Mas Aidan]
***
"Kalau Aagam yang angkat, nanti Farhan tau kalau Tica satu rumah sama Aagam atau punya hubungan dengan Aagam, Aagam mau?"
Mendengar pertanyaan Trisha barusan membuat Aagam mengurungkan niatnya untuk mengangkat telepon dari Farhan, namun dia malah balik menatap Trisha dan mendiamkan panggilan Farhan yang kembali masuk.
"Lo gak punya utang sama Farhan, kan?"
"Enggak," jawab Trisha
"Yaudah gak penting." Aagam menolak panggilan Farhan tersebut, lalu memberikan ponselnya kepada Trisha.
Namun disaat dia terdiam, kini giliran ponsel Aagam yang berbunyi dan itu pesan masuk dari Tito. Tito mengatakan bahwa hari ini ada lomba basket di sekolah, Aagam melupakan itu.
Bidang Olahraga adalah salah satu kesukaan Aagam, jadi dia tidak mungkin bolos hanya demi hal sepele apalagi masalah Trisha, itu akan melukai harga dirinya. Aagam langsung keluar dari kamar Trisha tanpa pamit, bahkan Aagam tak mengindahkan panggil Trisha yang bertanya Aagam akan pergi kemana.
Karena menurut Aagam, Trisha itu tidak penting.
Setelah ditinggal Aagam, Trisha bosan sendirian. Dia menyingkapkan selimbutnya, meskipun dingin akhirnya dia tidak jadi. Dia turun dari kasur dengan balutan selimut, lalu duduk di meja belajarnya.
Satu tangan Trisha mengambil salah satu buku yang tersusun rapi di raknya, lalu dia membuka dan membacanya. Dia takut ketinggalan pelajaran di sekolah, sehingga akan ada yang merebut tempat nomor satunya nanti, itu lebih melukai dirinya daripada dijaili Aagam terus menerus.
Trisha melupakan satu hal, dia belum memberitahu Mas Aidan kalau hari ini dia tidak bisa masuk kerja paruh waktu, karena dia tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Meskipun malas, dia tetap mengambil ponselnya dan mengabari Aidan.
Tica :
Mas, hari ini Tica gak masuk kerja dulu ya?
Mas Aidan :
Lho, kenapa Ca? Tugas kamu banyak ya? Kan bisa dikerjain di kafe kaya biasa
Balasan dari Aidan secepat kilat masuk ke ponselnya, Trisha tersenyum saat membaca balasan dari Aidan. Lalu, dia mengetikan balasan kembali untuk Aidan.
Tica :
Sakit Mas, demam.
Mas Aidan :
Keujanan ya semalem? Cepet sembuh ya Trisha.
__ADS_1
Tica :
Makasih Mas
Mas Aidan :
Istirahat, jangan belajar Caaa. Kamu tetep pinter kok meski gak belajar sehari.
Tica :
Kok tau, Tica lagi belajar?
Mas Aidan :
Kesukaan kamu kan cuma belajar Ca.
Nanti Mas mampir boleh?
Trisha membaca berulang kali pesan yang dikirimkan oleh Aidan. Menolak orang bertamu adalah hal yang tidak mungkin, terlebih lagi nanti Aidan akan bertanya kepada tidak diizinkan menjenguk orang yang sakit, mungkin Aidan akan berpikiran kalau Trisha berbohong tentang kondisi kesehatannya.
Tica :
Iya, boleh kok.
Akhirnya Trisha mengambil keputusan dengan membiarkan Aidan datang ke rumahnya. Semoga saja, keputusan ini tidak salah. Untung saja Aagam masuk sekolah, jadi dia tidak ada di rumah.
Di lantai bawah ternyata Bi Noni tengah masak di dapur. Saat melihat Trisha turun dengan wajah pucat, Bi Noni langsung menyudahi masaknya dan meminta Trisha untuk duduk. Bi Noni juga mengatakan kenapa Trisha tidak memanggilnya saja ketika butuh sesuatu.
"Gapapa Bi, Tica masih kuat kok turun tangga, sekarang udah agak mendingan," ujar Trisha
"Non Tica butuh apa, biar bibi siapin."
