Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
5 | Kamu gemoy!


__ADS_3

Manusia itu tau terima kasih. Kalau yang pergi gitu aja tanpa permisi ya gak jauh beda sama binatang.


***


RASANYA mengesalkan sekali saat tahu kalau Trisha akan bekerja paruh waktu dimulai dari sekarang. Rasa kesalnya semakin menjadi saat dia melihat Trisha pagi ini sarapan dengan wajah berseri-seri. Benar-benar mengesalkan, ingin rasanya dia menjambak rambut Trisha atau mencolok matanya.


"Gam, di makan dong sarapannya masa dari tadi cuma di aduk-aduk aja," ucap Veronica sambil membenarkan letak piring Aagam.


"Aagam lagi kesel sama Tica, gak mau makan!"


"Kamu ini anak cowok tapi kenapa manja gini sih Gam?" komentar Tomi terhadap anak laki-laki satu-satunya itu.


Kalau dipikir-pikir, karakter Aagam benar-benar seperti anak kecil apalagi jika keinginannya tidak dituruti maka dia akan merengek, nangis atau ngambek seharian penuh. Ciri-ciri itu seperti anak balita.


Trisha yang peka akan hal itu langsung mengambil piring Aagam dan mulai menyuapi Aagam, meskipun awalnya Aagam enggan disuapi oleh Trisha, tapi lama-lama Aagam mau juga disuapi oleh Trisha. Dia sarapan sambil bermain games di ponselnya, meski sudah berulang kali diomeli oleh Tomi dan Vero masalah bermain ponsel di meja makan, Aagam tetap tak mengindahkannya.


"Tica gimana nilai-nilai kamu? Akhir-akhir ini Om jarang ngecek perkembangan belajar kamu, habisnya di kantor lumayan sibuk?" tanya Tomi


"Seperti biasa Om," jawab Trisha disertai dengan senyuman


"Papi ini gimana, Trisha kan kerjaannya belajar ya pasti nilainya bagus selalu bertahan di nomer satu, enggak kaya anak di sampingnya tuh yang mainannya handphone terus," sindir Veronica


"Aagam denger ya Mi! Punya dua kuping tau. Ngomongin di depan orangnya lagi," celetuk Aagam, meskipun kedua matanya masih fokus ke arah layar ponselnya.


Veronica hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar celetukan anak semata wayangnya itu. Kini tatapan Veronica beralih ke arah Trisha yang sangat telaten mengurusi Aagam, memberi Aagam minum dan menyuapinya. Trisha tidak pernah mengeluh ataupun berkata tidak terhadap perintah Aagam.


"Ca, kamu jadi tahun ini mau nyalonin jadi ketua OSIS?" tanya Vero


Trisha mengangguk, "Jadi Tante, lumayan buat CV nanti saat pengajuan beasiswa."


*CV (Curriculum Vitae)


"Ca tanpa beasiswa juga kamu pasti bisa lanjutin sekolah di univeristas yang kamu mau kan? Jangan terlalu maksain, Tante gak mau kamu sakit. Apalagi Tica sekarang udah mulai kerja paruh waktu, kalau pulang lumayan malem minta Aagam jemput ya?"


"Aagam bukan supir, mon maaf nyonya Vero." Aagam sengaja mengatakan itu untuk mengejek Maminya dan juga Trisha.


"Uang jajan Aagam mami potong kalau gitu," ancam Vero


"YHA!!! Tidak bisa seperti itu dong marimar!"


"Jemput atau dipotong uang jajan?"

__ADS_1


"Aishh..." Aagam mendelikan matanya sebal, "Nyusahin amat sih lo," sinisnya ke arah Trisha, "lagian lo ngapain sih kerja juga, masih kurang gue kerjain setiap hari?"


Trisha hanya diam saja mendengar omelan Aagam barusan. Aagam menegak air mineral yang ada di meja lalu dia mengajak Trisha untuk segera berangkat sekolah. Tak lupa untuk berpamitan lebih dulu kepada orang tuanya dan Aagam tetap menunggu Trisha di dalam mobilnya, bahkan di sepanjang perjalanan Aagam terus saja mengomel kepada Trisha.


"Mati tau rasa lo Ca, semua aja lo kerjain, gak sekalian aja malemnya lo kerja juga biar seharian full lo gak istirahat, supaya cepet dipanggil Tuhan."


Entah, Trisha tak merasa sakit hati justru sebaliknya, Aagam mengatakan itu sebagai bentuk perhatian terselubung. Dia mengkhawatirkan Trisha, mungkin. Tapi, Trisha tak ambil pusing, lagipula ini adalah hidupnya dan hidupnya tak ada urusannya dengan Aagam.


Trisha bisa mendapatkan izin dari orang tua Aagam karena mereka ingin Trisha melakukan apapun yang Trisha inginkan, terlebih lagi agar Aagam tak selalu melakukan hal-hal seenaknya terhadap Trisha, kalau Trisha banyak kesibukan diluar otomatis Aagam tidak akan terlalu sering menyuruh Trisha ini dan itu.


