Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
1 | Menyebalkan!


__ADS_3

Jangan tertawa itu membuatku kesal. Jangan tersenyum, itu membuatku ingin membuatmu menangis.


***


Setahun Berlalu...


Trisha kini sudah kelas sebelas, selama kelas sepuluh kemarin semuanya berjalan sesuai rencananya. Nilainya paling tinggi satu angkatan dan dia memilih jurusan IPS bukan karena apa-apa, dia hanya ingin lebih mendalami pelajaran sosial karena ingin menjadi seorang Jaksa di kemudian hari, seperti Ayahnya dulu.


Tak ada yang berubah selain umurnya bertambah tua dan kelasnya berpindah, semuanya masih sama. Aagam masih tetap menyuruhnya ini dan itu, hal itu sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Terkadang Trisha merasa aneh jika Aagam tak menyuruhnya, padahal jelas-jelas permintaan Aagam kadang tak logis.


Seperti, tolong chek sower di kamar mandinya, atau kolong kasurnya. Itu semua murni untuk mengerjai Trisha saja.


Hari ini Trisha menuju kafetaria bersama Kimi, Hime dan cowok yang dari awal masuk sudah mengikuti Kimi, dia mengenalkan diri sebagai Elvaro atau biasa dipanggil Varo bahkan dia mengatakan dia adalah pacarnya Kimi. Jelas-jelas, Kimi sama dengan dirinya tak tertarik dengan hubungan percintaan remaja yang konyol itu.


Trisha memilih makan siang sesuai dengan kesukaannya, menunya tak pernah berubah. Lalu dia dan Kimi membahas masalah olimpiade yang akan mereka ikuti di tahun kedua, pengajuan beasiswa dan yang lainnya. Untuk Trisha saat dalam mata pelajaran Kimi adalah saingannya, tapi setelah itu mereka benar-benar berteman baik dan Kimi merupakan anak yang satu pemahaman dengannya.


Selagi bercanda dan tertawa, tiba-tiba Trisha mendapatkan pesan yang membuatnya berhenti tertawa dan segera mengecek pesannya.


From : Bos Aagam


Gak usah ketawa! Menyebalkan.


Itu bukan Trisha yang menamai kontak Aagam seperti itu, melainkan Aagam sendiri. Entahlah, terserah saja, Trisha enggan berkomentar. Lagipula dia memang selalu bersikap seolah bos di rumah maupun di sekolah.


Lalu dia mencari-cari keberadaan Aagam, kurang dari lima detik kemudian dia mendapat kembali pesan dari pengirim yang sama.


From : Bos Aagam


Jgn nyari gue! MAKAN aja nyebelin bgt sih.


Diktator memang. Sesaat Trisha akan membalas pesan Aagam, namun pesan baru yang dikirim oleh Aagam muncul.


From : Bos Aagam


Jgn dibls.


Trisha tersenyum, lalu dia mengabaikan pesan Aagam barusan dan kembali mengobrol dengan Kimi dan Hime, tanpa tertawa tentunya.


"Ca, lo punya pacar ya?" tanya Hime


"Hah?!" Kimi dan Trisha kaget dengan pertanyaan Hime barusan.


"Ya, lo habis dapet pesan terus berhenti ketawa dan ya gitu deh," ujar Hime


"Bukan apa-apa kok, cuma chat dari Tante, kalau malem ini tante pulang telat karena ada beberapa urusan."


"Trisha mana mungkin punya pacar," ucap Kimi, "lo gak liat apa Him, hidup dia itu mandiri, dia bisa melakukan apapun sendiri jadi gue yakin pacar di hidup Trisha enggak dibutuhin."

__ADS_1


"Gue fokus belajar dan fokus dengan masa depan gue." Trisha menambahkan, dan itu membuat Hime menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir mengapa berteman dengan dua cewek ambisius yang selalu mengedepankan pelajaran, padahal menikmati masa muda juga penting.


Sementara disisi lain, Aagam benar-benar kesal. Intinya Trisha tidak boleh bahagia, jika Aagam tidak tertawa hari ini dan teman-temannya benar-benar menyebalkan sekali.


"Gam, lo kenal Trisha?" tanya Tito


Aagam yang tengah bermain games langsung menyudahi permainannya dan menatap ke arah Tito.


"Trisha? Trisha yang mana?" Aagam kembali fokus dengan ponselnya, padahal dia tau kalau Trisha yang dimaksud adalah Tica yang satu rumah dengannya.


"Lo salah To, malah nanya sama Aagam, dia kan paling alergi deket-deket sama cewek, aneh emang itu anak," sambar Reynald, diiringi gelak tawa dari Tito dan Farhan.


"Itu lho, anak yang dapet nilai paling tinggi seangkatan kemarin. Lo kan satu SMP sama dia, masa gak kenal sih? Dulu, dia bener-bener gak terlihat sama sekali, masih culun kali ya? Sekarang banyak yang berubah."


