
Ini menyebalkan. Disaat kondisi hubungan kita yang tengah seperti ini, aku masih khawatir tentang kamu.
***
SUASANA hati Trisha benar-benar sedang tidak baik, meskipun begitu dia masih bisa menyimak pelajaran di dalam kelas dan menjadi orang pertama yang menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh gurunya. Hampir saja, tadi Kimi akan menjadi orang pertama, namun Trisha masih sempurna dalam segala hal.
Bel istirahat berbunyi, Hime mengajak Trisha dan Kimi untuk segera ke kantin, meninggalkan Elvaro yang masih ada di dalam kelas dan sudah bergabung dengan anak-anak cowok yang lain.
Trisha, Hime dan Kimi kini sudah duduk di meja kantin seperti biasa. Hime memesankan makanan mereka, sementara Kimi dan Trisha hanya diam saja, terlarut dalam keheningan di antara keduanya.
"Ca..." panggil Kimi
Trisha tak merespons, sebelum Kimi menggoyang-goyangkan tangan Trisha, barulah Trisha tersadar dan menoleh ke arah Kimi.
"Kenapa Kim?"
"Lo kenapa? Lagi ada masalah?"
Masalah? Banyak, namun Trisha merasa dia tidak bisa menceritakan permasalahan ini kepada Kimi. Karena satu masalahnya ada yang tahu maka Aagam akan semakin marah kepadanya, permasalahan di hidup Trisha hanya satu, yaitu Aagam.
"Gue pesen minuman dulu deh Kim, lo mau?" tawar Trisha mengalihkan pembicaraan
"Boleh, es jeruk ya," ucap Kimi yang dibalas anggukan oleh Trisha.
Menghindar? Jelas, iya. Trisha bukan tipe orang yang mau dikasihani oleh orang lain, dia merasa bahwa dia bisa melakukan semuanya sendiri, termasuk menangani sifat childish Aagam. Dia juga tidak suka belajar kelompok, karena yang akan mengerjakan tugasnya hanyalah dia, teman-temannya yang lain hanya berlomba-lomba, print dan jilid tugas, membawa laptop, dan mencatat pertanyaan saat persentasi. Itu membuatnya kesal, Trisha lebih suka tugas individu.
Dia mengantre dibarisan paling belakang untuk membeli minuman. Sampai akhirnya ada yang mencolek punggungnya dan membuatnya menoleh. Trisha tersentak, dia Farhan dan sedetik kemudian dia tersenyum ke arah Trisha. Jarak mereka semakin dekat, lalu Farhan berbisik.
"Senyum Ca, jangan pasang muka jutek melulu."
Trisha mengeluarkan smirk kecilnya, godaan Farhan barusan tak mempan buat dia. Selagi Trisha terpaku dengan godaan Farhan barusan, matanya tak sengaja menatap Aagam yang tengah menatap tajam ke arahnya, namun saat tatapan mereka bertemu, Aagam langsung mendelik sinis ke arah Trisha.
__ADS_1
Cowok itu masih marah kepada Trisha.
"Liatin siapa?" suara Farhan menginterupsi pikiran Trisha
"Hah?" Trisha cepat menggeleng, "Enggak liat siapa-siapa."
"Aagam?"
"Enggak, ngapain gue ngeliatin dia," jawab Trisha
"Lo satu komplek sama Aagam ya Ca?"
"Maksud lo?"
Farhan mengangguk, "Iya, soalnya waktu gue ketemu lo tadi pagi, lo ada di depan komplek yang sama kaya Aagam, siapa tau lo tetangganya dia."
Tetangga? Trisha mencibir dalam hati, jelas-jelas mereka satu rumah. Untung saja Farhan membahas tentang berangkat tadi pagi, sehingga Trisha bisa membahas jaket Farhan yang masih ada dengannya.
"Santai aja Ca," ujar Farhan, lalu Trisha meminta kontak Farhan untuk menghubungi saat akan mengembalikan jaketnya, Farhan mengambil ponsel Trisha dan menulsikan dua belas digit angka di sana.
Ternyata minuman pesanan Trisha sudah selesai, dia pamit lebih dulu kepada Farhan yang dibalas dengan lambangan tangan dari Farhan. Trisha tidak sadar, bahwa ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kedekatan mereka saat memesan minuman. Padahal, biasanya Trisha tidak bisa terlalu akrab dengan orang yang tidak satu pemikiran dengan dia.
