Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
11 | Jaket Farhan Hilang


__ADS_3

Kamu memang pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


***


TRISHA membongkar seluruh isi lemarinya. Dia begitu yakin kalau jaket Farhan kemarin dia masukan dan digantung di lemarinya, namun entah mengapa sekarang tidak ada. Padahal, dia berjanji kepada Farhan. Bukan masalah bagaimana nanti mengganti jaket Farhan, hanya saja Trisha tidak mau di cap sebagai cewek yang tidak bertanggung jawab.


Ponsel Trisha  menyala, menandakan pesan masuk dari Farhan. Farhan memberitahu kepada Trisha kalau dia sudah di depan komplek perumahan mereka, Farhan juga bertanya rumah Trisha di blok dan nomor berapa, namun Trisha hanya mengatakan dia akan segera menemui Farhan.


Trisha mengambil tas selempangnya, mematikan lampu kamarnya dan keluar dari dalam kamar. Dia melihat Aagam yang tengah menonton tv sambil memeluk toples camilan. Semenjak hari itu, mereka tak pernah berbicara satu sama lain lagi. Yang selalu diperlihatkan Aagam hanya tatapan sinis ke arah Trisha, bahkan Aagam enggan satu meja saat sarapan atau makan malam dengan Trisha.


Berlebihan? Memang. Itulah Aagam.


Namun kali ini, Aagam memperhatikan Trisha dan ujung kaki sampai ujung kepala secara berulang kali.


Seolah mengerti akan tatapan itu, dia langsung bersuara, "Aku mau pergi sebentar, ya."


Sebenarnya Aagam ingin menanyakan, kemana Trisha akan pergi, namun dia hanya diam saja. Bahkan merespons ucapan Trisha saja tidak, dia malah kembali menatap layar televisi dan menguyah camilannya.


Hari ini Trisha libur bekerja paruh waktu di kafe, biasanya malam hari dia habiskan untuk belajar. Tetapi karena niat awal untuk mengembalikan jaket Farhan dan Farhan sudah mengiyakan meskipun jaket itu hilang entah kemana. Tanpa Trisha sadari, ternyata Aagam mengikuti Trisha sampai keluar rumah. Dia melihat Trisha berjalan menuju gerbang komplek. Sepertinya dia akan pergi dengan seseorang.


Siapa? Atau mungkin cowok yang malam itu mengantarkan Trisha? Pikiran Aagam benar-benar dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar Trisha, sampai akhirnya sadar bahwa dia tidak seharusnya peduli kepada Trisha, dia kan sedang marah kepada Trisha.


"Nyebelin banget sih itu orang, segala pergi pas malam minggu lagi." Aagam terus mengomel, bahkan saat dia kembali menonton dia tidak fokus, dia hanya mengecek handphonenya beberapa kali, siapa tau Trisha memposting sesuatu. Tapi percuma, nihil. Trisha bukan orang yang senang memposting kehidupan pribadinya di sosial media.


***


FARHAN duduk di atas motor, dia melepas helmnya dan tangannya terus memainkan ponsel. Trisha bisa langsung sadar kalau itu Farhan, dari cara berpakaiannya, dia cukup nyentrik, namun tetap menakjubkan.


Perlahan langkah kaki Trisha melambat, dia mengingat kalau jaket Farhan tidak ada ditangannya. Alasan apa yang harus dikatakan oleh Trisha nanti? Apa dia harus berbohong kepada Farhan, lalu dia membeli jaket yang serupa?


Oh tidak! Itu sama saja menurunkan derajatnya. Trisha tidak menyukainya, kalau ketahuan dia akan di cap sebagai cewek pembohong.


"Hei Ca!" Farhan melambaikan tangannya ke arah Trisha, disertai senyuman sumringah.


Mau tak mau Trisha memaksakan senyumnya ke arah Farhan dan berjalan mendekat.


"Han..."


Sebelum Trisha melanjutkan kalimatnya, Farhan lebih dulu menyodorkan helm ke arah Trisha.


"Nih, pake."


"Dengerin gue dulu." Trisha tidak mengambil helm itu, dia menatap serius ke arah Farhan.


Farhan balas menatap Trisha dengan lembut, "Kenapa, Ca?"


