
Tau gak perbedaan lo sama anjing? Kalau Anjing itu nurut, kalau lo banyak nuntut.
***
KEDUA mata Aagam sibuk menatap layar ponsel yang ada di genggaman tangannya. Hari ini salah satu temannya berulang tahun, jujur saja Aagam tidak terlalu menikmati pesta ini. Karena banyak orang yang mendekat dan mengajak ngobrol dengannya. Aagam benar-benar tidak suka akan hal itu. Apalagi yang mendekat ke arahnya adalah cewek, Aagam muak dia ingin segera pergi dari ruangan ini.
Disentuh, di rangkul, benar-benar menjijikan. Aagam harus mandi dan bersih-bersih lagi setelah pulang dari pesta ini. Menyebalkan sekali cewek-cewek kecentilan itu.
"Gam, muka lo kok bete?" tanya Farhan yang menyadari raut wajah Aagam benar-benar ditekuk.
Aagam mendelikan matanya ke arah Farhan, lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Banyak kuman disini."
"Yaelah Gam, cuma dipegang belum dicium, lebay banget sih lo jadi laki," cibir Tito
"Lo gak hombreng kan Gam?" tanya Reynald hati-hati dan langsung mendapat pukulan keras dari Aagam.
Bisa-bisanya Reynald bertanya seperti itu dan meragukan kejantannya. Kreteria Aagam masalah cewek begitu tinggi, masa dianya saja sudah keren terus dapat cewek yang biasa aja kan memalukan.
"Kira-kira kalau gue deketin Trisha, dia mau gak ya? Gak tau kenapa, ngeliat dia jutek-jutek gitu, jadi gemes aja," ujar Tito dengan senyum sumringah.
"Kayanya lo langsung di tampar sebelum deketin dia, tau kali si Trisha gimana? Dia bahkan bilang kalau di hidupnya dia gak butuh cowok, cowok itu menyusahkan," kata Reynald.
"Jangan-jangan lo pernah deketin Trisha lagi Rey?" pancing Farhan
Raut wajah Reynald mendadak merah. Aagam yang melihat itu langsung menatap Reynald dan Reynald jujur, bahwa dia pernah mendekati Trisha saat mereka kelas satu, namun belum saja maju ke tahap selanjutnya Trisha sudah menolaknya mentah-mentah dan mengatakan jangan mendekat apalagi mengganggunya lagi karena Reynald menyusahkan.
"Gimana kalau kita jadiin Trisha bahan taruhan?" ajak Tito
"Gak!" tegas Aagam
"Yeee, siapa yang ngajak elo." Tito membalas delikan Aagam sebelumnya.
"Gak ya! Kalau kalian jadiin Tica bahan taruhan, gue bilang ke orangnya langsung." Aagam tak terima.
"Ada angin apa Aagam belain cewek?" Farhan menaikan satu alisnya.
"Bukan masalah belain, tapi harga diri kalian rendah banget sampe jadiin cewek bahan taruhan."
Bisa diperkirakan kalau Aagam sudah mengatakan itu bahwa dia sudah final. Dia tidak akan bisa dibujuk, kalau rencana ini terus berjalan bisa-bisa mereka kalah sebelum berperang. Kali ini Aagam bersikap keren lagi, meski dia terlalu sering menolak cewek tapi dia tidak pernah menjadikan cewek sebagai taruhan atau apapun. Aagam akan mengatakan kalau dia tidak suka.
"Udah ah, gue balik, anjing gue belom dikasih makan." Aagam bangkit berdiri dan menyimpan ponselnya di saku.
"Aagam kok balik, pestanya kan masih belom selesai." Sania mendekat ke arah Aagam, dengan refleks Aagam menghindar dan enggan disentuh.
"Kenapa sih Gam? Gue bukan kuman kok."
"Mulut lo bau jangan deket-deket, udah ah gue mau ngasih makan anjing gue dulu."
"Jadi lebih penting anjing lo daripada gue?" tanya Sania
__ADS_1
Aagam mengangguk, "Iyalah, lo mah banyak nuntut sedangkan anjing gue nurut." Aagam langsung pergi meninggalkan pesta dan masuk ke mobilnya.
Mami cantik : Gam, Mami sama Papi pulangnya telat ya, kamu beli makan diluar sama Tica soalnya Bi Noni juga lagi cuti. Inget, jagain Tica jangan disuruh-suruh yang aneh-aneh.
Aagam : Ngapa jadi Agam yang ngurus Tica sih? Sebel deh.
Mami cantik : Biasanya kan Tica yang ngurus kamu, Mami cuma kasih tau Mami pulang telat, pulangnya bawa makan jangan makan sendiri. Inget ya Gam.
Aagam : Bawel ah.
Mami cantik : Mami tau Aagam sayang sama Tica juga kan.
Aagam : Ga tuh.
Mami cantik : Bye Sayang, sampai ketemu nanti malam.
Aagam : AGAM GAK SAYANG TICA, AGAM BENCI SAMA DIA.
MI... MIIIIIII
MAMIIIIII
Aagam langsung melempar ponselnya ke sembarang tempat, lalu dia mengomel tak henti-hentinya. Dia mengatakan bahwa sampai detik ini pun dia masih sangat membenci Trisha. Gak akan ada satu hari pun dia melupakan bahwa Trisha yang mengambil dan merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Teman-temannya tidak boleh menyakiti Trisha, karena hanya dia yang boleh menyakiti Trisha sampai membuat dia menderita.
