
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.12 tapi Lin Zi tak kunjung pulang. Li Tian menunggu dengan gelisah. Ia berpikir mungkin perkataannya di kantin tadi siang sudah menyinggung perasaan gadis itu. Lin Zi juga tidak membalas ataupun menjawab telfon Li Tian. Apalagi ia juga melihat bagaimana siswa lain menghujat Lin Zi di media sosial. Meskipun ia sudah meminta pada para pengunggah video itu untuk menghapusnya, tapi Lin Zi pasti sudah melihatnya.
Tit tit tit tit
Terdengar suara seseorang tengah memasukkan pasword untuk membuka pintu. Li Tian pun segera turun. Lin Zi memasuki rumah dengan sempoyongan dan masih memakai seragam sekolahnya. Pipinya tampak memerah dan matanya terlihat sayu.
"Kau mabuk?" tanya Li Tian yang baru saja menuruni tangga dan melihat Lin Zi berjalan menuju kamarnya.
"Bukan urusanmu!"
"Dasar bodoh! Bagaimana jika ada yang melihatmu?!"
Kawatir, tapi juga merasa bersalah. Lin Zi sampai minum alkohol dan pulang dengan kondisi seperti ini. Sepertinya kali ini Li Tian sudah keterlaluan.
Lin Zi terus berjalan dan mengabaikan Li Tian. Matanya yang sayu membuatnya tak bisa berjalan dengan normal hingga kaki kirinya kesleo dan terjatuh. Li Tian segera menghampirinya dan membantunya untuk berdiri.
"Lepaskan aku!" Lin Zi menepis tangan Li Tian yang memegangi lengannya.
"Selama ini aku selalu bersikap baik. Meskipun aku tidak memiliki banyak teman, tapi setidaknya mereka tidak membenciku. Dan sekarang...." Lin Zi mulai menitikkan airmata.
Ia tidak pernah mengatakan perasaannya pada siapapun. Meski ia tengah merasa kesulitan, meski ia merasa sangat sedih, sebisa mungkin gadis itu berusaha untuk menahannya sendirian. Selama ini hanya Ming Yue yang selalu memahaminya. Tanpa mengatakannya sekalipun, sahabatnya bisa mengerti dengan suasana hati Lin Zi. Bahkan ia bisa mabuk seperti sekarang ini, karena Ming Yue menemaninya minum dirumahnya dan tentu saja itu secara diam diam.
"Kenapa? Apa salahku padamu? Kenapa mereka membenciku hanya karena kata katamu? Seberapa hebat dirimu sampai kau bisa membuat mereka semua menjauhiku?!!" luap Lin Zi dengan meninggikan suara.
Lin Zi menangis semakin menjadi hingga tersengal. Li Tian tidak tau harus melakukan apa. Mendengar Lin Zi meluapkan perasaannya membuatnya semakin merasa bersalah. Dia hanya diam dan menemani Lin Zi hingga berhenti menangis. Saat gadis itu sudah merasa tenang, Li Tian menggendongnya ke kamar.
Kringgg kringgg kringgg
Dering jam waker membangunkan Lin Zi dari tidur pulasnya. Kepalanya masih terasa pusing dan matanya masih terasa sulit untuk dibuka. Namun suara jam waker itu terlalu memekakkan telinganya. Ia pun berusaha untuk bangun dan mematikan jam waker itu.
Lin Zi membuka selimut yang masih menutupi setengah badannya.
Kenapa kakiku diperban? Apa yang terjadi semalam?
Lin Zi memutar otaknya berusaha untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Namun ingatannya hanya sampai saat ia menangis tersedu. Setelah itu, ia tidak mengingat apapun lagi.
Suara pintu kamarnya yang dibuka mengejutkannya dan membuatnya segera memandang kearah pintu. Li Tian memasuki kamar Lin Zi dengan membawa semangkuk sup.
"Ini sup pereda pengar, minumlah" ucap Li Tian seraya menyodorkan mangkuk yang dibawanya pada gadis yang masih duduk diranjangnya.
Lin Zi meraihnya dan meminum sup itu beberapa teguk untuk mengembalikan kesadarannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada dahimu?" tanya Lin Zi mendapati plaster yang tertempel di dahi kiri Li Tian.
"Kau tidak mengingatnya?" tanya Li Tian yang membuat Lin Zi kembali memutar otaknya.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Lin Zi agak ragu.
"Pikir saja sendiri"
Lin Zi melakukan aktivitasnya sambil terus berpikir. Beruntung hari ini adalah hari minggu jadi ia tak perlu pergi ke sekolah.
"Apa kau tidak lihat aku sedang mengepel?!" ucap Lin Zi ketika seorang pria menginjak lantai yang baru di pel.nya.