Seperti biasanya Aagam menurunkan Trisha di halte, Trisha turun tanpa berkomentar sama sekali.


"Bilang makasih kek, udah kaya kambing aja main turun tanpa permisi," sindir Aagam dan Trisha mengabaikannya.


"WOI KAMBING WOI!!" teriak Aagam sambil membuka kaca mobilnnya, dia sengaja memelankan mobilnya agar bisa seiring dengan langkah kaki Trisha, "Bilang mbeeeekkkk kek atau lo bukan kambing tapi anjing? Ah iya lupa lo kan peliharaan gue yang sekarang mulai nakal."


Benar-benar Trisha abaikan perkataan Aagam barusan, dia malah berlari menghampiri Kimi yang baru saja datang bersama dengan Varo lalu dia mengobrol dengan Kimi. Aagam benar-benar ingin menarik lengan Trisha lalu mengomelinya panjang lebar.


Aagam mengeluarkan ponselnya lalu dia mengirimkan pesan kepada Trisha.


Aagam : KALAU GUE TANYA JAWAB DONG MBING!


Trisha : Bukannya di sekolah kita pura-pura gak kenal? Itu kan permintaan Aagam


"Bersih gak lo pegang-pegang gue?" tanya Aagam waspada


"Emangnya gue kuman apa Gam? Tenang steril kok, gue habis mandi kembang tujuh rupa," jawab Farhan bercanda.


"Ada apa?"


"Ada surat cinta untuk yayang Aagam." Farhan mengeluarkan amplop berwarna pink ke saku kemeja Aagam, sesaat Aagam akan protes dan membuang amplop itu Farhan melarangnya dan meminta Aagam untuk membacanya terlebih dahulu, katanya sekedar menghargai.


"Hargai lah Gam, baca doang gak perlu dibales."


"Sejak kapan lo jadi ribet begini?" Aagam menggelengkan kepalanya tak percaya dengan komentar Farhan barusan.


Biasanya yang komentar masalah itu adalah Tito dan Raynald. Ternyata sekarang menular, Rehan ikut-ikutan ribet seperti mereka juga.


"Nanti pulang jadi kan basket?" tanya Farhan


"Jadilah, gila aja enggak!"

__ADS_1


"Lo udah tau Marissa balik ke sekolah belum? Lama gak liat dia nambah cantik tau."


Aagam tersenyum saat mendengar nama itu disebut oleh Farhan. Marissa adalah teman kelas satu Aagam, dia adalah cewek cantik dan modis. Bahkan Marissa adalah cewek ketiga yang Aagam save kontaknya di handphone Aagam, selain dari Maminya dan juga Trisha.


Aagam tidak menyukai Marissa, namun bagi Aagam spesies Marissa lebih baik daripada cewek-cewek lain di sekolahnya.


"Gam, menurut lo Trisha itu gimana?"


"Hah?" Aagam menoleh ke arah Farhan, raut wajahnya benar-benar terkejut saat mendengar pertanyaan dari Farhan barusan.


"Kenapa lo kaget banget sih? Reaksi lo berlebihan tau gak," cibir Farhan disertai gelak tawa


"Kenapa lo nanyain si kutu buku sama gue?" Lagi kesal sama orangnya, ini lagi Farhan malah tanya-tanya seputar Trisha kan nambah bete aja.


"Enggak, gue jadi kepikiran aja sama omongan Tito. Kalau diliat-liat, Trisha gak kaya orang kutu buku yang culun, barang-barang dia juga keliatan mahal, dia juga bisa mamadupadankan penampilannya, hanya aja dia kurang show off masalah gaya. Semua orang tau Trisha pinter dan sombong, juga dia hanya mau berteman sama orang-orang pinter doang. Menurut lo gimana?"


"Dia kaya kambing, ngeselin."


"Kok lo tau dia ngeselin?" Farhan mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Aagam barusan.


"Orang-orang pinter itu ngeselin, semua bukan cuma dia aja."


Hampir saja dia keceplosan di dengan Rehan gara-gara kekesalannya terhadap Trisha.


"Gue kira lo emang kenal sama Trisha."


"Ngapain kenal sama kambing." Aagam mempercepat langkah kakinya menuju kelas, tujuan utamanya adalah menghindari percakapan tentang Trisha di pagi hari.


***


*TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN*


JADI SEJAUH INI GIMANA TENTANG CERITA TAK TERLUKISKAN?


Kira-kira Marissa bakalan bisa ngambil hatinya Aagam gak ya?


Siapa yang kirim surat buat Aagam?


Aagam X Tica


Aagam X Risa

__ADS_1


Tadinya aku mau buat Marissa dipanggilnya Rica, tapi nanti ketuker sama Tica HAHAHA**.


__ADS_2