Tak Terlukiskan

Tak Terlukiskan
23 | Cari Perhatian


__ADS_3

Jangan bersikap kekanak-kanakan. Bukannya lucu malah terlihat menyebalkan.


***


SEPEDA motor Ardan berhenti di depan gerbang Assford High School, dulu sekolah ini pernah ditolaknya karena Ardan mau satu sekolah dengan seseorang yang dia sayangi, namun sayang, hanya Ardan yang merasa begitu.


Trisha turun dari motor Ardan, lalu kedua tangannya dengan susah payah membuka tali helm. Ardan sadar sepenuhnya, namun dia menunggu sampai gadis itu meminta bantuannya. Tetapi, Ardan salah karena kata 'tolong' itu tidak keluar dari bibir manis Trisha.


"Kalau gak bisa itu, minta tolong." Ardan langsung membantu Trisha membuka helmnya, sementara Trisha hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Gak usah sok bisa ngelakuin segalanya deh Trish. Jangan ketularan Mas Aidan, dia gak normal."


Bisa-bisanya Ardan mengatakan kalimat seperti itu mengenai kakaknya sendiri, tapi Trisha hanya diam saja. Setelah tali helm itu terlepas, Trisha berniat mengembalikan helm dan langsung pergi. Namun, itu semua hanya harapan Trisha karena pada saat itu suara klakson mobil menyadarkan dirinya dan juga Ardan.


"Berisik amat sih," omel Ardan, dia menoleh ke arah mobil yang tepat berada di belakang mereka, "Gak bisa sabar sedikit apa."


Ardan bukannya memindahkan motornya ke pinggir, dia malah dengan sengaja melama-lamakan berada di tempatnya sekarang.


Kalau kalian ingin tahu. Itu adalah mobil Aagam, Trisha sangat kenal dengan mobil warna merah menyala itu. Rasanya ingin segera pergi, tapi kakinya masih diam ditempat, menatap ke arah kaca hitam mobil itu.


"Makasih ya Dan," ucap Trisha sambil mengembalikan helmnya.


"Woi." Sebuah kepala muncul dibalik kaca mobil itu berteriak dengan sangat keras, membuat Trisha dan Ardan menoleh secara bersamaan.


"Lho Gam." Ardan tersenyum sumringah, dia berjalan menghampiri mobil Aagam keduanya malah bertos ria dan mengobrol.


Sementara Trisha hanya terdiam di samping sepeda motor Ardan dengn raut wajah tak bisa ditebak. Dia tidak tahu kalau Ardan mengenal Aagam dan kelihatannya mereka cukup dekat, bahkan Aagam yang semula sudah emosi raut wajahnya kembali normal dan terlihat cerah.


Tanpa menunggu lagi, Trisha menyimpan helm itu di motor Ardan dan langsung masuk ke dalam sekolahnya. Meninggalkan Ardan dan Aagam yang masih berbincang, entah apa. Meskipun sekarang Trisha menjadi ingin tahu.


***


"SI Ardan tadi nganterin cewek dari sekolah kita tau," ujar Aagam, sebelumnya dia melirik ke arah Trisha yang duduk di meja depan.


Seperti biasa gadis itu ke kantin bersama dengan Kimi, Alvaro dan Hime. Tak lupa satu tangannya memegang buku, entah buku apa Aagam tak tahu, yang jelas di dalam buku itu tidak ada gambar dan hanya ada tulisan banyak.


"Ardan dari SMA Nusa?" Tito merespons ucapan Aagam, dengan memastikan bahwa Ardan yang dimaksud oleh Aagam tidak salah.


"Siapa emang Gam?" tanya Rehan, penasaran.


Aagam menaikkan bahunya tanda dia tak tahu. Lalu mulutnya sibuk mengunyah makanannya, dia sesekali melirik ke arah Trisha, gadis itu tak terganggu dengan ucapannya. Menyebalkan.

__ADS_1


"Ardan kan playboy, wajarlah dia nganterin cewek." Kali ini Reynald lah yang buka suara, ternyata obrolan seputar Ardan masih belum berakhir.


Gosip yang beredar seperti itu. Ardan banyak ceweknya. Tapi selama Aagam mengenal Ardan, pemuda itu tak satu kalipun pernah memposting tentang cewek, entah memang tidak ada atau karena terlalu banyak. Aagam tak peduli, karena itu urusan pribadinya Ardan.


Tapi, satu hal yang kini ada pikiran Aagam. Dimana Trisha mengenal Ardan? Apa hubungan mereka? Mengapa gadis itu mengenal banyak orang, padahal Trisha adalah gadis yang kurang pergaulan.


"Ardan masih suka sama cinta pertamanya," komentar Tirto, "tapi, cewek yang dianterin dia cantik?"


"Jelek, kaya kambing." Aagam menjawabnya langsung, tanpa permisi dan tanpa basa-basi.


