Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
2 | Prioritas


__ADS_3

Meski banyak hal yang penting untukku, tetap bagiku kamu adalah prioritas utamaku.


***


"CA jam tangan gue yang biru di mana?" tanya Aagam


Trisha menunjuk laci nomer dua yang ada di depan mata Aagam, dan benar saja jam tangan yang Aagam cari ada di sana.


"Ca kaos kaki gue?"


"Di laci bawah," jawab Trisha


Tidak hanya sampai disitu, Aagam terus bertanya kepada Trisha perihal menyimpan barangnya. Padahal Aagam sendiri yang menyimpannya tapi dia akan bertanya kepada Trisha, seolah Trisha yang mengetahui semua barang-barang Aagam disimpan di mana.


Perlu diakui jika Aagam tidak akan bisa melakukan apapun tanpa Trisha, namun dia terlalu gengsi mengakuinya dan hanya menganggap Trisha sebagai lelucon yang harus dia suruh-suruh.


Trisha yang kali itu tengah mengerjakan essaynya, membuat Aagam berdecak sebal. Cewek itu tak pernah menyia-nyiakan waktunya dan selalu belajar. Terkadang Aagam merasa gumoh melihat Trisha yang begitu.


"Kenapa lo mau banget jadi nomer satu?" Tanya Aagam penasaran


"Buat diri gue sendiri, Ayah Bunda di surga dan orang tua lo."


"Oh iya lo kan numpang di rumah gue, ngerebut kasih sayang orang tua gue, harus tau diri ya Ca." Aagam berkata dengan nada sinis namun hal itu sudah biasa untuk Trisha.


Awalnya Trisha akan marah, sedih dan murung seharian. Namun sekarang tidak lagi, dia tidak terlalu memikirkan perkataan Aagam, Aagam masih mengizinkan tinggal di rumahnya saja Trisha sudah bersyukur.


Trisha menutup laptopnya, lalu dia berdiri menghampiri Aagam yang tengah berdiri di depan cermin besar. Trisha mengambil jaket Aagam, lalu menyempirkan dibahu Aagam.


"Cuacanya gak nentu, nanti Aagam sakit," ucap Trisha


"Terus kalau gue sakit kenapa?" Aagam menatap tajam ke arah Trisha, namun begitu Aagam tetap mengenakan jaket yang diminta Trisha.


Dengan senyuman lembut dan merapihkahkan penampilan Aagam, "Nanti gak ada yang sakitin Tica."


"Disakitin aja lo mau! Aneh!" Cibir Aagam


"Aagam mau pergi ke mana? Main sama temen-temen?"


"Apaan sih lo nanya-nanya," ketus Aagam, "iya sama Farhan, Reynald dan Tito."

__ADS_1


Trisha mengangguk mengerti, lalu Trisha membawakan snapback Aagam yang sudah lengkap kebutuhan Aagam disitu, tentu saja semua itu Trisha yang memprsiapkan.


"Katanya Naura nembak kamu ya Gam? Terus kamu malah lari dan marah-marah sama dia."


Aagam mengangguk, "Ya, dia gak jelas bilang mau jadi pacar gue! Gue kan bingung, gak ngerti, jadi gue lari terus marah sama dia dan bilang gue gak suka dia karena dia agresif."


Mendengar jawaban Aagam barusan membuat Trisha tersenyum. Meski tubuhnya bertambah tinggi, umurnya bertambah tapi dia benar-benar bodoh dalam urusan percintaan.


Padahal Naura merupakan salah satu cewek terpopuler di sekolah mereka, dia juga sudah menyukai Aagam sejak dulu, memberinya contekan selama di sekolah. Tapi Trisha tau, Aagam tak pernah jatuh cinta, hidupnya hanya dihabiskan untuk bersenang-senang saja.


Setalah Aagam pergi untuk menemui teman-temannya, rumah terasa sepi. Trisha kembali ke kamarnya, menyalakan laptop dan membuka file-file pelajaran kelas tiga SMA, meskipun dia masihnkelas dua SMA, namun otaknya mampu untuk belajar pelajaran di kelas atas.