***
HARI INI pengunjung kafe sangat ramai, sehingga Trisha tidak terlalu bisa istirahat. Tapi, entah mengapa dengan kesibukannya yang seperti ini dia merasa senang, waktunya tak terbuang percuma dan dia juga bisa melupakan permasalahannya dengan Aagam.
Pintu kafe terbuka kembali, Trisha dengan cepat mengambil buku menu dan menghampiri pelanggan yang baru saja datang. Namun langkah kakinya terhenti saat dia melihat Aagam bersama dengan seorang cewek berambut panjang, dari gestur tubuh mereka memperlihatkan bahwa mereka cukup dekat.
Trisha penasaran, siapa cewek yang dekat dengan Aagam, biasanya cowok itu selalu anti cewek. Namun, setelah mereka berdua duduk tak lama teman-temannya Aagam menyusul dan duduk bersama di meja yang sama dengan Aagam.
"Ca, itu pelanggannya jangan dianggurin," tegur Imam yang juga terlihat sibuk, Trisha langsung mengangguk dan menghampiri meja mereka.
__ADS_1
Entah mengapa dia deg-degan bertemu dengan Aagam dan bertanya kepadanya tanpa ada permasalahan apa-apa, namun Trisha harus profesional dan mengesampingkan permasalahan mereka dan semoga saja, Aagam juga bisa bersikap biasa saja.
"Hai, selamat siang semuanya, ini buku menunya ya..." sapa Trisha dengan ramah, seperti biasanya.
"Hai Trisha, masih kenal gue?" tanya cewek yang tadi masuk bersama Aagam tadi.
Wajahnya tak asing diingatan Trisha, tapi dia tidak bisa mengingat cewek itu siapa. Menurutnya orang yang tidak terlalu berpengaruh dihidupnya tidak perlu dia ingat namanya, karena menuh-menuhin memori otaknya.
"Marissa." Cewek itu menyebutkan namnya.
Setelah nama itu terdengar, Trisha ingat, cewek yang mendapat pertukaran study yang seharusnya dimiliki oleh Trisha. Tapi, karena saat itu Aagam sedang sakit, jadi Trisha tidak bisa menerimanya dan harus merawat Aagam yang gak mau ditinggal sedikitpun. Ingatan Trisha kembali ke masa di mana Aagam sedang sakit, saat dia ditinggal oleh Trisha, Aagam akan memanggilnya terus menerus dan meminta Trisha untuk duduk memperhatikannya, Aagam mengatakan, 'Gimana kalau gue haus gak ada yang bisa gue suruh' atau 'Gimana kalau ada sesuatu yang terjadi saat gue sendirian?'
"Ah ya, apa kabar?"
"Kabar baik Tica, lo gak banyak berubah ya?"
"Jadi mau pesan apa?" Trisha mengalihkan pembicaraannya, karena kalau dia terlihat mengobrol dengan tamu dan disaat tamu yang lain dia abaikan, maka dia akan kena sanksi.
"Kalau orang nanya ya dijawab, gak sopan amat," cibir Aagam dengan suara kecil, namun Trisha masih bisa mendengarnya.
"Risa, kita bisa ngobrol besok di sekolah, kan? Gue penasaran dengan pertukaran pelajar lo kemarin."
Ucapan Trisha barusan disambut semangat oleh Marissa, dia senang berbagi pengalaman kepada siapapun termasuk Trisha. Sampai detik ini pun, Marissa masih tidak tahu alasan Trisha menolak pertukaran pelajar saat itu.
Semua orang yang ada di meja itu sudah memsan makanannya kecuali Aagam. Aagam hanya bertanya tentang menu satu persatu dan bahannya dari apa saja. Dia berhenti ketika Marissa menegurnya karena membuang waktu, pada akhirnya Aagam hanya memesan coklat panas saja.
"Semangat Tica," ujar Farhan saat Trisha meninggalkan meja mereka.
***
**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA TAK TERLUKISKAN
__ADS_1
AAGAM MASIH AJA NGESELIN, PAKE SEGALA NANYA-NANYA MENU DAN BAHANNYA DARI APA AJA** :(