"Maaf" sahut Li Tian dengan ketus dan terus berjalan menuju dapur.
Lin Zi kembali mengepel lantai dan tak lama kemudian Li Tian kembali menginjak lantai yang baru dipelnya. Kali ini Li Tian sambil membawa ice cream dan sengaja membiarkan es itu menetes ke lantai.
"Jie Li Tian!!"
Li Tian segera berlari ketika Lin Zi membanting pel nya. Lin Zi mengejar pria itu dengan kaki yang agak pincang. Setelah berputar beberapa saat, Lin Zi berhasil menarik lengan hoodie Li Tian.
"Baik baik, aku tidak akan lari lagi. Lepaskan bajuku" ucap Li Tian dengan terengah.
Kata kata Lin Zi terputus ketika sebuah ingatan melintas di benaknya. Ingatan setelah Li Tian menggendongnya ke kamar. Li Tian mengompres kaki Lin Zi yang kesleo.
"Apa kau punya kepribadian ganda?" ucap Lin Zi dengan nada halu. "Terkadang kau sangat jahat padaku, tapi terkadang kau juga baik"
"Kenapa? Apa kau mulai menyukaiku?" ceplos Li Tian.
"Menyukaimu? Orang brengsek sepertimu? Ada banyak sekali pria diluar sana, kenapa aku menyukaimu?"
"Berengsek?"
"Benar! Kau lelaki berengsek! Bertemu denganmu membuatku sial! Kau lelaki berdarah dingin yang suka membunuh! Kau memiliki banyak wanita! Kau bahkan lebih mempercayai wanita jahat itu! Kau bilang akan menjadikanku satu satunya wanitamu, bullshitt!!"
Li Tian kebingungan mendengar Lin Zi terus berbicara ngelantur. Apa maksud perkataannya? Li Tian terdiam beberapa saat sampai ia merasa kesakitan di bagian ujung kepalanya. Lin Zi menjambak rambut Li Tian dengan kuat.
"Ahh! Lin Zi, lepaskan tanganmu! Sakit!" ucap Li Tian seraya berusaha melepaskan cengkeraman Lin Zi.
"Dasar lelaki hidung belang! Jenderal neraka kejam! Playboy sampah! Kau bedebah terburuk yang pernah kutemui!!"
Lin Zi terus mengumpat sambil terus menjambak rambut Li Tian. Li Tian yang juga berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeraman Lin Zi akhirnya dahinya terluka karena kuku Lin Zi.
__ADS_1
"Kau sudah mengingatnya?" tanya Li Tian membuyarkan lamunan Lin Zi.
Lin Zi melepaskan cengkeramannya pada lengan baju Li Tian dan mengalihkan pandangannya karena merasa sangat malu. Ia mengumpat dan menjambak Li Tian tanpa sadar.
"Dan juga siapa Jing Xuan? Apakah dia kekasihmu? Atau mantan?" tebak Li Tian.
"Jing Xuan?" gumam Lin Zi bertanya tanya kenapa Li Tian membahas nama itu.
"Semalam, sebelum kau tertidur kau bilang merindukannya.. Kau berkencan dengan Yuan, jadi apakah Jing Xuan adalah mantanmu?"
"Ma... mantan?"
"Saat kita pertama bertemu juga kau memanggilku dengan nama itu. Kalau begitu aku pasti mirip dengannya"
"A... apa maksudmu?"
"Apa aku salah?"
Lin Zi kebingungan untuk menjawabnya karena tebakan Li Tian memang benar. Jangankan untuk menjelaskannya, baginya sendiri pun hal itu masih tampak rumit. Dan anehnya, perasaannya pada Jing Xuan sangat nyata.
"Berapa lama kau pacaran dengannya? 1 tahun? 2 tahun?"
"Kenapa kau mau tau?"
Li Tian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lin Zi menimbulkan rona merah di pipi Lin Zi.
"Bukankah aku mirip dengannya? Mungkin saja kau akan menyukaiku atau kau sudah menyukaiku"
Deg deg deg
Jantung Lin Zi berdetak dengan kencang. Gugup, malu, bingung, perasaan itu bercampur menjadi satu.
"Ka...kau bercanda? Bu..bukankah kau yang bilang menyukaiku di kantin kemarin?"
"Aku memang menyukaimu"
Jantung Lin Zi terasa seperti akan meledak saat mendengarnya. Bagaimana bisa Li Tian mengatakannya dengan sangat santai dan tenang? Mungkinkah Li Tian hanya ingin mempermainkannya? Mereka belum lama berkenalan dan Li Tian sudah menyatakan perasaannya.
●●●~~●●●
tbc-
__ADS_1