Bukan Trisha tidak mampu mengikuti kelas akselerasi, tapi dia seperti mempunyai kewajiban mengurusi Aagam. Aagam sudah seperti bayi untuk Trisha yang sangat sensitif.


Ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Kak Nikolas : Sha, kafe di depan sekolah kita butuh pekerja part time, lo mau gak?


Nikolas adalah ketua osisnya, dan Trisha cukup mengenal baik Nikolas. Cowok itu seperti ketua osis kebanyakan yang berwibawa, pintar dan disenangi banyak orang. Nikolas mempunyai segalanya, dan dia pun mempunyai pacar yang cantik dan mereka sudah bersama sejak dari kelas satu.


Memang, kemarin Trisha merasa bosan tidak ada kegiatan, langsung pulang ke rumah jika tidak kumpul osis, dan Aagam akhir-akhir ini pun jarang ada di rumah. Jadi dia meminta bantuan Nikolas untuk mencarikan part time untuknya.


Kak Nikolas : Kabarin gue ya Sha. Biar gue bisa langsung kabarin sama orangnya, kebetulan gue kenal sama yang punya.


Trisha : Iya kak, makasih.


Kak Nikolas : Lo sering bantu gue Sha, jadi gue bantu lo. Kalau lo kerja di kafe itu bareng gue juga.


Udah dulu ya Sha, gue harus pergi sama Dian, udah ngomel nih. Hehe.


Buat materi yang lo minta nanti gue bawa senin ya Sha.


Pesan itu tak dibalas oleh Trisha, dia hanya mematikan kembali ponselnya. Lalu memperhatikan schedule boardnya. Hari ini jadwalnya menonton berita, memperhatikan apa yang sedang terjadi di negara ini setelah itu dia akan sharing di forum online dengan orang-orang yang setipe dengannya.


Dia tidak pernah merasa lelah atau bosan melakukan ini semua, justru ada kesenangan tersendiri jika dia membahas hal ini sampai ke akarnya.


Terlalu asik mengkomentari isu politik yang sedang terjadi sampai Trisha lupa waktu dan dia mengabaikan beberapa pesan yang dikirimkan oleh Aagam dan Tante Veronica.


Sampai Aagam menelpon Trisha, dan Trisha mendengus sebal karen Aagam mengganggu waktunya.

__ADS_1


Sebelum mengangkat telepon Aagam, dia mengecek jam terlebih dahulu.


"Udah jam tujuh ternyata," ucapnya, lalu dia menslide tombol hijau.


"KENAPA LAMAAAAAA????" omel Aagam disebrang telepon


"Tadi habis dari toilet," jawab Trisha berbohong tentu saja.


"GAK BISA DIBAWA HAPENYA? JANGAN BUAT GUE NUNGGU LAMAAA!!"


"Iyaa maafin Tica," ujar Trisha


"Mau makan apa?" Tanya Aagam


"Hah?"


"Iya, Bi Noni kan anaknya lagi sakit, Mami sama Papi lembur, lo ga baca pesan Mami? Parah ya lo! Udah numpang juga!"


"Kan udah aku bilang aku di toilet Aagam ganteng."


"Yaudah mau makan apa? Gue lagi diomelin ibu-ibu nih, gara-gara lama antri, mbak-mbak Mcdnya juga udah bete."


Entah mengapa sikap Aagam yang begitu membuat perasaan Trisha senang. Aagam tidak sepenuhnya membencinya.


"Yuadah yang biasa aja Gam."


"Oke. Kalau gitu, gue tutup ya! Tapi di rumah lo harus bayar."


"Pijitin kaki lo sambil nonton film kan?"


"Yaaa. Udah ah, risi ngomomg sama lo."


Setelah kalimat itu, sambungan telepon itu terputus. Meskipun Aagam terlihat menyebalkan namun dia terkadang menjadi sosok yang dirindukan jika hilang.


***


TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA TENTANG TAK TERLUKISKAN


SEMOGA SUKA DENGAN CERITANYA

__ADS_1


__ADS_2