"Nanti bakal ada temen Tica kesini, Bibi jangan bilang ke Agam ya. Soalnya, Bibi kan tau sendiri Agam kaya gimana."
"Siap Non, tenang aja rahasia aman terkendali. Tumben Non bawa temen ke rumah, teman spesial?" tanya Bi Noni
"Sebenernya dia itu yang punya kafe dimana aku kerja paruh waktu sih Bi, bukan temen spesial. Nanti biar aku yang kasih tau Om dan Tante kalau ada temenku ke rumah. Bibi kasih tau Mang Agus aja kalau ada temen Tica ya."
Bi Noni langsung mengerti akan permintaan Trisha. Sebelum dia menyelesaikan masaknya, dia membuatkan coklat hangat untuk Trisha dan meminta Trisha untuk istirahat saja sambil menunggu temannya. Trisha memilih untuk tidak kembali ke kamarnya, melainkan duduk di ruang televisi sambil menonton berita-berita terbaru ataupun acara tentang edukasi. Bi Noni menyiapkan beberapa camilan untuk Trisha, barulah setelah itu Bi Noni memberitahu Mang Agus tentang teman Trisha yang akan datang.
Tak butuh waktu lama, Aidan datang setlah satu jam balasan Trisha. Seperti biasa, dia selalu rapi dengan pakaian casualnya. Aidan terlihat benar-benar lebih santai daripada Aidan yang dia lihat di kafe.
Aidan datang dengan hoodie berwarna navy, satu tangannya membawa paperbag yang cukup besar. Tadi, dia terdengar menyapa Bi Noni dengan ramah, sebelum akhirnya Aidan diantarkan ke ruang televisi dimana Trisha berada.
"Hai Mas...," sapa Trisha, namun bukannya membalas sapaan Trisha, Aidan malah menempelkan satu tangannya di dahi Trisha.
"Udah minum obat?" tanya Aidan
__ADS_1
"Udah sih Mas, lagian ini cuma kehujanan dikit. Lagi gak fit aja badannya."
"Nih saya bawain bubur sama obat demam." Aidan menyimpan paperbag yang dia bawa di meja, sementara Trisha masih bingung harus bereaksi seperti apa dengan tindakan yang dilakukan Aidan.
Bukannya Trisha kegeeran, tapi yang dilakukan Aidan sekarang terlihat seperti cowok yang tengah PDKT sama cewek. Atau memang Aidan baik ke semua orang? Tapi masa sih, dia mempelakukan semua karyawannya seperti ini.
Kan agak geli kalau yang sakit cowok, tiba-tiba Aidan datang bawa obat sama bubur dan segala macem.
"Makasih Mas."
"Udah ke dokter?"
"Belum sih, kalau besok masih belum mendingan kayanya langsung ke dokter."
"Oh yaudah. Emangnya kamu habis darimana sampe keujanan gitu, kan bisa minta antar ke saya, Niko atau temen kamu yang lainnya."
Trisha kehujanan kan gara-gara nunggu pintu gerbang di buka. Tapi, dia gak mungkin menceritakan itu semua kepada Aidan, nanti yang ada dia akan berpikir yang aneh-aneh dan mau tidak mau Trisha harus menceritakan posisinya dengan Aagam.
"Aku pergi naik motor terus ujan, gitu deh."
"Kamu suka naik motor?"
"Enggak juga sih," jawab Trisha, "oh iya, Mas Aidan gak ke kafe atau kuliah?"
"Tadi kelasnya dibatalin, nanti setelah pulang dari sini saya langsung ke kafe."
Trisha mengangguk paham akan penjelasan dari Aidan barusan. Namun, ada satu pertanyaan yang masih bersarang di kepalanya dan ingin dia tanyakan, agar kelak dia tidak salah mengartikan apa maksud dari kebaikan Aidan.
"Mas, Tica boleh tanya?"
"Bayar," jawab Aidan disertai dengan cengiran khasnya.
"Serius Mas."
"Boleh, kan barusan kamu udah tanya juga."
"Mas, datang kesini bawain Tica obat sama bubur, maksudnya apa? Mas lagi ngedeketin Tica atau gimana?"
***
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN
JADI KALIAN TIM MANA
#AIDAN
#FARHAN
__ADS_1
#AAGAM**