Tak sengaja saat itu Trisha menoleh, Aagam mengucapkan kata 'kambing' tanpa suara ke arah Trisha, namun gadis itu menghiraukannya dia malah membalas senyuman yang di lemparkan oleh Farhan kepadanya.


Mengesalkan.


Saat itu Trisha berdiri dari tempatnya, sepertinya makan siang dia telah selesai. Namun, hanya dirinya yang akan pergi sementara Kimi dan yang lainnya masih diam di tempat.


Benar dugaan Aagam, gadis itu meninggalkan kantin dengan terburu-buru, Aagam pamit kepada teman-temannya, berbohong dengan mengatakan akan perhi ke toilet. Tak ada yang curiga, karena selama ini pemuda itu tak pernah menaruh perhatian kepada gadis mana pun.


Langkah kaki Aagam melambat saat langkah kaki Trisha melambat juga, gadis itu menempelkan ponsel di kupingnya, setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang kepala sekolah.


Mengapa kehidupan Trisha banyak sekali teka-teki? Membuat Aagam pusing.


Sekitar 10 menit Aagam menunggu di luar, sampai pintu ruangan kepala sekolah itu terbuka. Dia melihat Trisha keluar dari ruangan itu di susul dengan seorang pria dewasa yang membuat Aagam melotot kaget.


Itu adalah Papinya sendiri, yang tidak lain adalah Tomi Affandra.


Mau apa Papinya ke sekolah? Selama Aagam hidup, Papinya bisa kehitung jari datang ke sekolah untuknya, lebih sering Maminya yang datang.


Persetan dengan harga diri, sekarang Aagam tak memperdulikan hal itu lagi. Langkah kakinya menghadang Trisha dan Papinya.


"Papi ngapain di sekolah?" tanya Aagam penasaran


"Jemput Tica tadinya," jawab Tomi dengan santainya.


"Ngapain? Dia udah gak tinggal di rumah kita." Aagam mengatakannya dengan suara pelan, takut seandainya ada orang yang mendengarnya.


"Enggak tinggal di rumah, bukan berati Papi lepas tanggung jawab untuk Tica." Tomi berkata tegas, membuat Aagam kali itu bungkam, Tomi menoleh ke arah Trisha dan tersenyum, "Nanti Om jemput lagi pulang sekolah ya Ca."


Trisha mengangguk, "Iya Om."

__ADS_1


"Om duluan ya Ca," pamitnya kepada Trisha, lalu tatapan Tomi beralih ke arah anak semata wayangnya itu, "Gam jaga sikap kamu di sekolah, jangan samain di sekolah sama di rumah."


Selepas Tomi pergi meninggalkan keduanya, Trisha pun memutuskan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Aagam. Aagam benar-benar dibuat kesal akan tingkah laku Trisha yang seperti ini, membuat Aagam mengikuti langkah kaki Trisha yang kecil dengan langkah kakinya yang panjang-panjang.


"Ngapain bokap gue ke sekolah nemuin lo?" tanya Aagam


Trisha hanya fokus dengan jalanannya tanpa menjawab pertanyaan Aagam barusan.


"Woi kambing!" bentam Aagam


Bentakan itu tak berguna, karena Trisha semakin fokua dengan langkah kakinya sendiri.


"Dimana lo kenal Ardan?"


Langkah kaki Trisha terhenti, dia menoleh, tatapan matanya dingin tak seperti biasanya yang akan menuruti semua permintaan Aagam dengan mudahnya.


"Bisa gak berhenti urusin hidup gue?" tanya Trisha dengan nada dingin.


Jelas Aagam heran, Trisha tak biasanya bersikap seperti ini. Dia mungkin kerasukan setan, jadinya seperti sekarang.


"Lo kerasukan ya Ca? Jawab!"


"Berhenti bersikap kekanak-kanakan Gam, lo udah gak dalam masa lucu-lucunya lagi."


"Maksud lo apa?! Udah numpang di rumah gue, gak tau diri!"


"Gue udah keluar dari rumah lo, perlu lo ingat."


"Tapi lo masih rebut kasih sayang bokap gue!" bentak Aagam.


"Gue kasian Tante Vero dan Om Tomi punya anak kaya lo." Trisha kembali tak menghiraukan Aagam, dia kembali fokus dengan langkah kakinya sendiri.


Sudah lama dia ingin mengatakan kalimat itu di depan wajah menyebalkan Aagam yang selalu sok segalanya. Pemuda itu terkadang lupa akan dirinya sendiri dan tentang hal yang dia butuhkan.


***


**Terima Kasih sudah membaca cerita Tak Terlukiskan


Maaf untuk lama update, karena sedang sibuk-sibuknya.

__ADS_1


Kalian berpindah haluan jadi Tim Siapa? :D**


__ADS_2