Meskipun Aagam mengomel dia tetap berhenti di restoran ayam cepat saji. Dan ikut mengantre. Aagam menelpon Trisha berkali-kali namun tak kunjung di angkat. Bahkan saat sudah giliran Aagam memesan pun Trisha belum mengangkat teleponnya.
"Gak bisa!" balas Aagam
"Dek, gantian dong. Liat tuh antrean makin panjang." Ibu-ibu di belakangnya menegur Aagam
"Ya apa urusannya sama gue sih?"
Setelah kesekian kalinya Aagam menelpon Trsiha barulah Trsiha mengangkatnya.
"KENAPA LAAMAAAAAA?" omel Aagam dengan nada tinggi, membuat ibu-ibu di belakangnya menutup kuping dan mencibir bahwa jangan sampai dia punya menantu atau anak seperti Aagam.
"Mau makan apa?" tanya Aagam
"Bi Noni kan anaknya lagi sakit, Mami sama Papi lembur. Lo gak baca pesan Mami? Parah ya lo! Udah numpang juga, tau diri dong!"
"..."
"Yaudah mau makan apa lo? Gue diomelin ibu-ibu nih gara-gara lama antre, mbak-mbak Mcdnya juga udah bete nih sama gue."
"..."
"Yaa. Udah ah. Gue risi ngomong sama lo." Aagam langsung menutup teleponnya, dia langsung menyebutkan makanan yang biasa Trisha pesan dan untuk dirinya sendiri.
"Buat pacarnya ya Mas?" tanya Mbak pelayan
__ADS_1
"Bukan, buat peliharaan."
"Lah masa peliharaan bisa ngomong kan biasanya binatang, pengasuhnya?"
"Kata siapa peliharaan gue binatang?" Aagam lekas membayar billnya, lalu dia pergi daripada melayani pelayan Mcd yang bawel tadi.
Tak membuang waktu, Aagam langsung pulang ke rumahnya dan melemparkan makanan yang baru saja dia beli ke pangkuan Trisha yang masih menonton televisi. Aagam bahkan mengomel kepada Trisha karena dia tidak membukakan pintu untuknya, namun meskipun begitu hari ini Aagam langsung masuk kamarnya dan mengganti baju tanpa harus dipersiapkan lebih dulu.
Trisha tersenyum dengan ulah Aagam barusan, lalu dia menunggu Aagam sebelum makan. Tak lama, Aagam kembali dan duduk di samping Trisha, mereka makan berdua, Aagam yang mendominasi televisi kali ini, dia menonton kartun kesukaannya, bahkan Aagam sampai ketawa-ketawa saat menontonnya. Trisha tidak terlalu menyukai kartun seperti itu. Bahkan di kamar Aagam sangat banyak sekali komik-komik seperti itu.
"Reynald pernah deketin lo?" tanya Aagam
"Reynald? Siapa? Gak kenal."
"Reynald temen gue Ca. Jangan bohong lo."
"Aku cuma tau temen Aagam itu Farhan aja."
"Ya emang Tito dan Reynald gak penting sih, cuma Farhan yang cukup waras. Pokoknya jangan mau dideketin sama mereka. Tica kan pinter."
"Iya siap."
"Jangan pacaran sebelum Aagam punya pacar, soalnya gak ada yang ngurusin Aagam."
"Iya, ngerti."
Aagam dan Trisha sudah selesai makan dan cuci tangan.
"Sekarang pijitin." Aagam menaikan kedua kakinya ke pangkuan Trisha. Trisha langsung memijit kaki Aagam dengan telaten.
Aagam memperhatikan Trisha, entah mengapa rasa bencinya malah semakin menjadi-jadi dan dia kesal melihat Trisha hari ini. Mengapa teman-temannya malah tertarik dengan Trisha sih, menyebalkan sekali, kenapa tidak ada cewek lain yang harus di dekati.
"Gam oh iya, kemungkinan nanti Tica bakalan kerja di kafe deket sekolah, jadi pulangnya kita gak usah bareng ya?"
"Duit yang di kasih ortu gue kurang?" tanya Aagam
Trisha menggeleng, "Enggak, cuma buat ngisi waktu luang aja. Kan kadang Aagam suka ngeluh harus nganterin Tica dulu pulang baru boleh pergi, jadi Tica gak mau ngerepotin Aagam aja sih."
"Udah izin Mami sama Papi?"
"Iya udah kok, mereka udah kasih izin."
"Jadi gue yang tau terakhir?" Aagam langsung menepis lengan Trisha yang masih memijit kakinya, dan duduk dengan posisi tegap, kilat matanya emosi, "Harusnya lo kasih tau gue dulu sebelum kasih tau Mami! Tau ah kesel! Kenapa gak sekalian aja lo pergi sih! Ah kesel gue." Aagam langsung meninggalkan Trisha yang masih ada di ruang televisi.
***
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA AAGAM DAN TICA
AAGAM MESKIPUN JAHAT SAMA TICA SEBENERNYA DIA PEDULI, YA GAK SIH**?
__ADS_1