"Berubah? Emangnya dia power rangers," ujar Reynald


"Liat," tunjuk Tito ke arah meja Trisha, Kimi, Hime dan Elvaro. Secara otomatis, Reynlad, Farhan dan Aagam melirik ke arah meja Trisha. Meskipun Aagam ogah-ogahan dan gengsi ngeliat meja Trisha.


"Bodynya Trisha makin wow, liburan kemarin kayanya banyak yang berubah. Kimi juga katanya punya pacar, si kutu buku itu akhirnya keluar dari cangkangnya ya." Komentar Tito


Aagam melirik ke arah Trisha, tak ada yang berubah dari Trisha dia tetap kurus. 'Apanya yang bagus' cibir Aagam dalam hati.


"Iya sih diliat-liat si Tica emang banyak berubah tahun ajaran ini, seragamnya bisa pas banget gitu ya?" celetuk Farhan dan dibalas anggukan setuju dari Tito juga Reynlad.


Menyebalkan. Padahal sebelumnya dulu, Trisha tak pernah menjadi topik pembicaraan teman-temannya, sekali menjadi topik pasti mengatakan yang buruk-buruk dari Trisha yang egois dan yang selalu menjadi kesayangan guru-guru.


"Ngapain sih ngomongin cewek," ketus Aagam


"Aduh hampir lupa, Aagam kan alergi cewek ya Gam?" Farhan langsung mengelus pipi Aagam dan langsung ditepis oleh Aagam.


"Jijik Han," omel Aagam


Mereka semua tertawa. Berganti topik dari mengobrolkan perubahan Trisha menjadi Pekan Olahraga Siswa yang akan diadakan sebentar lagi. Karena kebetulan, semuanya aktif dalam basket sekolah, terlebih Aagam cowok itu benar-benar menguasai hampir seluruh bidang olahraga kecuali berenang.


***


CUKUP membuat Trisha berpikir lebih lanjut saat dia mendapat pesan dari Aagam yang menyuruhnya cepat menemuinya untuk pulang, biasanya Trisha yang harus menunggu Aagam selama berjam-jam, karena cowok itu selalu dengan sengaja mengobrol dulu dengan teman-temannya untuk membuat Trisha kesal. Namun hari ini, Aagam sudah menunggunya di halte.


Trisha mengetuk kaca mobil, dan Aagam langsung membuka pintu. Trisha masuk.


"Nih buat lo." Aagam memberikan seragam baru untuk Trisha ke pangkuan Trisha.


"Hah? Tica gak butuh sergama baru," ujar Trisha


"Udah sih gak perlu komentar pake aja besok ." Sinis Aagam


"Ulang tahun kita kan masih lama."

__ADS_1


"Siapa bilang itu kado!"


"Terus?"


"Gak usah banyak nanya." Aagam benar-benar memajukan bibirnya, dia terlihat seperti anak kecil di depan Trisha padahal selama di sekolah dia bersikap layaknya cowok keren yang diidolakan semua cewek.


"Aagam lagi kesel?" tanya Trisha


Aagam mengangguk.


"Sama siapa?"


"Tica."


"Tica ngelakuin apa?"


"Udah ah, kita pulang aja." Aagam menginjak pedal gas mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah.


Trisha tak mengerti dengan perubahan sikap Aagam, dia benar-benar mudah sekali berubah mood. Kadang dia akan bahagia dan senang menjahili Trisha atau bisa saja dia seperti sekarang, kesal kepada Trisha padahal Trisha yakin dia tidak melakukan apapun yang membuat Aagam kesal, setidaknya itu yang Trisha sadari.


Aagam melemparkan tasnya kesembarang tempat saat sampai ke rumah, secara otomatis Trisha mengambil tas Aagam dan mengikuti Aagam masuk ke kamarnya. Trisha menyimpan tas Aagam di kursi meja belajar dan mengaluarkan baju santai dari lemari Aagam.


"Mau makan apa?" tawar Trisha


"Gue gak laper."


"Mau makan es krim sambil nonton?" biasanya Aagam akan luluh dengan es krim stroberi


Aagam mengangguk kecil, membuat Trisha tersenyum.


"Ganti baju dan turun."


Semua keperluan mereka sudah tercukupi, bahkan kulkasnya tak pernah kosong dengan es krim. Aagam akan mengamuk jika itu terjadi, dia akan mengurung diri seharian sampai orang rumah bingung harus melakukan apalagi padanya.


"Non Tica udah pulang ternyata, Den Aagam di mana?" tanya Bi Noni selaku pembantu rumah tangga di rumah mereka.


"Aagam lagi ganti baju, moodnya lagi gak baik Bi, hati-hati nanti macan ngamuk," bisik Trisha yang disambut kekehan oleh Bi Noni.


"Yaudah, mau bibi bantu siapin es krimnya?"


Trisha menggeleng, "Gak usah Bi, Bibi siapin aja yang lain. Tica duluan ya Bi, nanti Aagam ngomel kalau lama."


Aagam itu seperti es krim, cepat mencair namun manis.


Bagaimana komentarnya? Kesel gak kalau punya temen kaya Aagam?


Tapi entah kenapa Aagam itu manja-manja gemesin.

__ADS_1


__ADS_2