"Jaket lo ilang, tapi gue bakalan ganti dengan jaket yang sama atau uang deh," ucap Trisha dalam satu tarikan napas.

__ADS_1


Senyum yang sebelumnya tercetak jelas di wajah Farhan kini memudar. Trisha merasakan aura tidak enak, dan kemungkinannya Farhan marah.


Wajar saja, Trisha sudah dikasih pinjam tapi malah menghilangkannya.


"Maaf...." Trisha mengatakannya dengan tulus.


Tak ada respons dari Farhan.


Trisha menggoyangkan tangan Farhan, "Han, lo marah?" Tanyanya


Farhan masih belum bersuara, dan raut wajahnya pun tampak serius. Bisa dipastikan bahwa dia benar-benar marah.


Namun, beberapa detik kemudian Farhan turun dari motornya lalu memasangkan helm ke kepala Trisha dan tersenyum.


"Gapapa, gue masih ada jaket yang lain kok," ujar Farhan


"Lah, tapi kan..."


"Itu jaket ulang tahun dari Agam, dia emang ngasih itu ke yang lainnya juga. Katanya beli diskonan, jadi gak penting-penting amat."


Aagam? Aagam yang satu rumah dengannya kan? Trisha yakin, itu Aagam dan mereka memang berteman baik.


Jika itu jaket hadiah dari Aagam, kini Trisha menyadari kalau jaket itu tidak hilang, kemungkinannya Aagam yang mengambilnya.


Lagi dan lagi, dia melakukan hal yang menyebalkan.


"Kemana?"


"Makan."


"Kan gue gak minta makan," protes Trisha


"Lo udah nyamperin gue jalan kaki, terus gue udah jauh-jauh kesini masa gak dapet apa-apa, mana jaketnya gak ada juga, kan?"


Akhirnya Trisha mengangguk setuju, dia naik ke motor Farhan dan tanpa Trisha tau, Farhan tersenyum kemenangan.


Farhan melajukan motornya ke foodcourt yang cukup ramai. Biasanya disini emang tempat nongkrongnya anak-anak seusia mereka, terbukti banyak yang menyapa Farhan saat mereka masuk.


"Rame," komentar Trisha


"Berati makanannya enak."


"Lo sengaja ya?"


"Sengaja apaan?"


"Ngajak gue makan," jawab Trisha

__ADS_1


"Kenapa lo mikir gitu?" Tanya Farhan


"Iya apa enggak?"


"Iya."


"Hmmm..."


"Tapi udah telanjur, sekarang kita makan aja ya? Lo mau makan apa?"


Sejujurnya Trisha kesal sih, dia dimanfaatkan oleh Farhan. Tapi, dia juga merasa Farhan sudah baik kepadanya dan di antara teman-temannya yang lain dia yang cukup waras.


Farhan memesankan makanan untuk Trisha tanpa bertanya terlebih dahulu, namun makanan yang dipesankan Farhan itu memang makanan kesukaan Trisha.


"Tau dari mana?"


"Apanya yang tau dari mana, Ca?"


"Pesanan gue."


"Feeling." Farhan tersenyum, namun raut wajah Trisha memperlihatkan hal yang sebalilnya dia terlihat tak suka, Farhan langsung mencairkan suasana, "Kan Reynald pernah suka sama lo, dia sampe hapal semua tentang lo Ca, jadi ya gue yang sering di curhatin tau."


"Oh... Rey suka curhat ya? Ke semua?"


"Iya, tapi Agam sih yang kadang sensi. Dia kan, lo tau sendiri terkenal anti cewek."


"Iya."


"Kenapa gak mau gue jemput di rumah lo, Ca?"


"Gapapa."


"Atau lo sebenernya bukan anak komplek itu? Cuma ngaku-ngaku?"


Trisha hanya tersenyum sebagai jawaban. Di memang bukan anak komplek itu, dia kan numpang di rumah Aagam.


***


*TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN


KANGEN GA SAMA BERANTEM AAGAM & TRISHA?


KALIAN MASIH TIM SIAPA?


LANJUT GAK?


Pict di bawah : Aagam & Tica✨*

__ADS_1



__ADS_2